SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Memberi Peringatan


__ADS_3

Via sibuk menyiapkan pakaian untuk Zayn dan Farhan. Kedua orang yang Via sayangi itu sedang asyik di kamar mandi. Hal itu biasa Farhan lakukan hampir tiap pagi karena ia jarang bertemu buah hatinya di siang dan sore hari.


“Bunda, Zayn sudah selesai. Ni, harum kan?” ujar Farhan mendekatkan Zayn ke Via.


Zayn terkekeh. Tangannya menjulur ke Via. Sang bunda pun segera menyambut uluran tangan mungil itu.


“Mana? Coba Bunda cium. Hemmm, beneran wangi. Sekarang, anak soleh pakai baju, yuk!”


Via membawa Zayn ke ranjang. Dibukanya handuk yang membungkus tubuh montok Zayn.


“Nda, cium,” kata Zayn sambil mendekatkan wajahnya ke pipi bundanya.


“Oh, Zayn mau cium Bunda? Nih, wangi kan?” sahut Via.


Farhan memperhatikan interaksi antara istri dan anaknya. Rasa bahagia membuncah, memenuhi relung hatinya. Tanpa sadar, senyum pun merekah.


Via merasa diperhatikan dari belakang. Ia pun menegur suaminya.


“Ayah, sudah pakai baju belum? Awas, nanti kalah sama Zayn lo!”


“Yah, alah!” teriak Zayn sambil menatap ayahnya.


Farhan terkekeh. Ia baru sadar kalau belum mengenakan baju. Ia pun segera menyambar baju yang sudah Via siapkan.


“Mari kita berlomba, siapa yang selesai pakai baju duluan!” ujar Farhan.


Kalau sudah mendengar tantangan seperti itu, Zayn biasanya lebih semangat. Via lebih mudah memakaikan baju Zayn.


Lima menit kemudian, Zayn sudah selesai berpakaian. Rambutnya pun sudah disisir rapi. Aroma minyak telon bercampur parfum bayi begitu semerbak.


“Ayah alah!” pekik Zayn melihat Farhan yang rambutnya masih acak-acakan.


“Iyakah? Wah, hebat bener anak Ayah sudah rapi gini? Ayah kalah, ni Bunda,” rengek Farhan.


Via tersenyum mendengar rengekan Farhan yang seperti anak kecil. Zayn pun tertawa senang. Ia berusaha turun dari ranjang. Langkah kecilnya terayun mendekati Farhan.


“Eh, anak Ayah beneran sudah bisa jalan. Waduh, Ayah baru tahu. Tadi bangun tidur masih digendong ke kamar mandi. Ternyata sudah bisa jalan, ya? ayah mesti kasih hadiah, nih. Zayn minta hadiah apa?” Farhan mengangkat tubuh Zayn tinggi-tinggi.


“Bing ma tat,” jawab Zayn dengan bahasa khas bayi.


“Apa, ni?” tanya Farhan sambil menatap Via.


“Mobil sama tart. Mobil-mobilan, Yah. O ya, tart-nya beli di dekat ruko Azarina. Itu kesukaan Zayn,” jawab Via.


Interaksi Via dengan Zayn memang lebih banyak sehingga Via paham bahasa Zayn juga kebiasaan Zayn. Meski sibuk dengan pekerjaannya, Via selalu menyempatkan merawat Zayn dan main bersama meski hanya sebentar.


“Oke deh, insya Allah nanti Ayah belikan. Zayn nggak boleh nakal, ya!” Farhan menurunkan Zayn dari gendongannya.

__ADS_1


“O ya, bagaimana dengan baby sitter untuk mengasuh Zayn? Jadi?” tanya Via.


“Boleh. Cinta bicarakan dulu dengan Bu Inah dan Mbok Marsih. Jangan sampai mereka merasa tersisihkan, dianggap tidak becus merawat Zayn,” saran Farhan.


Via mengangguk setuju. Ia memasangkan dasi ke leher Farhan. Hadiah kecupan di kening pun Via dapatkan usai dasi terpasang rapi.


“Ayo, kita sarapan!” ajak Via.


“Yuk! Zayn ikut Ayah, ya!” Farhan bersiap menggendong Zayn. Namun, bayi lucu itu menolak.


“Ah, itu pasti Zayn minta jalan. Dia kan sudah bisa jalan, nggak perlu Ayah gendong!” ucap Via.


Farhan tampak raagu. Tampak kekhawatiran di wajahnya.


“Ayah gandeng saja saat turun di tangga,” saran Via yang mengerti kekhawatiran Farhan.


Farhan menurut. Ia membiarkan Zayn berjalan sambil tetap diawasi.


“Nanti Via akan memanggil dirut WK Husada agar menemui ayah. Via arahkan yang harus dibicarakan,” kata Via sambil menyuapkan nasi ke mulut Zayn.


Farhan hanya mengangguk. Mulutnya masih penuh nasi.


“Hubbiy pulang jam berapa?” tanya Via sambil menoleh ke Farhan.


“Mas usahakan sore udah di rumah. Kan udah janji beliin mobil-mobilan sama tart untuk Zayn.”


Mendengar jawaban ayahnya, Zayn tampak senang. Ia bertepuk tangan.


Zayn menurut. Tiga suapan terakhir sudah masuk ke perut.


Usai menyuapi Zayn, barulah Via makan. Sementara, Farhan mengawasi Zayn.


Bu Inah dan Mbok Marsih masih membereskan dapur. Setiap hari Jumat, MbokMarsih dan Bu Inah membuat nasi bungkus untuk sedekah. Semula, Via akan memesan. Namun, Mbok Marsih dan Bu Inah meminta agar diberi kesempatan memasak dan menyiapkan sedekah makanan di hari penuh berkah. Pak Yudi dan Pak Nono biasanya membantu mengemas dan membagikan.


“Cinta, jangan lupa nanti sore bicarakan perihal baby sitter dengan Bu Inah dan Mbok Marsih!” pesan Farhan.


“Iya. Hubbiy juga jangan lupa belikan Zayn mobil-mobilan dan tart sesuai janji!” balas Via.


Mereka ke kantor dengan mobil yang dikemudikan Pak Yudi dan Pak Nono. Usai mengantar kedua majikan, Pak Yudi dan Pak Nono mengantar nasi kotak ke panti.


Pukul 10 Via menerima kedatngan Dirut WK Husada. Ia memang mengundangnya untuk berbicara langsung. Edi pun ikut menemani Via.


“Begini, Pak. WK Husada kan menjalin kerja sama dengan Rumah Sakit Assyifa. Di dalam pasal-pasalnya, terdapat kesepakatan kalau WK Husada mendapat prioritas penyuplai kebutuhan obat dan alat kesehatan. Namun, belum lama ini Assyifa melakukan pembelian alat kesehatan ke Global Persada.”


“Global Persada? Kok bisa? Bukankah itu penyedia alat elektronik?” Pak Rohman, Dirut WK Husada, terkejut.


Via ikut terkejut. Pasalnya, dia juga tidak mengenal Global Persada.

__ADS_1


“Semakin jelas ada permainan di sini,” gumam Via.


“Apa sudah dipastikan kalau penyuplainya Global Persada?” tanya Edi.


“Tentu saja. Erna yang memberikan informasi itu langsung,” jawab Via.


“Erna, orang yang Kiki masukkan ke Assyifa bukan?” Edi mengklarifikasi.


Via mengangguk.  Kemudian, Via menunjukkan file yang Erna kirim.


Pak Rohman geleng-geleng kepala. Ia melihat angka yang cukup fantastis.


“Ini memang merugikan kita. Assyifa telah melanggar kontrak. Tapi, kita tidak usah bertindak ekstrim dengan membawanya ke ranah hukum. Kita cukup memberi peringatan,” kata Via.


“Maksud Bu Via?” tanya Pak Rohman.


“Tolong Pak Rohman temui dokter Haris. Jangan mau kalau diwakili yang lain, harus dokter Haris!” Via memberi penekanan saat menyebut ayah mertuanya.


“Aku yakin, ada oknum rumah sakit yang berkhianat memanfaatkan situasi. Kemungkinan dokter Haris lengah, tidak cermat dalam menandatangani dokumen. Atau, oknum ini bermain licik, menyelipkan dokumen kecurangan di antara dokumen resmi.” Via menjeda ucapannya.


“Apa Mbak Via sudah mengetahui siapa oknum itu?” Edi menyela.


“Ini tugas Mas Edi untuk menyuruh Kiki melakukannya. Siapa otak di balik mark up pembelian alat kesehatan di Rumah Sakit Assyifa,” jawab Via tegas.


Edi menganggu. Ia paham apa yang harus ia lakukan.


“Pak Rohman, ajak dokter Haris bicara empat mata. Beri peringatan kepada beliau agar kejadian ini tidak terulang. Kita tidak memperkarakan kasus ini sekarang, tapi mereka jangan main-main lagi! Sampaikan itu kepada dokter Haris,” kata Via tegas.


“Baik. Saya akan segera melakukan pertemuan dengan dokter Haris. Ada lagi yang harus saya lakukan?” tanya Pak Rohman.


“Tidak, itu saja. Pak Rohman bersikap professional, ya! Tegaskan kepada dokter Haris bahwa mereka telah melanggar kontrak,” jawab Via.


Pak Rohman segera undur diri setelah Via mengizinkan.


“Mbak Via berani tegas juga kepada mertua,” komentar Edi.


Via tertawa kecil.


“Justru itu untuk menyelamatkan ayah. Kalau Pak Rohman lembek, ayah bisa curiga. Selain itu, ayah juga perlu diberi peringatan agar waspada. Kalau ayah tidak segera menyadari ada oknum yang siap menikam, dalam hitungan minggu, rumah sakit bisa bangkrut. Aku yakin oknum ini akan terus bermain setelah berhasil memperdaya ayah dalam pembelian alkes ini.”


Edi mengangguk mengerti. Ia segera menghubungi Kiki untuk membicarakan langkah mereka selanjutnya.


***


Bersambung


Terima kasih kepada seluruh readers yang mendukung novel recehku ini. Eh, ada bonus chapter di CS1 karya Kak Indri Hapsari lo! Jangan sampai terlewat, ya! Selalu klik like dan tinggalkan komentar  setelah membaca.

__ADS_1


Salam hangat. Barakalahu fiik



__ADS_2