
Azka masih diam.
Pikirannya menerawang. Ada sebersit penyesalan menggeliat dalam hati. Ia merasa
teledor menjaga kakaknya.
Seandainya tidak
ada yang menolong, mungkin ia benar-benar kehilangan kakak satu-satunya. Ia tak
bisa membayangkan seandainya itu terjadi.
“Betapa bodohnya
aku. Kenapa aku meninggalkan ruangan begitu saja? Aku pasti tidak bisa
memaafkan diriku sendiri kalau Mas Farhan sampai dicelakai orang.”
Azka menyugar
rambutnya kasar. Ia menarik nafas panjang untuk mengurangi rasa sesak yang
mengganjal dadanya.
Ketiga orang itu
tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Mereka diam membisu.
“Assalamualaikum.
Maaf, saya baru datang.” Suara dari balik pintu memecah kesunyian.
“Waalaikumsalam.
Masuklah, Nak Edi.” Pak Haris menjadi orang pertama yang tersadar.
“Saya mohon maaf
atas insiden ini. Pengawal yang bertugas kurang sigap menjaga Mas Farhan dan
Mbak Via.” Edi menunduk penuh menyesalan.
“Sudahlah, tidak
perlu menyalahkan diri. Alhamdulillah orang itu tidak sampai melukai Farhan
maupun Via,” kata Pak Haris tenang.
“Sebenarnya,
bagaimana insiden ini terjadi?” Edi meminta penjelasan.
“Saya sendirian
menjaga Mas Farhan setelah ditinggal bunda ke sekolah. Saya mengunci pintu,
lalu duduk menunggui Mas Farhan hingga tertidur. Saya terbangun karena ada
ketukan pintu. Pikiran saya belum fokus, tetapi saya merasa ada keanehan dengan
orang berpakaian perawat itu. Saya panik karena orang itu memaksa dibukakan
pintu,” papar Via.
“Mbak Via
akhirnya membukakan pintu?” tanya Edi.
“Iya, karena saya
panik. Sebelumnya, saya mencoba meminta bantuan menggunakan telepon antar
ruangan. Ternyata saya menghubungi bagian resepsionis sehingga mereka agak
terlambat.”
“Lalu, siapa yang
menggagalkan aksi orang itu?” Edi bertanya lagi.
“Saya mencoba
mengulur waktu sampai bantuan datang. Tepat waktu orang itu akan menancapkan
jarum suntik, seseorang berpakaian serba hitam memukul tangan orang itu,
diikuti pukulan ke tengkuknya.”
Via sudah merasa
tenang. Ia dapat menceritakan kronologi peristiwa dengan lancar.
Edi
mengangguk-angguk paham.
“Lalu, di mana
orang itu? Dia pingsan?” Edi masih meminta penjelasan.
“Iya. Satpam aku
suruh membawanya ke ruang di bagian belakang rumah sakit ini. Aku belum
melakukan tindakan apa pun, menunggu Mas Edi. Sebaiknya, orang itu kita
serahkan ke kepolisian atau akan ditangani Mas Edi?” ucap Pak Haris sambil
menatap Edi.
Edi terdiam
selama beberapa detik. Agaknya dia sedang menimbang-nimbang banyak hal.
“Sebentar, saya
konsultasikan dengan Tuan Candra.”
Edi mengeluarkan
benda pipih nan cerdas miliknya. Ia tampak memainkan jemarinya di layar ponsel.
Tak lama kemudian, ia terlibat pembicaraan serius.
Pak Haris, Azka,
dan Via tetap diam. Mereka menunggu hasil pembicaraan Edi dan Pak Candra.
__ADS_1
“Bagaimana, Mas?”
tanya Via begitu melihat Edi menyimpan ponselnya.
“Pak Candra
meminta saya menginterogasi orang itu. Setelah kita berhasil mengorek
penjelasan dari si pelaku, barulah kita serahkan kepada polisi.”
“Mas Edi mau
menanyai sekarang?” Pak Haris menawari.
“Tidak. Tunggu
teman saya yang biasa menginterogasi pelaku kejahatan,” jawab Edi.
Azka menatap Edi
penuh tanda tanya. Karena tak tahan menyimpan penasaran, ia meminta penjelasan
kepada Edi.
“Kenapa nggak Mas
Edi saja? Saya boleh menemani?”
“Maaf, Mas Azka.
Butuh keahlian khusus mengorek informasi dari penjahat yang terlatih. Biasanya,
mereka akan bungkam. Kalau dia sampai buka mulut, nyawanya bisa melayang. Ketua
kelompok atau organisasinya akan menyuruh teman menghabisinya.”
Azka dan Via
begidik ngeri membayangkan hal itu. Mereka memang tidak paham permainan pelaku
kejahatan.
“Sebegitu tegakah
mereka? Berarti mereka tidak memiliki belas kasih, bahkan kepada teman?” desis
Via.
Edi tersenyum
mendengar keheranan Via. Meski kalimat itu diucapkan lirih, telinga Edi yang
tajam bisa menangkapnya.
“Bagi orang-orang
seperti itu, lebih baik kehilangan teman dari pada nyawanya. Jadi, mereka tidak
segan menghabisi teman yang berkhianat,” jelas Edi.
“Sama teman
sendiri saja tega, apalagi kalau menghadapi musuh,” gumam Azka.
“Iya, mereka bisa
orang sebelum membunuh adalah hal biasa. Mereka juga bisa memutilasi orang yang
masih hidup tanpa perasaan,” kata Edi.
Via menutup
mulutnya. Dia begitu ngeri membayangkan perilaku biadab orang-orang anggota
organisasi kejahatan. Perutnya terasa mual.
“Maafkan saya.
Maaf, saya tidak sengaja membuat Mbak Via tidak nyaman,” sesal Edi.
Via bergegas ke
kamar mandi. Bayangan perilaku para psikopat benar-benar membuat perutnya
seakan diaduk.
“Mas Edi sudah
menghubungi teman yanga akan menginterogasi?” Pak Haris memastikan.
“Sudah, Pak
dokter. Orang itu sedang dalam perjalanan ke mari.”
“O ya, untuk
langkah kita ke depan, apa perlu pengamanan di rumah sakit diperketat? Saya
bisa mengurangi jam bezuk,” kata Pak Haris.
“Kalau menurut
saya, pengurangan jam bezuk belum perlu. Saya akan memperketat pengamanan
ruangan ini dan ruang peristi.”
“Bukankah selama
ini Mas Edi sudah menempatkan banyak pengawal di sini?” tanya Pak Haris.
“Benar. Tapi,
mereka menempatkan diri dengan jarak agak jauh dari sini. Oleh karena itu,
pergerakan mereka sedikit terlambat karena tidak begitu jelas melihat pelaku.”
“Lalu, bagaimana
saran Mas Edi?”
“Saya akan
menempatkan di depan ruangan, memeriksa semua orang yang tidak dikenal. Hanya
keluarga dekat yang tidak boleh diperiksa.”
Pak Haris
__ADS_1
terdiam. Ia memikirkan masukan dari Edi.
“Lalu bagaimana
dengan ruang peristi? Apa hal itu tidak membuat perawat dan orang tua yang akan
membezuk menjadi ketakutan?” tanya Pak Haris ragu.
“Mereka menyamar
menjadi petugas. Pak dokter bisa berkoordinasi dengan Kepala Ruang Peristi agar
pengawal kita menjadi petugas pendaftaran. Mereka mendata pengunjung yang
datang. Kita batasi tiap kunjungan hanya 2 orang.”
Pak Haris mengangguk-angguk.
Ia bisa menerima penjelasan Edi.
Mereka serempak menoleh
ke pintu saat terdengar ketukan pintu. Tampak seorang pria berwajah manis
berdiri di depan pintu. Rambut lurus panjangnya diikat menggunakan karet rambut
besar berwarna kuning menyala. Sepintas, ia mirip seorang perempuan.
“Selamat siang,
Mas Edi, Tuan-tuan, Nyonya,” sapa orang itu ramah.
“Siang. Masuklah,
Ki.” Edi mempersilakan.
Pria yang
dipanggil “Ki” mengangguk sambil tersenyum. Ia masuk dan duduk di sofa.
“Pak dokter, dia
Kiki yang akan menanyai pria itu,” papar Edi.
Azka melongo. Ia
tidak yakin dengan kemampuan pria yang berperawakan seperti perempuan itu.
“Mas, aku boleh
ikut? Aku penasaran dengan orang itu,” pinta Azka.
Edi tersenyum. Ia
mengerti kegusaran Azka.
“Maaf, Mas.
Sebaiknya Mas Azka tetap di ruangan ini. Biar saya bersama Pak dokter yang
mendampingi Kiki,” kata Edi.
“Iya, Ka. Kamu
jaga kakakmu! Jangan sampai insiden seperti tadi terulang,” tambah Pak Haris.
Azka terpaksa
menurut. Ia diam dengan raut muka masam.
“Tenang, ada
pengawal yang saya tempatkan di depan ruangan. Mas Azka bisa ke musala atau di
ruang sebelah untuk beristirahat,” kata Edi.
“Bagaimana dengan
ruang peristi?” Pak Haris meminta kepastian. Ia mengkhawatirkan keselamatan
cucunya.
“Iya, sebentar.
Saya berkoordinasi dengan para bodyguard. Saya tempatkan perempuan saja di
ruang peristi. Saya minta tolong Pak dokter memerintahkan Kepala Ruang Peristi
melaksanakan protokol seperti yang tadi kita bicarakan.”
Pak Haris dan Edi
sama-sama mengambil ponsel mereka. Tak lama keduanya berbicara serius dengan
orang yang ditelepon.
“Kepala Ruang
Peristia menyatakan siap. Anak buah Nak Edi bisa ke ruang peristi sekarang.”
“Siap! Saya
hubungi lagi,” kata Edi. Ia menelepon sekali lagi.
Setelah semua
siap, mereka bertiga berpamitan kepada Azka dan Via.
“Dah, Mas tampan.
Aku tugas dulu, ya! Ntar aku kembali. Kita belum kenalan, kan?” ucap Kiki. Ia
melambaikan tangannya.
Mereka pun
meninggalkan ruangan. Azka begidik geli melihat tingkah Kiki.
“Ih, amit-amit.
Aduh, jangan sampai ditaksir sesama cowok. Kayak sudah ga ada cewek saja di
dunia ini. Huh!” desis Azka.
Via tertawa
cekikikan. Ia menertawakan Azka yang terus-menerus begidik.
__ADS_1