
"Ke kantin, yuk! Doni mengajak Via.
"Maaf, Don. Aku bawa bekal makan siang."
"Tumben. Biasanya kamu makan siang di kantin."
"Sudah disiapin Bunda. Kata Bunda, lebih sehat makan makanan dari rumah."
"Bunda?"
"Bu Aisyah. Sekarang kan aku tinggal bersama beliau."
"Oh.... Bagaimana kalau temani aku makan di kantin. Kamu bawa bekal makanmu ke sana, makan di sana."
"Nggak enak sama Bu kantin, Don. Masa cuma numpang tempat."
"Kamu beli minuman aja."
Via masih tampak ragu. Dia harus berhemat uang saku karena belum tahu pasti jatah uang sakunya. Uang yang diberikan Bu Aisyah kemarin sebenarnya masih utuh. Via tidak mau boros.
"Udah, aku traktir."
Via tersenyum getir. Sekarang ia tidak lagi bisa mentraktir teman-temannya seperti dulu.
"Kok malah bengong? Yuk ke kelas, ambil bekalmu trus ke kantin," Doni menarik tangan Via.
Akhirnya, mau tidak mau Via mengikuti Doni. Setelah mengambil bekal, Via berjalan bersama Doni ke kantin.
Via tidak menyadari saat melewati kelas XII IPA-3, ada tatapan mata tajam yang mengikutinya. Doni pun sama. Mereka sedang asyik membahas lomba yang akan mereka ikuti besok.
Sampai mereka selesai makan dan kembali ke kelas pun sepasang mata itu masih terus mengawasi. Agaknya si pemilik tidak menyukai kedekatan Via dan Doni.
"Dari tadi kamu nempel Doni terus, Vi?" bisik Ratna.
"Nempel? Perangko kali..." Via mencebik.
"Sejak dipanggil Pak Herman kalian berdua terus. Aku bagai sampah yang terbuang."
"Duuuh...maaf, sayangku. Aku dan Doni ditunjuk sebagai peserta lomba debat Bahasa Inggris."
"Berdua?"
"Berenam. Aku, Doni, Viki jadi satu tim. Yang lain adik kelas kita."
"Viki kelas IPS-1?"
"Betul, Non. Dia kan jago bahasa Inggris. Serasa di dekat bule kalau dia lagi ngomong pakai bahasa Inggris."
"Sayangnya dia..."
"Kenapa?"
"Dia mengidap tipus."
"Masa sih? Kayaknya sehat gitu?"
"Tipus yang diderita Viki tuh tinggi item uang saku pas-pasan. Bhuahaha...."
"Ih, jahat. Berarti kamu suka berkawan dengan yang cakep dan banyak duit? Sekarang aku nggak masuk kriteriamu dong," ujar Via dengan tatapan sendu. Ia merasa sedih karena ia sendiri memang tidak memiliki uang saku berlebih.
"Aduuuh...aku cuma becanda, jangan dimasukin ke hati. Masukin tong sampah aja."
Via memaksakan tersenyum. Matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Untuk jajan sendiri aja aku pikir-pikir. Aku nggak mau terlalu merepotkan Bu Aisyah. Aku harus tahu diri."
Ratna menepuk punggung Via. Ia merasa bersalah membuat sahabatnya bersedih. Ia lupa kalau Via menjadi sensitif kalau membicarakan hal yang berkaitan dengan uang.
Dan, sisa jam pelajaran hari itu diikuti Via dengan perasaan galau. Sementara, Ratna yang duduk di sebelahnya merasa bersalah.
"Vi, aku minta maaf nglukai hati kamu. Aku nggak bermaksud begitu," rengek Ratna.
Via menggeleng lemah. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Begitu bel berbunyi tanda waktu habis, semua anak membereskan alat tulis mereka. Via memasukkan buku ke dalam tasnya tanpa semangat. Keluar kelas juga dengan mulut terkunci rapat.
Saat Doni lewat, Ratna menatap Doni. Gerakan matanya memberikan isyarat kalau Via tidak baik-baik saja.
Doni mendekati Ratna minta penjelasan. Ratna menarik Doni agar agak jauh dari Via.
"Aku salah ngomong. Dia jadi minder dengan kondisi dia sekarang," bisik Ratna.
Doni mengangguk tanda mengerti. Ia melesat mengejar Via.
"Via, tunggu!"
Mendengar suara Doni memanggil, Via menghentikan langkahnya.
"Emm... kamu punya kamus dari Oxford?"
Via mengangguk. Dia masih betah dalam kebisuan.
"Dibawa, nggak?"
Lagi-lagi Via hanya mengangguk.
"Maaf, boleh pinjam?"
Sekali lagi Via hanya mengangguk. Ia membuka tasnya mengambil buku yang lumayan tebal.
"Ga papa, tenang saja," Via akhirnya bicara.
"Beneran? Ah iya, bahasa Inggris buatmu kan sangat mudah."
"Yang seperti itu si Viki."
"Kau nggak usah merendah. Aku tahu kau memang lebih rendah dariku," kata Doni sambil mengangkat lengannya ke atas kepala Via.
"Iih... turunkan! Dah jam segini, ntar aku pingsan bau keringatmu," sahut Via sambil tertawa kecil.
"Eh, yang ada bau keringatku bisa bikin orang sadar dari pingsan." Ada perasaan lega menyeruak dalam hati Doni melihat Via sudah bisa tertawa.
Ratna yang mengekor beberapa meter di belakang mereka tersenyum tipis. Ia berharap Via tidak lagi murung.
"Tuh, kamu dah ditunggu Bu Aisyah. Sampai jumpa besok, ya!"
Doni berjalan menuju tempat parkir siswa. Baru beberapa langkah meninggalkan Via, terdengar suara memanggilnya.
"Doni, tunggu!"
Secara otomatis kaki Doni berhenti melangkah. Kepalanya diputar mencari sumber suara yang memanggil.
"Boleh nebeng, kan? Please," seorang gadis berambut cepak memohon kepada Doni. Suaranya dibuat begitu manja.
"Nggak salah Lia mau minta bonceng? Bukannya kamu alergi debu?" jawab Doni dengan sebal.
"Mobilku masuk bengkel barusan. Kamu masih marah ma aku ya?"
__ADS_1
"Marah? Enggak, kok."
"Kalau gitu, aku boleh nebeng kamu, kan?"
"Kita kan nggak searah, Lia."
"Ya kamu anterin aku dulu. Apa salahnya nolong teman."
"Ya nggak ada salahnya."
"Nah, kalau gitu aku boleh nebeng kamu."
Doni mulai frustasi menghadapi Lia. Gadis itu begitu agresif.
"Aku nggak bawa helm dobel. Cuma satu. Kalau ada polisi, aku kena tilang."
"Biar aku yang hadapi. Om-ku polisi."
"Kok kamu ngotot banget, sih?"
"Aku ingin merasakan sensasi naik motor sport."
Doni mendengus kesal. Ia bingung mencari alasan untuk menolak permintaan Lia.
"Lia, mobil papamu nunggu di dekat gerbang, tuh!" seru Ratna.
"Kau nggak usah bohong, Rat! Mobil yang buat jemput aku masuk bengkel barusan, kok."
"Papamu kebetulan lewat. Dia sudah nunggu sejak tadi. Kamu ditelpon nggak respon. Coba buka HP-mu!"
Lia membuka tas dan mengambil ponselnya. Dengan cepat ia membuka layar ponselnya dan terlihat ada 5 panggilan tak terjawab dari papa.
"Ya udah, gak jadi nebeng kamu."
Lia meninggalkan Doni dan Ratna dengan muka ditekuk.
"Ngapain papa pakai jemput. Biasanya juga kalau Pak Slamet nggak bisa jemput aku suruh naik taksi. Gagal rencanaku. Padahal Doni sudah terdesak, nggak bisa ngelak," gerutu Lia dalam hati.
Doni tersenyum lega melihat Lia meninggalkannya. Ia serasa terbebas dari jeratan.
"Makasih, Rat, kau telah menyelamatkan aku."
"Menyelamatkan? Emang kamu kecelakaan?"
"Kau ini. Kan tahu sendiri tadi ada singa betina hendak menerkam aku. Aku sudah terjepit. Kamu datang tepat waktu."
"Dia bukan singa betina. Cuma ubur-ubur, kok. Eh, kalau aku sudah menyelamatkan kamu, berarti dapat hadiah, kan?" Ratna tersenyum licik.
"Hahaha... Matre!"
"Eits, aku bukan cewek matre, tapi realistis. Traktir aku, ya!"
"Ok. Tapi jangan sekarang, sudah sore."
"Besok?"
"Aku ikut lomba. Setelah lomba selesai, deh!"
"Deal. Kamu utang pokoknya. Aku pulang dulu. Bye...bye..."
"Gaya pakai bye bye. Assalamualaikum, gitu Neng."
"Waalaikumsalam," sahut Ratna cuek sambil berjalan meninggalkan Doni.
__ADS_1
Doni hanya senyum sambil geleng kepala.
***