SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Manusia boleh berencana. Namun, Yang Maha Berkehendak yang mengatur hasilnya. Semua berjalan sesuai kehendak-Nya.


Handrik dibantu Kiki sudah membuat skenario untuk membalas perbuatan Dika. Namun, baru separo yang mereka lakukan, Allah sudah memberikan balasan. Tentu saja kecelakaan yang menimpa Dika bukan bagian dari skenario yang Hendrik susun.


Setidaknya, selama kurun waktu sebulan, Dika tidak berdaya. Kemungkinan besar ia masih dirawat di rumah sakit.


“Mas Edi, masalah di Wijaya Kusuma sudah teratasi. Setidaknya, Dika selaku otak kekisruhan yang ada sudah tidak berdaya. Yang penting, jangan berbuat terlalu jauh kepadanya. Dia juga perlu dibantu,” kata Farhan saat mereka tengah jalan-jalan di Minggu pagi.


“Iya, Mas,” jawab Edi singkat.


“Tuh, kan. Mas Farhan selalu begitu. Mudah sekali memaafkan orng jahat.”


“Mas Edi, pernikahan Mas Edi kan kurang sebentar lagi. Sudah ngobrol dengan Mira, juga dengan calon mertua tentang konsepnya?” tanya Farhan.


“Belum, Mas,” jawab Edi.


“Coba dibicarakan dengan mereka  nanti. Terus, kapan Mas Edi mau ketemu WO?”


“WO? Memang pakai WO?” Edi kaget. Ia pikir menikah dengan konsep sederhana saja.


Farhan tertawa. Ia sudah menghubungi salah satu WO.


“Mas Edi kan sibuk. Kami juga belum bisa bekerja maksimal. Kan lebih mudah pakai WO. Aku dan bunda Zayn sudah menghubungi WO, kok. Tinggal kalian bicarakan mau kalian seperti apa. Mau indoor atau outdoor, temanya apa, undangan berapa, pilih desain undangan, baju pengantin, dan sebagainya.”


Edi melongo mendengar penjelasan Farhan. Ia tidak terpikir serumit itu.


“Maunya Tante Lena sih di hotel. Tapi, kalau Mas Edi dan Mira ingin suasana lain, ya terserah,” lanjut Farhan.


Edi terlihat ragu-ragu. Ia menimbang tabungan yang ia miliki. Rencananya, ia tidak menggunakan semua tabungannya untuk resepsi pernikahan. Cukup sebagian, sisanya akan ia gunakan untuk membeli rumah. Minimal untuk uang muka.


“Mas, Mas Edi kok bengong?” Farhan menepuk bahu Edi.


“Eh, iya Mas. Ee...saya bo—boleh tahu ada paket-paket nikah gitu?”


Farhan tertawa mendengar pertanyaan Edi. Entahlah, yang terlintas di benak Farhan malah paket


hemat di restoran cepat saji. (Ngaco kan?)


“Ada, Mas. Mau paket hemat atau paket komplit?” gurau Farhan.


“Ah, Mas Farhan nih. Saya serius,” rengek Edi.


Farhan tertawa lagi. Ia merasa Edi seperti anak TK.


“Iya, ada kok. Mas Edi tinggal pilih. Bisa juga Mas Edi bikin konsep sendiri.”


“Emm, yang termurah berapa?” tanya Edi malu-malu.


“Soal itu, saya nggak tahu. Bunda Zayn tuh yang paham. Gini aja, nanti Mas ke ruko, pegawai WO disuruh ke sana. Kalian ngobrol bersama biar jelas. Bagaimana?”


“Oh, iya. Bisa, Mas,” jawab Edi.


Sekitar pukul 10 Edi melajukan motornya menyusuri jalanan menuju ruko. Sebelumnya, dia sudah memberi tahu Mira kalau dia akan datang.


Begitu sampai, Mira menyambut kedatangan calon suaminya di depan ruko. Gadis itu mengajak Edi ke lantai 2.


“Kata Dek Via, Mas Edi tengah sibuk karena ada  masalah serius di perusahaan,” ucap Mira membuka pembicaraan mereka.


“Sudah bisa diselesaikan, kok. Tadi Mas Farhan nyuruh aku untuk mulai mempersiapkan pernikahan kita,” kata Edi.

__ADS_1


Mira menunduk sambil menahan senyum. Antara malu dan bahagia berbaur dalam dada yang


bergemuruh mendengar kata pernikahan.


“Mbak Via sudah menghubungi salah satu WO untuk menangani keperluan kita. Nanti ada perwakilan dari mereka yang datang ke sini,” lanjut Edi.


“WO? Kita pakai jasa WO, Mas?” tanya Mira kaget.


Edi mengangguk. Dia tidak mungkin membantah kemauan Via.


“Memang nggak mahal?” tanya Mira lagi.


“Entahlah. Aku juga nggak tahu. Kita tanya saja nanti ke orangnya,” jawab Edi dibuat santai.


Saat mereka sedang mendiskusikan rencana pernikahan mereka, Ratna masuk. Di belakang Ratna seorang gadis berkaca mata dengan penampilan sedikit tomboy.


“Assalamualaikum,” ucap gadis itu.


“Waalaikumsalam,” jawab Edi dan Mira bersama.


“Perkenalkan saya Gayatri dari Golden WO. Mbak Via menyuruh saya menemui Mbak Mira dan Mas Edi di sini untuk membahas konsep pernikahan.”


“Oke, silakan lanjutkan diskusi kalian. Aku turun dulu,” kata Ratna.


“Iya, Mbak Ratna. Makasih telah dibantu,” ucap Gayatri sopan.


Ratna segera melesat turun. Mira mempersilakan Gayatri duduk.


“Mbak Mira dan Mas Edi sudah mendiskusikan konsep pernikahan kalian? Mau indoor atau outdoor, temanya apa?” Gayatri memulai pembicaraan tentang rancangan pernikahan mereka.


“Emm, begini, Mbak. Kami sebenarnya berniat menggelar pernikahan yang sederhana. Jujur saja, kami masih banyak keperluan. Maaf, ya,” kata Mira malu-malu.


Gayatri tertawa kecil mendengar pengakuan Mira. Ia merasa gadis di depannya begitu polos.


Mira mengangguk setuju. Edi pun sama. Mereka melihat gambar-gambar beserta penjelasan fasilitas yang diberikan dari Gold WO.


Setelah beberapa saat, Mira menemukan ada yang terlihat sederhana. Mira yakin itu paket termurah.


“Kalau yang ini bagaimana?” bisik Mira meminta pertimbangan Edi.


Edi mencermati penjelasan yang ditunjuk Mira. Ia akhirnya mengangguk setuju.


“Mbak, kalau yang ini harga paketnya berapa?” tanya Mira.


“Oh, itu murah. Tapi, itu hanya untuk 100 undangan, Mbak,” jawab Gayatri.


“Memang kami berencana mengundang kerabat dan teman dekat saja,” sahut Mira.


Raut wajah Gayatri tampak kebingungan. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka pesan dari Via. Lalu, ia memberi tahu Mira tentang kesepakatan pihak WO dan Via.


“Maaf, Mbak Mira, Mbak Via bilang undangannya sekitar 700 orang dari perusahaan dan keluarga Mbak Via juga Mas Farhan.  Mas Edi dan Mbak Mira dipersilakan menambah daftar undangan. Kalau Mbak Mira pilih yang untuk


100 orang, berarti undangannya 800 orang, ya?”


Mira tampak gugup. Ia menatap Edi yang terlihat sedikit gelisah. Namun, lelaki itu berusaha tetap tenang.


“O ya, Mbak Via juga menanyakan konsepnya indoor atau outdoor?” Gayatri masih mendominasi  pembicaraan.


“Indoor saja, Mbak,” jawab Mira lirih. Jantungnya berdebar mengingat biaya yang harus Edi keluarkan.

__ADS_1


“Oke. Ini daftar hotel yang bisa Mbak pilih. Ini sudah diseleksi Mbak Via. Mbak Mira tinggal pilih satu di antara ini.”


Mira meneguk salivanya yang terasa pahit. Ia menatap Edi meminta pertimbangan.


“Yang termurah yang mana?” tanya Mira.


“Ini sebetulnya tidak jauh selisihnya. Yang termurah ini, Mbak.”


“Oke, itu saja.” Mira bertambah gugup.


“Keluarga Mas Edi dan Mbak Mira ada berapa orang yang menginap di hotel?”


“Ah, tidak. Dari keluarga Mas Edi saja. Berapa orang Mas?” tanya Mira gugup.


“Empat. Pesan 1 kamar saja,” sahut Edi.


Gayatri berhenti menulis. Ia menatap pasangan calon pengantin itu.


“Masa hanya satu kamar? Mbak Via sudah memesan 10 kamar, kalau mau nambah silakan.”


Mata Edi terbelalak mendengar penjelasan Gayatri. Ia kini tak jauh beda dengan Mira.


“Maaf, sebenarnya Mas Edi dan Mbak Mira kenapa? Cuma gini kok gugup?” tanya Gayatri keheranan.


“A—anu itu, itu di lu—ar perhitungan kami. Kami khawatir nggak bi—bisa melunasi, gimana?” sahut Edi.


Gayatri terkekeh mendengar pertanyaan Edi.


“Mas ini kenapa sih? Kok kayaknya takut banget milih yang mahal?”


“Gundulmu kuwi! Aku pusing  dapat duit dari mana,” gerutu Edi.


“Mas, Mbak, semuanya ditanggung  Mbak Via. Jadi, Mas Edi dan Mbah Mira tinggal pilih yang disuka,” kata Gayatri menjelaskan.


Edi dan Mira saling tatap. Ada keharuan menyeruak. Mereka tidak mengira kalau Via melakukan sejauh itu.


“Mas, Mbak, yang ini pilihan Mbak Via. Tapi, Mbak Via bilang kalau Mbak Mira atau Mas Edi ingin paket lain, ya monggo,” tambah Gayatri.


“Kita jangan ngelunjak mentang-mentang dibayarin Mbak Via, ya Mas,” bisik Mira.


“Iya, kita cari yang tidak terlalu mahal,” jawab Edi juga dengan berbisik.


Gayatri tersenyum melihat keduanya. Ia mengira Edi dan Mira sedang membuat rencana romantis untuk  pernikahan mereka.


Akhirnya, mereka memilih paket gold bukan platinum seperti pilihan Via. Mereka juga memilih desain undangan  dan suvenir yang disodorkan.  Gayatri menjelaskan mengenai paket tersebut dan meminta Edi dan Mira segera menyiapkan daftar orang yang akan diundang.


Setelah dirasa cukup, Gayatri berpamitan. Edi dan Mira kembali duduk di sofa setelah mengantar Gayatri. Mereka masih sedikit shock setelah tahu budget pernikahan dan semua ditanggung Via.


“Dek Via baik banget, ya Mas? Uang segitu kan besar. Belum lagi buat sewa kamar hotel yang di luar paket. Keluargaku nggak usah nginep di hotel, ya Mas. Toh dekat. Keluarga Mas Edi saja yang di hotel. Biar agak hemat,” usul Mira.


“Apa keluargamu nggak merasa tersisih, dibedakan?” tanya Edi khawatir.


“Lho, kan mereka ada di Jogja. Ngapain nginep di hotel? Sudahlah, ini nanti biar aku saja yang bicara sama mereka. Biar nggak terlalu membebani Dek Via,” kata Mira.


“Ya sudah kalau itu maumu. Aku juga nggak enak sebetulnya. Tapi, kita nggak mungkin bisa nolak. Aku sudah sempat deg-degan lihat harga paket yang ditawarkan. Apalagi undangannya sampai  700-an bahkan lebih,” ucap Edi jujur.


Mira pun tertawa mendengar pengakuan Edi. Dia sendiri juga khawatir. Dia tahu meski Edi mampu membayar, tetapi itu jelas menguras tabungan Edi.


***

__ADS_1


Bersambung


Edi dengan Mira. Ratna sama siapa, ya? Azka juga belum dapat jodoh. Silakan boleh usul. Like dan koment juga aku tunggu.


__ADS_2