
Sudah tiga bulan Farhan bekerja di Wijaya Kusuma. Ia masih merahasiakan identitasnya sebagai menantu almarhum Wirawan. Ia terus bekerja keras untuk memulihkan kondisi perusahaan.
Di samping itu, ia juga menyelidiki penyebab colaps-nya perusahaan sebesar Wijaya Kusuma. Farhan juga ingin mengungkapkan oknum-oknum yang terlibat.
Sejak datang, Farhan tampak serius menatap layar monitor. Sesekali ia perbesar bagian tertentu untuk memastikan yang ia lihat.
Sejak beberapa hari yang lalu, Farhan menemukan ada kejanggalan pada laporan 2 tahun yang lalu. Ia curiga ada yang melakukan sabotase dan tidak diketahui almarhum.
"Dari tadi kok serius banget sampai nggak istirahat? Ntar makan siang di luar, yuk," suara perempuan yang berdiri di depan meja kerja Farhan membuat cowok itu menghentikan aktivitasnya.
"Jangan terlalu ngoyo. Toh gaji kita ya segitu aja. Masih untung nggak bangkrut total. Setidaknya aku masih beruntung karena di kantor pusat dan masa kerjaku cukup lama," kata perempuan itu lagi.
"Memangnya sudah berapa tahun kerja di sini, Mbak?"
"Panggil Rina nggak usah pakai embel-embel 'mbak'. Berapa kali aku harus bilang, sih? Usia kita paling nggak beda jauh."
"Maaf, saya belum terbiasa. Rina kerja di sini sudah berapa tahun?" Farhan mengulang pertanyaannya.
"Lima tahun. Waktu diterima di sini, aku masih kuliah."
"Berarti sudah banyak tahu tentang perusahaan ini sejak masih ada almarhum Pak Wirawan, ya?"
Rina mengangguk. Mendadak raut mukanya murung.
"Dulu, awal aku kerja di sini, perusahaan ini bisa memberi gaji yang cukup besar. Aku yang baru saja diterima digaji di atas UMR. Setelah Bu Dewi meninggal, perusahaan mulai oleng. Apalagi setelah Pak Wirawan tiada. Betul-betul kacau. Jangankan mendapat gaji besar, bisa bertahan saja sudah untung. Setidaknya, masih punya pekerjaan untuk biaya hidup," tutur Rina dengan nada getir.
"Apa sebelumnya baik-baik saja?"
"Iya. Kami nyaman kerja di sini. Pak Wirawan orangnya baik, tidak sombong meskipun kaya-raya. Ia suka menolong. Dulu ada puluhan anak dari karyawan yang kurang mampu dibiayai sekolahnya."
"Kok bisa, ya, perusahaan sebesar Wijaya Kusuma bisa terpuruk begitu?" Farhan tertarik untuk mengorek keterangan dari Rina.
"Sepertinya ada pengkhianat. Almarhum Pak Wirawan orang yang sangat mumpuni di dunia bisnis. Meski baru sekitar 3 tahun aku kenal beliau, aku yakin akan kemampuannya. Terpuruknya perusahaan ini tentu hasil konspirasi."
Farhan mrngangguk-angguk. Ia semakin yakin adanya orang dalam yang berkhianat. Ia bertekad untuk menemukannya.
"Gimana, jadi ikut makan di luar, nggak? Nggak jauh, kok. Jam 1 sudah bisa balik lagi."
"Oke. Habis salat, ya!"
Farhan sengaja menyetujui ajakan Rina. Ia ingin mendapatkan informasi lebih lanjut tentang perusahaan mertuanya.
__ADS_1
Setelah jemaah zuhur, mereka pergi ke warung makan seberang kantor. Tidak hanya Farhan dan Rina, karyawan lain pun cukup banyak yang makan di tempat itu.
"Sepertinya kalian suka makan di sini, ya?" tanya Farhan.
"Iya. Rasanya enak, menunya bervariasi, dan harganya gak bikin jebol kantong pegawai miskin," kata Rina.
Farhan tertawa. Ia berbaur dengan karyawan lain dan mengobrol.
Ini pertama kalinya Farhan makan bersama karyawan lain di luar kantin perusahaan. Di warung tersebut mejanya besar sehingga bisa muat 6 sampai 8 orang.
Saat ngobrol, Farhan menyisipkan pertanyaan yang menjurus pada kondisi perusahaan di masa lalu. Farhan pun mendapat informasi tambahan untuk penyelidikannya.
Sebelum pukul 13.00 mereka telah kembali ke ruang masing-masing.
Farhan kembali tenggelam dalam pekerjaan. Ia memeriksa laporan keuangan perusahaan di masa almarhum masih ada. Farhan menemukan lebih dari 5 kejanggalan. Ia segera mengirim pesan kepada Pak Arman.
Farhan
[Saya menemukan beberapa kejanggalan pada laporan 2 tahun yang lalu. Kapan kita bisa bertemu?]
Arman
[Nanti habis dari kantor Mas Farhan bisa ke rumah. Kita bicarakan di rumah saya saja]
Farhan
Arman
[OK.]
Kantor sudah sepi. Hanya beberapa karyawan yang masih bertahan selain satpam. Farhan bergegas ke tempat parkir. Dengan sepeda motor matik Azka ia meluncur ke rumah Pak Arman.
Tak sampai tiga puluh menit ia sudah sampai di kompleks perumahan kediaman Pak Arman. Farhan memarkir motor di halaman yang tidak luas tetapi cukup asri dengan banyaknya tanaman bunga.
Baru saja Farhan memencet bel, pintu sudah terbuka. Seorang wanita setengah baya keluar membukakan pintu.
"Mas Farhan, ya? Silakan masuk. Bapak sedang di belakang. Tunggu sebentar, ya! Silakan duduk dulu," kata wanita itu ramah.
"Iya, Bu, terima kasih," ucap Farhan.
Tak lama kemudian Pak Arman keluar diiringi wanita tadi. Ia membawa dua cangir teh hangat dan camilan.
__ADS_1
"Silakan diminum," perempuan itu mempersilakan.
"Dia istri saya," kata Pak Arman, "O ya, tolong kau ambilkan kaca mata di meja kerjaku, Bu."
Istri Pak Arman mengangguk dan bergegas melakukan yang diperintahkan suaminya.
"Apa yang Mas Farhan temukan?" tanya Pak Arman.
Farhan mengeluarkan print out laporan yang tadi siang ia cermati. Pada print out tersebut sudah ada tanda pada bagian tertentu.
"Sepintas angka-angka itu wajar. Namun, silakan dibandingkan dengan ini," kata Farhan.
Pak Arman mencermati laporan yang Farhan tunjukkan. Ia tampak serius menatap laporan itu.
"Sepertinya ada yang mengubah laporan yang asli. Dalam kondisi normal, almarhum tentu dapat mengetahui hal semacam ini karena beliau orang yang teliti."
"Maksud Om?"
"Pemalsuan data semacam ini sudah pernah terjadi sekitar 4 atau 5 tahun silam. Saat Pak Wirawan akan menandatangani, beliau menemukan kejanggalan. Lalu beliau menelusuri oknum yang berbuat curang. Ternyata, justru bukan orang-orang yang ada kaitannya dengan penyusunan laporan. Seseorang membobol data. Salah satu orang HRD menyusup. Ternyata, ia kaki tangan Danu. Ia langsung diberhentikan."
"Kenapa yang ini tidak ketahuan?" tanya Farhan penasaran.
"Mungkin Pak Wirawan sedang banyak pikiran. Sebenarnya, Pak Wirawan mengetahui penyakit Bu Dewi beberapa bulan sebelum almarhumah meninggal. Namun, beliau menutupi hal tersebut agar Mbak Via tidak tahu. Beliau menuruti keinginan Bu Dewi agar Mbak Via tidak terbebani."
Farhan mengangguk-angguk tanda menahami situasi yang terjadi.
"Saya minta Mas Farhan jangan menceritakan hal ini kepada Mbak Via. Biarlah ini menjadi rahasia yang diketahui kita bertiga. Saya tahu dari Pak Andi."
"Lalu, apa tindakan kita selanjutnya?"
"Kita pura-pura tidak tahu kalau ada rekayasa seperti ini. Tolong Mas Farhan terus mencari kejanggalan yang ada sampai sekarang. Mungkin saja masih ada orang yang ingin menghancurkan Wijaya Kusuma. Kita harus terus waspada."
"Baik, Om. Saya telusuri dulu."
"Saya harus menyampaikan hal ini kepada Pak Andi."
Mereka berbincang-bincang membahas masa depan hingga malam.
***
Bersambung.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan pembaca. Terus dukung novel ini dengan memberikan cap jempol, rate 5, koment dan vote! 😍