
Seorang pria yang memakai jas berwarna putih berjalan agak cepat menyusuri koridor rumah sakit. Ia memasuki ruangan untuk dokter di poli syaraf.
Setelah lebih dari lima menit berlalu, pria itu kembali berjalan cepat menuju poli bedah. Ia pun melakukan hal yang sama seperti di poli syaraf.
Dari poli bedah, pria itu menuju poli anak. Lagi-lagi ia ke ruangan dokter. Setelah itu, ia bergegas menuju ruang pribadi dokter Haris.
“Assalamualaikum,” ucap pria itu dari depan pintu.
“Waalaikumsalam. Masuklah, Ayah!” sahut Farhan yang sangat hafal suara ayahnya.
“Kelihatannya asyik sekali. Sedang ngobrolin apa, sih?” tanya pria yang ternyata dokter Haris sambil melangkah masuk.
“Ini, tentang pelaksanaan akikah, Yah,” jawab Via.
“Memang kapan rencana kalian mengakikahi si bayi?” dokter Haris kembali bertanya.
“Rencana kami insya Allah saat dedek bayi berusia 21 hari.” Kali ini, Farhan yang menjawab.
“Baguslah. Karena saat debay 7 hari maupun 14 tidak memungkinkan, kita ambil yang ke-21. Kalian serahkan saja kepada Bu Inah dan Mbok Marsih," saran Pak Haris.
"Rencana kami akan menggunakan jasa katering saja, Yah. Lebih praktis," sahut Farhan.
Pak Haris mengernyitkan kening.
"Apa mereka bisa dipercaya? Maksud ayah, mereka bisa melaksanakan tata cara sesuai syariat?" Pak Haris terlihat ragu.
"Insya Allah bisa, Yah. Kebetulan, Farhan punya kenalan pemilik katering yang biasa menerima order akikah. Farhan pernah lihat sendiri kambingnya, cara penyembelihan, sampai pengolahan," papar Farhan mantap.
"Kalau memang bisa dipercaya, ya Ayah setuju saja. Kalian lebih banyak punya waktu untuk pemulihan kalian maupun cucuku."
"Kami mau tanya ke dokter Wibowo nanti, kapan dedek bisa dibawa pulang," kata Via.
"Kalau soal itu, Ayah sudah menanyakan. Kata dokter Wibowo nanti boleh dibawa pulang, kok. Farhan insya Allah juga bisa pulang ...."
"Alhamdulillah!" seru Farhan dan Via bersama, memotong ucapan ayah mereka.
Pak Haris tertawa melihat keduanya. Sementara itu, Azka, Pak Yudi, dan Bu Inah juga tampak gembira.
"Nanti Farhan akan dicek dulu. Via juga sebaiknya dicek lagi sekalian kamu konsultasi dengan dokter Linda. Tentu saja kamu harus konsultasi dengan dokter Wibowo soal bayi kalian," kata Pak Haris.
"Konsultasi dengan dokter Linda?" Via terlihat bingung.
"Kamu kan baru melahirkan prematur melalui caesar. Mugkin kalian sudah memiliki program untuk cucu kedua Ayah. Nah, kamu tanyakan kapan jarak minimalnya, juga agar bisa melahirkan normal," ucap Pak Haris santai.
Via tersipu malu. Sementara Farhan dan Azka tertawa lepas.
"Azka saja belum nyumbang cucu buat Ayah, masa Mas Farhan langsung dobel? Giliran Azka kapan?" celetuk Azka.
"Lho, memang kamu bisa melahirkan, Ka?" Pak Haris bertanya dengan santai. Pertanyaan ini terdengar aneh.
"Ayah ni, ya nggak bisa dong! Azka kan pria tulen. Tentunya istri Azka kelak yang melahirkan. Masa Azka, sih?" gerutu Azka.
Orang-orang menertawakan Azka yang terlihat kesal.
__ADS_1
"Terus, istrimu mana?" ledek Farhan.
"Ya tunggu Azka menikah, Mas!" Azka masih dalam mode kesal.
"Sama siapa? Memang sudah ada calon? Ayah siap melamar, kok," sahut Pak Haris.
"Belum ada, sih. Bantuin, dong!" Azka merengek manja.
"Kamu cocoknya dengan yang somplak biar anakmu besok seperti Pak Gibran. Bagaimana dengan anggota trio somplak?" Farhan menawari.
"Hah? Trio somplak? Berarti tiga orang? Sekali nikah dapat tiga istri? Amazing!" seru Azka.
"Salah satu saja! Sembarangan kalau ngomong!" Farhan menoyor Azka.
"Hehe...kirain ketiganya."
"Kalau Anggen, sudah akan menikah dengan Pak Erik. Tinggal Tya sama Depe tuh," kata Farhan.
"Aku kan nggak kenal mereka," sahut Azka.
"Ya kenalan, dong! Gitu aja kok repot," ucap Farhan.
Pak Haris menggelengkan kepala melihat tingkah kedua putranya.
"Ayah mau ke poli dulu, meriksa pasien. Kalian tunggu saja, nanti Farhan biar tetap diperiksa di sini agar aman. Via kalau mau ke ruang peristi, jangan lupa tetap dikawal dan pakai masker!" pesan dokter Haris.
Setelah memberikan beberapa pesan, Pak Haris meninggalkan ruangan pribadinya. Ia pergi menuju poli penyakit dalam.
Pak Yudi dan Bu Inah juga berpamitan pulang.
"Iya, Mbak Via. Nanti Yudi biar kembali lagi ke sini. Kira-kira pulang jam berapa?" Bu Inah menambahkan.
"Mungkin masih dua atau tiga jam lagi. Para dokter tentu sedang memeriksa pasien di poli masing-masing," jawab Farhan.
"Bagaimana kalau Bu Inah pulang bareng saya saja? Saya ada perlu keluar, nih. Pak Yudi biar di sini saja menemani Mas Farhan dan Mbak Via." Azka menyela.
Farhan menatap Azka curiga. Ini karena Azka sering melakukan hal-hal konyol.
"Memang ada perlu apa?" tanya Farhan.
"Ih, Mas Farhan kepo. Ada deh! Ini urusan anak muda, Mas. Kayak gak pernah muda aja!" ucap Azka.
Farhan memelototi adiknya. Sementara Azka tampak tak mempedulikan tatapan kesal kakaknya.
"Kamu pikir aku sudah tua, hem?" Farhan masih mentap tajam ke Azka.
"Ciee... ada yang merasa masih muda. Inget, Pak, sudah punya anak woi!" Azka malah meledek Farhan.
"Memangnya kalau sudah punya anak mesti udah tua? Sembarangan kalau ngomong!" gerutu Farhan.
"Sudah, ah! Masa kayak gitu aja diributkan," lerai Via.
Azka merasa di atas angin. Ia segera berpindah posisi, sedikit di belakang Via.
__ADS_1
"Iya, tuh suamimu. Dia kegenitan. Jangan-jangan dia ..." Azka tidak melanjutkan ucapannya. Ia menutup mulutnya agar tidak tertawa.
"Dasar, adik durhaka! Jadi nganter Bu Inah, nggak?" Farhan masih terlihat kesal.
"Iya, iya. Ayo Bu, kita pulang sekarang!" ajak Azka.
"Kamu mau naik apa?"
Pertanyaan dari Farhan membuat langkah Azka tertahan. Ia membalikkan badan sambil nenanerkan deretan giginya.
"Hehe...pinjam mobil, Mas," ucap Azka.
Pak Yudi mendekat. Ia menyerahkan kunci kontak mobil.
"Nanti kamu ganti pakai alphard saja biar lebih lapang," pesan Farha.
"Siap, Bos!" jawab Azka diiringi penghormatan seperti komandan upacara.
Azka melangkah mantap meninggalkan ruangan tersebut.
Sementara Farhan dan Via dengan menunggu kehadiran para dokter yang akan memeriksa mereka.
Dua jam berselang, para dokter bergantian datang ke ruangan tersebut. Diawali dokter syaraf yang memeriksa kondisi kepala Farhan. Ia memberi tahu bahwa Farhan harus cukup istirahat, tidak boleh bekerja keras apalagi sampai tidur larut malam. Farhan pun tidak diperbolehkan mengemudi kendaraan smpai kondisinya dinyatakan stabil.
Sepuluh menit setelah dokter syaraf meninggalkan ruangan, ganti dokter Linda yang datang. Ia memeriksa luka bekas operasi di perut Via. Beberapa kali ia mencubit bekas luka tersebut untuk memastikan kondisinya kering.
"Alhamdulillah Bekas lukanya sudah betul-betul kering. Tapi, Nyonya tetap tidak boleh mengangkat beban berat, ya!" pesan dokter Linda.
"Dok, boleh tanya?" Farhan menyela.
"Iya, apa yang akan ditanyakan?" balas dokter Linda ramah.
"Berapa tahun jarak ideal dengan anak kedua?" tanya Farhan.
Dokter spesialis obgyn itu tersenyum baru menjawab,"Sudah mempunyai program anak kedua, ya? Jarak amannya 2 tahun, Pak. Kalau baru beberapa bulan hamil lagi, terpaksa melahirkan melalui bedah caesar lagi."
Farhan dan Via mengangguk paham. Kemudian, mereka juga berkonsultasi mengenai kemungkinan prematur lagi dan pencegahannya. Dengan sabar, dokter berusia sekitar 45 tahun itu menjelaskan semua yang ditanyakan pasangan tersebut.
Setelah tidak ada pertanyaan, dokter itu pun meninggalkan ruangan. Agak lama mereka menanti kehadiran dokter spesialis bedah ortopedi.
Hampir setengah jam setelah dokter Linda meninggalkan ruangan, dokter spesialis bedah ortopedi baru datang. Ia minta maaf karena ada jadwal operasi dua pasien. Tentu saja Via dan Farhan memakluminya.
Dokter yang usianya sebaya dokter Haris itu memeriksa kondisi Farhan. Ia pun berpesan agar Farhan kontrol minggu depan. Selain itu, ia memberi petunjuk apa yang harus Farhan lalukan agar cepat pulih. Selesai memeriksa, dokter itu berpamitan untuk melanjutkan tugasnya, melakukan visit pasien rawat inap.
Farhan mengajak Via ke ruang peristi menengok bayi mereka sekaligus menemui dokter Wibowo. Tentu saja, mereka pergi dengan dikawal bodyguard. Sementara Pak Yudi tetap berada di ruangan.
Sesampai ruang peristi, mereka disambut perawat yang sudah menyiapkan baby Z. Rupanya, dokter Wibowo sedang berada di ruangan tersebut. Farhan dan Via pun sekalian berkonsultasi dengan dokter spesialis anak itu.
Banyak hal yang mereka tanyakan berkaitan dengan perawatan bayi. Tentu saja, mereka adalah pasangan yang baru memilik anak, belum berpengalaman. Apalagi anak mereka terlahir prematur, tentu harus dirawat dengan perhatian ekstra.
***
Bersambung
__ADS_1
Maaf, mungkin terlambat hadir karena proses review agak lama. Aku insya Allah tetap berusaha membuat minimal satu episode tiap hari.
Mohon tetap memberi dukungan untuk karya recehku ini, ya. Terima kasih.😘😘