SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Siapa Dia?


__ADS_3

Jarum jam telah bergeser ke angka 2. Belum ada kabar tentang kedatangan Pak Chandra.


"Kata Pak Arman, Pak Chandra datangnya sekitar jam 3 atau jam 4. Kita jalan-jalan dulu, yuk!" ajak Farhan.


"Ke mana? Nanti kalau Pak Chandra datang, kita belum balik, gimana?"


"Ga usah jauh-jauh. Dekat sini ada mall. Sekalian beli oleh-oleh buat orang rumah."


"Ok."


Mereka keluar kamar. Tak lupa Farhan mengirim pesan kepada Pak Arman, memberi tahu bahwa ia dan Via keluar sebentar.


Saat keluar dari lift, tangan kiri Farhan meraih tangan kanan Via.


"Kita belajar pacaran," bisik Farhan.


Tangan Via sedikit gemetar. Namun, ia tidak menolak. Akhirnya, mereka bergandengan tangan keluar dari hotel.


"Bagaimana kalau kita beli baju koko buat ayah dan Azka, gamis buat bunda?" usul Via.


"Okey. Kita cari model terbaru, yang kemungkinan baru ada di Jakarta."


Mereka naik eskalator dengan tangan masih bergandengan.


Setelah memilih baju koko dan gamis, Via mengambil kemeja ukuran M.


"Buat siapa? Kok kecil?" tanya Farhan.


"Pak Arman," jawab Via singkat.


"Pak Andi nggak?" Farhan mengingatkan.


Via mengangguk dan tersenyum.


"Terima kasih sudah diingatkan," ucap Via tulus.


"Buat Eyang Probo apa?" tanya Via.


"Eyang suka sarung. Kita cari sarung, yuk!"


Tangan Farhan jarang sekali lepas dari Via. Kalau pun tidak menggenggam telapak tangannya, Farhan merangkul bahu Via. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah cowok itu.


"Dek, kenapa kita tidak beli untuk diri sendiri? Ayo, kita cari baju yang bagus!" ajak Farhan.


"Aaah, tapi baju Via kan masih banyak yang baru," tolak Via.


"Belum punya yang couple, kan?"


"Maksud Mas?"


"Udah, ayo ikut!" Farhan menarik tangan Via.


Ternyata, Farhan memilih kaos couple. Dua pasang kaos dengan warna dan tulisan berbeda ia pilih. Via hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.


"Ada lagi?"


j


"Kayaknya sudah cukup, Mas."


"Ayo, ke kasir."


Setelah menyelesaikan transaksi, mereka berniat kembali ke hotel. Namun, saat melewati deretan sepatu sneaker, Farhan berhenti. Ia memperhatikan model sepatu sneaker couple.


"Dek, lihat! Kayaknya ni bagus. Cocok untuk kita," kata Farhan sambil mengambil sepasang.


"Dek Via pakai nomor berapa?"


"39, Mas."

__ADS_1


Akhirnya, dua pasang sepatu sneaker couple menambah barang belanjaan mereka.


"Sudah hampir jam 3. Pak Arman belum kasih kabar?" tanya Via.


"Belum. Ayo, kita kembali ke hotel!"


Baru saja mereka turun dari taksi, terdengar notifikasi panggilan dari saku celana Farhan. Tertera tulisan 'Pak Arman memanggil.'


"Assalamualaikum, Pak."


....


"Saya sudah di lobi hotel."


....


"Baik, Pak."


....


"Waalaikumsalam."


Farhan memasukkan ponselnya kembali.


"Pak Arman?" tanya Via.


"Iya. Kata Pak Arman, asisten Pak Chandra memberi tahu kalau operasi ayah Pak Chandra sudah selesai dan Pak Chandra sebentar lagi ke sini."


"Kita mandi lalu salat asar, yuk!"


"Mau mandi bareng?" goda Farhan.


Via membelalakkan . Ia tidak mengira Farhan berani mengatakan seperti itu.


"Becanda. Jangan melotot gitu! Aku takut," ledek Farhan lagi.


Via hanya mendengus kesal. Ia berjalan mendahului Farhan begitu pintu lift terbuka.


Ada 5 orang yang datang. Farhan dan Via belum tahu yang bernama Pak Chandra. Mereka baru tahu saat saling memperkenalkan diri.


Saat itu, Pak Chandra mengenakan masker. Katanya dia sedang flu.


Sebenarnya, Via merasa penasaran dengan orang yang bernama Pak Chandra. Entah mengapa ia seperti sudah mengenal orang itu.


Selama pertemuan berlangsung, Via tidak bisa konsentrasi penuh. Dia sering memperhatikan tatapan mata Pak Chandra. Ia juga memperhatikan suara Pak Chandra, bukan apa yang dikatakan.


Saat azan magrib berkumandang, pertemuan di-skors. Mereka mendirikan salat magrib berjamaah. Dari rombongan Pak Chandra, hanya dua orang yang ikut salat. Yang lain tidak, termasuk Pak Chandra.


Akhirnya, pembicaraan selesai pada pukul 20.00. Perjanjian pun telah mereka tanda tangani.


"Semoga kerja sama kita saling menguntungkan," ucap Pak Chandra.


"Aamiin," kata yang lain.


Rombongan Pak Chandra berpamitan meninggalkan meeting room.


"Semoga dengan suntikan dana segar ini, Wijaya Kusuma bisa bangkit lagi dalam waktu dekat."


"Pak Chandra itu siapa, sih?" tanya Via.


"Dia adalah putra Tuan Adi Wijaya, satu dari 10 pengusaha papan atas. Pak Chandra sendiri saat ini memegang 4 perusahaan milik Tuan Adi Wijaya."


"Kenapa dia tertarik menjalin kerja sama dengan kita? Apa ada orang kita yang menghubunginya, menawari kerja sama?" tanya Via lagi.


"Tidak. Justru pihak Pak Chandra yang menghubungi kita dulu."


"Kok kelihatannya Dek Via penasaran banget sama Pak Chandra?" goda Farhan.


"Mas Farhan cemburu?" Via balik menyerang.

__ADS_1


Farhan hanya tertawa kecil.


"Sudahlah, mari kita salat isya dulu. Kita segera beristirahat. Besok kita pulang, kan?" kata Farhan menghindari serangan Via.


"Eh, untuk kepulangan kita, maaf kita tidak dapat tiket pesawat. Bagaimana kalau kita naik kereta apa?"


"Kereta api? Boleh juga," jawab Via dengan mata berbinar.


"Kayaknya kok seneng banget mau naik kereta? Jangan-jangan belum pernah, ya?" ucap Farhan.


Via tertunduk malu. Ia membuat anggukan kecil.


Farhan tertawa. Ia memaklumi kalau istrinya belum pernah naik kereta api. Moda transportasi umum yang biasa digunakan keluarganya hanya pesawat. Naik bus kota pun setelah papanya meninggal.


"Besok jangan lupa nyanyi lagu anak-anak, naik kereta api tut tut tut, siapa hendak turut, ke Bandung .... Aduh!" Nyanyian Farhan terhenti ketika sebuah cubitan mendarat di pinggangnya.


Pak Arman hanya tersenyum melihat pasangan pengantin baru itu bercanda.


Sesampai di kamar, Via segera mengganti bajunya. Dia mengenakan baju tidur berupa daster panjang dilengkapi jilbab kaos.


Melihat Via masih memakai jilbab, Farhan agak kecewa. Dia membayangkan Via melepas jilbabnya.


"Dek Via mau tidur pakai jilbab? Nggak risih? Kalau dibuka kan nggak apa-apa. Kita suami istri sah," kata Farhan.


"Bukannya tadi siang Mas Farhan bilang kita pacaran?" jawab Via sambil tersenyum.


"Aaah, itu...." Farhan tidak dapat melanjutkan kalimatnya.


"Mas, Via mau tanya sedikit. Mas Farhan kenal sama Pak Chandra?"


"Ya kenal. Kan tadi sudah kenalan."


"Maksud Via, apa Mas Farhan mengenal Pak Chandra sebelumnya?"


"Enggak. Kenapa?"


"Nggak apa-apa," jawab Via sambil merebahkan diri ke atas bed.


"Sepertinya Dek Via begitu penasaran dengan yang namanya Pak Chandra. Kenapa?"


"Nggak apa-apa."


"Dek Via tidak bisa menutupi keingintahuan Dek Via."


Via menghela nafas panjang.


"Rasanya ada yang aneh dengan orang itu. Pertama, kenapa dia tertarik bekerja sama dengan kita. Padahal, masa depan perusahaan kita tidak terlalu menjanjikan."


"Mungkin dia punya perhitungan lain. Saat ini Wijaya Kusuma sudah merangkak naik lho. Apa lagi kalau melihat masa lalu Wijaya Kusuma. Bisa saja Pak Chandra berpikir Wijaya Kusuma bisa bangkit seperti dulu."


Via diam. Dalam hati ia membantah pendapat suaminya.


"Lalu yang kedua apa?" tanya Farhan.


"Via seperti mengenal sorot mata Pak Chandra. Sayang, wajahnya ditutupi masker."


"Masa hanya dari tatapan matanya?"


"Iya. Feeling Via mengatakan kalau Via mengenalnya. Tapi entah siapa, kenal di mana."


"Ya sudah, sekarang tidurlah. Besok kita pulang," bujuk Farhan.


Via menurut. Ia menarik bed cover hingga menutupi tubuhnya.


****


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like, rate 5, krisan, juga vote agar author semangat 😍

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan dari semua pembaca 🙏🙏


__ADS_2