SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Kondisi Dini


__ADS_3

Usai sarapan, Farhan ganti yang menjaga Baby Zayn. Via dan Bu Aisyah kembali ke ruang perawatan. Azka yang masih asyik dengan Meli menyusul sambil memainkan gawainya.


“Alhamdulillah papa dan mama sudah stabil kondisinya. Cedera berat di kepala nihil, hanya luka luar. Kata dokter, papa dan mama tinggal pemulihan saja.” Ardi tampak berseri-seri.


Via pun bahagia mendengar penuturan saudara sepupunya. Ia segera masuk kamar Pak Candra yang sedikit terbuka.


“Assalamualaikum, Om. Kelihatannya Om jauh lebih segar pagi ini,” sapa Via.


“Waalaikum salam. Via? Sini, Nak! Om sudah merasa jauh lebih baik. Tinggal bahu yang rasanya tidak nyaman. Kata dokter butuh waktu berbulan-bulan.” Pak Candra memasang wajah cerianya.


‘Syukurlah, Om.  Via senang Om bisa segera pulih.”


“Iya. Terima kasih sudah jauh-jauh ke sini untuk memotivasi Om,” jawab Pak Candra.


“Sama-sama, Om. Jangan merasa kami direpotkan. Om sudah sering membantu kami. Dek Azka juga ikut,” kata Via.


Pak Candra tampak kaget. Ia menatap Via dan Bu Aisyah bergantian.


“Betul. Azka memang ikut ke sini.” Bu Aisyah menegaskan ucapan Via.


“Aduh, kenapa pengantinnya malah ke sini? Bagaimana dengan isterinya?” Pak Candra tampak menyesal.


“Nggak apa-apa, kok. Azka dengan senang hati melakukannya. strinya juga pengertian. Ia melepas kepergian Azka dengan ikhlas waktu kemarin pamit. Demikian pula dengan keluarganya,” lanjut Bu Aisyah.


Pak Candra mengangguk-angguk. Ia terharu atas sikap Azka dan keluarga.


“Via, mana suami dan anak kamu? Apa tidak ikut?” Pak Candra menanyakan anak menntu dan cucunya.


“Mas Farhan menjaga Baby Zayn di ruang sebelah sana, Om. Kami menjenguknya bergantian karena harus ada yang menjaga Baby Zayn.”


“O ya, Via, ada yang hendak Om sampaikan. Om minta kalian lebih waspada. Kalian adalah para pengusaha muda yang terbilang sukses. Kesuksesan pengusaha biasanya diikuti banyaknya musuh. Kamu bisa becermin dari pengalaman almarhum papamu.” Pak Candra berhenti sejenak. Matanya berkaca-kaca mengenang kakak kandungnya yang telah tiada.


“Iya, Om. Mas Edi sudah menyiapkan pengamanan,” sahut Via.


“Om tahu. Edi juga selalu melaporkan kepada Om.  Kata Edi, kamu nggak mau dikawal ketat. Tolong kamu pertimbangkan lagi, Via! Itu masih beresiko. Kalian butuh pengawalan yang ketat. Om merasa kejadian yang baru Om alami merupakan suatu rekayasa. Kalian harus meningkatkan kewaspadaan,” kata Pak Candra memberi nasihat.


Via terdiam. Selama ini, dia memang tidak suka mendapatkan pengawalan yang ketat. Saat papanya masih hidup pun tidak ada body guard yang mengawal mereka. Itulah sebabnya, Via menolak masukan Edi agar ia selalu dikawal.


“Om tahu kalian tidak terbiasa ke mana-mana dikawal. Namun, ini semua demi kebaikanmu. Kamu tentu masih ingat kejadian yang menimpa almarhum papamu, suamimu juga. Om sudah mendapat laporan dari anak buah Om yang menyelidiki  kasus kecelakaan papamu. Meski waktu itu papamu sedang kalut, tetapi ada unsur sabotase di dalamnya.”


Dada Via terasa sesak. Matanya berkaca-kaca. Perasaannya terguncang mengenang kembali almarhum yang telah tenang.


Bu Aisyah tanggap melihat reaksi Via. Ia segera mendekat dan mengusap lembut bagian belakang kepala Via.


“Maafkan Om. Bukan maksud Om mengungkit masa lalu, membuka luka lama. Tapi, Om ingin agar kamu lebih waspada. Om khawatir akan keselamatanmu,” ucap Pak Candra lirih.


“Iya, Om. Via tahu,” sahut Via dengan suara parau.

__ADS_1


“Bicarakan hal ini dengan suamimu. Sekali lagi, Om hanya ingin yang terbaik untuk kamu dan keluarga di Jogja. Om ingin keselamatan kalian terjamin,” lanjut Pak Candra.


Via mengangguk. Ia kemudian berpamitan menuju ruang perawatan tantenya. Bu Lena juga tampak lebih segar. Dia ditunggui Ardi dan Azka.


“Tante sudah lebih baik?” tanya Via.


“Alhamdulillah, Tante merasa lebih enak. Baru nengok om kamu?” Bu Lena balik bertanya.


“Iya, Tante. Alhamdulillah, Om juga sudah lebih baik.” Via tersenyum lembut.


“Apa tadi malam kalian menginap di rumah sakit? Lalu, di mana Zayn anakmu” tanya Bu Lena.


“Iya, Tante. Ardi sudah menyiapkan untuk kami.  Zayn saat ini di sana bersama ayahnya. Tadi malam Bunda Aisyah yang jaga Zayn waktu Via ke ruangan ini,” jelas Via.


Bu Lena mengangguk-angguk. Ia tampak tenang mendengar penjelasan Via.


“Di mana adikmu?” Kali ini Bu Lena mengarahkan tatapannya ke Ardi.


“Dari kemarin dia nangis mulu, Ma. Dia ketakutan lihat kecelakaan yang dialami papa dan mama. Kadang dia malah teriak histeris gak karuan. Daripada bikin onar di rumah sakit, Ardi suruh sopir mengantarnya pulang. Setidaknya  di rumah masih ada Tuti yang menemani dan bisa jadi tempat dia curhat,” jawab Ardi.


“Siapa Tuti?” tanya Via heran.


“Anaknya Mak Surti, ART kami. Tuti juga suka bantu-bantu pekerjaan ibunya saat jam istirahat,” jawab Azka.


“Oh, begitu.  Dia masih muda?” tanya Via lagi.


“Bagaiman kalau kami ke rumahmu. Aku akan coba menenangkan Dini,” usul Via.


Ardi mengangguk setuju. Bu Lena juga setuju. Ardi segera menelepon pengawalnya untuk mengantarkan Via beserta keluarga ke rumah.


Kediaman Candra Wijaya tampak sepi. Satpam dan body guard tetap siaga, tetapi mereka tidak berkeliling. Tak banyak aktivitas yang terlihat di rumah megah itu.


Saat tiba, Via dan keluarga hanya disambut pelayan. Dini tidak tampak. Menurut keterangan salah satu pengawal, Dini mengurung diri di kamar sejak pulang dari rumah sakit.


Setelah membaringkan Zayn di ranjang kamar tidur tamu, Via bergegas menuju kamar Dini. Farhan dan Bu Aisyah tidak ikut, memberikan kedua orang bersaudara itu menumpahkan perasaan.


“Assalamualaikum,” ucap Via sembari mengetuk pintu.


Tidak terdengar adanya sautan. Via mengetuk pintu lagi. Namun, kamar itu seperti tak berpenghuni.


“Dini, ini Kak Via. Boleh Kakak  masuk?” tanya Via.


“Iya, Kak. Masuklah!” terdengar jawaban dari pemilik  suara serak.


Perlahan Via membuka pintu kamar. Setelah pintu terbuka, ia melihat sosok Dini tengah duduk memeluk guling dengan posisi bersandar. Hati Via trenyuh melihat gurat kesedihan di wajah Dini.


“Din, kenapa sih? Dari kemarin kamu begini?” tanya Via hati-hati. Ia duduk di tepi ranjang dekat Dini.

__ADS_1


Dini menatap saudara sepupunya. Mendadak ia menghambur memeluk Via erat. Tangisnya pecah  seketika.


“Kak, papa dan mama .... Dini nggak sanggup tanpa mereka,” kata Dini di sela tangisnya.


Via mengusap punggung gadis itu. Ia bisa merasakan ketakutan dalam diri Dini. Takut kehilangan orang-orang yang disayang, orang-orang yang ia jadikan tempat bersandar.


“Dini, Kakak ngerti kamu sayang papa mama. Tapi, kamu juga nggak boleh seperti ini. Kita pasti akan berpisah dengan orang yang kita sayang. Entah kapan. Yang jelas, setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tidak ada makhluk yang kekal di dunia ini. Makanya, kita harus siap,” ucap Via lembut.


“Tapi Dini nggak sanggup/ Apalagi berpisah dengan cara tragis melalui kecelakaan. Tidak, Dini takut, Kak,” isak Dini.


Via melonggarkan pelukannya. Ia mendorong bahu adik sepupunya lalu menatap lekat wajahnya.


“Kamu harus belajar ikhlas menerima takdir. Bersedih boleh, tetapi jangan berlebihan. Lagi pula, kamu tidak tahu kondisi om dan tante, kan? HP kamu entah di mana,” ucap Via.


Dini tersadar. Dia memang tidak menyentuh gawai sejak kemarin.


“Memang ada kabar apa, Kak?” tanya Dini sambil turun dari ranjang. Ia mencari gawai dalam tasnya.


“Coba kamu cari pesan dari kakakmu! Dia berkali-kali mengirim pesan, tak satu pun yang kamu baca.” Via mulai mengomel.


Setelah gawai ditemukan, Dini mengambil charger terlebih dahulu. Batere gawainya tinggal 10%.


Sambil menunggu batere terisi penuh, Dini membuka gawainya. Ada 15 panggilan tak terjawab dan 67 pesan yang belum dibaca.


Dini segera membuka  pesan masuk. Ia mencari pesan dari kakaknya. Tiba-tiba ia berteriak girang.


“Alhamdulillah, papa dan mama lolos dari maut. Puji syukur kepada-Mu, ya Allah,” seru Dini.


Via tersenyum mellihat reaksi sepupunya. Wajah sendunya telah berganti ceria.


“Makanya, jangan terlalu larut dalam kesedihan! Sedih boleh, tapi jangan terlalu hingga mengabaikan semuanya. Ardi sebenarnya mengkhawatirkanmu, tetapi  dengan kondisi om dan tante saat ini kehadirannya lebih dibutuhkan di sana. Ia berharap kamu bisa curhat dengan Tuti.”


Dini menunduk. Ia menyadari kesalahannya, telah menambah berat beban kakak semata wayangnya.


Mendadak Dini terlihat kebingungan. Ia menatap gawai di tangan dan Via bergantian.


***


Bersambung


Maaf, ya kemarin tidak terbit. Urusan di dunia nyata benar-benar menguras waktu dan tenaga. Tidak disiplin? Terserah pembaca menilai. Aku hanya manusia biasa. Bagi Kakak author tentu bisa memahami beratnya menulis di saat kesibukan mendera. Duuuh...jadi curcol nih.


Terima kasih kepada Kakak yang telah memberi dukungan berupa like, komen, dan vote maupun rate 5.


Bagaimana kabar istri Azka? Kunjungi karya Kak Indri Hapsari, ya!


__ADS_1


__ADS_2