SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XIV


__ADS_3

Ceritanya di beberapa episode masih flat yaaa... Belum ada konflik yang tajam.


Harap sabar🙏


Semoga suka 😘


🌱🌱🌱🌱


Seperti hari-hari sebelumnya, Via berangkat sekolah bersama Bu Aisyah. Hari ini adalah waktu bagi dia bersama Doni dan Viko berjuang di babak semi final lomba debat.


Saat mereka sudah siap berangkat, mendadak Pak Herman mendapat kabar bahwa istrinya sakit. Ia harus segera pulang. Sementara, Bu Ratri tidak bisa mengemudikan mobil.


Akhirnya, Kepala Sekolah menugasi Bu Aisyah untuk mengantar anak-anak berlomba. Mereka pun segera meluncur ke lokasi lomba karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.25.


Babak semi final pun dilalui dengan lancar. Lawan mereka memang cukup tangguh. Bagaimana tidak? Tim yang menjadi lawan adalah tim yang mereka hadapi pada babak final tahun lalu. Jadi, babak semi final tahun ini mirip dengan babak final tahun lalu. Benar-benar seru dan menegangkan. Namun, karena Via dan Viki pernah mengalahkan mereka, Via dan Viki sudah menyiapkan strategi yang jitu. Tim Via pun masuk final. Mereka akan menghadapi tim dari SMA 8 setelah jeda ishoma.


Babak final menampilkan performa puncak kedua tim. Argumen yang dikemukakan sangat kuat dan meyakinkan. Juri pun kagum akan kemampuan mereka. Lomba berakhir pada pukul 14.00.


Sesuai prediksi, Via dan kawan-kawan berhasil mempertahankan gelar. Mereka kembali mengharumkan nama baik sekolah dengan menyabet gelar Juara I.


“Hebat. Congratulations! Ibu bangga sekali, Nak. Kalian memang luar biasa,” pekik Bu Ratri begitu mengetahui Via, Doni, dan Viki memuncaki lomba debat. Bu guru yang masih lajang itu memeluk Via lalu menyalami Viki dan Doni erat.


Saat pengalungan medali serta penyerahan tropy dan piagam, Bu Ratri pun heboh. Tepuk tangannya terdengar paling keras. Sementara Bu Aisyah tersenyum bangga menyaksikan anak didiknya berprestasi. Terlebih Via. Berkali-kali Bu Aisyah mengusap matanya yang basah.


Bu Aisyah terharu menyaksikan Via dikalungi medali, menerima piagam, dan tropi. Bagaimana tidak? Via yang tengah dirundung berbagai musibah masih dapat menunjukkan prestasi yang mengharumkan nama baik sekolah.


“Jadikan prestasi ini cambuk bagi kalian untuk terus berprestasi. Jangan pernah menyombongkan diri! Tetaplah jadi pribadi yang rendah hati,” pesan Bu Aisyah.


“Via ikut mengantar Bu Ratri dan kawan-kawanmu, ya!”


Via mengangguk sambil tersenyum. Wajah Doni dan Viki pun sebentar-sebentar dihiasi senyum. Bahagia terpancar pada muka mereka.


“Bunda!” mendadak sebuah panggilan menghentikan niat Bu Aisyah membuka pintu mobil.


“Farhan? Kamu di sini, Nak?”


“Iya, nemenin eyang lagi. Kemarin pembicaraan investasi belum selesai. Kok Bunda yang ngantar mereka?”


“Iya, Pak Herman ada kepentingan mendadak. Kamu mau pulang sekarang atau nanti?”

__ADS_1


“Sekarang. Urusan sudah selesai."


“Kalau begitu, Via bareng kamu saja. Kasihan kalau ikut Bunda nganter teman-temannya. Dia butuh istirahat. Bisa, kan?”


“Bisa, Bun. Ayo, Dek.”


Mau tidak mau Via mengekor Farhan. Sebetulnya ia ingin bergabung dengan Doni dan Viki, mengomentari serunya lomba tadi. Namun, dia tidak enak menolak perintah bunda angkatnya.


Lagi-lagi Via merasakan aura dingin. Ia seperti sedang di hamparan salju.


“Kok bisa dia sedingin ini, ya? Ayah, bunda, Mas Azka nggak ada yang bersikap sedingin kulkas ini. Apa karena kami belum lama kenal? Tapi Mas Azka juga belum lama kenal aku. Hanya selisih sehari. Atau dulu bunda ngidam es batu, ya?Ah, seandainya Mas Azka yang nyetir pasti seru. Banyak hal yang bisa jadi bahan obrolan. Mas Azka pasti bakal nanya, seru nggak lombanya? Lawanmu giman? Kalian kok bisa Juara I? Rasanya gimana jadi Juara I? Maaas…Mas… Bagaimana caranya agar kamu itu bisa cair? Perasaan kalau sama yang lain kamu normal. Kenapa kalau sama aku jadi dingin begini? Atau aku yang seperti es, bisa membuat orang lain beku? Haish…pikiran macam apa ini?”


Sama seperti kemarin, selama perjalanan mereka hanya diam. Persis seperti dua orang yang sedang memendam amarah.


Via segera turun dari mobil setelah berterimakasih. Ia tidak menunggu Farhan memarkir mobil.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam. Hai Via! Pasti kamu Juara I. Ya, kan? Udah, nggak usah kasih tahu aku. Tinggal bilang iya.” Azka langsung menyambut dengan heboh.


Via tertawa kecil. Begitu besar perbedaan sikap kakak beradik ini.


“Besok kamu jadi penerjemah saja, Vi. Kalau aku perlu referensi asing, tolong terjemahin, ya!”


“Wani piro?”


“Piro-piro wani.”


Mereka tertawa bersama. Sampai-sampai mereka tidak menyadari Farhan masuk.


“Kok kamu dianterin Mas Farhan terus sih? Jangan-jangan Mas Farhan sekarang alih profesi jadi sopir taksi online?”


“Hush, ngaco!” Via tertawa lagi.


“Atau…sekarang Mas Farhan kerja part time di hotel?”


“Sembarangan!” Sebuah bantal sofa mendarat mulus di kepala Azka.


“Eh, Mas Farhan? Kok tahu-tahu ada di sini? Kapan masuk?” tanya Azka heran.

__ADS_1


“Emang aku jin? Dari tadi salam kalian tidak ada yang menjawab karena asyik dengan dunia kalian sendiri,” Farhan bersungut-sungut.


Azka menutup mulutnya, menahan tawa yang hampir meledak. Via hanya mengulum senyum sambil mengangkat bahu.


“Maaf, Mas. Habis ada bintang baru, sih. Via kan layak dapat bintang. Dua kali berturut-turut menjuarai lomba debat bahasa Inggris. Uh…keren banget.”


“Emang dulu waktu SMA kamu nggak pernah jadi juara?” tanya Farhan sinis.


“Idiiih…sering, Mas. Lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba …aw!” Azka menjerit kaget karena lagi-lagi kepalanya jadi sasaran empuk lemparan Farhan.


“Mas Farhan jahat! Udah diem aja! Aku mau nanya-nanya ke Via soal prestasinya, nih. Kalau Mas ga tertarik, sana masuk kamar!”


Farhan hanya mendengus kesal. Namun, ia tidak masuk kamar tetapi ikut duduk di dekat Azka.


“Gimana biar bisa lancar ngomong pakai bahasa Inggris? Kamu kursus?”


Via menggeleng pelan,” Enggak kok. Via Cuma belajar di sekolah, les paling kalau pas ada, sering baca-baca artikel berbahasa Inggris juga. Yang penting sering dipraktekkan, Mas.”


“Kalau baca sih iya. Kalau ngomong kan butuh spontanitas juga.”


“Ya sama, harus sering dipraktekkan.”


“Kamu sering ngomong pakai bahasa Inggris? Dengan siapa?”


“Iya, dulu sering ngobrol pakai bahasa Inggris dengan papa. Apalagi saat berlibur ke Singapura, Jepang, Australia, dan negeri lain. Via juga punya teman dari Sidney. Kami sering ngobrol meski cuma via telepon. Karena sering dipakai untuk komunikasi, kemampuan berbahasa Inggrisku jadi lumayan.”


“Wah, kau sering ke mancanegara rupanya.”


“Enggak sering, tapi pernah. Waktu papa masih ada, saat ada pertemuan dengan kolega papa di luar negeri aku dan mama kadang diajak. Tentu saja kalau aku libur.” Via tiba-tiba tertunduk lesu. Wajahnya berubah muram. Matanya berkaca-kaca.


“Eh, kamu kok jadi muram gitu? Udah, jangan sedih lagi! Masa habis jadi juara malah cemberut. Ntar medalinya buat aku lo!” Azka meledek, berusaha mencairkan suasana.


Via memaksakan tersenyum. Namun, suasana hatinya tidak bisa dengan cepat membaik. Ia segera berpamitan ke kamar.


***


Masih bersambung....


Author usahakan tiap hari bikin episode baru.

__ADS_1


__ADS_2