
Libur semester telah berakhir. Via pun mulai aktif kuliah.
Mau tidak mau, dia disibukkan dengan tugas-tugas dari dosen, kuliah, dia mengunjungi kantor Wijaya Kusuma. Begitulah hari-hari yang dijalani Via hingga satu semester hampir berlalu.
Farhan masih mengingat pesan Kakek Adi agar tetap waspada. Ia pun tidak mengizinkan Via mengemudikan kendaraan sendiri apalagi naik kendaraan umum tanpa ada yang menemani. Pak Yudi yang bertugas mengantar dan mengawal Via. Sementara Edi mengikuti Farhan.
Di samping itu, Edi juga menempatkan bodyguard secara diam-diam. Via tidak suka dikawal. Namun, keselamatan Via sangat penting.
"Cinta, urusan memasak biar Mbok Marsih dan Bu Inah saja. Kesibukanmu kan sudah sangat padat. Apalagi sekarang Cinta sedang ujian semester," ujar Farhan saat baru pulang setelah jamaah salat subuh.
Via menoleh sekilas. Ia kembali memasukkan potongan ikan ke penggorengan.
"Via nggak capek, kok. Setelah Via bisa masak, Via suka melakukan hal ini. Besok saja kalau Via benar-benar nggak sempat biar Mbok Marsih atau Bu Inah. Lagian hari ini Via terakhir ujian, kok. Hubbiy ke kamar saja, sana," sahut Via.
"Jadi ngusir, nih?" tanya Farhan sambil mendekat.
"Hhmmm...maunya bagaimana?" Via menahan senyum.
"Mau bantuin istri. Boleh? Sekalian icip-icip," rayu Farhan.
"Memang mau bantu apa?" Via melirik sekilas ke Farhan.
"Bantu mengelap keringat sang koki atau mencium pipinya? Bisa, kok," ujar Farhan sembari mendekatkan kepalanya ke leher Via.
"Haish, itu sih bukan bantu. Ngrecokin malah," sergah Via.
"Hhmmm...harum." Farhan menarik nafas dalam-dalam.
"Yang mana yang harum? Ikannya? Bikin lapar?" Via membalik ikan di penggorengan.
"Lebih harum yang lagi masaklah. Beneran bikin lapar," goda Farhan.
"Apaan, bau asem gini," sahut Via.
Farhan mengendus-endus leher Via yang tertutup jilbab kaos.
"Bagi Mas lebih harum yang ini. Mas jadi pengin memakanmu di kamar."
"Ish, malu kalau sampai dilihat Bu Inah," kata Via.
Farhan celingukan mencari sosok lain di dapur. Ia juga menjulurkan kepala melihat ke ruang sebelah.
"Nggak ada siapa pun," gumam Farhan.
"Bisa saja tau-tau Bu Inah atau Mbok Marsih masuk. Nggak malu kalau ketahuan mereka lagi mesra-mesraan?" sanggah Via.
"Kan kita sudah halal." Farhan berkilah.
"Haish, Hubbiy sendiri yang pernah bilang jangan mengumbar kemesraan di depan orang lain meskipun kita sudah halal. Sudah lupa?" Via mencebik.
"Iya, iya. Mas ke kamar saja, deh. Di sini godaannya besar."
Via terkekeh mendengar gerutu suaminya. Ia membiarkan pria itu ke kamar sambil memasang wajah cemberut.
"Kok kepalaku agak pusing, ya? Ah, tinggal sebentar lagi, tanggung," gumam Via.
Saat kepalanya mulai terasa berputar, Mbok Marsih datang menghampiri.
"Mbak Via sakit? Pasti kelelahan. Makanya, biar saya saja yang masak. Masa saya cuma bantu dikit," kata Mbok Marsih.
"Ya udah, ini sebentar lagi matang. Nanti kasih garam dikit, ya! Via istirahat dulu sebentar."
Via bergegas ke kamar. Ia berniat rebahan agar pusingnya hilang.
__ADS_1
"Sudah selesai?" tanya Farhan begitu melihat istrinya masuk.
"Hampir. Dilanjutkan Mbok Marsih," jawab Via lirih.
Farhan memperhatikan wajah Via. Ia sedikit khawatir karena istrinya terlihat pucat.
"Cinta kenapa? Sakit, ya? Sini, istirahat dulu! Mas bilang juga apa tadi?"
Farhan membimbing Via ke tempat tidur. Perlahan, tubuh Via dibaringkan ke atas kasur.
"Ujianmu bagaimana? Bisa susulan?" tanya Farhan.
"Via istirahat sebentar paling sudah baikan. Hubbiy nggak usah khawatir begitu!" kata Via.
"Ya sudah, istirahat! Mas nyiapin buat ke kantor, ya!"
Via mengangguk. Dipejamkannya kelopak mata yang terasa sedikit pegal.
Setelah beristirahat hampir setengah jam, Via merasa membaik. Ia bangkit dari tempat tidur lalu ke kamar mandi.
"Cinta sudah baikan?" seru Farhan ketika mendapati istrinya baru keluar dari kamar mandi.
"Sudah," jawab Via singkat.
Farhan terus menatap istrinya. Ia belum percaya kalau istrinya sudah sehat.
"Beneran sudah baikan? Kok masih pucat?"
"Kan Via belum makan. Hubbiy sudah sarapan?" Via balik bertanya.
"Belum. Yuk sarapan!"
Selesai memakai jilbab, Via keluar kamar bersama Farhan. Ketika melihat hidangan yang ada di meja makan, Via merasa tidak berselera sama sekali.
Via menggeleng. Ia beranjak dari duduknya lalu membuat teh manis.
"Mbak Via harusnya bilang, biar saya yang membuatkan minuman," kata Bu Inah yang merasa tak enak.
Via hanya tersenyum. Ia kembali duduk di samping Farhan.
"Kok tumben minum teh manis?" tegur Farhan.
"Via nggak pengin makan nasi atau pun roti."
"Nanti kalau tambah sakit bagaimana? Tadi bilang masih pucat karena belum makan. Kenapa sekarang nggak makan?" ujar Farhan khawatir.
"Via ingin makan kupat tahu. Nanti Via sarapan di warung dekat kampus saja."
Bu Inah saling pandang dengan Mbok Marsih. Mereka tersenyum penuh arti.
"Beneran, ya, Cinta makan sebelum ke kampus. Pak Yudi, tolong antar istri saya ke warung kupat tahu sebelum ke kampus," kata Farhan yang masih khawatir dengan kondisi Via.
"Iya, Hubbiy. Nanti Via sarapan kupat tahu dulu," bisik Via.
***
Sorenya, Via tidak diberi kesempatan ke dapur. Semua sudah dikerjakan oleh Mbok Marsih dan Bu Inah.
Saat makan malam, Via tampak tidak bersemangat. Setelah mengambilkan Farhan nasi dan lauk, ia hanya menatap hidangan yang ada.
"Cinta nggak ingin makan ini? Inginnya makan apa?" Farhan tampak khawatir.
"Via pengin makan bakso yang biasa lewat depan rumah. Biasanya jam segini lewat," jawab Via.
__ADS_1
Mbok Marsih dan Bu Inah tersenyum. Sepertinya ada sesuatu yang mereka pikirkan.
"Biar saya yang ke depan," kata Bu Inah.
"Yang lain mau makan bakso juga? Bagaimana kalau tukang baksonya suruh ke sini saja?" usul Farhan.
"Boleh juga," sahut Via dengan senyum lebar.
Mereka hanya makan sedikit. Sementara Via menunggu saja.
Tak lama kemudian, Bu Inah sudah kembali. Mereka menikmati bakso di teras depan.
"Cinta, sambalnya jangan banyak-banyak. Kalau sakit perut bagaimana?" Farhan khawatir melihat Via yang menambahkan 3 sendok sambal.
"Kalau nggak pedas, baksonya nggak enak," ujar Via.
Baru saja menghabiskan baksonya, Via merasa perutnya seperti diaduk. Ia berlari ke dalam rumah. Farhan pun segera menyusul istrinya.
"Hoek...!" Via memuntahkan isi perutnya.
"Mas bilang juga apa? Cinta makannya pakai sambal banyak banget, sih." Farhan mengomel sambil memijit tengkuk Via.
Setelah isi perutnya dikuras, Via dibimbing Farhan untuk duduk. Ia meminum teh hangat yang disodorkan suaminya.
"Mau bakso lagi? Tapi jangan pakai sambal, ya!" Farhan menawari Via.
"Enggak, Via sudah nggak pengin," tolak Via.
"Cinta maunya makan apa?"
"Mi instan saja, ya. Via pengin yang rasa kari," pinta Via.
Farhan menatap Via heran. Ia tahu persis istrinya tidak suka makan mi instan. Di rumah pun tidak ada mi instan.
"Sudahlah, turuti saja. Siapa tahu ini keinginan jabang bayi," kata Mbok Marsih yang baru masuk.
"Biar saya beli mi di warung dulu, ya," Bu Inah menambahkan.
Farhan menatap Via. Yang ditatap malah kebingungan.
"Apa orang hamil seperti ini, Mbok?" tanya Farhan.
"Seringnya di awal kehamilan, calon ibu mual-mual dan mutah. Keinginannya juga kadang aneh-aneh," jawab Mbok Marsih.
Mata Farhan berbinar-binar. Ia berharap yang dikatakan Mbok Marsih benar adanya. Tanpa ia sadari, senyumnya merekah.
"Kok senyum-senyum?" tegur Via.
"Eh, Mas lagi membayangkan ada anak kita di sini," jawab Farhan sambil mengusap perut Via.
"Ish, belum tahu benar nggaknya. Kalau nggak, Hubbiy tentu kecewa," kata Via.
"Kalau Cinta belum hamil, ya berarti belum beruntung. Kita coba lagi," jawab Farhan santai.
"Apaan, sih. Emang undian berhadiah," pekik Via gemas.
Farhan tergelak melihat Via cemberut. Mbok Marsih hanya tersenyum senang melihat kemesraan keduanya.
***
Bersambung
Like, koment, vote jangan lupa, ya! Biar author semangat terus 💪
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan Kakak 🙏