
Di ruangan bercat serba putih, dokter Haris tengah mencermati setumpuk dokumen. Sesekali ia juga memperhatikan layar laptopnya.
Setelah semua dokumen dicek, jemari dokter Haris bermain di keyboard laptopnya. Sekarang fokusnya ke layar laptop. Hanya sesekali ia melihat dokumen di samping laptop.
Setelah hampir dua jam, dokter Haris berhenti. Matanya terbelalak menatap angka yang tertera di layar.
“Masya Allah. Jadi, mark up transaksi terakhir hampir mencapai setengah M? Jangan-jangan ada kecurangan juga pada transaksi sebelumnya,” gumam dokter Haris.
Saat tangannya memegang mouse untuk menggerakkan pointer, gawai di meja bergetar. Ia melirik sekilas tulisan di layar. Begitu tahu, buru-buru dokter senior itu mengambil dan menerima panggilan yang diterima.
“Assalamualaikum, Han. Ada apa?”
“Waalaikumsalam. Ayah sudah meminta rekaman CCTV?” tanya Farhan.
“Astaghfirullahalazim, Ayah lupa. Ruangan mana saja yang dibutuhkan?” dokter Haris balik bertanya.
“Ruangan Ayah, ruang rapat, ruang Kabag Perencanaan dan Pengembangan, dan gudang.”
“Baik, nanti Ayah minta rekaman CCTV seminggu terakhir. O ya, Ayah baru saja mengecek transaksi terakhir dengan Global Persada. Mark up hampir mencapai setengah M. Ayah belum mengecek transaksi sebelumnya, ada atau tidak, kalau ada terdapat mark up atau tidak.”
Farhan terdiam sejenak. Tentu saja ia tidak kaget karena sudah mengetahui dari Via mengenai kalkulasi mark up anggaran rumah sakit yang dipimpin ayahnya.
“Ayah, usahakan jangan ada pembelian barang apa pun kalau tidak sangat mendesak. Ayah harus ketat mengawasi anak buah Ayah agar tidak melakukan transaksi illegal.”
“Ya, Ayah mengerti. Ayah nggak mau kecolongan lagi.”
“Tolong rekaman CCTV-nya segera, ya. Kiki menunggu untuk menentukan langkah selanjutnya,” pinta Farhan.
“Baik. Ayah akan minta sekarang.”
“Jangan Ayah yang meminta langsung! Nanti timbul kecurigaan,” cegah Farhan.
“Oke, oke, Ayah tahu.”
“Ya sudah, selamat berjuang, Ayah. Semoga Allah memudahkan langkah kita. Assalamualaikum,” ucap Farhan.
Pak Haris mengaminkan ucapan Farhan dan menjawab salam Farhan. Lalu, ia memanggil salah satu orang kepercayaanya. Ia menyuruh orang tersebut meminta rekaman CCTV.
Usai menyelesaikan kegiatan untuk menyelidiki penyelewengan dana, Pak Haris pergi meninggalkan ruangannya. Ia menuju bangsal perawatan.
***
Di kediaman Edi, pria berumur 30 tahun lebih itu tengah duduk bersama Mira, istrinya. Pernikahan mereka telah berlangsung hampir setahun. Namun, belum ada tanda-tanda Mira mulai mengandung.
Mira sebenarnya ingin berkonsultasi kepada dokter kandungan. Ia khawatir dirinya mandul. Niat itu belum jadi dilakukan karena Edi memintanya bersabar, menunggu pernikahan mereka genap setahun.
“Bagaimana dengan Salsa, Sayang? Apa dia sudah memberi keputusan? Kiki benar-benar mencintainya. Dia sekarang berubah drastis setelah jatuh cinta.” Edi membuka percakapan.
“Sayangnya Salsa belum mau membuka hati. Ia ingin konsentrasi menyelesaikan kuliahnya,” jawab Mira.
“Jadi, Salsa menolak Kiki?” Edi menyampaikan simpulannya.
“Bukan. Salsa tidak menolak tetapi juga tidak menerima. Mungkin nanti setelah dia lulus, baru dia memikirkan jodoh.”
“Semoga mereka menemukan jodoh yang baik,” gumam Edi, “Aku kasihan kepada mereka karena sama-sama pernah mengalami patah hati.”
Baru saja Edi bergumam, sebuah motor sport yang terlihat masih baru memasuki halaman rumahnya.
“Bang Edi! Kiki datang!” teriak pria berambut sebahu yang dibiarkan tergerai.
__ADS_1
“Haish, salam dulu kek!” gerutu Edi.
“Eh, Kiki lupa. Assalamualaikum Bang Edi dan Kak Mira.”
“Waalaikumsalam,” jawab Edi dan Mira kompak.
Tanpa menunggu dipersilakan, Kiki mengambil kursi yang kosong dan memindahkan ke depan Edi. Ia pun duduk di kursi itu.
“Ada berita apa?” tanya Edi.
“Berita dalam dunia, Bo! Ini tugas hampir kelar. Sudah ada titik terang-benderang seterang mentari mengenai pelaku dan dalangnya.”
“Benarkah?” Edi menatap lekat pria di depannya.
“Iya, dong! Masa Bang Edi nggak percaya,” sungut Kiki.
Pria berpostur langsing itu mengambil lap topnya lalu menghodupkannya. Sambil menunggu siap, ia mengeluarkan gawai.
“Kak Mira, memangnya PAM mati sejak kapan?” Kiki menoleh ke Mira.
“Mati? Enggak. Sejak kemarin normal-normal saja, kok.” Mira menjawab dengan ekspresi kebingungan .
“Oh, kirain nggak ada air di rumah ini,” sahut Kiki santai.
Mira celingukan. Ia belum paham apa yang Kiki maksudkan.
“Kiki minta minum, tuh. Sana ambilin air putih!” ucap Edi.
“Ish, pelit amat. Masa iya sekelas Bos Edi cuma bisa kasih air putih doang,” cibir Kiki.
“Ya udah, mau minum apa?” Mira menawari.
Edi memelototi Kiki. Namun, pria yang tadinya sering bergaya melambai itu pura-pura tidak tahu.
“Sudah, sekarang lihat rekaman CCTV ini! Itu pelaku yang bikin kacau transaksi pembelian alat kesehatan. Lihat ekspresinya saat rapat, Bang! Dia berkali-kali menoleh ke Kabagnya.”
Edi memperhatikan orang yang Kiki maksud.
“Perbesar, Ki! Aku ingin lihat wajahnya!” perintah Edi.
Kiki menurut. Ia memperbesar gambar orang yang ia maksud hingga tampak jelas.
“Ok. Lanjut!” perintah Edi selanjutnya.
“Ini rekaman waktu orang itu menyusupkan dokumen ke meja kabagnya.”
“Oh, begitu kerjanya. Ada bukti lain? Ia bekerja dengan siapa?” Tanya Edi.
“Tentu saja nggak sendiri. Ia bekerja sama dengan Kepala Gudang. Sebentar, aku mau tunjukkan rekaman videonya.”
Kiki mencari file yang ia maksud. Saat itu, Mira keluar sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan camilan.
“Silakan diminum,” ucap Mira.
“Ah, iya Kak. Terima kasih.”
Kiki menghentikan pencarian file yang akan ia putar. Ia meminum kopi yang masih panas. Ia juga menambil keripik lalu menikmatinya. Tentu saja hal itu membuat Edi geregetan.
“Mana, Ki? Kok kamu malah makan? Ditunggu-tunggu malah nyantai,” gerutu Edi.
__ADS_1
“Sabar, Mas. Ada kopi yang semerbak gini, masa aku nggak tergoda?” sahut Kiki tanpa merasa bersalah.
“Terserahlah! Yang penting kamu jangan tergoda istriku.”
Kiki terbahak mendengar ucapan Edi. Ia segera menghabiskan keripik di tangan.
“Nih, lihat! Gina diam-diam pergi ke belakang bertemu dengan Kepala Gudang.”
Kiki memutar file rekaman yang menunjukkan gadis bernama Gina dengan langkah terburu-buru menuju bagian belakang. Sesekali ia menengok kanan kiri. Setela sampai depan Gudang, mereka mengobrol selama kurang lebih 5 menit. Sebelum percakapan mereka berakhir, Gina menyerahkan amplop tebal kepada Kepala Gudang.
“Eh, tunggu! Memang di lorong rumah sakit ada CCTV? Kok gambarnya bisa jelas begitu, menyoroti dari saat gadis itu keluar ruangannya sampai depan gudang?” Edi keheranan.
“Itu bukan diambil dari CCTV, Bang. Itu kerjaan Antok, satpam mata-mata yang kita tempatkan di sana,” terang Kiki.
“Oh, baguslah. Sekarang, siapa orang kita yang ada di rumah sakit?”
“Momon, petugas cleaning service.”
“Bagus, sebagai cleaning service, dia bisa ke mana-mana.”
Kiki acuh tak acuh. Dia kembali menikmati camilannya.
‘KI, apa kemampuan yang dimili Momon?”
“Banyak. Dia bisa bersih-bersih, bela diri, bisa IT juga.”
“Bagus! Hubungi dia sekarang!”
Kiki kaget sampai tersedak. Perintah Edi begitu mendadak. Namun, tanpa banyak bertanya, ia mengambil gawainya untuk menghubungi orangnya.
“Ni, Bang. Bang Edi ngomong sendiri sama Momon!” ujar Kiki sambil menyerahkan gawainya.
Edi menerimanya lalu memulai ngobrol dengan Momon.
“Mon, ini Edi.”
“Oh, Bos Edi. Ada apa, Bos?”
“Gina ada PC di meja kerjanya? Kalau ada, kamu menyelinap, cari data penting di PC Gina!” perintah Edi.
“Data apa saja?”
Edi menjelaskan yang ia maksud. Kiki tidak memedulikan, tetap asyik menikmati camilan.
“Jadi, sebenarnya WK Kusuma itu milik Bu Via, menantu Pak dokter?”
“Sttt, jangan keras-keras! Lihat sekelilingmu, aman apa tidak. Hati-hati dalam bertindak!” Edi memberi peringatan.
“Iya, Bos. Maafkan saya. Situasi aman, Bos. Ini kan Minggu. Paling perawat dan beberapa dokter jaga.”
“Tetap hati-hati! Jangan ceroboh!” Edi kembali memberi peringatan.
Tanpa Momon sadari, seseorang mendengarkan percakapan mereka. Orang itu terus memantau Momon.
***
Bersambung
Novel ini sudah hampir tamat, ya. Silakan ikuti kisah Azka dan Meli di novel terbaruku. Saat ini sudah masuk episode 2 lo! Jangan lupa klik like dan tinggalkan komen, ya! Terima kasih.
__ADS_1