SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Perlu Mapati?


__ADS_3

Kehamilan Via pada masa trimester pertama memang cukup merepotkan. Fisik Via seperti terkuras. Karena tekad yang kuat, ia berhasil menyelesaikan tugas-tugas akhirnya.


Farhan sebenarnya tidak tega melihat perjuangan istrinya menyelesaikan kuliah. Namun, Via begitu ngotot untuk menyelesaikan kuliah sebelum ia menjadi seorang ibu.


Memasuki trimester kedua, perubahan mulai terjadi. Morning sickness sudah berkurang. Via sudah mulai bisa menikmati makan tanpa sering mutah. Hanya pada saat ia mencium bau menyengat, perutnya bereaki. Wajahnya tidak begitu tirus. Pinggul Via pun sudah melebar.


Meski demikian, sikap manjanya kepada sang suami kian bertambah. Terkadang, Farhan memang sedikit kerepotan menghadapi perubahan sikap Via. Namun, ia lebih bersabar. Ia ingat akan janjinya untuk mengerti istrinya.


Farhan terpaksa mengizinkan Via memasak walau sekali sehari. Ini karena Farhan tak tahan dengan rengekan sang istri. Via merajuk saat Farhan tidak memberinya izin beraktivitas di dapur. Farhan mengalah dengan memberi batasan hanya sekali dan harus dibantu Bu Inah atau Mbok Marsih.


Kala jarum pendek jam dinding di dapur menunjuk angka 6, Via sudah menyelesaikan kegiatan memasak menu sarapan. Mbok Marsih yang membantunya masih membersihkan peralatan memasak.


“Mbak Via, kandungan Mbak Via masuk bulan keempat, kan? Kapan mau mapati?” tanya Mbok Marsih.


“Mapati? Apaan itu, Mbok?” Via balik bertanya.


“Mapati dari kata papat atau empat. Itu acara selamatan untuk kandungan berusia 4 bulan. Saat itu kan roh ditiupkan ke jabang bayi,” papar Mbok Marsih sambil terus mencuci.


“Oh, begitu. Via nggak tahu. Nanti Via tanyakan ke mas Farhan. Makasih diingatkan, Mbok.”


Via bergegas ke kamar untuk membersihkan diri. Waktu masuk kamar, dilihatnya Farhan sudah rapi dengan jasnya. Via tersenyum kala pandangan mereka beradu.


“Wah, suamiku sudah rapi. Kalau begitu, Via mandi dulu, ya.”


“Tunggu! Kalau habis masak, bau asem nggak?” Farhan mendekat dan menghujani wajah Via dengan ciuman.


“Ih, apa-apaan? Ni Via sudah ingin mandi. Bau,” elak Via.


“Bagi Mas tetep wangi tuh. Mau dimandikan?” Farhan memberi tawaran.


Via hanya mencibir. Ia segera ke kamar mandi. Kalau diladeni, tentu tidak akan selesai. Farhan terkekeh mendapat cibiran dari istrinya.


Sambil menunggu Via mandi, Farhan mengecek email yang masuk melalui ponselnya. Ia menghapus email-email yang tidak penting. Aktivitasnya dihentikan tatkala aroma rose menyeruak. Farhan hafal itu aroma sabun mandi Via.


“Hhmm, sudah ganti nih aromanya. Tadi bau ayam panggang sekarang bau mawar,” kata Farhan sambil memperhatikan Via.


Perepuan itu hanya membalas dengan memamerkan senyum manisnya. Lengkungan bibir tipis itulah yang sering dirindukan Farhan kala tidak bersama Via meski hanya dalam hitungan jam.


“Hubbiy, tadi Mbok Marsih menanyakan kapan mau mapati. Perlu nggak, sih?” Via menceritakan obrolannya dengan Mbok Marsih sambil mengenakan jilbabnya.


“Mas juga kurang paham soal tradisi mapati. Bagaimana kalau kita tanyakan kepada ayah atau bunda?” Farhan memberi tawaran.


“Boleh. Tapi, sebaiknya jangan melalui telepon. Kita ke rumah ayah, yuk!”

__ADS_1


“Oke. Nanti sore sepulang dari kantor kita ke sana, ya!” Farhan menyetujui usul Via.


“Hari ini tidak ada acara ketemu klien, kan?” tanya Via.


“Sepertinya tidak. Coba nanti kita tanyakan ke Arif. Kita sarapan sekarang, yuk!” ajak Farhan.


Via mengangguk. Mereka pun meninggalkan kamar menuju ruang makan.


Pagi itu mereka ke kantor bersama. Edi yang pegang kemudi. Sudah sejak tiga hari yang lalu mereka seperti itu.


Setelah jam pulang kantor, mereka menuju kediaman Pak Haris terlebih dahulu. Farhan dan Via ingin membicarakan adat mapati.


Kedatangan mereka disambut gembira oleh Pak Haris. Dokter senior itu baru saja sampai rumah, sementara Bu Aisyah sudah pulang beberapa jam sebelumnya.


"Bagaimana kabar kalian? Sehat?" tanya Pak Haris.


"Alhamdulillah, Yah, kami sehat," jawab Farhan.


"Via masih sering mual dan muntah?" Giliran Bu Aisyah yang bertanya.


"Sudah nggak begitu sering. Paling kalau mencium bau yang menyengat, yang nggak Via suka, perut Via berontak," kata Via.


"Perusahaan bagaimana? Lancar?" Pak Haris bertanya lagi.


"Alhamdulillah, perkembangan profit cukup pesat. Beberapa waktu yang lalu ada sedikit masalah. Ada oknum yang berusaha meretas data perusahaan. Untunglah Mas Edi dan kawan-kawan sigap mengatasi hal ini."


"Syukur alhamdulillah, Ayah lega mendengarnya. Bunda, mana teman ngobrolnya?"


Bu Aisyah tersenyum lalu bangkit dari duduknya. Via ikut berdiri.


"Biar Via saja, Bunda," ujar Via.


"Tidak. Kali ini biar Bunda yang melakukan. Duduklah!" Bu Aisyah memberi perintah dengan lembut tetapi tersirat ketegasan.


Via kembali duduk. Sementara Bu Aisyah berlalu meninggalkan ruang tamu.


"Ayah, ada yang ingin kami tanyakan berkaitan dengan kehamilan Dek Via," kata Farhan.


"Bukankah kalian sudah berkonsultasi dengan dokter Linda? Kalian sudah ketemu dokter Linda lagi atau belum? Jadwal konsultasi kalian tanggal 25, kan?" cecar Pak Haris.


"Iya, Ayah. Kami sudah konsultasi lagi dengan dokter Linda, kok. Waktu pemeriksaan pertama dokter itu mengatakan agar kami konsultasi sebulan setelah konsultasi pertama atau ada pemberitahuan. Karena tidak ada pemberitahuan, kami konsultasi sebulan setelahnya. Dan, 4 hari yang lalu kami sudah konsultasi yang kedua," jelas Farhan.


"Lalu, apa yang mau kamu tanyakan?" Dahi sang calon kakek berkerut.

__ADS_1


"Soal mapati, Yah. Tradisi selamatan untuk kandungan usia 4 bulan. Tadi pagi Mbok Marsih menanyakan kapan mau mapati. Nah, Via bingung tuh. Perlu nggak mapati?" Via bertanya.


Pak Haris tersenyum. Kesan bijaksana terpancar dari wajah pria berusia hampir 60 tahun itu.


"Mapati itu tradisi Jawa. Betul untuk kandungan 4 bulan. Dalam Islam memang tidak ada perintah maupun anjuran mengadakan selamatan 4 bulanan begitu."


"Jadi, itu bertentangan?" Farhan menyela.


Lagi-lagi Pak Haris tersenyum bijak. Ia melanjutkan, "Sebentar, Han. Dalam hadits riwayat Muslim dijelaskan proses penciptaan manusia. Selama 40 hari berupa ******, 40 hari kemudian berupa segumpal darah, lalu 40 hari berikutnya menjadi segumpal daging. Kemudian diutuslah malaikat meniupkan ruh dan mencatat 4 hal."


"Apa saja 4 hal itu?" Edi ternyata juga memperhatikan.


"Empat hal itu adalah rizkinya, ajalnya, amalnya, dan ia menjadi orang yang celaka atau bahagia. Jadi, pada saat janin berusia 3 X 40 hari atau 120 hari, sama dengan 4 bulan, malaikat meniupkan ruh dan mencatat 4 hal tersebut." Pak Haris berhenti sejenak karena Bu Aisyah datang membawa minuman.


"Seru amat? Ayo diminum dulu!" Bu Aisyah mempersilakan lalu duduk di tempat semula.


"Ini, Bun, masalah mapati, " jawab Pak Haris.


"Kalian mau bikin acara mapati? Kapan?" tanya Bu Aisyah antusias.


"Kami sedang minta pertimbangan ayah, Bunda," jawab Via.


Mereka semua menatap Pak Haris seolah minta pria itu memberi kepastian perlu tidaknya mapati.


"Bergantung niat dan isi acaranya. Kalau niatnya untuk mendoakan calon bayi dan ibunya ya tentu tidak bertentangan. Kemudian, acaranya diisi dengan zikir, pembacaan Al Quran, juga pemberian tausiah, kan bagus. Apalagi menyantuni fakir miskin dan anak yatim." Pak Haris memberi penjelasan secara detail.


Mereka mengangguk-angguk paham.


"Farhan paham, Yah. Bagaimana kalau kita tetap mengadakan? Kita undang anak-anak panti asuhan juga," ujar Farhan sambil menatap Via meminta persetujuan.


"Via setuju. Bagaimana kalau akhir pekan ini?"


"Boleh. Ayah dan Bunda bisa hadir?" Farhan ganti menatap kedua orang tuanya.


"Insya Allah kami hadir. Bukan begitu, Bun?" Pak Haris melempar pertanyaan kepada istrinya.


Bu Aisyah mengangguk sembari memperlihatkan senyum bahagia. Sore itu sudah ada keputusan tentang tradisi mapati.


***


Bersambung


Tetap dukung author dengan klik like dan kasih koment, ya! Vote yang banyak juga. Siapa tahu bisa masuk 20 besar. Penyumbang vote terbanyak akan aku kasih pulsa insya Allah 🙏

__ADS_1


O iya, cek episode sebelumnya yang belum dimerahkan jempolnya, ya!


Makasih atas dukungan Kakak semua 🙏


__ADS_2