SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Titik Terang


__ADS_3

Edi harus sabar menunggu. Tampaknya Hendrik belum mau melepaskan ponselnya. Ia msih menyelesaikan novel kesayangannya.


Sepuluh menit berlalu, barulah pria yang usianya sebaya Farhan itu meletakkan ponselnya. Ia tersenyum lebar saat melihat Edi sudah memasang wajah cemberut.


“Jangan cemberut gitu, Bang! Ntar ilang gantengnya, lo! Senyum, Sayang,” ledek Hendrik.


“Ih, sayang. Kepalamu melayang  rambutmu dikepang  alismu dibuang!” hardik Edi kesal. Ia sendiri tak tahu apa makna kalimat yang baru terlontar.


“Ih, serem amat.” Hendrik masih dalam mode jahil.


Edi melotot ke arah Hendrik. Ia merasa sedang dipermainkan.


“Sudah, jangan banyak cakap kau! Ceritakan hasil wawancaramu dengan Gunawan!” perintah Edi tegas.


“Ih, wawancara? Emang ngelamar kerja pakai diwawancara?” Hendrik protes.


Edi mendengus  kesal. Ia malas menanggapi gurauan Hendrik.


“Iya, iya. Terserah apalah istilahnya. Wawancara interogasi, invetigasi, atau yang lain. Sekarang kau ceritakan info yang kau dapat dari Gunawan!” Edi mengulang perintahnya.


“Oke, Abang Sayang. Seperti dugaanku, Gunawan itu boneka Tanto. Dia hanya bertugas meyakinkan Predir atau wakilnya untuk menandatangani laporan yang ia sodorkan. Dia sendiri tidak tahu isi detail laporan itu.”


Edi terdiam.  Rasanya aneh seorang Gunawan bertindak keji seperti itu.


“Kalian tanya alasan Gunawan menuruti perintah Tanto?”


Hendrik tersenyum dibuat-buat. Ia sedang senang menjaili Edi.


“ Tentu saja, Bang Edi sayangku.”


“Stop bilang sayang! Geli aku dengernya. Emang gak ada cewek yang sukaa aku, apa? Kalau kamu nggak minat sama cewek, jangan jadikan aku pelampiasan, dong! Aku masih normal,” gerutu Edi.


Hendrik terbahak-bahak mendengarnya. Ia memanggil Kiki untuk bergabung. Lelaki berambut hitam dan cukup panjang ala bintang iklan sampo itu mendekat.


“Apa, Bang Hendrik?” Suara bariton terdengar dari ruang tamu. Kali ini, Kiki tidak menggunakan suara tenornya.


“Cerita tuh sama kakak tertua soal Gunawan tadi!” perintah Hendrik.


“Bang Hendrik, nih sukanya melempar tugas,” gerutu Kiki.


“Sudahlah, kamu ceritakan saja alasan Gunawan nurut sama Tanto!” perintah Edi tak sabar.


“Oke deh. Jadi gini, Bang. Gunawan itu punya adik perempuan yang menderita sakit ginjal. Seberapa parah, aku nggak nanya. Yang jelas, dia harus rutin cuci darah. Sementara, adiknya nggak punya asuransi kesehatan. Abang tahu sendiri biaya HD itu berapa. Belum lagi obat-obatannya. Adik Gunawan juga punya lemah jantung,” papar Kiki.


 


Kiki tertawa. Ia mengacungkan jempol ke arah Edi.


“Bang Edi masih cerdas. Tapi, tidak sesederhana itu. Mungkin kalau soal biaya, Gunawan bisa pinjam  di koperasi atau apalah. Ada yang lebih rumit yang membuatnya tidak bisa berkutik, Bang,” lanjut Kiki.


“Apa maksudmu?”


“Adiknya Gunawan dirawat di sebuah klinik milik bos gelapnya Tanto. Kalau Gunawan tidak menurut, ia terancam kehilangan adik perempuannya.”


Edi menepuk jidatnya. Ia merasa masalah yang dihadapi cukup rumit.


“Langkah kita selanjutnya bagaimana?” tanya Edi lirih.


“Sesuai planning. Besok ganti Tanto yang kita seret ke sini. Gunawan kemungkinan kecil buka mulut  saat ia ditanya  oleh Tanto maupun Pak Arman. Saat baru kembali, ia bertemu Tanto dan Pak Arman, kan? Dia bilang HP-nya tertinggal di toko buku saat dia beli pulpen. Dia harus mencari-cari HP-nya itu hingga menyebabkan ia terlambat.” Hendrik menjelaskan.

__ADS_1


“Kok tahu dia ketemu Tanto dan Pak Arman?” tanya Edi.


Hendrik dan Kiki saling tatap lalu tertawa.


“Masa seperti itu juga harus dijelaskan?”


Edi menepuk jidatnya lagi. Kemudian ia  pergi begitu saja ke kamarnya.


***


Hari itu, anak buah Edi kembali beraksi. Mereka berhasil “menculik” Tanto untuk dibawa ke markas. Pasangan Hendrik dan Kiki menanyai pegawai PT Wijaya Kusuma itu.


Ternyata, cukup alot untuk mengorek keterangan dari lelaki itu. Berbeda dengan sebelumnya, Kiki harus berjuang cukup keras mencari informasi. Waktu satu jam tak cukup bagi Kiki untuk membuat Tanto buka mulut.


Jurus-jurus pancingan pun Kiki keluarkan. Dengan telaten, Kiki membuat perangkap pertanyaan untuk Tanto.  Meski cukup berbelit, mereka berhasil memperoleh apa yang mereka inginkan. Tanto harus bertekuk lutut, mengakui kehebatan Kiki dalam menjebaknya.


Setelah menyadari dirinya terjebak  memberi tahu rahasia yang seharusnya ia tutup rapat, Tanto ketakutan. Ia mengkhawatirkan keselamatan dirinya juga keluarganya. Hendrik menjamin keselamatan Tanto asal ia mau


bekerja sama.


Tindakan Hendrik kali ini lebih berhati-hati. Sebelum mengembalikan Tanto, ia menyuruh anak buah Edi mengamati rute perjalanan yang akan dilewati. Mereka harus memastikan kondisi aman.


Setelah mendapat laporan kondisi rute, Hendrik mengendarai mobil sewaannya mengembalikan Tanto ke kantor PT Wijaya Kusuma.


***


Usai makan malam, Edi bersama Hendrik dan Kiki berbincang di ruangan tengah yang hanya beralas karpet. Hendrik menceritakan hasil kerja mereka kepada Edi. Sesekali Kiki menimpali.


“Nama dalang sudah kita kantongi, Bang. Tinggal kita buat rancangan selanjutnya,” kata Kiki melaporkan kepada Edi.


Edi mengangguk. Ada kegelisahan terpancar di wajahnya. Melihat hal itu, Hendrik dan Kiki menjadi heran.


“Kau tahu siapa Dika?” tanya Edi tak bersemangat.


“Dia pemilik klinik Ben Husada. Dia juga punya showr room mobil. Kenapa?” Hendrik balik bertanya.


“Kau tahu siapa ayahnya?” Edi bertanya lagi.


“Kalau nggak salah Beno,” jawab Kiki.


“Iya. Beno itu Om-nya Ratna. Jadi, Dika sepupu Ratna. Sedangkan Ratna adalah saudara sepupu Mira, calon istriku. Ratna juga sahabat dekat Mbak Via. Kalau kita hancurkan Dika, apa tidak memancing emosi ketiga perempuan itu?” kata Edi.


“Tunggu...tunggu! Bukankah Beno ini dalang penculikan salah sasaran dulu?” Hendrik menyela.


Edi mengangguk. Peristiwa penculikan yang membuat Mira sempat trauma kembali hadir dalam benaknya.


“Mira berarti tahu betapa jahatnya Beno. Ratna juga. Sepertinya mereka tidak dekat dengan si Beno itu. “ Hendrik menyampaikan pandangannya.


“Ya, itu dulu. Ingat, darah lebih kental dari pada air. Mereka bukan tipe pendendam. Aku khawatir, kalau kita menghancurkan Dika, itu akan membuat hati mereka terluka,”  ucap Edi yang tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


Hendrik terdiam sejenak, tampak sedang memikirkan sesuatu. Beberapa detik kemudian, ia tampak


menyeringai sambil menjentikkan jarinya.


“Kau ada ide?” tanya Edi lesu.


“Owh, tentu saja . Jangan panggil Hendrik kalau cuma masalah begini tak bisa mengatasi,” sahut Hendrik sombong.


Edi menatap rekannya tak percaya.

__ADS_1


“Kita tetap hancurkan anak Beno. Kau ingat, keluarga Kuncoro kita biarkan malah ngelunjak. Danu dan keluarga kita lepaskan, hanya membuatnya bangkrut, ternyata malah membuat konspirasi yang hampir membuat nyawa Mas Farhan melayang. Teman kita yang jadi korban kebejatan mereka,” kata Hendrik geram.


Edi dan Kiki masih menanti penjelasan Hendrik karena lelaki itu sedang mengatur emosinya.


“Kita harus memastikan Beno tetap di penjara dalam waktu lama, tidak ada remisi sampai tahunan. Usaha Dika kita hancurkan, ciduk dia, kasih pelajaran.”


Edi menggelengkan kepala. Ia tampak tak setuju dengan rancangan Hendrik.


“Kenapa, Bang?” tanya Kiki.


“Seperti yang tadi kubilang, aku takut Ratna dan Mira nggak bisa menerima hal itu. Apalagi pernikahanku dengan Ratna hanya tinggal menghitung hari. Aku nggak mau masalah ini membuat hubunganku dengan Mira dan keluarganya memburuk,” kata Edi.


Hendrik tertawa licik. Ia menepuk bahu Edi berkali-kali.


“Aduh, gitu aja khawatir.”


“Kau masih jomblo, belum merasakan di posisiku!” hardik Edi.


Tawa Hendrik malah semakin keras. Ia  sampai harus memegang perutnya. Kiki pun harus menutup telinga  tak tahan mendengarkan tawa keras Hendrik.


“Bang, volume kecilin, dong!” protes Kiki.


“Iya, iya. Masa seorang Edi kebingungan mengatasi masalah seperti ini? Apa karena lama berpisah dengan bos besar hingga ketajaman nalurimu tak terasah?” ejek Hendrik.


“Maklum, Bang, calon pengantin. Dia ga begitu konsen kayaknya,” bela Kiki.


Edi hanya melototi keduanya. Kiki membalas dengan senyuman.


“Sudahlah, kau jelaskan saja rencanamu!” perintah Edi tegas.


“Oke, Sayang!”


“Juih, sayang!” cibir Edi.


Hendrik meringis sejenak, lalu ia melanjutkan, “Begini. Kit a minta tolong bos besar turun tangan. Kau jangan ikut-ikutan. Biarlah aku dan bos besar yang menangani ini langsung. Kau pura-pura saja tidak tahu.”


“Memang bos besar pasti mau? tanya Edi ragu.


“Aku yakin bos tidak keberatan. Ini menyangkut keponakan tercintanya,” kata Hendrik mantap.


Edi menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar. Ia tidak langsung menanggapi.


“Baiklah. Kau coba hubungi bos besar kalau gitu.” Edi akhirnya menyetujui.


“Aku hanya minta tolong, awasi Tanto! Tempatkan body guard pilihan secara sembunyi-sembunyi. Nyawanya terancam. Dia lebih parah dibandingkan Gunawan,” ucap Hendrik.


“Maksudmu?” Edi tak paham.


“Maksud Bang Hendrik, keluarga Tanto jadi taruhan. Bukan hanya satu orang, tapi semuanya. Makanya, Bang Edi harus lindungi mereka. Sedikit saja lengah, mereka bisa dihabisi,” kata Kiki.


Edi mengangguk-angguk paham. Ia sedikit lega karena sudah mulai menemukan titik terang.


“Besok, kau pulanglah! Kalau masih di sini, keterlibatanmu bisa tercium,” ujar Hendrik.


Lagi-lagi Edi hanya mengangguk.


***


Bersambung

__ADS_1


Insya Allah besok pagi kembali up. Tetap kasih dukungan, ya biar aku semangat. Klik like dan koment, jangan lupa!


__ADS_2