
Malam ini Farhan tidak menginap di rumah sakit. Ayah dan bundanya yang menjaga Eyang Probo.
Via dan Farhan pun pulang lebih cepat. Mereka sepakat pulang pukul 16.
Sebelum pulang, Via berpesan panjang lebar kepada Edi agar berhati-hati dalam menjalankan misinya. Via masih ingat betul saat peristiwa penculikan Mira yang "menggantikan" dirinya. Itu sebabnya ia sangat khawatir meski menaruh kepercayaan yang tinggi kepada Edi.
Begitu sampai, Zayn menyambut mereka dengan gembira. Bayi yang sedang belajar berdiri itu tersenyum lebar melihat bundanya.
"Da...da!" Suara menggemaskan Zayn merupakan obat lelah bagi Via.
Via hanya menyalami Zayn. Ia segera membersihkan diri lalu bergegas menemui Zayn yang masih bersama Bu Inah.
"Zayn sudah mandi, ya? Sini, Bunda cium dulu! Wangi nggak, ya?" ucap Via sambil mengulurkan tangannya.
Zayn pun menyambut uluran tangan bundanya. Dalam sekejap, ia sudah berpindah ke gendongan Via.
"Hemmm, wangi sekali ni anak soleh," ujar Via sambil mengujani ciuman ke seluruh tubuh Zayn.
Tindakan Via membut Zayn terkekeh geli. Satu gigi kecilnya yang belum punya tetangga membuat bayi itu makin menggemaskan.
"Mana anak yang bau wangi? Ayah mau nyium juga, dong." Terdengar suara dari tangga.
Via menoleh, menatap lembut sang suami.
Farhan mendekat ke istri dan anaknya. Diciumnya pipi Zayn yang seperti bakpao. Bayi hampir setahun itu terkekeh geli.
"Tuh, Ayah gemes sama kamu," kata Via
"Ni pipi gembul bikin gemes," kata Farhan sambil terus menciumi pipi Zayn.
Diambilnya Zayn dari gendongan Via. Bayi itu begitu gembira ketika Farhan mengangkat tubuhnya.
Setelah puas bermain dengan Zayn, Farhan mengajak Via ke ruang keluarga. Farhan yang menggendong Zayn sementara Via mengikuti langkah Farhan.
"Apa tadi Mas Edi membicarakan tentang rencana pembebasan anak ART Eyang Probo?" tanya Farhan.
"Iya. Rencana mereka mengeksekusi jam 10 malam. Mereka dibagi menjadi 3 tim. Dua tim yang akan menyerbu rumah, satu tim berjaga-jaga untuk meminta bantuan jika operasi tidak sesuai rencana sekaligus mereka bertindak sebagai tim medis."
"Mas Edi dan Kiki terjun langsung, bukan?" Farhan bertanya lagi.
"Tentu saja. Mereka di tim 1 dan tim 2. Om Candra juga ikut membantu, memantau langsung perkembangan yang terjadi." Via menjelaskan panjang lebar.
Farhan mengangguk paham. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran akan keselamatan orang-orang yang terjun langsung ke lokasi penyekapan.
"Hubbiy khawatir? Kok tegang begitu?" ujar Via sambil menatap lekat wajah sang suami.
"Iyalah. Mereka bertaruh nyawa. Anak buah Rahardian juga sama. Semoga mereka semua selamat," gumam Farhan.
"Aamiin," sahut Via.
__ADS_1
"Habis isya, mari kita berdoa bersama untuk kelancaran tugas dan keselamatan semuanya," ajak Farhan.
Via mengangguk setuju. Ia sebenarnya juga mengkhawatirkan mereka.
"Hubbiy bersiap ke masjid dulu. Nanti kita lanjutkan habis isya," ucap Via.
Farhan menyerahkan Zayn kepada Via. Ia beranjak ke kamar untuk mengambil peci dan sajadah.
***
Pukul 21.00 suasana begitu hening. Rintik hujan membuat orang malas keluar rumah.
Di musala keluarga, Farhan dan Via duduk di atas sajadah masing-masing. Mereka khusuk berzikir, memanjatkan doa untuk keselamatan keluarga dan orang-orang yang bekerja dengan mereka. Secara khusus, mereka memohon pembebasan anak ART Eyang Probo dapat berlangsung lancar, tanpa ada korban.
Sementara itu, di markas Kiki orang-orang yang sudah dibagi sudah memasuki mobil kecuali yang bergabung dengan tim 1. Mereka mengendarai motor.
Seperempat jam persiapan, tim 1 berangkat terlebih dahulu. Mereka yang bertugas di depan, memantau kondisi terlebih dahulu.
Tepat pukul 22, tim 1 dan tim 2 bergerak memasuki rumah yang digunakan Rahardian untuk menyekap sandera. Tim 2 menyebar ke sekeliling rumah dengan senjata api lengkap. Para sniper menempati posisi strategis. Setelah tim 2 menempati posisi, tim 1 bergerak.
Dua penjaga di depan dilumpuhkan dengan pukulan tangan kosong.
Tiga orang tim 1 bergerak masuk. Setelah memastikan kondisi, mereka memberikan kode kepada anggota tim lain.
Mereka bergerak dengan hati-hati. Sebagian tim 1 bergerak menuju bagian belakang rumah.
Mereka masuk bersama dari depan dan belakang. Ternyata, anak buah Rahardian selalu waspada.
Tikaman pisau yang mengarah ke titik vital, bisa dihindari. Namun, serangan berikutnya yang bertubi-tubi ada yang tak bisa dielakkan.
Satu orang tim 1 terluka bagian perut. Dia segera dilarikan anggota tim 3 ke mobil untuk mendapatkan pertolongan sementara.
Begitu mengetahui serangan, semua anak buah Rahardian bergerak ke ruang sandera.
Lima penjaga di pintu berhasil dilumpuhkan. Mereka bergerak menuju ruangan sandera. Empat orang telah siaga di depan pintu.
"Hati-hati, bisa jadi sandera dalam tekanan, ditodong senjata," bisik Edi.
"Tim 2 cobra, bersiap di titik penyekapan," instruksi Komandan Tim 1.
Setelah mendapat laporan Tim 2 siap, Tim 1 mulai menyerang. Pertarungan terbuka tak dapat dielakkan. Tim 1 berusaha tidak melukai lawan.
Saat anak buah Rahardian terdesak, tiba-tiba terdengar bentakan dari dalam.
"Berhenti, atau mereka mati!" teriak salah seorang berbadan gempal dengan tato di lengan kirinya.
Lelaki bertato itu menggendong seorang anak berusia sekitar 5 tahun. Anak itu tampak ketakutan karena lehernya ditempel pisau oleh lelaki yang menggendongnya.
Tak lama kemudian, lelaki lain keluar ruangan sambil menyeret seorang gadis. Tangan kanan lelaki itu memegang pistol yang moncongnya menempel di kening.
__ADS_1
"Mundur!" perintah Edi.
Tim 1 bergerak mundur menjauhi sandera. Mereka tetap dalam kondisi waspada.
Setelah tim 1 keluar rumah, anak buah Rahardian bergerak keluar dengan membawa sandera. Begitu mereka sampai halaman, timah panas melesat menembus betis dan paha mereka. Dua sandera pun terlepas.
Merasa dia terbebas, gadis yang tadinya ditodong pistol berlari menjauh. Namun naas, sebuah pisau dilempar lelaki bertato dan menancap di punggung.
Jerit kesakitan membelah kesunyian. Gadis itu jatuh tertelungkup.
Tim 3 segera bergerak mendekati gadis yang jatuh, sementara tim 1 mendekat ke anak buah Rahardian yang baru merasakan sakitnya tertembus timah panas. Tim 2 tetap waspada dengan senjata mereka.
Menjelang tengah malam, iring-iringan seluruh tim meninggalkan rumah tersebut. Seluruh anak buah Rahardian dimasukkan minibus yang baru didatangkan saat mulai ada korban.
Sesampai markas, orang-orang Rahardian ditempatkan di dua ruangan. Tim 3 tetap berkonsentrasi terhadap dua orang yang terluka dan seorang anak yang ketakutan.
"Bagaimana kondisi gadis itu? Fatalkah lukanya?" tanya Edi.
"Cukup dalam, Bos. Dia kehilangan cukup banyak darah," jawab salah seorang Tim 3.
"Tim 1 bagaimana?" Edi melihat seorang pria yang tidak berpakaian dengan perut sebelah kiri ditutup kain kassa.
"Saya tidak apa-apa, Bos. Cukup istirahat beberapa hari, luka ini kering," jawab lelaki yang perutnya terluka.
"Oke. Bagus. Malam ini juga, bawa anak kecil ini bertemu dengan ibunya! Semoga dengan bersama ibunya, dia lebih tenang."
"Berarti kita bawa ke rumah Tuan Probo?"
"Tidak. Tadi ibunya dibawa ke rumah Mas Farhan. Jadi, bawa anak ini ke sana!" Edi kembali memberikan instruksi.
Salah seorang dari Tim 3 bersiap membawa anak kecil yang masih terlihat ketakutan. Langkahnya terhenti ketika Kiki menghadang di pintu.
"Tunggu! Bang Edi sudah lapor bos muda?" tanya Kiki.
"Masya Allah, aku lupa. Tunggu sebentar! Aku akan menghubungi Mas Farhan dulu," kata Edi.
Edi segera mengambil gawainya. Ia menghubungi Farhan, melaporkan peristiwa pembebasan sandera.
Baru saja ia menutup pembicaraan, anggota Tim 3 berteriak panik.
"Bos, gadis ini drop. Kita harus segera membawa ke rumah sakit. Dia butuh transfusi darah."
***
Bersambung
Bagaimana nasib gadis tersebut? Bagaimana dengan Azka? Kapan dia bisa bertemu istrinya? Ikuti kisah selanjutnya juga novel CS1 karya Kak Indri Hapsari untuk mengetahui Azka-Meli.
Jangan lupa dukung terus dengan meninggalkan jejak like dan komen!
__ADS_1
Barakallahu fiik