
Via baru menutup laptopnya. Sementara Farhan masih menyelesaikan pekerjaan yang tinggal sedikit lagi.
"Hubbiy, boleh Via ke kamar dulu?" Via minta izin kepada Farhan.
"Iya, sana duluan. Mas masih mengecek satu laporan lagi. Paling lama sepuluh menit selesai," jawab Farhan.
Via bangkit dari duduknya dan menuju ke kamar. Saat ia akan ke kamar mandi, terdengar nada dering panggilan dari teleponnya. Via mengurungkan niatnya ke kamar mandi lalu mengambil benda kotak pipih yang tergeletak di nakas.
Nama Kakek tertera pada layar. Jari telunjuk Via menggeser gambar telepon warna hijau.
"Assalamualaikum, Kek," ucap Via.
"Waalaikumsalam, cucu Kakek yang cantik," jawab kakek Via.
Via terkekeh mendengar pujian dari kakeknya.
"Kakek apa kabar? Sehat, kan?" tanya Via.
"Alhamdulillah, Kakek sehat wal afiat. Sejak ketemu kamu, semangat Kakek untuk hidup sehat berlipat-lipat. Kakek jadi ingin menimang cicit, nih."
"Memang tadinya enggak?" Via menggoda kakeknya.
"Enggak. Apalagi sejak nenekmu tiada. Semangat Kakek pun pudar. Makanya, Kakek semula tak mau dioperasi. Kakek sudah pasrah sewaktu-waktu dipanggil Yang Kuasa. Sekarang, Kakek mau berusaha agar tetap sehat, bugar. Jadi, pada saat kalian punya anak, Kakek masih kuat menggendong mereka."
Via tertawa getir. Ia teringat mendiang kedua orang tuanya. Terlintas di benaknya seandainya papa mamanya masih hidup.
"Kamu jangan sedih! Nanti Kakek ikut sedih," ujar Pak Adi. Ia merasakan kesedihan dalam tawa Via.
"Enggak, kok. Siapa juga yang sedih?" Via mengelak.
"Suamimu ada?" Pak Adi mengalihkan pembicaraan.
"Ada, di ruang kerja. Tadi katanya mau ngecek laporan. Kakek mau ngomong sama Mas Farhan?"
"Nggak usah. Bulan madu kalian menyenangkan, kan?"
"Iya, Kek," jawab Via singkat.
"Masih kurang? Kalian boleh ke Paris atau Maldives, Phuket, terserah," kata Pak Adi.
"Enggak, enggak. Sudah cukup, kok. Kapan-kapan ke sana kalau waktunya memungkinkan."
"Terserah kamu, Nak. O iya, Kakek mau ngasih kabar. Besok kalian ke Jakarta sekalian menghabiskan libur agak panjang. Jumat kan libur," kata Pak Adi.
Via berdebar-debar mendengar kakeknya menyuruh ke Jakarta. Ia khawatir ada sesuatu.
"Kek, ada apa? Kakek sakit?" tanya Via khawatir.
"Ish, kau ini. Kan Kakek sudah bilang sehat. Kakek kangen cucu cantik Kakek," sanggah Pak Adi.
Via tertawa lega. Pikiran buruk tentang Pak Adi pun lenyap.
"Dini juga cantik, Kek."
"Iya. Dini juga Kakek suruh ke Jakarta. Ada acara yang akan kita hadiri."
__ADS_1
"Apa itu, Kek?" tanya Via.
"Salah satu kerabat kita ada yang mengadakan ulang tahun perusahaan. Sekalian Kakek kenalkan dengan keluarga besar Wijaya. Saat resepsi pernikahan kamu dan Farhan kan tidak semua hadir," papar Pak Adi.
"O, begitu. Ya, Kek. Insya Allah kami siap."
"Kalau begitu, Kakek tutup dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Siapa yang telepon? Kelihatannya asyik banget sampai nggak tahu suami masuk.'
Via tersentak kaget. Ia tidak mengira Farhan sudah di dalam kamar.
"Tadi Kakek Adi yang telepon. Kita disuruh ke Jakarta Jumat pagi."
"Bulan madu jilid II?" FarhAn menggoda Via.
"Ih, kok mikirnya bulan madu terus, sih? Masih kurang?" Via mencebik.
"Enak, sih. Memang Cinta nggak seneng?"
"Enggak," jawab Via dengan raut muka datar.
"Enggak beda sama Mas. Iya, kan?" Farhan tersenyum lebar.
"Udah, ah. Via mau bobo."
"Sudah wudu?" Farhan mengingatkan.
***
Via dan Farhan jadi ke Jakarta. Kakek Adi ikut menjemput di bandara.
Pria berusia kepala 6 itu begitu bersemangat menyambut kedatangan cucunya.
Sejak bertemu Via, Pak Adi kembali seperti Pak Adi sepuluh tahun silam. Semangat dan optimisme terpancar di wajahnya yang kharismatik.
"Ayo, turun! Kalian istirahatlah dulu! Nanti sore ada yang mau Kakek omongin.'
Via dan Farhan berjalan mengikuti seorang ART yang menjemputnya.
Lima belas menit telah berlalu dari pukul 11. Via mengerjapkan matanya. Setelah pandangan matanya terang, ia menatap jam dinding.
"Hubbiy, bangun! Sudah jam 11 lewat. Hubbiy kan mesti salat Jumat." Via menepuk lengan Farhan agar bangun.
"Jam berapa, Cinta?" tanya Farhan dengan suara sedikit serak karena baru bangun tidur.
"Jam 11 lewat seperempat. Sana mandi! Via siapin baku koko," ucap Via sambil bangun dari tempat tidur.
Selesai bersiap, mereka berdua menuruni tangga menuju lantai 1.
"Kak Via!" teriakan seorang gadis membuat langkah Via terhenti. Via menoleh ke sumber suara.
"Dini!" Kali ini Via yang berteriak.
__ADS_1
Keduanya saling mendekat dan berpelukan erat. Farhan hanya tersenyum.
"Mas berangkat ke masjid, ya," pamit Farhan.
"Memang Kakak tahu di mana masjidnya?" tanya Dini sembari menahan senyum.
"Enggak. Kakek belum berangkat ke masjid, kan?" Farhan menjawab diiringi pertanyaan.
"Nggak tahu berangkat apa enggak. Ya sudah, Mas coba keluar! Nanti kalau sudah nggak ada satu pun lelaki di rumah ini yang mau ke masjid, balik ke dalam, ntar Dini anterin," ucap Dini.
"Oke. Mas berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Via dan Dini serempak.
Setelah Farhan pergi, Dini mengajak Via ke taman belakang.
"Kamu kapan sampai sini, Din?" tanya Via.
'Tadi, Kak. Tadi sekitar jam 10.30 sudah sampai. Kata kakek, Kak Via dan Kak Farhan sedang tidur. Ya udah, Dini tiduran di kamar."
"Rumah kakek besar banget, ya." Via mengedarkan pandangan ke setiap sudut taman.
"Iya. Rumah Kak Via juga."
"O ya, kakek bilang akan memperkenalkan Via kepada keluarga besar Wijaya. Memang nanti kerabat kita datang ke sini?" Via mengalihkan pembicaraan.
"Enggak, Kak. Salah satu kerabat kita ada yang akan merayakan ulang tahun perusahaan. Masih muda lo. Eh, waktu resepsi pernikahan Kakak, mereka dateng. Tapi, mungkin Kak Via nggak ingat karena nggak kenal," papar Dini.
"Aduh, berarti banyak orang yang tidak aku kenal, dong. Aku bisa-bisa seperti terasing." Via merasa khawatir.
"Tenang, Kak. Aku dan mamah kan ikut. Nanti aku kenalkan Kak Via kepada mereka. Pokoknya Kakak tidak usah khawatir," kata Dini menenangkan Via.
"Bener, ya. Kamu deket-deket aku terus."
"Iya, Kak. Kak Via kukawal terus, deh. Lagian kan ada Kak Farhan."
"Yaaah, Mas Farhan kan juga nggak kenal mereka. O iya, Om Candra mana?" tanya Via.
Dia baru ingat belum bertemu orang tua Dini.
"Jadwal landing pesawatnya nanti sore. Dini kan sekarang kost di Bandung, nggak bareng papah mamah. O iya, nanti Kak Via bisa kenalan sama kakakku. Waktu resepsi, kakakku kan belum pulang," kata Dini penuh semangat.
"Oh, jadi kamu bukan anak tunggal?" tanya Via kaget.
"Bukan, Kak. Anaknya papah mamah dua orang. Nanti sore deh, Kak Via kenalan sama Kak Ardi."
"Iya, deh. Kita salat, yuk!"
"Kayak apa, ya, keluarga Wijaya? Semoga mereka nggak sombong. Andai ada papa, aku pasti nggak se-grogi ini."
***
Maafkan author yang kesulitan membagi waktu 🙏 Author akan tetap berusaha update tiap hari meski terlambat.
Terima kasih atas dukungan Kakak semua 🙏🙏
__ADS_1