
Taburan bintang telah memenuhi langit malam. Tiada hadirnya rembulan membuat mereka semakin canti bersama kelompoknya.
Angin malam menyapa membawa dingin yang menusuk. Hening senyap pun menemani hawa yang dingin.
Edi masih duduk di teras sendiri. Bukan menatap indahnya bintang yang seperti berlian. Ia pun tidak sedang menikmati hembusan angin malam. Pikiran Edi masih dipenuhi tugas yang harus ia emban.
Kesal? Ada. Gelisah? Tentu.
Di saat ia sedang mempersiapkan diri menjelang pernikahan yang hanya kurang dari sebulan, masalah mendadak hadir. Bukan kesal kepada Via. Ia pun tidak marah kepada Farhan yang memberinya tugas. Ia geram kepada orang yang hendak merongrong Wijaya Kusuma.
“Ah, kenapa masalah seperti ini mesti hadir, sih? Orang-orang itu benar-benar brengsek. Tidak bisakah melihat orang lain hidup t**enang apa?”
Mendadak Edi tersentak. Ia seperti tersengat aliran listrik.
“Model permainan sama seperti dulu. Baik, akan kuikuti alur permainanmu, keparat! Kali ini aku harus menggunakan strategi yang berbeda agar mereka benar-benar jera. Sepertinya memberi mereka hati bukan pilihan yang tepat.”
Edi merogoh sakunya. Ia melihat kontak yang tersimpan.
“Kebetulan sekali kau masih aktif. Tapi, nggak enak kalau telepon malam-malam begini. Aku kirim pesan saja.”
Jemari Edi tampak menari dengan lincah di layar. Tak lama kemudian, ia mengirimkan pesan.
[Ada orang yang hendak bermain-main dengan Wijaya Kusuma. Alur permainannya sepertinya sama dengan dulu. Aku butuh bantuanmu.]
Beberapa detik setelah pesan dikirim, tanda pun berubah menjadi dibel berwarna biru. Edi tersenyum saat melihat ada keterangan orang itu sedang mengetik pesan.
[Kalau sudah tahu, kenapa nggak langsung gebuk aja? Lagian sekarang ada Kiki yang bisa membantu membuka mulut cecunguk macam tu]
Edi tampak memajukan bibirnya membaca pesan tersebut. Ia kembali mengetik pesan.
[Kiki itu spesialis buka mulut orang yang terciduk.Buat nyiduk orang itu bidangmu, Bro!]
Kembali Edi menunggu sebentar untuk menerima balasan.
[Okelah. Apa sih yang enggak buat kamu, Sayang? Aku ijin bos besar dulu]
Edi begidik geli membaca pesan yang baeu masuk. Ia segera membalasnya.
[Ih, sayang. Jijik, tau? Tak perlu minta ijin bos besar! Biar aku saja yang bicara besok pagi. Kau siapkan saja alat tempurmu. Kalau perlu, mampir dulu ke Jakarta buat nambah amunisi. Thanks, Bro. Aku mau bobok dulu. Daaah]
Edi beranjak dari duduknya. Ia segera masuk kamar. Ada sedikit titik terang menentukan langkah yang hendak ia ambil.
Baru saja ia meletakkan ponselnya, sebuah pesan kembali masuk. Meski sudah tahu isinya tak penting, ia tetap membukanya.
[Idiih...bobok. Udah, ngorok sana!]
Edi terkekeh sendiri. Ia menimpan ponselnya. Setelah mematikan lampu, ia merebahkan raganya yang penat karena banyaknya hal yang harus ia pikirkan. Sebentar saja nafasnya sudah naik turun dengan teratur.
Paginya, ia menyempatkan diri menghubungi Pak Candra sebelum sarapan. Kebetulan salah satu pemegang tampuk pimpinan Wijaya Group itu sedang dalam jaringan.
__ADS_1
“....”
“Waalaikumsalam. Kabar saya baik. Mbak Via dan keluarga juga baik.”
“....”
“ini bukan soal pernikahan saya dan Mira, Tuan. Ini kaitannya dengan Wijaya Kusuma. Ada penyusup masuk hendak membuat huru-hara sepertinya.”
“....”
“Model permainannya seperti dulu. Untung terdeteksi Mbak Via.Nah, saya butuh bantuan Hendrik untuk mengungkap dalangnya, Tuan.”
“....”
“Terima kasih, Tuan. Saya berencana akan menghancurkannya.”
“....”
“Baik, Tuan. Terima kasih sekali lagi. Assalamualaikum.”
“....”
Edi tidak langsung menyimpan ponselnya. Ia kembali terlibat pembicaraan serius dengan seseorang.
Setelah selesai, barulah Edi menyimpan ponselnya. Kemudian, ia melangkahkan kaki menuju rumah
utama. Di sana Farhan, Via, dan yang lainnya sudah duduk menunggunya untuk sarapan.
“Mas, saya kembali meminta bantuan Hendrik. Ia sangat handal soal IT dan elektronika.Emm...bisakah saya meminta sesuatu?” Edi tampak ragu.
“Katakan saja yang Mas Edi butuhkan! Toh ini juga untuk kami. Jangan sungkan, Mas!” kata Farhan.
“Iya, iya. Hendrik minta disewakan rumah terpencil seperti dulu untuk markas kami. Sementara, saya tidak tinggal di sini, tapi di rumah tersebut,” kata Edi menjelaskan.
Farhan mengangguk paham. Tapi, ia sedikit tampak ragu.
“Cari kontrakan rumah seperti itu tidak mudah, Mas. Kontrakan yang dulu ditempati Mas Edi dan kawan-kawan sudah direnovasi menjadi ruko. Lokasi di sana juga lebih ramai."
"Soal itu, Mas Farhan tidak usah bingung apalagi ikut campur mencarikan. Biar anak buah saya yang bekerja. Yang penting Mas Farhan setuju," kata Edi.
"Iya, Mas. Soal biaya, Mas Edi pakai saja kartu yang tadi aku kasih ke Mas Edi."
"Itu soal gampang. O ya, nanti sore saya mungkin sudah tidak pulang ke sini kalau anak buah saya sudah menemukan rumah, ucap Edi."
"Terserah Mas Edi bagaimana baiknya. Aku ngikut saja," jawab Farhan.
"Baiklah kalau begitu, saya ke kamar dulu beresin pakaian yang akan saya bawa. Saya permisi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati, Mas," sahut Farhan. Pria itu kembali masuk ke rumah.
__ADS_1
***
Malam itu Edi tidak pulang ke rumah Via. Ia langsung menuju rumah kontrakan. Rumah yang didapat anak buahnya sesuai kriteria Edi. Terpencil, jauh dari tetangga. Ukuran rumah tidak terlalu besar, hanya sekitar 54 meter persegi. Halamannya juga hanya bisa menampung satu mobil.
Edi menjemput Hendrik ke bandara. Pria itu memang minta dijemput agar semakin sedikit orang yang tahu keberadaannya. Jika naik taksi, setidaknya sopir taksi tahu. Hendrik tak beda jauh dengan Edi, cermat dalam bertindak.
Setiba di rumah kontrakan, mereka langsung merancang aksi. Edi menjelaskan data-data yang sudah ia dapatkan.
"Hmm...benar katamu. Polanya pola lama. Jadul. Tapi, kita tidak boleh kehilangan kewaspadaan. Siapa tahu ini jebakan. Berarti target awal adalah Gunawan dan Tanto. Dari mereka kita bis menangkap yang lain. Aku yakin bukan Tanto pelaku utamanya."
"Aku pun berpikir seperti itu, Bro. Yang jelas, kalau kita sudah mendapatkan kejelasan dalang dari kejahatan ini, mereka kita hancurkan sekalian agar tidak membawa bibit penyakit di kemudian hari." Edi menanggapi ucapan Hendrik.
"Betul. Dulu karena Mas Farhan dan Mbak Via terlalu lembek, membiarkan mereka hanya dihukum penjara, akibatnya fatal. Mas Farhan hampir jadi korban. Mungkin ini juga ada kaitan dengan mereka." Hendrik menyampaikan pemikirannya.
"Makanya, kali ini kita bertindak lebih hati-hati. Jangan terlalu banyak melibatkan Mas Farhan dan Mbak Via. Kebetulan kondisi mereka terbatas sehingga kita bisa leluasa bergerak," kata Edi.
Hendrik tertawa. Ia seperti menemukan sahabat yang lama tak kembali.
"Aku kira setelah bergaul dengan Mas Farhan kau kehilangan sisi sadismu." Hendrik menepuk bahu Edi.
"Haish, sadis sudah nggak. Cuma, aku ingin memberantas hingga akar-akarnya."
"Siap, Bro! Alat tempurku sudah siap. Besok sore kita mulai beraksi. Aku akan bertamu ke kantor. Kau beri tahu resepsionis biar nggak banyak pertanyaan untukku. Dan, beri tahu Mas Farhan maupun Pak Arman agar mereka pura-pura tidak mengenal aku," pinta Hendrik.
"Oke. Bisa diatur itu. Eh, kenapa nggak pagi saja?" tanya Edi.
"Terlalu berisiko. Sudahlah, kau ikuti saja skenarioku! Lama-lama kamu kayak emak-amak," kata Hendrik.
"Sialan kau! Okelah, aku nurut biar urusan cepat kelar, kau kukirim kembali ke Medan."
"Enak saja, habis manis sepah kau buang. Aku nggak pulang sebelum pestamu. Diundang ga diundang, aku tetep datang." Hendrik tersenyum licik.
Edi tampak kesal. Ia memasang muka cemberut.
"Dasar muka tembok! Siapin kado kalau mau datang!" hardik Edi.
Hendrik terbahak mendengar ucapan Edi.
"Tenang, aku siapkan bom di malam pertama kalian."
"Dasar psikopat gila!" runtuk Edi.
"Eh, satu lagi. Kau bisa matikan CCTV setelah kantor bubar?" tanya Hendrik yang kembali memasak mode serius.
"Tentu saja. Itu urusan mudah," jawab Edi mantap.
Mereka berbincang tentang rencana yang akan mereka lakukan. Sesekali canda tawa terselip di antara pembicaraan serius. Menjelang tengah malam, barulah mereka pergi ke kamar untuk memenuhi hak raga dan pikiran untuk beristirahat.
***
__ADS_1
Bersambung
Biar daku semangat update tiap hari, tolong bantu klik like dan kasih komentar ya! Aku siap dukung balik karya Kakak authors, insya Allah 🙏