SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Tamu Istimewa


__ADS_3

Mereka meninggalkan Lia. Sebelum sampai pintu, Via menoleh ke Lia sambil melambaikan tangan.  Lia membalas lambaian tangan itu dengan senyum tulus di bibirnya yang pucat.


Begitu sampai depan ruang perawat, Pak Candra menyambut keduanya dengan senyum lebar. Direngkuhnya Via ke dalam pelukan penuh kasih sayang. Sementara Via kebingungan mendapat pelukan mendadak seperti itu. Farhan pun heran  dan menunjukkan ekspresi kurang suka melihat istrinya dipeluk seperti itu meski oleh om-nya.


“Ada apa, Om?” tanya Via setelah Pak Candra melepaskan pelukannya.


“Om bangga padamu. Tadi perawat yang masuk ke kamar perawatan Lia mengatakan kalau Lia menunjukkan kemajuan pesat. Bahkan, ia menahan kalian di sana sampai  kalian melewati batas waktu yang diberikan,” jawab Pak Candra.


“Benar, Nona. Pasien atas nama Aurelia sejak kemarin tidak berbicara sama sekali. Tatapannya selalu kosong. Dokter dan perawat yang mengajak bicara tidak pernah digubris. Makanya, tadi saya kaget melihat dia ngobrol  dengan Anda berdua. Bahkan, ia meminta tambahan waktu,” tutur perawat yang sempat masuk untuk mengingatkan waktu habis.


Via saling tatap dengan Farhan. Senyum penuh kebahagiaan terlukis di wajah mereka.


“Alhamdulillah. Sebenarnya, di awal Lia juga tidak mau merespon. Tapi, lama-kelamaan dia mau merespon juga,” ujar Via.


“Mungkinkah dia merasa bersalah atas apa yang ia lakukan terhadap kalian?” tanya Pak Candra.


“Iya, Om. Kami memang mengungkit apa yang ia lakukan. Tapi, kami menyampaikan kalau kami sudah memaafkan. Akhirnya, ia merespon ucapan kami,” jelas Farhan.


“Ah, kalian memang hebat. Om salut kalau kalian bisa memaafkan kesalahan Aurelia yang begitu besar. Kalian berhati luas,” puji Pak Candra tulus.


“Kalau aku, sudah jelas tidak akan memaafkan orang yang menyakiti berulang kali. Apalagi berniat membunuhku. Keponakanku ini mewarisi sifat siapa sebenarnya? Kalau papanya kupikir tidak mungkin. Kak Beni juga nggak beda jauh dengan aku.”


“Kalau boleh jujur, Via juga sakit hati, marah ke Lia. Sebenarnya, Via baru tadi malam memaafkan Lia, Om. Setelah qiyamul lail, Via merenung tentang nasib Lia. Betapa tersiksanya dia. Lia sudah tidak punya apa-apa lagi. Dia tentu sangat tertekan. Via masih jauh lebih beruntung.” Via menjelaskan alasannya.


Pak Candra mengangguk-angguk. Ia sendiri merasa kalau dirinya tak akan semudah itu memaafkan kesalahan sebesar itu.


“Mari kita pulang. Kasihan cucuku menunggu bundanya terlalu lama,” ajak Pak Candra.


Via dan Farhan mengangguk, menyetujui ajakan Pak Candra. Mereka berpamitan kepada perawat yang bertugas sekaligus mengucapkan terima kasih.


“O ya, Om. Via bisa minta tolong nggak?” tanya Via sambil berjalan menuju tempat pakir.


“Soal apa?” Pak Candra balik bertanya.


“Masih soal Lia. Via mau minta tolong agar Lia mendapat pendampingan rohani khusus sekaligus untuk memulihkan kondisi psikologisnya,” kata Via.


“Hmm, bagus juga. Lusa Om hubungi Kepala Lapas untuk menyediakan pembimbing rohani khusus untuk Via. Mudah-mudahan Lia benar-benar sadar akan kesalahannya, ke depan bisa lebih baik,” sahut Pak Candra.


“Aamiin,” ucap Via dan Farhan bersama.


Begitu sampai tempat parkir, mereka masuk ke mobil. Kemudian, sopir melajukan mobil perlahan.


Menjelang waktu zuhur, mereka telah sampai kediaman Pak Candra. Ada kesibukan di dalam rumah adik dari papa Via tersebut. Via mengernyitkan keningnya.


“Kayaknya kok orang-orang begitu sibuk, Om?” tanya Via.


“Iya, nanti akan ada tamu. Selagi keluarga kita kumpul, nih. Makanya, jamuannya juga cukup banyak. Nggak sebanyak semalam, sih,” jawab Pak Candra santai.


Kaum pria segera bersiap-siap ke masjid. Via dan Bu Aisyah bergabung dengan Bu Lena dan Dini, juga ART wanita berjamaah di musala keluarga yang masih termasuk baru. Zayn masih terlelap di kamar yang Via tempati.


Selesai salat zuhur, terlihat Dini dan Bu Lena bergegas ke kamar. Sebelumnya, Dini berbisik kepada Via agar bersiap-siap karena akan ada tamu istimewa.


“Memang ada tamu siapa, ya? Kayaknya heboh banget,” gumam Via.

__ADS_1


“Cinta ngomong apa?” tanya Farhan yang hanya mendengar istrinya bergumam tetapi tak tahu yang ia ucapkan.


“Ah, enggak. Via cuma penasaran akan ada tamu siapa. Ya sudahlah, kita juga siap-siap.” Via membersihkan wajahnya dan menyiapkan pakaian yang akan ia, Fahan, juga Zayn kenakan.


Baru saja selesai, tangisan lirih terdengar. Via menoleh ke tempat tidur. Ternyata Zayn sudah bangun dan tengah dipangku ayahnya.


“Cayangnya Bunda udah bangun? Lapar?” tanya Via kepada sang bayi.


Via segera mengambil Zayn dari pangkuan ayahnya. Ia memberikan ASI kepada bayinya. Baby Zayn begitu lahap menikmati ASI dari sang bunda.


Setelah Zayn kenyang, Via segera mengganti baju bayinya. Setelah itu, ganti dia yang bersiap-siap karena Farhan sudah tampil rapi.


“Mas Farhan, Mbak Via!” terdengar suara Azka dari balik pintu.


“Ya, Dek. Sebentar.” Farhan membuka daun pintu tanpa memberi kesempatan Azka bisa melihat ke dalam.


“Sudah bersiap? Tamunya sudah otewe.” Azka memberi tahu.


“Tuh mbak kamu lagi pakai jilbab. Zayn baru saja bangun tidur. Memang tamu siapa?” Farhan penasaran.


“Calon besan Om Candra. Katanya orang Jawa. Calonnya Dini itu kakak tingkatnya Dini. Baru saja lulus S-1, sekarang sedang S-2,” jawab Azka.


“Kamu sudah pernah ketemu?” tanya Farhan lagi.


“Belum. Lihat fotonya juga belum. Kan Azka juga jarang ketemu Dini. Dia kuliah di Bandung.”


“Eh, berarti belum lama kenal?”


“Tunggu bunda Zayn dulu sebentar,” kata Farhan.


“Via sudah siap, kok,” ucap Via yang berada persis di belakang Farhan.


Mereka berjalan mengekor Azka. Di ruang tengah, Pak Candra beserta anak istri, Pak Adi, juga keluarga Farhan sudah bersiap menyambut tamu.


“Ada yang lagi dag dig dug menanti pangeran, nih!” celetuk Ardi.


“Eh, kau nggak apa-apa disalip adikmu?” balas Azka.


“Aku sih, selow, Mas. Laki-laki kan beda sama perempuan. Cari bekal dulu buat hidupin anak istri, baru mikir nikah,” jawab Ardi santai.


“Dini juga nggak buru-buru nikah. Ya, kan Din?” ucap Bu Lena.


Dini tidak menjawab. Gadis itu hanya menunduk sambil tersipu malu.


“Kayaknya udah nggak sabar, tuh. Gimana, Ma? Langsung ijab besok pagi aja maunya Dini tuh,” kata Ardi masih terus menggoda adiknya.


“Ah, Kakak sirik! Itu karena Kakak udah sarjana masih jomblo!” cibir Dini.


“Eh, jangan bilang-bilang jomblo! Ada yang lebih tua dari Kakak tapi masih jomblo. Tuh!” Ardi membela diri dengan menunjuk Azka.


“Apaan jomblo. Aku sudah siap calon, kok. Tunggu aku selesai S-2 baru ngelamar ke Jem ....” ucapan Azka terhenti karena ia buru-buru menutup mulutnya.


“Ke Jember?” Via menegaskan.

__ADS_1


Pak Haris dan Bu Aisyah tertawa melihat putra bungsunya yang salah tingkah dengan muka memerah.


“Beneran, Mas? Wah, apa kita bikin acara pernikahan massal saja di Jogja? Ardi, cari calon orang Jogja saja!” celetuk Pak Candra sambil senyum-senyum.


“Ih, ide Papa norak. Kayak sunatan saja pakai acara massal segala,” sungut Ardi.


Semua orang tertawa. Mereka diam begitu seorang ART datang memberi tahu bahwa tamu yang di tunggu sudah tiba. Pak Candra dan Bu Lena bergegas keluar menyambut tamu mereka.


Tak lama kemudian, keduanya kembali bersama serombongan tamu. Mereka membawa berbagai macam benda hantaran.


“Silakan duduk,” ucap Bu Lena mempersilakan para tamu untuk duduk.


Mendadak mereka dikejutkan oleh pekikan Bu Aisyah dan Via.


“Doni!”


Seorang cowok yang berada di rombongan para tamu menoleh.


“Bu Aisyah, Via, Mas Farhan?” ucapnya menyebut orang-orang yang ia kenal.


“Ibu mengenal anak saya?” tanya seorang pria yang usianya sekitar 50 tahun.


“Sebentar, kalau tidak salah, Ibu wali kelas Doni waktu SMA, kan?” sambung wanita yang berada di dekat pria tersebut.


“Iya, Ma. Bu Aisyah ini wali kelas Doni dulu. Dan Via, yang menggendong bayi itu, teman sekelas Doni. Sekarang jadi putri Bu Aisyah,” jelas Doni.


Dini dan kedua orang tuanya melongo mendengar penjelasan Doni.


“Wah, tak mengira kalau keluarga Nak Doni sudah mengenal keponakan saya dan besan saya,” celetuk Bu Lena.


“Dunia begitu sempit, ya? Jauh-jauh dari Jogja, di sini ketemu orang Jogja,” sahut mama Doni diiring tawanya.


“Iya, benar.” Pak Candra membenarkan calon besannya.


“Tunggu, tunggu! Waktu kamu ke rumah Agus waktu itu, kamu bilang habis nganter teman yang sakit. Apa itu Dini?” tanya Farhan.


Doni mengingat-ingat sebentar lalu menjawab,”Iya, benar. Waktu itu saya mengantar Dini yang tengah sakit ke sini. Lalu, saya ke rumah Agus mumpung berada di Medan.”


“Subhanallah. Benar-benar rencana yang indah dari Sang Maha Pengatur. Alhamdulillah,” ucap Pak Haris seraya mengusap wajahnya.


Suasana pun bertambah akrab. Mereka berbincang santai sambil menikmati minuman dan makanan ringan. Setengah jam kemudian, Bu Lena mengajak para tamu makan siang.


“Pantesan ada banyak kemiripan antara Dini dengan kamu, Via. Berarti aku belum bisa sepenuhnya lepas dari bayang-bayangmu. Tapi, aku harus mengubur dalam-dalam perasaanku itu. Aku tidak boleh lagi memikirkan kamu. Kita akan menjadi saudara,” batin Doni.


Seusai makan siang, pembicaraan dilanjutkan dengan pinangan keluarga Doni. Mereka sepakat untuk tidak segera melangsungkan pernikahan, menunggu Doni menyelesaikan S-2.


*


Bersambung


Jangan lupa untuk klik like dan tinggalkan koment. Jejak like dan koment Kakak sangat berarti bagiku. Aku insya Allah siap dukung karya Kakak yang meninggalkan koment.


Maaf untuk episode selanjutnya tidak terbit besok pagi. Aku lagi menyelesaikan bimtek online. 🙏🏽

__ADS_1


__ADS_2