
Farhan masih di kamarnya. Matanya menatap layar monitor laptop di depannya. Namun, pikirannya tidak fokus ke data-data yang terpampang di layar monitor.
Otaknya masih dipenuhi bayangan Via dan Doni. Farhan melihat Doni menyodorkan ponsel ke Via dan gadis itu terlihat menerima dengan antusias.
"Apakah Doni masih menyukai Dek Via? Apa dia tadi menyatakan perasaannya lagi? Ah, tidak tahu malu kalau dia masih ngotot mendekati Dek Via."
Farhan bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke ranjangnya.
"Tapi, Doni kelihatannya tipe orang yang tidak mudah menyerah. Antara Doni dan Dek Via sudah saling mengenal lama, lebih lama daripada aku. Dia juga berjasa menyelamatkan Dek Via dari maut. Dua kali Dek Via kecelakaan, selalu ada Doni yang menyelamatkan. Apalagi yang kedua, Doni rela sampai cedera cukup parah."
Farhan kian gelisah. Pikiran-pikiran buruk tentang Doni dan Via menari-nari di otaknya.
"Apa Dek Via serendah itu? Ah, mana mungkin dia mengkhianati pernikahannya meski masih dirahasiakan. Tapi, kenapa dia mau berduaan? Itu memang tempat umum. Tapi tetap saja namanya mereka berduaan karena cuma berdua di satu meja. Aaah, pusing. Apa karena pernikahan ini diam-diam sehingga Dek Via tidak menganggap aku suaminya?"
Farhan semakin gelisah. Ia tidak bisa fokus ke pekerjaannya.
Terdengar pintu kamar diketuk seseorang.
"Assalamualaikum, Mas Farhan. Boleh masuk?" tanya Azka yang berdiri di depan pintu kamar Farhan.
"Waalaikumsalam. Masuklah!" Farhan menjawab dengan nada sedikit ketus.
"Kelihatannya kusut amat? Itu laptop kenapa dibiarkan menyala, Mas Farhan malah duduk di sini?"
"Aku lagi pusing. Aku nggak bisa konsentrasi mengerjakan tugas kantor."
"Masalah dengan istrimu?"
"Kok tahu? Aku sedang pusing, kenapa dia tega seperti itu."
"Seperti apa? Coba Mas Farhan cerita apa yang Mas ketahui," kata Azka. Kali ini ia begitu tenang. Kebiasaan Azka yang tengil tidak muncul.
Farhan menarik nafas panjang. Ia menatap adiknya.
"Mas ragu? Kali ini aku serius, deh," bujuk Azka.
Akhirnya, Farhan percaya. Ia mulai bercerita.
"Tadi siang sekitar jam 11 aku bertemu temanku di depan kafe. Rizal, teman kantorku, menelpon aku agar datang ke kafe karena dia sedang makan siang dengan pacarnya. Saat tiba di depan kafe, aku melihat Dek Via sedang makan bersama Doni. Aku melihat Doni menyodorkan HP ke Dek Via dan diterima dengan antusias."
"Mas Farhan masuk, nggak?"
"Enggak. Mas berniat makan di rumah. Lagian kalau makan di sana, Rizal bisa merasa terganggu."
__ADS_1
"Berapa lama Mas di depan kafe?" tanya Azka lagi.
"Kok seperti reserse nanya-nanya terus? Aku jadi kayak tersangka," protes Farhan.
"Udah, jawab aja! Apa susahnya, sih?"
"Aku di sana cuma sebentar. Kayaknya nggak sampai lima menit."
"Mas lihat Mbak Via cuma berdua dengan Doni?"
"Iyalah. Kalau bertiga, berempat, aku nggak curiga begini."
Azka tersenyum tipis. Ia menggelengkan kepalanya.
"Cinta membuat kakakku jadi nggak bisa berpikir jernih."
"Maksud kamu apa?"
"Mas, bisa saja kan Mbak Via tidak berdua dengan Doni? Saat Mas Farhan lihat, teman Mbak Via sedang ke belakang. Mungkin nggak seperti itu?"
Farhan terhenyak. Ia tidak berpikir sampai ke situ.
"Mas, sebenarnya Mbak Via tadi datang bersama Ratna. Mungkin saat Mas Farhan di sana, Ratna sedang di toilet. Ia diare."
"Apa Dek Via menceritakan semuanya?"
"Iya. Dia juga memberi tahu tentang orang yang menabraknya serta otak pelakunya. Mungkin saat Doni memberikan HP-nya, ia sedang menunjukkan foto pelaku."
Mendadak Farhan merasa jengah. Ia seperti tersisih.
"Jadi, dia menceritakan semuanya ke kamu? Sementara aku, suaminya, malah tidak diberi tahu," gumam Farhan. Ia terlihat geram.
"Mas, tenanglah! Kau kan sudah marah, menuduh istrimu yang bukan-bukan. Tentu saja dia tidak mau menceritakan kepada suaminya. Kau yang memulai, tidak memberi kesempatan kepada istrimu menceritakan kejadian yang sebenarnya. Aku yakin istrimu kesal karena sikapmu."
Farhan terdiam. Ia merasa malu. Malu kepada Via, malu kepada Doni juga kepada Azka. Mereka lebih muda, tetapi kali ini mereka lebih bijaksana.
"Iya, aku akui kalau aku salah," desis Farhan.
"Cemburu yang terlalu besar membuatmu buta. Karena cemburumu kelewatan, bisa saja Mas bertindak bodoh. Begitu cintanya kepada istri? Aduuuh, kakakku yang selama ini dikenal pendiam lama-lama bisa jadi bucin rupanya," ledek Azka.
Kali ini Farhan tidak menanggapi ledekan Azka. Ia masih diliputi malu dan sesal.
"Mas Farhan mau tahu pelakunya, nggak?"
__ADS_1
"Ah, iya. Aku sampai lupa menanyakan. Siapa yang melakukan? Apa motifnya?"
Azka lalu bercerita tentang pelaku yang mencelakai Via. Ia juga mengirimkan foto Beno ke akun Farhan.
"Yang pertama aku yakin karena cemburu. Lia tidak menyukai Mbak Via karena Mbak Via dekat dengan Doni dan aku. Apalagi saat ujian aku terus yang mengantarkan."
"Aku sependapat denganmu. Yang kedua ini yang misterius. Apa yang menyebabkan Tuan Beno menaruh dendam kepada Via? Perusahaan miliknya tidak terlalu besar. Bidang usahanya juga beda dengan Wijaya Kusuma. Apa Tuan Beno ini salah satu musuh almarhum papa Wirawan? Mungkin ini ada kaitannya dengan bisnis mereka meski bidangnya beda," ucap Farhan.
"Aku rasa, Mas Farhan bicarakan dengan eyang dan Om Arman. Mereka kan sudah berkecimpung di dunia bisnis cukup lama, mengenal pelaku-pelaku bisnis beserta karakternya."
Farhan mengangguk setuju.
"Besok aku hubungi eyang dan Om Arman untuk membicarakan masalah ini. Kita juga harus memikirkan tindakan yang akan kita ambil. Bisa saja si Beno itu masih mengincar Dek Via dan merencanakan tindakan yang membahayakan."
"Jangan!" cegah Azka.
"Kenapa? Bukankah lebih cepat lebih baik?"
"Masih ada masalah yang lebih penting yang harus Mas selesaikan segera."
"Maksudmu?"
"Selesaikan masalah Mbak Via. Jangan anggap enteng! Perempuan model istrimu itu sensitif. Kalau tersinggung, bisa diam seribu tahun. Kau bisa kelabakan dibuatnya," kata Azka diikuti tawanya.
"Ah, kamu. Nanti aku telpon dia untuk minta maaf."
"Nggak gitu, Mas! Kau harus ketemu, minta maaf secara langsung. Belajar romantis dikit sama istri! Bawa bunga, ajak kencan, belikan apa kek. Habis itu, katakan kau menyesal, minta maaf juga. Perlakukan dia bak seorang putri."
Farhan tersenyum mendengar usul adiknya.
"Kok kamu sepertinya berpengalaman ngadepin cewek? Memang punya pacar?"
"Idiiih, ga gitu juga kali. Nggak harus punya pacar untuk bisa memahami seorang perempuan. Udah, ah! Mas terima ideku apa enggak, terserah. Aku balik ke kamar. Assalamualaikum." Azka langsung ngeloyor keluar kamar.
"Makasih, ya! Waalaikumsalam."
Farhan merebahkan diri ke atas ranjang. Senyum mengembang di bibirnya. Ia merancang apa yang akan ia lakukan besok.
***
**Bersambung
Apa yang akan Farhan lakukan, ya?
__ADS_1
Ikuti episode selanjutnya! Jangan lupa tinggalkan komentar dan like, apalagi sumbangan vote. Ngeliat vote yang bertambah terus, author tambah semangat 😍😍**