
Sesampai di ruang peristi, mereka disambut dua perawat. Mereka dengan sigap menyiapkan tiga baju luar khusus untung pengunjung.
“Cukup dua saja, Suster. Saya hanya mengantarkan, kok,” kata Edi.
“Oh, begitu. Lalu, Tuan ini ...” perawat itu tampak ragu.
“Dia suami saya,” potong Via sambil tersenyum.
Kedua perawat itu terkejut. Mereka memang sudah mengenal Via. Namun, mereka tidak pernah mengetahui pasti suami Via. Yang
mereka tau hanya dari desas-desus yang mengabarkan suami Via meninggal. Dan, tentu saja mereka tidak berani bertanya lebih lanjut.
“Boleh kami masuk sekarang?” tanya Via.
“I—iya. Silakan dipakai dulu,” jawab salah seorang di antara mereka dengan kegugupan yang nyata.
Via tidak mempedulikan reaksi kedua perawat itu. Kebetulan, Via tidak akrab dengan keduanya. Mereka baru saja bertukar shift, biasanya mereka bertugas malam hari.
Farhan turun dari kursi roda. Via segera membantu Farhan mengenakan baju khusus. Setelah itu, barulah dia mengenakan untuk dirinya.
Via menggandeng Farhan memasuki ruangan khusus untuk para bayi yang baru lahir dan memiliki masalah. Kebanyakan berat badan mereka di bawah normal.
“Yang mana anak kita?” bisik Farhan.
Via menghentikan langkahnya di samping inkubator yang di dalamnya ada bayi mungil mengenakan gelang bertuliskan bayi Ny. Novia Anggraeni.
“Ini bayi kita?” tanya Farhan.
Via mengangguk tanpa menoleh. Tatapannya tidak berpindah dari bayi mungil yang tengah tidur.
“Oh, lucu sekali dia. Tidurnya begitu nyenyak kelihatannya,” ucap Farhan lirih.
Via tersenyum. Kali ini, dia menoleh dan memperhatikan suaminya.
Farhan tengah menatap bayi dalam inkubator itu dengan takjub. Gurat bahagia tampak nyata terlukis di wajah tampannya.
“Oh, Sayang. Kapan Ayah bisa menimangmu? Ayah sudah nggak sabar. Ayah ingin mencium kamu, Nak,” gumam Farhan. Senyumnya tidak hilang dari bibirnya.
“Ayah harus sembuh dulu, baru bisa menimang Dedek Zayn. Bagaimana mau menimang kalau tangan Ayah masih sakit begini?” bisik Via ke telinga Farhan.
Farhan menoleh. Dengan cepat, ditariknya bahu Via hinga sang istri condong kepadanya. Lalu, sebuah ciuman mendarat di pipi Via.
“Ini gantinya. Karena Ayah belum bisa nyium Dedek, Bunda harus gantiin,” ucap Farhan.
“Ish...sembarangan. Kalau ketahuan perawat bagaimana?” gerutu Via dengan muka memerah.
“Ya, bilang saja kalau khilaf karena sudah lama nggak ketemu,” jawab Farhan santai.
Via mencebikkan bibirnya. Farhan terkekeh melihat reaksi Via. Namun, ia segera menutup
bibirnya, khawatir suaranya mengganggu kenyamanan para bayi itu.
“Biasanya, berapa hari di inkubator sampai boleh pulang?” tanya Farhan.
“Ya bergantung kondisinya. Kalau sudah sehat, tubuhnya sudah kuat, tentu boleh keluar. Kasus bayi yang dilahirkan secara caesar dengan usia di atas 34 minggu biasanya tidak lama. Tidak sampai seminggu. Apalagi kalau berat badannya normal. Paling tiga hari,” jawab Via.
“Kok tahu?” tanya Farhan lagi.
“Ya tahu, dong!” sahut Via sewot.
“Ih, ngambek?” goda Farhan.
Via hanya mendengus kesal. Bibirnya sedikit maju beberapa milimeter.
“Jangan begitu! Mas jadi gemes lihat bibirmu, kepengin memakannya,” bisik Farhan.
“Tuh, mesumnya kambuh, deh,” cibir Via.
Farhan tersenyum. Ia kembali menatap bayinya.
“Oh, lihat! Dia bergerak-gerak. Apa dia mau bangun?” pekik Farhan lirih.
Si bayi ternyata tidak membuka matanya. Ia masih tidur dengan lelap.
“Ah, lucunya. Dia tidak terbangun.”
“Sudah, kita keluar yuk!” ajak Via.
“Tapi, Mas belum puas lihat Dedek,” rengek Farhan. Ia seperti anak kecil yang menginginkan es krim.
“Nanti sore kita bisa menjenguknya lagi. Ingat, Hubbiy harus menjalani rangkaian pemeriksaan, kan Jangan-jangan Aya sudah menunggu.”
__ADS_1
Akhirnya, Farhan menurut. Sebelum pergi, dipandanginya wajah polos buah hatinya.
Setelah melepas dan menyerahkan baju khusus, Via menyempatkan bertanya tentang perkembangan bayinya.
“Bagaimana perkembangan bayi saya, Suster?” tanya Via.
Seorang perawat yang mengenakan name tag Susanti segera membuka catatan medis. Ia mencari data bayi Via.
“Bayi Anda memiliki perkembangan yang baik. Sekarang, ia sudah bisa bernafas spontan. Tuan dan Nyonya tadi melihat tidak ada lagi alat bantu pernafasan, bukan?” tanya
perawat bernama Susanti.
Via mengingat-ingat apa yang ia lihat tadi. Ia baru menyadari tidak ada slang lagi
yang terhubung dengan hidung baby Zayn.
“Iya, saya baru ngeh. Jadi, paru-parunya sudah tidak bermasalah, kan?” tanya Via penuh harap.
“Alhamdulillah tidak. Berat badannya juga naik terus dengan kenaikan wajar. Sekarang BB-nya 1.725 gram,” jawab perawat satunya.
“Lalu, kapan boleh kami bawa pulang, Suster?” tanya Farhan tak sabar.
“Kami tidak bisa memastikan, Pak. Nanti, kalau berat badannya mencapai 1.800 gram, akan dicoba dikeluarkan dari inkubator dan minum ASI secara langsung. Kita lihat kemampuan bayi,” jawab Susanti.
“Kalau bisa, dia pasti boleh pulang, kan?” tanya Farhan lagi.
Via menyikut tangan Farhan pelan.
“Nggak sabar amat? Via yang jadi bundanya saja sabar, kok,” gerutu Via lirih.
Kedua perawat itu masih bisa mendengar apa yang Via katakan. Mereka tertawa mendengarnya.
“Ya, kan sudah ingin menggendongnya, menimangnya. Lucu deh,” ucap Farhan.
“Memang berani?” ejek Via.
“Beranilah. Masa menggendong
bayi sekecil itu nggak berani. Bundanya saja aku berani, kok,” sahut Farhan tanpa beban.
“Ish...!” Via tertunduk malu.
“Mau bukti?” lanjut Farhan.
“Sudah, ah. Malah ngelantur gitu. Nggak ingat tu tangan cedera, apa? Keluar, yuk! Terima kasih, Suster. Kami permisi.” Via mendorong kursi roda keluar.
“Mas Edi, tolong bawa bayi besar ini kembali ke kamar, ya!” pinta Via.
“Eh, apa tadi? Bayi besar? Enak saja. Aku nggak mau. Aku mau jalan saja,” protes Farhan.
“Sudah, nggak usah banyak protes. Cepetan naik! Siapa tahu ayah sudah nunggu.” Via masih mengomel.
“Tapi jangan sebut aku bayi besar, dong. Aku nggak mau. Istriku ini sekarang kok jadi
cerewet, ya?” Farhan membalas Via.
“Iya, iya, suamiku. Sekarang silakan naik. Mas Edi siap mengantarkan ke kamar.”
Farhan naik kursi roda sambil mengulum senyum. Edi pun segera mendorong kursi itu kembali ke kamar.
Beberapa meter dari kamar, langkah Via terhenti. Otomatis, Edi ikut berhenti.
“Ayah, Bunda, Eyang!” seru Via.
Ketiga orang di depan mereka yang sedang berjalan menuju ruangan pribadi dokter Haris berhenti. Mereka menoleh.
Via menghampiri mereka. Farhan pun segera turun dari kursi roda dan menyusul Via.
Setelah mencium tangan mereka, Farhan memeluk Eyang Probo erat. Pria yang rambutnya sudah memutih itu pun balas memeluk cucunya. Air mata tak dapat dibendung, meluncur begitu saja.
“Alhamdulillah ya Allah. Kau kembalikan cucuku,” bisik Eyang Probo.
“Kita ke dalamkamar, yuk! Nggak enak kalau dilihat orang lain. Nanti memancing perhatian,” ajak Pak Haris.
Farhan dan Eyang Probo melepaskan pelukan mereka.
“Nggak usah pakai kursi roda, Mas. Sudah dekat, aku jalan saja,” kata Farhan.
Mereka berenam berjalan beriringan. Eyang Probo terus menggenggam tangan kanan Farhan.
Begitu masuk ruangan, dengan sigap Edi membentangkan karpet untuk lesehan. Bu Aisyah menata makanan yang ia bawa dari rumah dengan dibantu Via.
__ADS_1
“Ayo, kita sarapan dulu! Habis ini, Farhan diperiksa, kan?” Bu Aisyah mengajak mereka
begitu hidangan siap.
Eyang Probo duduk di samping kanan Farhan. Orang tua itu tampaknya tidak mau jauh dari cucunya.
“Bagaimana kondisimu, Han? Selain tangan, apa lagi? Kok tadi pakai kursi roda sementara
kakimu bisa jalan?” cecar Eyang Probo.
“Kaki Farhan nggak kenapa-kenapa, kok. Waktu habis kecelakaan saja pegel dan lecet-lecet. Tadi naik kursi roda karena paksaan anak perempuan Bunda, tuh,” jawab Farhan santai.
Via memukul paha suaminya. Ia mencebik.
“Untung saja istrimu tegas. Kamu memang jangan banyak beraktivitas sebelum dipastikan kondisi kepalamu baik-baik saja,” kata Pak Haris.
“Memang ada apa dengan kepala Farhan?” tanya Eyang Probo.
“Nggak kenapa-kenapa, Eyang. Nih, Farhan bisa ngobrol gini,” ujar Farhan.
“Kalau nggak kenapa-kenapa, lalu apa yang membuat kamu pingsan di taksi?” Bu Aisyah ikut menimpali.
Farhan hanya nyengir mendengar ucapan bundanya.
“Bandel emang nih. Tadi saja mesti berdebat waktu disuruh pakai kursi roda.” Via mengadu.
“Biar bandel, kamu kan cinta? Ya nggak?” Farhan mengerling istrinya.
“Ish...kepedean,” desis Via.
Bu Aisyah tersenyum melihat keduanya.
“Sebenarnya kondisi Farhan bagaimana, Haris?” Eyang Probo mengalihkan pertanyaan kepada putra tunggalnya.
“Belum bisa dipastikan. Nanti akan dicek, Ayah. Kemungkinan besar kepalanya mengalami cedera. Tapi, jenis cederanya apa, seberapa parah, ya nunggu hasil CT-scan,”
kata Pak Haris.
“Lalu bagaimana dengan tangan kirinya?” tanya orang tua itu lagi.
“Haris juga belum bisa memastikan. Nanti kita tunggu hasil rontgen. Kalau sudah, baru akan diputuskan tindakan yang diambil,” lanjut Pak Haris.
Eyang Probo mengangguk-angguk. Ia memandang Farhan dengan tatapan iba.
“Selama di rumah Agus, berarti kamu nggak diobati, Han?” tanya Eyang Probo.
“Dikasih obat pereda nyeri, kok. Agus manggil perawat. Sehari sebelum pulang, Farhan dibawake dokter juga. Dokter umum,sih,” jawab Farhan.
“Kenapa kamu nggak menghubungi Azka?” Eyang Probo masih penasaran.
“Bagaimana Farhan bisa menghubungi adikyang jahil itu? HP Farhan hilang. Otak Farhan nggak mampu mengingat nomor yang banyak itu. Alamat Om Candra saja lupa,” sahut Farhan.
“HP nggak ilang, kok. Cuma, masih disimpan sebagai barang bukti.” Via menyela.
“O ya, tadi kalian habis nengok bayi kalian, ya? Bagaimana cicitku? Kapan boleh dibawa
pulang?” Eyang Probo tampak bahagia ketika menyebut cicit.
“Alhamdulillah, perkembangannya bagus, Eyang. Berat badannya naik terus dan dia sudah tidak menggunakan alat bantu pernafasan. Paru-parunya mulai bisa bekerja dengan baik,” jelas Via.
“Eyang ingin menggendongnya. Nggak nyangka Eyang bisa punya cicit. Alhamdulillah.”
“Kalau sudah selesai, segera bersiap, ya! Ayah sudh menghubungi petugas bagian radiologi,”
kata Pak Haris.
“Iya, Ayah.” Farhan berdiri perlahan.
Namun, mendadak nyeri terasa menusuk kepalanya. Tangan kanan Farhan reflek memegang kepalanya. Tentu saja Via menjadi panik. Ia segera berdiri memegangi tubuh Farhan.
Pak Haris dengan sigap membantu Via. Ia menyuruh Via menepi karena Via sendiri belum sepenuhnya pulih. Pak Haris mengkhawatirkan kondisi Via jika menopang beban berat.
***
Bersambung
Maaf kemarin
tidak banyak membalas koment Kakkak. Insya Allah nanti aku balas dan
mengunjungi balik karya Kakak. Terima kasih atas dukungan Kakak semua.
__ADS_1