
Akhirnya, sore itu Via bersama Farhan dan Bu Aisyah kembali ke Jogja. Azka ditinggal di Medan karena dia harus menyelesaikan kuliahnya. Di amping itu, ia harus membantu menjaga kestabilan perusahaan Wijaya Grup. Setidaknya, ia bisa meredam berita miring tentang kecelakaan yang menimpa seorang Candra Wijaya.
Kangen Meli? Tentu saja. Namanya juga pengantin baru. Untunglah, ada alternatif vicall sebagai pengobat rindu.
Setiap kangen menyusup, ia selalu melakukan panggilan ke istrinya. Gombalan-gombalan mesra mewarnai obrolan mereka. Semua itu tak luput dari perhatian Dini.
Gadis yang tengah menikmati sisa liburan itu sering memergoki Azka tengah melakukan video call dengan Meli. Kemesraan yang ditunjukkan Azka ternyata mengusik hati Dini yang masih teringat kata-kata Via.
“Kak Azka sering banget vicall istrinya. Jadi penasaran, secantik apa orang bernama Meli. Selama ini Kak Azka memang nggak pernah pacaran, tahu-tahu nikah. Apa memang pacaran setelah menikah lebih indah, ya?” batin Dini.
“Kamu kenapa, Din? Kok melamun?” tegur Ardi.
“Eh, Kakak. Enggak, kok. Dini lihatin Kak Azka. Kelihatannya bahagia banget,” ujar Dini mengelak dari tuduhan kakaknya.
“Hmm, kamu ingin kayak gitu? Suruh tuh si Doni halalin kamu!’ ucap Ardi santai.
Dini cemberut. Tangannya terayun memukul lengan kiri Ardi.
“Kakak seneng banget ngolok-olok aku,” gerutu Dini.
Ardi tertawa lebar. Ia membalas dengan mengacak-acak rambut Dini.
“Kakak nggak ngolok-olok kamu, kok. Kalau ingin mesra-mesra sama pasangan, ya sana nikah. Toh kamu sudah punya calon. Pasti Doni dengan senang hati nikahin kamu.”
“Kak Ardi sendiri nggak pengin?” Dini melancarkan serangan balik.
“Nikah? Tentu saja ingin. Tapi bukan sekarang. Saat ini Kakak belum bertemu dengan orang yang tepat,” kata Ardi dengan mimik serius.
Dini menatap kakaknya. Ia tak menemukan nada bergurau dalam ucapan Ardi.
“Kakak ternyata bisa serius?” desis Dini.
“Soal pernikahan, Kakak pasti serius. Salah pilih menu makanan, nyeselnya paling seharian. Salah pilih pasangan nyeselnya akan berkepanjangan. Bisa jadi seumur hidup.”
Dini mendengarkan perkataan bijak kakaknya dengan perasaan aneh. Baru kali ini Dini mendengar Ardi mengucapkan kata-kata bijak.
“Kak Ardi mungut kata-kata itu dari mana?”
“Mungut? Enak saja! Kakak dapat dari Kak Azka. Kakak beruntung mengenal Kak Azka. Meski belum lama, dia seperti kakak kandung yang perhatian dan mengarahkan ke kebenaran. Dia memang kadang tengil, somplak juga, tapi imu agamanya bagus. Kakak tengah belajar darinya.”
Dini mengangguk-angguk. Semenjak mereka bertemu Via dan keluarga angkatnya, cukup banyak perubahan dalam keluarganya.
“Kak Farhan dan Kak Azka tidak mengenal pacaran sebelum nikah. Kakak ingin seperti itu. Makanya, Kakak sedang berusaha di sepertiga malam terakhir,” kata Ardi masih dalam mode serius.
“Sepertiga malam terakhir? Maksud Kak Ardi?” tanya Dini tak paham.
“Keluarga Kak Azka punya kebiasaan bangun di sepertiga malam terakhir. Mereka melakukan ritual qiyamullail.”
__ADS_1
“Apa itu, Kak?” tanya Dini lagi.
“Ibadah malam, seperti salat tahajut, salat witir, juga tilawah. Yang pokok salat tahajut karena memang berat bagi yang belum terbiiasa dan belum dapat hidayah. Salat tahajut ini bisa jadi penolong, penerang di alam kubur nanti. Waktu sepertiga malam terakhir merupakan waktu yang baik untuk berdoa.” Ardi menjelaskan dengan serius.
“Wah, hebat Kak Azka. Dia bisa mengubah kakakku menjadi begini,” celetuk Dini.
Ardi tertawa lirih. Ada pendar kebahagiaan di wajahnya saat menceritakan kembali yang disampaikan Azka.
Dini pun tersenyum. Ia ikut bahagia melihat perubahan besar dalam diri kakaknya. Saat kuliah S-1, Ardi ganti pacar 4 kali. Itu yang Dini ketahui. Dan hal itu lumrah mengingat pergaulannya degan para bule.
“Aku sebenarnya masih ragu, Kak,” ucap Dini.
“Ragu? Ragu kenapa?” Ardi menautkan kening.
“Dini ragu apa Kak Doni beneran cinta sama Dini. Dini merasakan keanehan saat Kak Doni bertemu Kak Via. Sepertinya Kak Doni mencintai Kak Via. Setidaknya, dia mengagumi kakak sepupu kita,” jawab Dini sambil menunduk.
Ardi tampak kaget. Ia tak mengira adiknya memiliki pemikiran seperti itu.
“Din, tidak selayaknya kamu berpikiran begitu. Taruhlah dugaanmu bahwa Doni mencintai Kak Via benar. Tapi, Kak Via kan sudah bersuami dan Kak Via bukan tipe pelakor. Tidak mungkin ia mau merebut Doni darimu.”
“Dini khawatir Kak Doni belum bisa melupakan Kak Via. Dini nggak mau diduakan. Apa sebaiknya Dini tanya ke Kak Ratna, ya? Dia pasti tahu hubungan Kak Doni dan Kak Via,” gumam Dini.
Ardi melempar tatapan tajam kepada adiknya. Ia terlihat tidak suka mendengar ucapan adiknya.
“Din, kita nggak tahu ada hubungan apa antara Doni dan Kak Via. Seandainya mereka pernah pacaran, itu dulu. Setiap orang punya masa lalu. Bukankah lebih baik preman tobat daripada kyai murtad? Kita juga memiliki masa lalu. Ada hal-hal yang tak baik di masa lalu kita. Biarlah semua menjadi masa lalu yang tak mungkin kita ubah. Tapi, kita bisa mengubah masa depan kita,” tutur Ardi.
Dini terdiam. Ia mencoba meresapi kata-kata Ardi.
*
Via membiarkan Zayn tertidur di ruang kerjanya. Ia tidak berani menggendong Zayn menapaki tangga ke atas. Wanita itu memilih menunggu sang suami pulang untuk dimintai tolong memindahkan Zayn ke kamar.
Saat jarum pendek bergerak meninggalkan angka 8, Via mendengar suara mesin mobil dimatikan. Ia bergegas menyambut suami tercinta.
“Assalamualaikum. Zayn sudah tidur?” ucap Farhan.
“Waalaikumsalam. Sudah. Masa cuma Zayn yang ditanyain, bundanya enggak?” Via memasang muka cemberut.
Farhan terkekeh. Ia gemas melihat wajah istrinya. Dengan cepat bibirnya menyambar pipi yang sedikit digembungkan itu.
Via mencebik dan berkata, “Ih, Hubbiy cari kesempatan! Sudah, cuci tangan dulu lalu tolong angkat Zayn ke kamar.”
“Lho, memang Zayn tidur di mana?”
“Di ruang kerja. Tadi dia minta kertas buat main-main, lama-lama tertidur.”
Farhan menuruti ucapan istrinya. Setelah mencuci tangan, ia pergi ke ruang kerja. Diangkatnya tubuh bocah yang menggemaskan itu. Sesekali Farhan menciumi wajah putranya.
__ADS_1
“Hubbiy, jangan begitu! Nanti Zayn terbangun jadi rewel, lo!” tegur Via yang berjalan di belakang Fathan.
“Biarin! Salah sendiri wajahnya bikin gemas begini,” kilah Farhan.
Via hanya bisa geleng kepala. Untung saja Zayn benar-benar sudah lelap, tidak terbangun meski diusik ayahnya.
Setelah membaringkan Zayn di atas ranjang, Farhan segera membersihkan diri. Sementara, Via menyiapkan makan malam untuk sang suami.
“Hubbiy, ada yang mau Via omongin,” kata Via sambil mengupas buah.
“Soal apa?”
“Kita,” jawab Via singkat.
“Kita? Program adik buat Zayn, begitu?” Farhan bertanya lagi.
“Ish, ngaco! Ingat, Zayn belum genap setahun! Nggak kasihan apa kalau Via hamil lagi?” Via mencebik.
Farhan terkekeh mendengarnya. Ia pun sebenarnya tak ingin Via hamil lagi dalam waktu dekat.
“Ini soal keselamatan keluarga kita. Waktu kita di Medan, Om Candra berpesan agar kita dikawal body guard dalam jarak dekat agar lebih aman. Kasus Hubbiy waktu di Medan, juga Om Candra saat ini, dijadikan contoh rawannya posisi kita.”
“Lawan bisnis?” tebak Farhan.
Via mengangguk. Ia menyodorkan potongan buah kepada Farhan.
“Bukankah selama ini kita aman dengan pengawalan jarak jauh?”
“Iya, tetapi ke depan belum tentu aman. Apalagi setelah Mas Edi menyampaikan laporan tadi sore,”
“Laporan tentang apa?”
“Adanya pergerakan lawan. Mereka sepertinya bellum jelas identitasnya. Mas Edi belum tahu persis.”
“Dari dunia bisnis?”
Via menganggukan kepala lagi. Ditatapnya wajah tampan Farhan.
“Orang lama?” tebak Farhan.
Via mengangkat bahunya. Edi sendiri belum bisa memastikan, siapa mereka.
*
Bersambung
Maaf baru up. Insya Allah mulai hari ini aku berusaha up tiap hari. O ya, yang ingin tahu sosok Meli, istri Azka, lompat ke sebelah, ya! Baca karya Kak Indri Hapsari! Jangan lupa dukung kami dengan tinggalkan like juga koment.
__ADS_1
Barakallahu fiik