
Dua orang cowok memakai T-shirt dan celana blue jeans tersenyum ala iklan pasta gigi setelah salam. Mereka meletakkan bawaan yang cukup berat.
“Kirain OB. Ternyata Mas Azka sama Mas Rio,” celetuk Edi.
“Haish... ganteng gini kok dikira OB. Ngaco ni Mas Edi!” sungut Azka.
“Memang kalau OB nggak mungkin ganteng? Ada juga OB ganteng, Mas,” sanggah Mira.
“Tapi nggak seganteng aku, kan?” Azka mulai kambuh narsisnya.
“Bergantung siapa yang lihat! Kalau nenek-nenek mungkin menilai gantengan Mas Azka,” kata Ratna dengan cueknya.
“Kamu kira aku ini selera nenek-nenek tua, gitu? Sembarangan!” gerutu Azka.
Ratna tertawa cekikikan melihat Azka cemberut. Sementara, Salsa terlihat duduk mematung tanpa
mengeluarkan sepatah kata pun.
“Buktinya, Mas Azka masih jomblo. Berarti nggak ada cewek yang naksir, dong!” lanjut Ratna yang masih semangat menggoda Azka.
“Eh, jangan salah! Yang kepengin aku lamar sudah ngatri. Aku yang belum sempat melamar,” bantah Azka.
“Memang nomor antriannya sudah sampai berapa, Mas?” tanya Edi ikut meledek Azka.
“Besok aku tanya sekretarisku. Udah ah, ni mau pasang dispenser. Lagian ayah ada-ada aja. Ruangannya nggak ada dispenser, mau bikin minuman panas bingung. Untung ada ajudanku bisa kusuruh angkat galon air mineral. Aku masih kejatah bawa dispenser sama rak. Hufff...” kata Azka sembari menyeka peluh di dahi.
“Siapa yang kamu sebut ajudan? Aku? Enak saja! Sejak kapan kamu gaji aku jadi ajudan?” bentak Rio.
“Sejak tadilah. Soal gaji, tunggu sebulan kerja baru digaji. Itu kalau nggak dipecat,” sahut Azka diiringi gelak tawanya.
Edi membantu memasang dispenser dan galon air mineral. Setelah terpasang, ia memencet tombol on untuk memanaskan air.
“Bisa ngopi, nih. Kebetulan tadi aku bawa gelas, kopi, gula, dan teh. Mbok Marsih emang top nyiapin perlengkapan,” ujar Edi.
Mira bangkit dari duduknya. Ia mengambil gelas lalu diisi gula dan kopi.
“Wah, bikin ngiri yang jomblo nih,” celetuk Via.
“Aku nggak ngiri, aku nganan aja,” sahut Azka ambigu.
Salsa memandang Azka heran. Ia tak tahu yang Azka maksud. Namun, ia segera menundukkan pandangan karena takut ketahuan orang lain ia menatap Azka.
“Salsa bingung, tuh.” Rupanya Via menangkap tatapan Salsa ke Azka.
“Bingung kenapa?” tanya Azka seraya menoleh ke Salsa.
Salsa hanya diam kebingungan mesti jawab apa.
“Tadi Mbak Via kan bilang bikin ngiri. Ngiri kan sama saja ke kiri. Makanya, aku bilang kalau aku nggak ngiri tapi nganan alias ke kanan,” jelas Azka.
“Oh gitu,” kata Salsa lirih.
“Ada-ada saja ni orang. Ngomongnya susah aku mengerti. Apa aku yang telmi, ya?” batin Salsa.
“Ada yang mau ngopi lagi, nggak?” Mira menawari.
“Aku mau. Gulanya jangan banyak-banyak. Apalagi di sini sudah banyak yang manis. Ntar diabet,” kata Rio.
“Aku teh saja.” Azka ikut minta dibuatkan minuman.
“Tuan putri bagaimana?” Mira menoleh ke Via.
Yang ditanya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Rupanya rasa nyerinya masih terasa.
Tak lama setelah air panas, 2 gelas kopi dan segelas teh sudah Mira siapkan. Mereka baru
__ADS_1
menyadari kalau tidak ada tempat duduk lagi. Edi mengambil inisiatif membentangkan
gulungan karpet yang tersedia di sudut ruangan.
“Kita lesehan saja. Ah, andai ada kacang rebus, nikmat sekali nih,” kata Edi. Ia mengambil posisi duduk bersila.
Azka dan Rio menyusul duduk di dekat Edi. Mereka menyesap minuman panas yang baru dibuat Mira.
“Mantap!” puji Edi seraya mengacungkan jempol ke Mira.
“Cie...yang punya pasangan, jangan bikin baper yang jomblo dong!” Via memulai ledekan lagi.
“Di sini yang punya pasangan cuma Mas Edi dan Mira. Tapi, aku mendinglah masih ada harapan. Jadi, meski jomblo aku kategori jomba, bukan jones macam Rio,” ujar Azka. Ia
menyandarkan punggung ke dinding.
“Apa itu?” tanya Mira heran.
“Jomba, jomblo bahagia. Kalau jones kayak Rio itu jomblo ngenes.” Azka tertawa lepas. Tangannya menangkis tangan Rio yang siap memukulnya.
“Enak saja kau bilang aku jones. Aku bahagia, tau? Kan aku lagi nabung buat masa depan.
Setidaknya kayak Mas Edi, udah punya penghasilan tetap, baru mikir jodoh.” Rio
membela diri.
“Memang kamu sekarang sudah punya penghasilan tetap?” cibir Azka.
“Sudah, dong. Mas Farhan kasih aku pekerjaan. Gini-gini aku kepala divisi lo!” pamer Rio.
“Daripada Mas Azka, pengangguran ngenes,” ejek Ratna.
“Hush, aku bukan pengangguran. Aku manager.”
Azka sakit. Dan, itu yang menjadi awal mula kepergian Farhan.
Azka melirik Via yang terdiam dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa bersalah karenanya. Untunglah, kecanggungan itu tidak berlangsung lama. Perhatian mereka beralih ke pintu karena mendengar ucapan salam.
“Seru sekali, nih?” sapa Bu Aisyah diiringi senyum ramah.
“Iya, Bun. Eh, Bunda bawa makanan, ya? Sini Azka bantuin,” kata Azka sambil bangkit dari
duduknya.
“Tahu aja kamu kalau Bunda bawa makanan,” gerutu Bu Aisyah. Diserahkannya bungkusan yang ia bawa kepada Azka.
“Kan indra penciuman Azka tajam,” sahut Azka.
“Kayak kucing,” Mira menimpali. Mereka pun menertawakan Azka.
Salsa mengambil piring dan diletakkan di atas karpet. Dengan dibantu Mira, ia memindahkan makanan yang Bu Aisyah bawa ke piring.
“Wah, singkong goreng, tahu bakso, dan ... kacang rebus. Bunda kayak cenayang,” komentar Azka.
“Kok cenayang?” Bu Aisyah mengerutkan keningnya tak paham.
“Tadi Mas Edi bilang enak kalau ada kacang rebus. Kok Bunda datang bawa kacang rebus. Kan berarti penerawangan Bunda sudah tingkat tinggi,” jawab Azka.
“Oh begitu. Kamu ada-ada saja,” kata Bu Aisyah. Senyum kembali menghiasi bibirnya.
Saat mereka mulai menyantap makanan yang dibawa Bu Aisyah, ponsel Edi berdering. Sang pemilik ponsel meminta izin keluar untuk menerima panggilan telepon.
“Assalamualaikum.”
....
__ADS_1
“Baik, Tuan. MbakVia sebenarnya sudah diizinkan pulang tetapi karena bayinya masih di inkubator, Mbak Via tetap di rumah sakit, menempati kamar khusus milik Pak dokter.”
....
“Benar. Ia juga pernah bilang ke saya kalau ingin pulang kampung.”
....
“Saya belum pernah ke sana. Tapi, dia bilang memang sinyal di sana susah. Apalagi untuk
jaringan internet.”
....
“Nanti saya kirim alamatnya.”
....
“Waalaikumsalam.”
Edi kembali ke dalam. Ponsel tetap ia genggam, tidak dimasukkan kembali ke saku.
“Siapa yang telepon, Mas? Ibu? Ditanyain kapan disuruh melamar, ya?” tanya Rio.
“Bukan, tadi itu Tuan Candra,” jawab Edi lirih. Wajahnya tampak menegang.
“Ada apa? Ada hal penting?” Giliran Bu Aisyah yang bertanya.
“Soal Tedi, orang yang bersama Mas Farhan terakhir kali. Sampai sekarang ia belum kembali. Sementara kontak WA-nya pasti tidak bisa dihubungi saat ia di kampung.”
“Memangnya dia pamit untuk berapa hari?” tanya Mira.
“Satu minggu,” jawab Edi singkat.
“Mungkin masih ada keperluan lain,” ujar Bu Aisyah menenangkan.
“Saya khawatir, Tedi menjadi target Kelelawar Hitam setelah mereka tahu kalau Tedi bersama almarhum sebelum kecelakaan itu terjadi. Saya harus memastikan keberadaan Tedi.”
“Aku nggak mengerti yang Mas Edi maksud,” gumam Rio.
Edi menoleh ke Rio. Wajahnya masih tetap tegang.
“Tuan Candra sudah memberi tahu kalau Kelelawar Hitam memang terlibat. Hanya, polisi belum bisa mengungkap dalang di balik itu. Jadi, ada orang yang membayar kelompok
Kelelawar Hitam untuk mencelakai almarhum. Siapa orang itu, masih diselidiki.”
Orang-orang mengangguk-angguk paham. Wajah Via ikut tegang. Jantungnya berdegup kencang.
“Saya khawatir, Tedi diburu oleh kelompok Kelelawar Hitam karena ia menjadi saksi yang bisa membahayakan kelompok mereka. Kemungkinan, mereka belum tahu kalau awal
terungkapnya keterlibatan mereka adalah rekaman video dari Mbak Via.”
Sekarang suasana menjadi tegang. Mereka terbawa emosi yang diciptakan Edi.
***
Bersambung
Banyak yang mengharap Farhan masih ada ya? Maafkan author ngasih cobaan berat kepada Via. Eh, minta maaf ke siapa ya?
Gak lama lagi ada kebahagiaan untuk Via, kok.
Tetap dukung karya receh ini ya. Untuk teman-teman author, insya Allah aku akan dukung balik kalau Kakak koment.
Love you 😘😘
__ADS_1