SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Ingin Bersama


__ADS_3

Usai menunaikan salat duha dan memanjatkan doa, Via membereskan mukenanya. Ia bergegas ke dapur.


Sebelum kembali ke ruko, ia berniat belajar membuat dimsum ayam udang.


Baru saja Via membuka pintu kulkas, Farhan sudah berdiri di belakangnya.


"Mas Farhan? Ngapain ke dapur? Mau ambil buah?" tanya Via.


"Enggak. Kamu mau bikin dimsum bareng bunda, kan?"


"Iya. Kenapa?"


"Mau bantuin."


Via melongo. Selama ini dia belum pernah melihat Farhan mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan masak-memasak. Kalau Azka, Via sering dibantu olehnya.


"Kenapa gitu? Nggak percaya kalau suamimu ini bisa masak?" tanya Farhan melihat reaksi Via.


"Sudah disiapkan bahan-bahannya, Vi?" tanya Bu Aisyah yang baru masuk ke dapur.


"Via baru mau nyiapin, Bun," jawab Via.


"Lho, kamu kok di sini juga? Mau ambil apa? Sudah, cepetan!" kata Bu Aisyah begitu mengetahui Farhan ada di dekat Via.


"Farhan mau bantuin, Bun. Nggak boleh?"


Kening Bu Aisyah berkerut. Namun, sesaat kemudian senyum penuh makna mengembang di bibirnya.


"Oh, gitu. Ayolah, kita mulai sekarang!" ajak Bu Aisyah.


Via sudah menyiapkan semua bahan-bahan yang diperlukan. Bu Aisyah sedikit kaget melihat banyaknya bahan yang disiapkan.


"Kamu mau bikin seberapa banyak, Vi? Ini ayamnya 2 kilo?"


"Hehe, takut gagal, Bun. Kalau berhasil, Via mau bawa buat teman-teman di ruko."


"Oh gitu."


"Memang mau balik ke ruko nanti? Bukannya besok libur? Kan Minggu?" tanya Farhan.


"Ehem, ada yang masih kangen rupanya. Gimana, Vi? Yakin tega ninggalin orang yang sedang dilanda rindu berat? Belum puas kalau ketemu cuma semalem bonus pagi beberapa jam."


Bu Aisyah meledek anak dan menantunya.


Pipi Via langsung merona. Ini yang Farhan suka, melihat istrinya malu-malu dengan pipi kemerahan.


"Ah, Bunda kayak gak pernah muda aja. Coba dulu saat ayah ngambil spesialis. Perasaan Bunda gimana ditinggal ayah? Pasti Bunda mewek, kan? Yang, cepetan selesaikan studimu, aku nggak sanggup terlalu lama jauh darimu," balas Farhan.


Bu Aisyah tertawa lepas mendapat serangan balik dari Farhan. Sementara Via hanya senyum-senyum. Ia baru tahu kalau Farhan juga punya sisi humoris.


"Nih, daging ayamnya difillet! Kerjakan berdua! Bunda nyiapin lainnya!"


Alhasil, latihan membuat dimsum ayam udang sukses. Bukan hanya menghasilkan dimsum yang lezat, tetapi juga kedekatan sepasang suami istri yang belum bisa hidup bersama.


"Hhmmm, ada yang lezat kayaknya," celetuk Azka yang baru datang.


"Apaan, datang langsung nyerbu makanan," omel Farhan.


Azka menatap kakaknya. Ia ternganga beberapa detik.


"Wah, ada chef baru rupanya. Ini masakan Chef Farhan, Bun?" tanya Azka.


Bu Aisyah dan Via tertawa.


"Ckckck, nggak nyangka ternyata kakakku mau terjun ke dapur. Angin apa yang membawa manager Wijaya Kusuma ke dapur Nyonya Aisyah?" canda Azka.


"Angin ****** beliung. Berisik, ah!" sahut Farhan sambil melempar celemek yang baru ia lepas ke adiknya.


"Duh, galak amat. Ntar gantengnya ilang lo!"

__ADS_1


"Biarin! Udah ada yang punya juga. Dari pada kamu, masih jones. Weeek!" balas Farhan sambil menjulurkan lidahnya.


"Bun, Mas Farhan nakal. Udah tahu Azka jomblo, tega dia ngolok-olok adiknya," rengek Azka.


Bu Aisyah tersenyum. Via sebenarnya ingin tertawa, tetapi takut ada yang tersinggung.


"Kalian ni kayak anak kecil. Kamu nggak malu sama istrimu?" tanya Bu Aisyah kepada Farhan.


Farhan hanya tersenyum. Ditatapnya wajah Via yang tengah menahan tawa. Begitu tahu Farhan menatapnya, Via segera menunduk.


"Sekarang, mari kita cicipi dimsum ini!" ajak Bu Aisyah.


"Siap, Boss!" seru Azka.


Azka mengambil 5 buah sekaligus. Dan dalam waktu sekejap, kelimanya lenyap, masuk ke perut Azka.


"Masya Allah, itu doyan apa lapar?" seru Farhan.


"Hehe...habis enak, sih," kata Azka tanpa merasa bersalah. Ia kembali mengambil dimsum yang masih tersisa.


Bu Aisyah hanya menggelengkan kepalanya. Ia tahu persis kebiasaan putra bungsunya. Saat menyukai makanan, ia bisa menghabiskan 2 bahkan 3 porsi sekaligus.


"Via sudah mengemas dimsum yang mau dibawa, kan? Takutnya habis disikat Azka, temanmu nggak kebagian," kata Bu Aisyah.


"Sudah, kok. Bunda nggak usah khawatir. Via juga menyisihkan buat ayah."


"Syukurlah. Bunda sempat khawatir sudah nggak ada lagi. Ni anak kalau ketemu makanan yang cocok terus kayak kesurupan gitu."


"Dek Via jadi balik ke ruko?" tanya Farhan.


"Jadi, dong. Kasihan yang lain."


"Bukannya mereka bertiga? Nggak cukup buat handle tugasmu?"


"Ada hal yang saya yang bisa melakukan."


Farhan menatap Via tajam. Via membalas dengan senyuman.


"Setelah zuhur saja, ya! Setengah jam lagi masuk waktu zuhur," pinta Bu Aisyah.


"Baik, Bun."


Usai salat zuhur, mereka makan siang bersama. Azka hanya memakan sayuran karena perutnya sudah dipenuhi dimsum.


Baru saja Via akan membereskan meja makan, Bu Aisyah melarangnya. Sebagai gantinya, Bu Aisyah menyuruh Azka untuk membereskan.


"Jadi ke ruko sekarang?" tanya Farhan.


"Iya," jawab Via singkat.


"Kalau begitu, bersiap-siap! Aku antar."


Via sedikit ragu. Begitu melihat Bu Aisyah, ia menangkap tatapan bundanya mengisyaratkan agar ia tidak membantah ucapan Farhan.


Setelah berpamitan, Via masuk ke mobil Farhan. Tadinya, ia duduk di jok belakang. Namun, tentu saja Farhan keberatan dan menyuruhnya pindah ke samping Farhan.


Mobil melaju dengan kecepatan pelan. Tampaknya, Farhan memang sengaja. Di area parkir sebuah supermarket Farhan memarkirkan mobilnya.


"Kok ke sini?" Via bingung.


Farhan membukakan pintu untuk Via dan mengulurkan tangannya. Via menyambut tangan Farhan meski sedikit ragu.


"Masa cuma bawa dimsum. Ayolah, sekalian belanja untuk kebutuhan harian," kata Farhan.


Sambil mendorong troli, sesekali Farhan mencuri pandang ke gadis yang sedang mengambil barang keperluannya.


"Mas, boleh tanya?"


"Masa nggak boleh? Mau tanya apa?" Farhan balik bertanya.

__ADS_1


"Mas Farhan yang transfer ke rekening Via tiap bulan, ya?"


Farhan tertawa lalu menjawab, "Iya. Sekarang Dek Via kan istri Mas. Bunda sudah tidak ngirimi uang bulanan ke kamu. Kenapa? Kurang?"


"Lebih. Banyak banget, sih?"


"Tabung saja! Atau bisa Dek Via gunakan untuk mengembangkan toko."


Farhan menghentikan troli saat melihat benda yang pernah Via beli bersamanya.


"Dek, nggak beli itu?"


Pipi Via memerah saat tahu yang Farhan maksud. Dengan malu-malu ia mengambil dua bungkus.


"Nggak kurang?"


"Enggaklah. Lebih malah," jawab Via sambil menunduk.


"Memang biasanya berapa hari?" bisik Farhan.


Via melotot ke Farhan. Pria itu meringis sambil melanjutkan mendorong troli.


"Kan biar tahu lama puasaku kelak," kata Farhan diiringi tawa.


Via cemberut. Ia tidak menanggapi.


Setelah cukup, Farhan mendorong troli ke kasir. Tangan Farhan menepis tangan Via yang tengah mengeluarkan dompet.


"Ini tanggung jawab Mas. Sudah, tunggu Mas di sana!" perintah Farhan sambil menunjuk pintu keluar.


Selesai transaksi, Farhan menenteng tas belanjaan mendekat ke Via.


"Ada lagi yang mau dibeli?"


"Enggak, sudah cukup. Mas Farhan kan sudah kasih Via uang. Kenapa Via nggak boleh bayar belanjaan Via?"


"Sudahlah. Jarang kan kita pergi bersama seperti ini? Anggap saja ini ungkapan bahagiaku di samping nafkahin istri," jawab Farhan sambil tersenyum.


Farhan menggandeng tangan Via ke mobilnya. Tak lama kemudian, Farhan kembali melajukan mobil dengan pelan.


"Sebenarnya Mas merindukan saat begini. Mas ingin kita bersama terus. Sayang, keadaan belum memungkinkan."


Ucapan Farhan berhenti sejenak. Tangan kirinya meraih tangan kanan Via dan menggenggamnya dengan erat.


"Dek Via pernah kangen Mas, nggak? Apa cuma Mas yang memiliki perasaan ini?"


Via terkejut mendapat pertanyaan tak terduga. Ia bingung menjawabnya.


Farhan menoleh ke samping dan mendapati gadis di sebelahnya menunduk.


"Tak usah dijawab nggak apa-apa. Mas cuma ingin Dek Via tahu yang Mas rasakan. Mas nggak akan maksa Dek Via memiliki perasaan yang sama. Namun, izinkan Mas merasakan kebahagiaan saat berdua seperti ini," ujar Farhan lembut.


Tak terasa mereka telah sampai di ruko.


"Mas nggak turun, ya. Takutnya teman-temanmu bertanya macam-macam. Jangan lupa, ambil dimsum dan belanjaanmu tadi!"


Farhan mengulurkan tangan. Sesaat Via bingung. Namun, ia segera dapat menguasai diri, menyambut uluran tangan Farhan dan menciumnya.


"Assalamualaikum," ucap Via.


"Waalaikumsalam. Hati-hati, istriku."


Via membuka seat belt-nya lalu turun. Begitu Via menutup bagasi, Farhan langsung melajukan mobilnya. Via menatap mobil Farhan hingga menghilang baru masuk ke ruko.


***


**Bersambung


Author berusaha untuk membuat per episode minimal 1.000 kata. Tidak lebih dari 5 episode yang jumlah katanya kurang dari 1.000. Kalau ada yang merasa terlalu pendek atau sedikit, author minta maaf belum bisa buat yang panjang.🙏🙏

__ADS_1


Semoga tetap suka.😍**


__ADS_2