
Anjani sudah selesai mematut diri. Gamis baru yang diambil dari Azrina membuatnya tampak anggun. Sebuah bros berornamen bunga mawar menambah cantik penampilannya. Bros pemberian seorang pria istimewa. Meski ada 2, Anjani bisa membedakan yang mana pemberian orang yang hampir berstatus suaminya.
Meli tengah memasangkan peniti di dagunya. Lalu, diambilnya sebuah bros berwana perak dan disematkan sebagai penunjang kerapian dan keluwesan. Seperti halnya Anjani, bros itu pun memiliki arti spesial. Bedanya, Meli hanya memiliki satu.
Tak terasa senyum mengembang di bibir Meli. Ia mengusap-usap sembari menatap lekat bros perak cantik yang telah tersemat. Meli tak menyadari bila Anjani memperhatikan sejak tadi.
“Kenapa dengan bros itu? Kok dari tadi kamu belai sepenuh perasaan?” tanya Anjani heran.
Meli menoleh. Bibirnya dihiasi senyum dikulum.
“Ah, kamu kok sekarang kepo banget sih? Ini memang pemberian dari... Mas Azka. Dia ngasihnya waktu kunjunganku sebelumnya. Aku menyimpan bros ini dan baru memakainya sekarang.”
Senyum Meli kini mengembang lebar. Anjani pun tertular.
“Pantas saja kamu begitu menghayati membelai bros. Ternyata pemberian orang istimewa. Ah, pasti nanti Mas Azka tersenyum bahagia melihat gadisnya memakai bros darinya,” goda Anjani.
“Sayang Kak Mario nggak lihat kamu memakainya. Eh, ini yang dari Kak Mario atau dari Juno?” Meli ikut kepo.
“Mau tahu apa mau tahu banget?” tanya Anjadi meledek.
“Terserahlah. Pasti ini yang dari Kak Mario. Mereka tahu nggak, sih, kalau sebenarnya memberi bros dengan model dan warna sama?” Meli penasaran.
“Mungkin nggak tahu.” Anjani menjawab dengan santai.
Meli menatap Anjani seolah mencari tahu kebenaran ucapan gadis itu.
“Kenapa? Kok lihatnya gitu?” ucap Anjani.
“Nggak. Yuk, ah kita keluar. Jangan sampai mereka nunggu kita!” ajak Meli.
Anjani mengambil tasnya. Tak lupa ia memasukkan gawainya. Meli yang sudah siap keluar kamar terlebih dahulu.
“Sudah siap?” tanya Bu Aisyah yang bermaksud memanggil mereka.
“Sudah, Bunda,” jawab Meli dengan senyum manisnya.
Bu Aisyah menatap Meli dan Anjani bergantian. Mereka tampak lebih cantik dengan gamis dan hijab sama, hanya bros yang mereka kenakan berbeda.
“Ah, kalian hari ini tampak lebih cantik. Andai Bunda masih punya anak laki-laki lagi, Bunda mau jadikan kalian menantu Bunda semua,” ucap Bu Aisyah.
“Ah, Bunda bisa saja. Nanti kami ke-GR-an, baju baru ini jadi sempit,” sahut Meli tersipu.
Anjani pun tersenyum menanggapi ucapan Bu Aisyah. Sejenak bayangan Mario mampir di benaknya.
“Tapi, Anjani juga sudah punya calon suami, ya?” tanya Bu Aisyah.
Anjani tersipu. Ia tak kuasa menjawab dengan tegas.
“Sudah, Bunda. Cuma belum menyatakan lagi. Tinggal tunggu keberanian Kak Mario melamar Anjani lagi,” celetuk Meli.
“Ih, Meli apaan, sih?” Anjani cemberut sambil memberikan tatapan membunuh kepada sahabatnya.
Melihat sikap Anjani yang kurang suka akan candaan Meli, Bu Aisyah segera mengalihkan pembicaraan.
“Kalau begitu, kita sarapan dulu, yuk! Tinggal kalian dan Via yang belum siap di ruang makan!” ajak Bu Aisyah.
Kedua gadis itu mengangguk. Mereka berjalan mengekor langkah Bu Aisyah.
Mereka masuk ruang makan bersamaan dengan Via menapaki anak tangga terakhir sambil menggendong Zayn. Anjani dan Meli duduk berjajar dengan posisi berhadapan dengan Via dan Farhan. Azka duduk di sebelah Farhan.
Melihat kedatangan Meli, Azka sempat terpana. Penampilan Meli hari itu memang terlihat anggun, beda dengan biasanya. Cara berjalan Meli pun sedikit berbeda. Langkah yang tergesa-gesa tak tampak pagi itu.
__ADS_1
Saat makan, beberapa kali Azka mencuri pandang ke Meli. Rupanya hal itu tak luput dari perhatian Bu Aisyah. Senyum tipis tersungging di bibir ibu dua anak.
Farhan sempat melihat senyum bundanya. Ia mengikuti arah tatapan sang bunda yang mengarah ke Azka. Farhan pun ikut memperhatikan Azka. Saat Azka mencuri pandang, Farhan baru paham arti senyum Bu Aisyah.
“Jangan nyuri-nyuri terus, Dek! Halalin dulu!” bisik Farhan sambil menginjak kaki Azka pelan.
Azka menoleh ke kakaknya. Ia mendengus kesal.
“Kayak nggak pernah muda aja,” gerutu Azka pelan.
“Aku belum tua!” balas Farhan.
Pak Haris memberi kode kepada kedua putranya unuk tidak melanjutkan perdebatan mereka. Farhan dan Azka terdiam.
Usai menyelesaikan sarapan, mereka menuju musala untuk salat duha. Lima belas menit kemudian, semua sudah masuk ke mobil dan berangkat ke Parangtritis. Sebelumnya, mereka mampir ke ruko.
“Yang lain mana? Kok kamu sendirian?” tanya Via begitu melihat Ratna sendirian keluar.
“Nggak pada mau. Tapi, hari ini toko tutup,” jawab Ratna sambil mengunci pintu.
“Oh, begitu. Ya sudah, masuk mobil, yuk!” ajak Via.
Dua mobil beriringan meninggalkan ruko. Pak Yudi dan Azka yang memegang kemudi. Dengan kecepatan tidak melebihi 60 kpj, perjalanan terasa nyaman.
Begitu sampai, para gadis berlari kecil mendekati bibir pantai. Mereka seperti anak kecil yang bebas bermain tanpa beban. Tawa riang pun berulang kali terdengar.
Azka berdiri mematung sambil melihat tiga gadis yang berkejaran. Sesekali bibirnya mengulas senyum.
“Dek, kamu sudah yakin mau melamar Meli?” tanya Farhan yang menyejajarkan posisinya dengan Azka.
“Eh, Mas Farhan. Iya, insya Allah sudah Mas,” jawab Azka mantap.
Azka mengangguk. Ia menoleh ke kakaknya.
“Sudah berulang kali. Bahkan sampai tadi malam pun masih meski bunda sudah menanyai Meli.”
“Lalu, apa jawaban yang kamu dapatkan?” kejar Farhan.
“Azka dua kali mimpi indah bersama Meli ....”
“Mimpi indah?” potong Farhan.
“Mimpi berduaan di taman. Begitu, Mas. Jangan ngeres dulu!” sergah Azka.
Farhan terkekeh dibuatnya. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Apa yang membuatmu tertarik sama gadis itu?” Farhan kembali bertanya.
“Aku nggak tahu persis. Yang jelas, aku merasa senang melihatnya. Dia lucu dengan kekonyolannya. Dan, menurutku, dia memiliki komitmen berhijrah. Taruhlah dia belum sebaik Mbak Via, setidaknya dia tetap istikamah dengan hijrahnya,” jawab Azka tenang.
Farhan tersenyum senang. Ia menyetujui pandangan adiknya memilih calon istri.
Kedua kakak beradik itu masih tetap berdiri memperhatikan 4 wanita muda yang bermain dengan air laut yang datang menyapa bibir pantai. Rupanya Via sudah bergabung dengan kawan-kawannya. Sementara, Zayn digendong neneknya didampingi sang kakek.
Setelah puas bermain, mereka melanjutkan ke Pantai Glagah. Meski sama-sama pantai, pesona Glagah dan Parangtritis berbeda. Mereka menikmati pemandangan pemecah ombak di pantai ini. Mereka juga menikmati keindahan laguna dengan menaiki perahu.
Saat di perahu, Via duduk di bagian belakang bersama Ratna. Mereka berdua terpisah agak jauh dengan Meli dan Anjani.
“Aku mau ngomong sedikit sama kamu,” kata Ratna.
“Soal apa?” tanya Via penasaran.
__ADS_1
“Soal Salsa dan Mas Azka?” jawab Ratna serius.
Via menautkan alisnya. Ia melihat keseriusan Ratna.
“Maksudmu? Ada apa dengan Salsa dan Dek Azka?”
“Aku yakin Salsa menyukai Mas Azka,” desis Ratna.
“Benarkah? Dari mana kamu menyimpulkan hal itu?” tanya Via tak bisa menyembunyikan kagetnya.
“Dari sikap Salsa saat ada Mas Azka. Dia juga muram ketika kami membicarakan Meli. Apa benar Mas Azka menyukai Meli?” tanya Ratna.
Via terkesiap. Sesaat ia terdiam.
“Iya, bahkan bunda sudah menanyai Meli. Bunda menanyakan kesediaan Meli menjadi istri Dek Azka,” jawab Via berat.
Ratna tertunduk. Ia terbayang wajah muram Salsa.
“Perasaan tak bisa dipaksakan. Apalagi jodoh. Itu sudah diatur Yangkuasa. Aku mengatakan hal ini bukan berarti aku tidak setuju Mas Azka dengan Meli. Aku nggak punya hak apa pun. Aku hanya ingin agar kita menjaga perasaan Salsa yang terluka karena cintanya bertepuk sebelah tangan,” tutur Ratna.
Via mengangguk paham. Ingatannya melayang ke masa dua tahun silam. Mira sempat mengalami kekecewaan karena cintanya layu sebelum berkembang.
“Aku juga minta agar Dek Azka maupun Meli tidak tahu tentang hal ini,” lanjut Ratna.
“Iya, aku tahu. Insya Allah aku menjaga rahasia ini,” kata Via.
Baik Via maupun Ratna kembali bersikap biasa. Mereka tidak mau ada yang tahu soal Salsa.
Semuanya kembali bersenang-senang menikmati Pantai Congot yang tak jauh dari Pantai Glagah. Mereka menyewa perahu yang mengantar mereka ke wisata hutan mangrove Pantai Kadilangu.
“Wow, Menara Eiffel! Kita akhirnya bisa sampai Menara Eiffel!” seru Meli girang.
Semua tertawa mendengarnya. Meli berlari kecil mendekat replika Menara Eiffel dari bambu. Kaki jenjangnya dengan lincah menapaki tangga dari bambu ke atas.
Entah berapa puluh foto yang sudah mereka ambil. Apalagi Meli dan Ratna. Akun media sosial mereka dipenuhi foto-foto dua hari liburan. Via dan Anjani yang memiliki sifat bawaan lebih tenang pun banyak mengambil gambar. Namun, mereka tak seheboh Meli dan Ratna dalam menggunakan medsos.
Saat turun, Meli tak hati-hati. Ia terpeleset hingga tubuhnya limbung. Untunglah, Azka yang berada di depan Meli memiliki reflek yang bagus. Dengan sigap ia meraih tubuh Meli.
Deg...deg... deg.
Jantung keduanya berpacu dengan cepat. Selama beberapa detik mereka seperti terhipnotis, hanya diam. Kedua tangan Azka memegang lengan Meli.
“Ehm, mau sampai kapan begitu?” tegur Via.
Azka segera melepaskan Meli. Karena Meli tidak siap, ia kembali limbung. Azka pun kembali menangkapnya dengan sigap.
“Eh maaf. Aku lepas sekarang, ya,” desis Azka.
Semua orang yang melihat adegan itu tersenyum. Sementara Azka dan Meli tersipu malu. Wajah mereka bak tomat matang.
*
Bersambung
Yang ingin tah latar belakang Meli, silakan meluncur ke novel Kak Indri Hapsari, Cinta Strata 1. Jangan lupa dukung kami dengan meninggalkan jejak like dan koment. Terima kasih buat yang sudah dukung kami,baik yang meninggalkan jejak like dan koment maupun menyumbang vote dan bintang 5. O ya, insya Allah hari ini terbit 2 episode, sebelum zuhur.
Yang mau baca novel romantis, bisa bikin baper, silakan ikuti cerita Mas Pras dan Britney 😍
__ADS_1