SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Hari H (1)


__ADS_3

Meski akan menjadi ratu sehari, kebiasaan bangun Via tidak berubah. Qiyamullail tetap ia jalankan. Menjelang azan pun ia sudah bersiap di musala keluarga. Ia makmum salat subuh bersama tante dan sepupunya, diimami Bu Aisyah.


Usai salat subuh, Via pergi ke dapur. Ia membuka kulkas. Isinya hanya buah-buahan dan minuman.


"Kau mau apa?" tegur Bu Aisyah.


"Via mau masak, Bun," jawab Via polos.


Bu Aisyah dan Bu Lena tertawa. Bu Aisyah menggelengkan kepalanya.


"Via, kamu mau jadi ratu sehari nanti. Masa iya calon ratu malah jadi koki," canda Bu Aisyah.


"Kak eh Mbak Via biasa masak kalau pagi? Emmm, aku panggil kakak saja, ya? Kak Via pintar masak, ya?" tanya Dini.


Via mengangguk dan tersenyum malu.


"Kakakmu sekarang sudah pandai memasak, Nak. Dia terbiasa memasak terutama kalau pagi," kata Bu Aisyah.


"Tuh, dengerin! Anak perempuan sebaiknya memang pandai memasak. Biar suami betah di rumah. Dini nggak pernah turun ke dapur. Mana bisa dia membedakan yang namanya jahe dan kunyit," tutur Bu Lena.


Dini cemberut. Ia bergelayut manja ke bahu mamanya.


"Mama nih buka kartu Dini. Kan malu," gerutu Dini.


Bu Aisyah dan Via tertawa kecil. Via teringat saat kedua orang tuanya masih ada.


"Din, Kakak dulu juga nggak pernah masak waktu papa dan mama masih ada. Setelah Kakak tinggal bersama Bunda, Kakak baru belajar memasak," kata Via jujur.


"Berarti sekarang kamu mesti belajar memasak, Din!" perintah Bu Lena.


Dini menatap mamanya. Lalu ia berganti menatap sepupunya.


"Susah nggak, sih? Dini mesti ngapalin banyak bumbu. Belum lagi belajar mengupas dan memotong," ujar Dini.


Via dan Bu Aisyah saling tatap dan tersenyum. Bu Aisyah melirik Dini.


"Sebulan bersama Bunda, kakakmu sudah pintar memasak, lo. Yang penting, kamu mau belajar."


Dini mengangguk-angguk. Ia melihat yang ada di dapur.


Bu Aisyah segera menyiapkan cangkir. Via dengan cepat tanggap. Ia mengambil gula, teh, dan kopi. Tak lama teh dan kopi hangat sudah siap.


"Bun, nanti berangkat jam berapa? Via lupa belum ngabari Ratna, Salsa, dan Mbak Mira. Mereka malah Via suruh datang ke rumah Bunda jam 8," tutur Via.


"Via jam 7 berangkat ke hotel, Sayang. Teman-temanmu biar dijemput sopir. Nanti Tante bilang ke papanya Dini."


Via mengernyitkan kening mendengar penjelasan tantenya.


"Jam 7, Tante? Bukannya acaranya habis zuhur? Ngapain Via di sana berjam-jam sebelum acara dimulai?"


Bu Lena tertawa melihat kebingungan Via.


"Kamu perawatan dulu. Harusnya kemarin. Tapi, nggak apalah. Tiga jam cukup," ujar Bu Lena.


Via bengong. Ia belum pernah perawatan sampai 3 jam. Tak terpikir olehnya, apa yang dilakukan selama 3 jam.

__ADS_1


"Eh, Via berarti ke salon dulu. Begitu, Tan?"


"Enggak. Semuanya dilakukan di hotel. Jam 7 kamu dan Dini berangkat diantar sopir. Yang lain nyusul. Din, kamu temani kakakmu, ya! Jangan jelalatan, pergi ke tempat nggak jelas!" Bu Lena memperingatkan putrinya.


Via mengikuti arahan tantenya. Ia pun mengirim pesan kepada teman-temannya untuk menunggu jemputan.


Pukul 06.45 Via dan Dini berangkat ke tempat resepsi. Dua pegawai hotel menyambut kedatangan mereka dan mengantarkan ke ruangan make up.


Begitu masuk ruangan, seorang wanita ber-make up cukup tebal mempersilakan mereka duduk di sofa. Selanjutnya, Via diminta berganti pakaian untuk dilulur. Saat itulah Ratna masuk.


"Wah, calon mempelai lagi dilulur rupanya. Ini perawatan komplit, Mbak?" tanya Ratna kepada wanita yang tengah melulur Via.


"Iya. Mbaknya mau?"


"Enggak, nggak usah."


Ratna mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia tersentak ketika pandangannya membentur seorang gadis yang tengah memainkan ponselnya.


"Vi, kok cewek itu mirip kamu?" bisik Ratna.


Via tertawa. Ia melirik ke arah Dini yang tengah duduk di sofa di sudut ruangan.


"Namanya Dini. Dia sepupuku."


Ratna kaget. Matanya menatap Via tak percaya.


"Yang bener, dong! Serius, Vi!" sergah Ratna.


"Sssttt, pelankan suaramu! Aku baru tahu ternyata punya kakek dan om. Dini anaknya omku, adik almarhum papa," kata Via.


"Serius, Vi?" Ratna masih tak percaya.


Tak lama kemudian, Salsa dan Mira datang bersamaan. Mereka pun masuk diantar pegawai hotel.


"Mbak, ternyata di hotel bintang 5. Wah, keren," puji Salsa.


Via hanya tersenyum tipis. Ia tidak bisa menjawab panjang lebar.


"Din, sini! Kenalin ini teman-teman Kakak. Tolong kamu ceritakan keluarga kita kepada mereka," kata Via.


Dini meletakkan ponselnya. Ia mendekat ke teman-teman Via.


"Hai, Kak! Kenalin, aku Dini. Kita duduk di sana, yuk!" Dini menunjuk sofa tempat duduknya tadi.


Ketiga gadis teman Via mengangguk dan berjalan mengikuti Dini.


Setelah ketiganya memperkenalkan diri, Dini bercerita tentang keluarga Wijaya. Semua teman Via tercengang mendengar kisah tentang Pak Wirawan.


Pukul 11.30 Via selesai. Kejenuhannya sedikit berkurang dengan kedatangan teman-temannya yang mengajaknya mengobrol selama perawatan.


Via pun dipersilakan mandi. Saat itu, keluarganya datang.


Setelah salat zuhur, mereka mulai di-make up. Ketiga teman Via pun ikut. Bahkan, gaun untuk mereka sudah disiapkan.


Drrrtt...drttt...drrttt...

__ADS_1


Bu Aisyah yang sudah selesai di-make up mengambil ponselnya.


"Wah, kita diminta segera keluar. Bagaimana, Mbak, mempelai wanita sudah siap?" ujar Bu Aisyah.


"Tinggal memasang mahkota, kok."


Semua wanita yang ada di dalam ruangan menoleh ke Via. Gadis itu sudah siap dengan gaun putihnya.


"Wah, cantik sekali. Mas Farhan bisa melongo nanti," komentar Ratna.


Bu Aisyah dan Bu Lena menggandeng tangan Via keluar.


Beberapa langkah dari pintu masuk ballroom mereka bertemu dengan rombongan yang mengiring mempelai pria. Farhan pun tertegun melihat Via dalam balutan gaun pengantinnya.


"Tuh, kan, Mas Farhan terpesona lihat kecantikan pengantinnya. Sudah, itu Via digandeng masuk, Mas!" celetuk Ratna.


Orang-orang tertawa mendengar celetukan Ratna. Mereka memperhatikan Farhan yang mukanya memerah.


"Sana, digandeng istrimu masuk!" bisik Pak Haris.


(berhubung beberapa kali ada readers yang minta visual tokoh, author pakai Citra Kirana untuk gambaran Via dan Rezky Aditya untuk Farhan)



Dengan sedikit malu-malu kedua mempelai bergandengan tangan memasuki ballroom. Keluarga mengiringi mereka sampai ke pelaminan.



(maaf kalau tidak sesuai 🙏)


Setelah sambutan dari keluarga dan berfoto-foto, para tamu undangan dipersilakan untuk memberi ucapan selamat kepada mempelai. Sesi siang diperuntukkan bagi teman sekolah dan kuliah kedua mempelai juga teman kerja kedua orang tuanya.


Sementara Ratna dan lainnya menjadi penerima tamu. Mereka berempat mengenakan baju yang sama.


"Gila, mewah banget pernikahan Mbak Via. Aku baru kali ini lihat dekorasi pernikahan begini mewah. Habis berapa duit itu, ya" celetuk Salsa.


Dini tertawa mendengar ucapan Salsa. Ia sendiri sudah biasa menghadiri resepsi pernikahan yang megah.


"Itu maunya kakek seperti itu. Kak Via nggak tahu apa-apa kayaknya. Menurutku Kak Via orangnya sederhana meski aku baru kenal kemarin," sahut Dini.


"Betul, Din. Memang Via gitu. Dulu pun saat papa mamanya masih hidup, dia tidak suka tampil glamor. Padahal, jelas-jelas orang tuanya tajir," kata Ratna menjelaskan.


Dini mengangguk-angguk. Ada rasa kagum terhadap kakak sepupunya mendengar penjelasan Ratna.


"Senang ya, jadi Mbak Via? Sudah cantik, pinter, kaya pula. Sekarang dapat suami ganteng," gumam Salsa.


Meski lirih, ucapan Salsa masih terdengar yang lain. Ratna tersenyum tipis.


"Kamu tak tahu betapa terpuruknya Via saat kedua orang tuanya meninggal. Terlebih ketika papanya meninggal. Ia baru saja kehilangan mamanya, belum ada dua bulan. Belum ada seminggu papanya meninggal, rumahnya disita, perusahaan almarhum papanya hampir bangkrut. Saat itu, tidak satu pun saudara yang ia miliki," kenang Ratna. Mata gadis itu berkaca-kaca.


Mendengar penuturan Ratna, tiga gadis lainnya terdiam. Mereka membayangkan betapa sedihnya Via saat ditinggal orang tuanya.


***


Bersambung

__ADS_1


Siapa tamu yang hadir? Intip di episode selanjutnya ya...


Ayo kondangan vote 😍


__ADS_2