
Orang tua Ratna tidak mempermasalahkan keadaan Rio yang sudah menjadi yatim piatu sejak kecil. Mereka sudah mengetahui hal itu dari Ratna.
Pembicaraan pun berlanjut hingga penetapan akad nikah dan resepsi. Sayangnya, keputusan orang tua Ratna tak seperti yang Rio harapkan.
Rio dan keluarga Via berharap pernikahan Rio dan Ratna dapat dilangsungkan dalam waktu dekat. Namun, kakek Ratna memiliki pandangan berbeda. Ia menggunakan perhitungan dari weton (hari lahir) calon pengantin. Ayah Ratna mendukung hal itu.
Pak Haris dengan sabar sudah menyampaikan bahwa pada dasarnya semua hari itu baik. Semua bergantung kebutuhan.
Namun, kakek Ratna bersikeras menggunakan hitungan weton. Jika tidak, dikhawatirkan rumah tangga cucunya mengalami kesialan. Bahkan, bisa jadi mereka akan bercerai.
Daripada suasana menjadi panas, Pak Haris mengalah. Rio pun terpaksa mengikuti keputusan kakek dan orang tua Ratna. Pernikahan mereka baru akan dilangsungkan 5 bulan yang akan datang.
Sebelum maghrib, mereka berpamitan. Pak Haris beserta Bu Aisyah dan Eyang Probo kembali ke kediaman Eyang Probo. Yang lain, menuju rumah Via.
Setelah maghrib, mereka membicarakan rencana pernikahan Rio dan Ratna. Via dan Farhan sudah siap membantu sepenuhnya, baik dari biaya maupun tenaga.
“Mas Farhan nggak usah repot-repot gitu. Rio jadi nggak enak. Yang penting ijab Kabul. Aku rasa Ratna juga setuju seperti yang tadi disampaikan, bikin acara di rumah Ratna saja, sudah cukup,” kata Rio.
“Benar, Nak Farhan. Rio sudah dibantu proses lamaran saja, Ibu sangat berterima kasih. Jadi, Ibu rasa kita ikut rencana keluarga Ratna, cukup di rumah Ratna. Nggak perlu sewa gedung segala macam. Nanti Rio tinggal bantu biaya keperluan penyelenggaraan hajatan di rumah Ratna.” Bu Aminah menimpali.
Via dan Farhan saling tatap. Mereka sedikit bingung.
“Tenang saja, Rio. Pernikahan kan kalau bisa sekali seumur hidup. Kalau bisa, buat yang berkesan. Kakakku siap tuh. Kamu nggak usah pikirkan yang macem-macem. Fokus saja sama ijab Kabul,” celetuk Azka.
“Biar nggak salah melulu, ya?” sindir Via.
Meli cekikikan mendengar sindiran kakak iparnya. Ia teringat momen ijab kabul mereka beberapa waktu silam. (Detail prosesi ijab kabul Azka-Meli dapat dibaca di CS1 episode 133)
Azka seketika berubah cemberut. Mukanya memerah. Ia melirik kedua mertuanya yang tersenyum sambil menatapnya.
“Bagaimana kalau Via tanya ke Ratna bagaimana keinginannya. Kalau Ratna ingin ada resepsi yang meriah di gedung, kalian rencanakan saja! Anggap saja ini dari pihak Rio. Dan Nak Rio nggak usah sungkan. Via dan Farhan tulus bantu. Iya kan, Via?” Bu Lena angkat bicara.
“Aku rasa usulan Tante Lena bagus. Biar Via ngobrol dengan Ratna soal resepsi ini. Setelah tahu keinginan Ratna, baru kita bisa membuat rancangan selanjutnya,” ucap Via.
Rio tampak masih ragu. Ia merasa sunkan merepotkan keluarga Via.
“Sudah, Bro! Kamu nggak usah merasa sungkan. Mas Farhan dan Mbak Via justru senang kalau bisa bantu. Andai sesuai rencana, kita bisa barengan bikin acaranya,” kata Azka.
“Memang Nak Azka mau bikin resepsi lagi?” tanya Bu Fatimah.
“Iya, Bu. Insya Allah setelah wisuda mau bikin resepsi untuk mengumumkan pernikahan saya dan Meli. Saat ini paling saudara dan tetangga yang tahu kalau saya sudah menikah. Saya bisa dicincang teman-teman saya kalau nggak kasih kabar ke mereka,” ujar Azka sambil menggedikan bahu.
Rio tertawa melihat cara Azka menjelaskan alasannya mengadakan resepsi. Kecanggungannya mulai cair.
“Berarti Ayah ke Jogja lagi, nih. Asyik, naik kereta lagi!” celetuk Pak Roni.
“Ih, Ayah norak deh.” Meli mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
“Sstt, nggak boleh gitu sama orang tua,” bisik Azka.
“Oke, Rio setuju dengan usul Tante Lena tadi, kan? Istriku bicara dulu dengan Ratna, lalu kita pikirkan langkah selanjutnya,” kata Farhan.
Rio akhirnya mengangguk. Bu Aminah pun menyetujui. Wanita berusia hamper setengah abad itu menyeka aair mata haru yang telah menggenang di pelupuk.
*
Setelah salat isya, Rio dan Bu Aminah diantar ke panti. Sementara, Pak Roni dan Bu Fatimah kembali ke ruma Eyang Probo. Azka dan Meli tentu saja kembali ke rumah Pak Haris.
Begitu sampai, Azka berlari menuju toilet di lantai 1. Meli ditinggal begitu saja.
“Mas Azka kenapa, sih? Mules? Diare?” gumam Meli.
Meli mengunci pintu gerbang dan pintu depan. Kemudian, ia bergegas ke kamar.
“Sayang, kamu di mana?” teriak Azka begitu keluar dari toilet.
Azka mengecek pintu depan, ternyata terkunci. Dari balik tirai, Azka melihat pintu gerbang yang telah tertutup rapat dan tergembok. Ia menarik nafas lega. Berarti Melia ada di dalam rumah. Ia memutuskan ke kamarnya.
“Assalamualaikum,” ucap Azka sambil membuka pintu.
“Waalaikumsalam,” jawab Meli yang tengah duduk sambil mengoleskan night cream.
“Huff, ternyata ada di kamar,” desis Azka.
“Mas takut ada yang nyulik kamu waktu ditinggal di teras. Maaf, perutku tadi beneran mules jadinya langsung lari ke kamar mandi.” Azka menyesali tindakannya.
“Kok parno gitu? Masa di teras rumah sendiri kok diculik?”
Azka tidak menjawab. Ia mendekati Meli yang sudah selesai mengoleskan night cream.
“Begitu menjadi bagian dari keluarga Wijaya, kita harus menjaga kewaspadaan. Segala sesuatu mungkin terjadi. Aku bukan menakut-nakuti, tapi begitulah faktanya. Berbagai ancaman sudah diterima. Aku dengar-dengar sakitnya Eyang Probo juga karena ada seseorang yang menyusup dan menyabotase makanan Eyang selama beberapa bulan ini. Untunglah anak buah Mas Edi sudah mengungkapnya.”
Meli melongo mendengar penjelasan Azka. Ia tidak mengira kalau risikonya sebesar itu.
“Pantas saja mereka menyuruh body guard mengawasi keluargaku juga. Kalau ayah dan ibu sampai tahu, mereka pasti khawatir. Jadi orang kaya nggak enaknya gini, sering di**bikin was-was” pikir Meli.
“Sudah, nggak usah dipikir terlalu dalam. Mas Farhan sudah menyuruh anak buah untuk mengawasi keluarganya, termasuk kita.”
Meli mengangguk. Ia bangkit dan berjalan menuju ranjang. Lekuk tubuhnya tampak jelas karena dia mengenakan baju tidur berbahan saten.
Azka menelan salivanya. Ia segera menyusul Meli ke ranjang.
“Sayang, kau membangunkannya,” bisik Azka.
Meli menatap Azka bingung. Ia belum paham arah pembicaraan Azka.
__ADS_1
“Yang di dalam sini. Dia ingin dimanja,” bisik Azka lagi.
Azka meraih tangan Meli. Perlahan diarahkannya tangan itu menyentuh bagian sensitif Azka. Meli terlonjak. Mukanya merona.
“Ih, Mas Azka,” ucap Meli malu-malu.
“Kita perlu kerja keras agar bisa mewujudkan keinginan orang tua kita,” sahut Azka.
Meli teringat pembicaraan dengan Via. Ia segera menggeser posisinya menghadap Azka.
“Mas, Via boleh tanya?”
“Tentu saja, Sayang. Kamu mau tanya apa?”
Meli tersenyum lembut. Entah keberanian dari mana, ia mendaratkan ciuman sekilas di pipi Azka.
“Eh, sudah nggak sabar?” celetuk Azka.
“Ih, bukan begitu. Emmm, Mas Azka sudah inginpunya momongan? Segera?” tanya Meli.
Azka memasang muka serius. Ia membetulkan posisinya agar nyaman.
“Kalau aku sebenarnya tidak terburu-buru. Biarlah semua berjalan seperti air mengalir. Kalau memang dalam waktu dekat Allah memberi kepercayaan kita menjadi orang tua, ya tinggal terima. Kalau belum, ya bersabar. Kita serahkan semuanya kepada Allah,”ucap Azka bijak.
Meli terperangah. Ucapan Azka hampir sama dengan yang dikatakan Via tadi.
“Lalu, bagaimana dengan kuliah Meli? Meli ingin menyelesaikan kuliah Meli hingga lulus S-1,” kata Meli.
“Ya nggak apa-apa. Mas juga nggak melarang kamu kuliah. Seperti yang bunda katakan, tidak masalah sebelum kamu lulus sudah hamil. Yang penting bisa bagi waktu.”
Meli tampak masih ragu. Ia menatap lekat sang suami.
“Tapi, Mas. Siapa yang ngasuh anak kita kalau Meli kuliah? Ibu?”
“Sebaiknya begitu Mas menetap kembali di Jogja, kamu ikut menetap di sini. Aku usahakan begitu wisuda, aku kembali ke sini. Jadi, istriku berada dalam pengawasanku, aku yang akan menjagamu, Sayang. Demikian juga kalau kamu mengandung anakku. Insya Allah aku akan jadi suami siaga. Setelah lahir, kita bisa mempekerjakan baby sitter selama kamu belum lulus.”
Penjelasan Azka melegakan Meli. Ganjalan yang menggelayut di benaknya sudah menyingkir. Ia kembali bisa tersenyum lepas.
Begitu Meli terlihat tanpa beban, Azka mulai melancarkan serangan. Tangannya mulai bergeerilya di balik kain saten yang Meli kenakan. Bibirnya pun tak mau kalah. Disapunya wajah Meli yang baru dioles night cream. Sapuan itu beralih ke leher dan tengkuk, membuat Meli menggelinjang.
Sebelum nafsu menguasai diri sepenuhnya, Azka berbisik ke telinga Meli agar berdoa. Tak lama mereka larut dalam kenikmatan duniawi yang halal.
Mereka tak peduli lampu kamar yang masih menyala terang. Mereka pun tidak peduli gawai Meli yang terus-menerus berbunyi.
***
Kira-kira Meli cepat hamil nggak, ya? Apa bareng dengan Anjani? Bagaimana kabar Anjani? Silakan tengok novel CS1 karya Kak Indri Hapsari. Jika berkenan, dukung kami dengan klik like dan tinggalkan koment.
__ADS_1