SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Malu


__ADS_3

"Udah, aku lihatin kamu aja. Cuci tuh semua piring sendok! Kamu kan pengganti pembantu rumah tangga!" perintah Rara sinis.


"Siapa pengganti pembantu rumah tangga?"


Sebuah pertanyaan yang membuat Rara terlonjak kaget hingga sedikit ketakutan.


"Ah, ini, aku lagi becanda ama istrimu. Dia jadi kayak pengganti pembantu rumah tangga."


"Di rumah ini, kami sudah terbiasa melakukan semua pekerjaan. Jadi, tidak ada yang namanya pekerjaan laki-laki ataupun pekerjaan perempuan," kata Farhan tegas.


Farhan mendekat ke Via. Ia berdiri di samping sang istri.


"Sini, Mas bantu," kata Farhan sambil mengangkat piring yang sudah bersih.


Rara cemberut melihat kemesraan keduanya. Maksud hati ingin merendahkan Via, malah ia disuguhi pemandangan yang membuat dia iri. Akhirnya, Rara kembali ke ruang makan.


"Farhan beruntung, ya? Istrinya masih muda, cantik, pintar masak juga," Om Alif berbicara setelah menyeruput kopi hitam.


"Alhamdulillah, mereka bisa saling mencintai meski pernikahan mereka dulu dadakan," kata Bu Aisyah.


"Kalau Farhan sepertinya sudah dari dulu naksir Via," sambung Pak Haris diikuti tawa.


"Sekarang Farhan sedang bantu istrinya?" tanya Om Alif.


Rara sedikit gugup mendapat tatapan tajam dari ayahnya.


"I--tu, Pih, Farhan yang bantu Via makanya Rara ke sini," sahut Rara.


Bu Aisyah tersenyum lembut.


"Iya, biarkan mereka menikmati kebersamaan. Lagi pula itu sudah menjadi kebiasaan Via semenjak tinggal di sini. Padahal, tadinya dia tidak tahu sama sekali pekerjaan rumah tangga. Karena kemauan Via yang keras untuk belajar, ia akhirnya bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga."


"Memang dia tadinya nggak pernah bantu-bantu kerjaan orang tuanya di rumah?" cibir Tante Asih.


"Ah, Mamih. Kayak anaknya suka bantu-bantu. Tuh, Rara kalau nggak disuruh, mana mau?" Om Alif membalik omongan istrinya.


"Orang tua Via itu pengusaha sukses, kaya raya. Via terbiasa dimanjakan, segala sesuatunya dikerjakan oleh PRT. Almarhum merintis usaha dari nol. Sekitar tiga tahun yang lalu, lawan bisnisnya bersekutu merongrong bisnisnya. Karena almarhumah mama Via sakit, konsentrasi almarhum papa Via terpecah sehingga lawan bisa menghancurkan bisnis Pak Wirawan. Saat meninggal, perusahaan dalam keadaan kolaps. Bahkan, rumahnya ikut disita karena dijadikan jaminan untuk mendapatkan tambahan modal. Makanya, saat itu Via terpuruk," kata Bu Aisyah panjang lebar.


"Kasihan sekali anak itu. Untung nggak stress dia. Kamu juga sudah bertindak benar," komentar Om Alif.


"Lalu, sekarang perusahaan almarhum papa anak itu sudah bangkrut apa gimana?" tanya Tante Asih.


"Alhamdulillah, sekarang mulai bangkit. Setahun yang lalu, kakek dan om-nya membantu. Sekarang, sudah memiliki cabang lagi," papar Pak Haris.


Pembicaraan terhenti saat Via dan Farhan masuk.


"Bunda nggak ke sekolah?" tanya Via.


"Enggak. Hari ini Bunda izin," jawab Bu Aisyah.


"Kepengin melepas kangen sama kakaknya, tuh. Bundamu kan sudah bertahun-tahun nggak ketemu," tambah Pak Haris diiringi senyum.


"Ayah berangkat siang?" Farhan ganti yang bertanya.


"Sebentar lagi, sekitar 15 menit lagi," jawab Pak Haris.

__ADS_1


"Via mau belanja bahan-bahan untuk dimasak nanti. Bunda perlu apa saja?" Via menatap bundanya.


"Terserah kamu. Sudah lihat ada apa saja di dapur?"


"Sudah. Kalau begitu, Via berangkat sekarang saja," pamit Via.


"Ayo, Mas antar. Pakai motor saja, ya," ajak Farhan.


Pak Haris dan Bu Aisyah saling pandang dan melempar senyum. Semburat kebahagiaan terpancar dari wajah pasangan yang baru memiliki menantu itu.


Setelah Via dan Farhan pergi, kelima orang yang berada di ruang tamu kembali melanjutkan obrolan mereka.


"Kenapa kakek dan om-nya tidak membantu ketika ayah Via masih hidup?" Om Alif merasakan ada kejanggalan.


"Ceritanya panjang, Kak. Yang jelas, almarhum Pak Wirawan meninggalkan rumah sejak beliau belum selesai kuliah. Beliau merintis usaha di sini dengan mengubah nama. Keluarga beliau baru menemukan titik terang setahun yang lalu. Namun, kakek Via harus menjalani operasi jantung sehingga pertemuan mereka tertunda. Belum lagi lawan bisnis almarhum Pak Wirawan masih terus mengincar perusahaan peninggalan almarhum," papar Bu Aisyah.


Om Alif mengangguk-angguk. Sementara anak dan istrinya memasang wajah masam.


"Lalu bagaimana ceritanya perusahaan yang sudah mau bangkrut bisa bangkit?" tanya Tante Asih. Ternyata penasaran juga.


"Kegigihan anak buah almarhum dibantu keluarga almarhum. Kan tadi Aisyah sudah bilang," jawab Pak Haris.


"Maksud aku, memang bantuan yang diberikan oleh keluarga almarhum besar?" tanya Tante Asih lagi dengan nada penuh penekanan.


Pak Haris tersenyum lalu menjawab, "Tentu. Bagi mereka, uang bukan masalah. Mereka juga mengirimkan orang-orang terbaik untuk membantu Farhan memulihkan kondisi perusahaan."


"Tunggu dulu! Farhan? Anak itu tidak bekerja di tempat Om Probo?" tanya Om Alif.


Pak Haris menggeleng lalu berkata," Justru ayahku yang menyuruh Farhan bekerja di Wijaya Kusuma. Nanti, ketika Via sudah mampu, ia yang akan menggantikan posisi almarhum papanya. Farhan akan menggantikan eyangnya."


Bu Aisyah dan Pak Haris tersenyum.


"Berarti keluarga kakek Via kaya raya, dong," celetuk Rara.


"Mereka dari keluarga pebisnis ulung. Cabang usahanya tersebar di berbagai kota. Soal uang milyaran bisa dikatakan urusan sepele bagi mereka. Makanya, resepsi pernikahan Farhan dan Via tergolong mewah. Itu semua kemauan kakek Via. Semua biaya resepsi ditanggung beliau. Alif tentu tahu Pak Adi Wijaya dan Pak Candra Wijaya," jawab Bu Aisyah.


"Tentu saja. Apa mereka itu...." Ucapan Om Alif menggantung karena ragu.


"Iya. Mereka kakek dan om Via," jawab Bu Aisyah mantap.


"Meski orang kaya, mereka nggak sombong. Buktinya, Farhan diberi kepercayaan sedemikian besar dan Azka tinggal di rumah Pak Candra," tambah Pak Haris.


Tante Asih dan Rara melongo. Mereka saling tatap.


"Ternyata anak pungut itu tajir. Keluarganya bukan orang sembarangan. Kalau dia marah sama gue, habislah gue. Aduh, gue mesti bagaimana?"


Bu Aisyah menangkap kegelisahan Rara.


"Ada apa, Ra?" tanya Bu Aisyah.


"Oh, nggak ada apa-apa. Rara mau ke kamar dulu," jawab Rara. Ia segera bangkit meninggalkan ruang makan.


Sepeninggal anak bungsunya, Tante Asih pun terlihat tidak nyaman. Ia pamit menyusul Rara ke kamar.


" Mih, ternyata istri Farhan keturunan orang penting yang tajir. Rara nggak nyangka. Kalau dia tersinggung dengan ucapan Rara bagaimana, Mih?" Rara merengek.

__ADS_1


"Mamih juga nggak nyangka. Sudahlah, toh nanti sore kita pulang. Kita di dalam kamar saja," usul mamih Rara itu.


Rara setuju dengan ucapan mamihnya. Ia kemudian pergi ke kamar mandi.


Menjelang waktu zuhur, Om Alif masuk ke kamar. Ia heran dengan kelakuan anak istrinya yang mengurung diri di kamar lebih dari dua jam.


"Kenapa kalian sedari tadi di kamar?"


"Itu, Pih, kami sedang ee .... sedang merapikan barang-barang. Kan nanti pulang," jawab Rara.


"Mana kopermu?" tanya Om Alif heran.


"Tadi kami baru merapikan kamar. Habis ini, baru packing," jawab sang istri.


Om Alif tidak memperpanjang. Ia minta disiapkan baju koko lalu segera masuk ke kamar mandi.


Sebelum pergi ke masjid untuk jamaah salat Jumat, Om Alif berpesan agar anak istrinya membantu Via yang sedang menyiapkan makan siang.


Mau tak mau keduanya pergi ke dapur. Via dan bundanya tengah memasak untuk makan siang.


"Wah, harum sekali. Masakan Via kayaknya enak. Tadi nasi gorengnya juga lezat," kata Tante Asih sedikit kaku.


Via hanya tersenyum. Ia sedikit heran dengan perubahan sikap kakak ipar bundanya.


"Terima kasih atas pujian Tante," jawab Via sopan.


"Kakak barusan tidur?" tanya Bu Aisyah.


"Kami baru merapikan barang-barang," jawab Tante Asih.


Setelah mematikan kompor, Via teringat sesuatu.


"Via ke atas sebentar," pamit Via. Ia bergegas meninggalkan dapur. Tak lama kemudian, ia kembali dengan menenteng tas yang cukup besar.


"Ini sedikit oleh-oleh dari Bali untuk Tante, Om, juga Kak Rara," kata Via sambil memberikan tas kepada Rara. Gadis itu menerima dengan sedikit gugup.


"Ah, gila ni anak. Gue udah sinis, tetep aja dibaikin. Apa gue salah menilainya, ya?"


Bu Aisyah tersenyum melihat kegugupan Rara. Ia mendekat.


"Sana, bawa dulu ke kamar. Via kemarin belanja oleh-oleh kayak penjual lagi kulakan. Kata Farhan, bagasi mobil hampir nggak muat," kata Bu Aisyah diikuti tawanya.


"Ah, Bunda nih," ujar Via malu.


"Terima kasih, Via," ucap Tante Asih canggung.


"Sama-sama, Tante. Semoga bermanfaat," balas Via tulus.


"Kayaknya anak ini memang baik. Aku jadi malu. Ah, yang penting dia nggak marah," batin Tante Asih.


***


Bersambung


Mohon tetap dukung author dengan klik gambar jempol, kasih koment, rate 5, juga vote.

__ADS_1


Terima kasih buat readers yang setia dukung author. Barakallahu fiikum 🙏


__ADS_2