SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Mengambil Tindakan


__ADS_3

Azka masih diam.


Pikirannya menerawang. Ada sebersit penyesalan menggeliat dalam hati. Ia merasa


teledor menjaga kakaknya.


Seandainya tidak


ada yang menolong, mungkin ia benar-benar kehilangan kakak satu-satunya. Ia tak


bisa membayangkan seandainya itu terjadi.


“Betapa bodohnya


aku. Kenapa aku meninggalkan ruangan begitu saja? Aku pasti tidak bisa


memaafkan diriku sendiri kalau Mas Farhan sampai dicelakai orang.”


Azka menyugar


rambutnya kasar. Ia menarik nafas panjang untuk mengurangi rasa sesak yang


mengganjal dadanya.


Ketiga orang itu


tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Mereka diam membisu.


“Assalamualaikum.


Maaf, saya baru datang.” Suara dari balik pintu memecah kesunyian.


“Waalaikumsalam.


Masuklah, Nak Edi.” Pak Haris menjadi orang pertama yang tersadar.


“Saya mohon maaf


atas insiden ini. Pengawal yang bertugas kurang sigap menjaga Mas Farhan dan


Mbak Via.” Edi menunduk penuh menyesalan.


“Sudahlah, tidak


perlu menyalahkan diri. Alhamdulillah orang itu tidak sampai melukai Farhan


maupun Via,” kata Pak Haris tenang.


“Sebenarnya,


bagaimana insiden ini terjadi?” Edi meminta penjelasan.


“Saya sendirian


menjaga Mas Farhan setelah ditinggal bunda ke sekolah. Saya mengunci pintu,


lalu duduk menunggui Mas Farhan hingga tertidur. Saya terbangun karena ada


ketukan pintu. Pikiran saya belum fokus, tetapi saya merasa ada keanehan dengan


orang berpakaian perawat itu. Saya panik karena orang itu memaksa dibukakan


pintu,” papar Via.


“Mbak Via


akhirnya membukakan pintu?” tanya Edi.


“Iya, karena saya


panik. Sebelumnya, saya mencoba meminta bantuan menggunakan telepon antar


ruangan. Ternyata saya menghubungi bagian resepsionis sehingga mereka agak


terlambat.”


“Lalu, siapa yang


menggagalkan aksi orang itu?” Edi bertanya lagi.


“Saya mencoba


mengulur waktu sampai bantuan datang. Tepat waktu orang itu akan menancapkan


jarum suntik, seseorang berpakaian serba hitam memukul tangan orang itu,


diikuti pukulan ke tengkuknya.”


Via sudah merasa


tenang. Ia dapat menceritakan kronologi peristiwa dengan lancar.


Edi


mengangguk-angguk paham.


“Lalu, di mana


orang itu? Dia pingsan?” Edi masih meminta penjelasan.


“Iya. Satpam aku


suruh membawanya ke ruang di bagian belakang rumah sakit ini. Aku belum


melakukan tindakan apa pun, menunggu Mas Edi. Sebaiknya, orang itu kita


serahkan ke kepolisian atau akan ditangani Mas Edi?” ucap Pak Haris sambil


menatap Edi.


Edi terdiam


selama beberapa detik. Agaknya dia sedang menimbang-nimbang banyak hal.


“Sebentar, saya


konsultasikan dengan Tuan Candra.”


Edi mengeluarkan


benda pipih nan cerdas miliknya. Ia tampak memainkan jemarinya di layar ponsel.


Tak lama kemudian, ia terlibat pembicaraan serius.


Pak Haris, Azka,


dan Via tetap diam. Mereka menunggu hasil pembicaraan Edi dan Pak Candra.

__ADS_1


“Bagaimana, Mas?”


tanya Via begitu melihat Edi menyimpan ponselnya.


“Pak Candra


meminta saya menginterogasi orang itu. Setelah kita berhasil mengorek


penjelasan dari si pelaku, barulah kita serahkan kepada polisi.”


“Mas Edi mau


menanyai sekarang?” Pak Haris menawari.


“Tidak. Tunggu


teman saya yang biasa menginterogasi pelaku kejahatan,” jawab Edi.


Azka menatap Edi


penuh tanda tanya. Karena tak tahan menyimpan penasaran, ia meminta penjelasan


kepada Edi.


“Kenapa nggak Mas


Edi saja? Saya boleh menemani?”


“Maaf, Mas Azka.


Butuh keahlian khusus mengorek informasi dari penjahat yang terlatih. Biasanya,


mereka akan bungkam. Kalau dia sampai buka mulut, nyawanya bisa melayang. Ketua


kelompok atau organisasinya akan menyuruh teman menghabisinya.”


Azka dan Via


begidik ngeri membayangkan hal itu. Mereka memang tidak paham permainan pelaku


kejahatan.


“Sebegitu tegakah


mereka? Berarti mereka tidak memiliki belas kasih, bahkan kepada teman?” desis


Via.


Edi tersenyum


mendengar keheranan Via. Meski kalimat itu diucapkan lirih, telinga Edi yang


tajam bisa menangkapnya.


“Bagi orang-orang


seperti itu, lebih baik kehilangan teman dari pada nyawanya. Jadi, mereka tidak


segan menghabisi teman yang berkhianat,” jelas Edi.


“Sama teman


sendiri saja tega, apalagi kalau menghadapi musuh,” gumam Azka.


“Iya, mereka bisa


orang sebelum membunuh adalah hal biasa. Mereka juga bisa memutilasi orang yang


masih hidup tanpa perasaan,” kata Edi.


Via menutup


mulutnya. Dia begitu ngeri membayangkan perilaku biadab orang-orang anggota


organisasi kejahatan. Perutnya terasa mual.


“Maafkan saya.


Maaf, saya tidak sengaja membuat Mbak Via tidak nyaman,” sesal Edi.


Via bergegas ke


kamar mandi. Bayangan perilaku para psikopat benar-benar membuat perutnya


seakan diaduk.


“Mas Edi sudah


menghubungi teman yanga akan menginterogasi?” Pak Haris memastikan.


“Sudah, Pak


dokter. Orang itu sedang dalam perjalanan ke mari.”


“O ya, untuk


langkah kita ke depan, apa perlu pengamanan di rumah sakit diperketat? Saya


bisa mengurangi jam bezuk,” kata Pak Haris.


“Kalau menurut


saya, pengurangan jam bezuk belum perlu. Saya akan memperketat pengamanan


ruangan ini dan ruang peristi.”


“Bukankah selama


ini Mas Edi sudah menempatkan banyak pengawal di sini?” tanya Pak Haris.


“Benar. Tapi,


mereka menempatkan diri dengan jarak agak jauh dari sini. Oleh karena itu,


pergerakan mereka sedikit terlambat karena tidak begitu jelas melihat pelaku.”


“Lalu, bagaimana


saran Mas Edi?”


“Saya akan


menempatkan di depan ruangan, memeriksa semua orang yang tidak dikenal. Hanya


keluarga dekat yang tidak boleh diperiksa.”


Pak Haris

__ADS_1


terdiam. Ia memikirkan masukan dari Edi.


“Lalu bagaimana


dengan ruang peristi? Apa hal itu tidak membuat perawat dan orang tua yang akan


membezuk menjadi ketakutan?” tanya Pak Haris ragu.


“Mereka menyamar


menjadi petugas. Pak dokter bisa berkoordinasi dengan Kepala Ruang Peristi agar


pengawal kita menjadi petugas pendaftaran. Mereka mendata pengunjung yang


datang. Kita batasi tiap kunjungan hanya 2 orang.”


Pak Haris mengangguk-angguk.


Ia bisa menerima penjelasan Edi.


Mereka serempak menoleh


ke pintu saat terdengar ketukan pintu. Tampak seorang pria berwajah manis


berdiri di depan pintu. Rambut lurus panjangnya diikat menggunakan karet rambut


besar berwarna kuning menyala. Sepintas, ia mirip seorang perempuan.


“Selamat siang,


Mas Edi, Tuan-tuan, Nyonya,” sapa orang itu ramah.


“Siang. Masuklah,


Ki.” Edi mempersilakan.


Pria yang


dipanggil “Ki” mengangguk sambil tersenyum. Ia masuk dan duduk di sofa.


“Pak dokter, dia


Kiki yang akan menanyai pria itu,” papar Edi.


Azka melongo. Ia


tidak yakin dengan kemampuan pria yang berperawakan seperti perempuan itu.


“Mas, aku boleh


ikut? Aku penasaran dengan orang itu,” pinta Azka.


Edi tersenyum. Ia


mengerti kegusaran Azka.


“Maaf, Mas.


Sebaiknya Mas Azka tetap di ruangan ini. Biar saya bersama Pak dokter yang


mendampingi Kiki,” kata Edi.


“Iya, Ka. Kamu


jaga kakakmu! Jangan sampai insiden seperti tadi terulang,” tambah Pak Haris.


Azka terpaksa


menurut. Ia diam dengan raut muka masam.


“Tenang, ada


pengawal yang saya tempatkan di depan ruangan. Mas Azka bisa ke musala atau di


ruang sebelah untuk beristirahat,” kata Edi.


“Bagaimana dengan


ruang peristi?” Pak Haris meminta kepastian. Ia mengkhawatirkan keselamatan


cucunya.


“Iya, sebentar.


Saya berkoordinasi dengan para bodyguard. Saya tempatkan perempuan saja di


ruang peristi. Saya minta tolong Pak dokter memerintahkan Kepala Ruang Peristi


melaksanakan protokol seperti yang tadi kita bicarakan.”


Pak Haris dan Edi


sama-sama mengambil ponsel mereka. Tak lama keduanya berbicara serius dengan


orang yang ditelepon.


“Kepala Ruang


Peristia menyatakan siap. Anak buah Nak Edi bisa ke ruang peristi sekarang.”


“Siap! Saya


hubungi lagi,” kata Edi. Ia menelepon sekali lagi.


Setelah semua


siap, mereka bertiga berpamitan kepada Azka dan Via.


“Dah, Mas tampan.


Aku tugas dulu, ya! Ntar aku kembali. Kita belum kenalan, kan?” ucap Kiki. Ia


melambaikan tangannya.


Mereka pun


meninggalkan ruangan. Azka begidik geli melihat tingkah Kiki.


“Ih, amit-amit.


Aduh, jangan sampai ditaksir sesama cowok. Kayak sudah ga ada cewek saja di


dunia ini. Huh!” desis Azka.


Via tertawa


cekikikan. Ia menertawakan Azka yang terus-menerus begidik.

__ADS_1


__ADS_2