
Gujes gujes
Matahari mulai menyapa makhluk bumi. Pancaran cahayanya belum membakar kulit. Tak ada nyanyian burung yang menyambut kedatangannya.
Via sudah memasukkan semua pakaian ke dalam koper. Belanjaan untuk oleh-oleh juga sudah dijadikan satu dan dimasukkan ke dalam tas.
Seusai sarapan, mereka check out lalu menuju stasiun.
Via berjalan di samping Farhan. Tangan kanan Farhan menyeret koper, sementara tangan kirinya memegang erat lengan kanan Via. Farhan baru melepaskan pegangannya saat akan masuk kereta.
"Via yang di dekat jendela, ya," pinta Via.
Farhan mengangguk, mempersilakan Via duduk. Pak Arman duduk di kursi belakang mereka.
Tepat pukul 08.00 kereta mulai berangkat.
Senyum Via mengembang saat kereta perlahan meninggalkan stasiun. Ia semakin senang ketika laju kereta semakin cepat.
"Nggak jadi nyanyi?" ledek Farhan.
"Nyanyi apaan?"
"Naik kereta api tut tut tut...."
"Ih, Mas Farhan aja yang nyanyi. Sekalian nyanyinya di sana. Habis itu minta sumbangan ke penumpang," ucap Via ketus.
"Mas disuruh ngamen? Ish, sekarang nggak boleh ada pengamen beroperasi di kereta. Apalagi kereta eksekutif."
Via sudah tidak menggubris perkataan Farhan. Ia menikmati betul perjalanan pertamanya naik kereta api.
"Seneng naik kereta?"
Via mengangguk dan berkata,"Lebih nyaman dibandingkan naik bus. Soalnya kereta nggak belak-belok, nggak dikit-dikit gas rem."
"Memangnya pernah naik bus?"
"Ih, ngeledek! Pernahlah. Dulu waktu study tour ke Jakarta kan naik bus. Ada teman Via yang mabok, muntah-muntah gitu. Kasihan banget, mereka sampai pucat dan lemas."
"Jangan-jangan Dek Via salah satunya," goda Farhan lagi.
"Enak saja! Enggaklah. Memang terasa nggak nyaman, sih. Tapi, nggak sampai mabok."
"Ah, ternyata di dekatmu rasanya begitu bahagia. Rasanya aku ingin keretanya sampai besok pagi saja."
"Mas Farhan sering naik kereta?"
"Sering, saat masih kuliah S-2. Tapi, biasanya yang kelas ekonomi. Penghematan, namanya juga mahasiswa, belum bisa cari duit sendiri, hehehe."
"Hhmm, kalau sekarang sudah kaya bisa nyari duit sendiri?"
"Bukan kaya, tapi cukup. Semenjak ikut Eyang Probo, Mas nggak pernah minta uang ke ayah maupun bunda."
"Iya, Via juga masih ingat Mas belikan baju bareng Mas Azka waktu mobil Mas baru dikasih Eyang Probo," ucap Via.
__ADS_1
"Eh, masih ingat? Itu sudah setahun lebih, kan?" Farhan kaget sekaligus senang mendengar pengakuan Via.
"Baru setahun lebih. Memang ingatanku lemah? Masa peristiwa baru setahun lebih sudah nggak ingat?" Via sewot.
"Biasanya kalau dianggap nggak penting, meski baru terjadi, ya nggak bakalan ingat."
"Eh, berarti Mas Farhan pikir peristiwa itu penting bagiku? Aduh, kalau gini aku kan malu," keluh Via.
"Bajunya masih ada?" tanya Farhan.
Via mengangguk. Tak sengaja ia memperhatikan baju yang ia pakai.
"Hah? Yang aku pakai ini kan yang Mas Farhan belikan waktu itu?"
Ternyata Farhan juga memperhatikan baju Via.
"Emm, sepertinya ini yang dibeli waktu itu, kan?" tanya Farhan sedikit ragu.
"Iii---iya," jawab Via gugup.
"Ah, kenapa juga mengingatnya. Aku malu."
"Terima kasih, mau memakai baju pemberianku," bisik Farhan. "Yang couple kita pakainya bareng besok, ya."
Blush... Pipi Via merona merah. Ia membayangkan kalau dia memakai baju yang sama dengan Farhan.
"Aaaagh, pasti Mas Azka bakalan ngeledek habis-habisan. Oh, tidak! Aku nggak sanggup menghadapi serangan darinya."
"Eeee...itu Mas, aku malu."
"Malu kenapa? Bahannya nggak nerawang, kok. Modelnya juga nggak ketat, yang membuat lekuk tubuh terlihat."
"Mas Azka pasti meledek kita habis-habisan," ujar Via sambil menunduk.
Farhan tertawa mendengar kekhawatiran Via.
"Eh, panggilnya jangan Mas lagi. Harusnya Dek. Kan dia adik iparmu."
"Iya, tapi masih sulit karena terbiasa panggil Mas. Apalagi usianya lebih tua dari pada Via."
"Mulai sekarang dibiasakan. Lalu, soal ledekan Azka, tenang saja. Dia kan memang konyol. Mas tahu kelemahan dia, kok."
"Apa kelemahannya?"
"Belum saatnya kuberi tahu."
Via memajukan bibirnya. Pandangannya dialihkan ke luar jendela.
"Wah, istriku marah. Jangan cemberut, nanti cepet tua."
"Kalau tua, Mas cari cewek yang cantik?"
"Waduh, kok malah tambah sewot. Dengar, ya. Mau cantik mau tua, istri Mas cuma Dek Via. Mas nggak akan cari-cari yang lain."
__ADS_1
"Gombal, ah!" Via masih ketus. Padahal, dalam hati dia merasa bahagia.
Tiga jam duduk di dalam kereta membuat mata Via lama-kelamaan terasa berat. Ia pun tak kuat menahan kantuk.
Farhan menyadari kalau Via mengantuk saat kepala Via membentur lengannya. Begitu menyadari, Farhan segera menyeludupkan tangannya ke belakang tengkuk Via. Ia merengkuh tubuh istrinya dan menyandarkan kepala Via ke dadanya.
"Tidurlah dengan nyenyak, istriku. Ah, begini rasanya dekat dengan istri yang dicinta. Tak pernah kubayangkan akhirnya aku bisa mendapatkan gadis yang kucintai, yang selama ini aku hindari untuk menjaga kehormatan. Rasanya ingin sekali aku menciumnya. Ah, aku mesti bersabar. Kalau aku tidak sabar, Dek Via malah bisa-bisa membenciku. Bisa berdekatan seperti ini saja sudah membuatku bahagia."
Karena lelah, Farhan pun ikut terlelap. Ia tidur dengan posisi masih memeluk Via.
Mereka tidur lebih dari dua jam. Via terbangun ketika kereta berhenti di sebuah stasiun.
"Aku di mana? Kok badanku susah digerakkan? Aroma parfum siapa ini?"
Via perlahan melepaskan pelukan Farhan. Saat terlepas, Via tersentak kaget.
"Astaghfirullahalazim, kenapa aku bisa tidur di pelukan Mas Farhan? Haish, dia.... Ah, iya. Dia sudah sah jadi suamiku, sih. Tapi, kenapa dia meluk aku? Apa dia nggak sadar waktu tertidur meluk aku seperti halnya aku juga nggak sadar tidur di pelukannya? Aaaah, malunyaaa."
Ketika Via sedang memikirkan saat ia tertidur di pelukan Farhan, lelaki yang duduk di sebelah Via itu terbangun.
"Eh, ini sudah sampai mana?"
"Tadi baru saja berangkat dari Stasiun Kutoarjo," jawab Via lirih tanpa menoleh.
"Satu jam lagi sampai. Aku kabari Dek Azka dulu biar dia jemput kita."
"Tunggu! Apa nggak sebaiknya kita naik taksi saja? Hitung-hitung berbagi rizki dengan sopir taksi?"
"Okelah. Kau lama-lama seperti bunda," ujar Farhan.
Via kembali merasa canggung gara-gara dipeluk Farhan. Mereka hanya diam sambil sesekali menggunakan ponsel hingga kereta sampai stasiun tujuan.
"Mas Farhan sudah dijemput?" tanya Pak Arman.
"Enggak, Pak. Nanti kami naik taksi saja."
"Kalau begitu, saya duluan. Saya sudah dijemput adik. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Silakan, Pak."
Setelah Pak Arman berlalu, Farhan menggandeng tangan Via. Gadis itu menurut, tetapi sedikit tegang.
"Kita salat dulu, baru pesen taksi. Yuk, ke mushola!" ajak Farhan.
Selesai salat dhuhur yang dijamak dengan asar, mereka pulang naik taksi. Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai.
****
**Bersambung
Jangan lupa berikan dukungan kepada author biar semangat bikin episode baru. Tinggalkan like dan komentar ya! Lebih-lebih vote yang banyak.
Terima kasih 🙏🙏**
__ADS_1