SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Kehebohan di Pagi Hari


__ADS_3

Via tengah menyisir rambutnya saat Farhan keluar dari kamar mandi. Aroma rose langsung tercium. Tentu saja karena Farhan menggunakan sabun mandi dan sampo yang sama dengan Via.


Via mengulum senyumnya. Ia merasa lucu karena dari tubuh seorang pria tampan tercium aroma feminim.


“Kenapa senyum-senyum?” tanya Farhan. Ia berjalan mendekati Via.


“Enggak, kok. Suamiku tetap tampan meski aromanya feminim,” jawab Via.


Farhan terdiam. Beberapa detik kemudian, ia menyambar jilbab milik Via lalu memakainya.


“Kalau begini, apa masih tampan?” tanya Farhan lagi. Ia berjalan melenggak-lenggok dengan gaya model yang beraksi di catwalk.


Via ternganga sebentar. Kemudian, ia menutup mulut dengan kedua telapak tangannya, menahan tawa agar tidak meledak.


“Ih, menggelikan!” pekik Via.


Farhan tertawa terbahak-bahak. Ia melepaskan jilbab istrinya.


“Nanti Hubbiy jadi periksa, kan?” tanya Via.


“Tentunya jadi. Mas sih nurut ayah saja. Nanti gimana kata ayah, deh. O iya, apa Mas bisa lihat bayi kita?” Farhan balik bertanya. Ia menatap Via penuh harap.


“Insya Allah bisa. Sebentar lagi, ya. Via siap-siap dulu,” ucap Via. Ia mengambil pompa ASI-nya.


Farhan menatap istrinya heran. Ia tidak mengerti apa yang akan Via lakukan.


“Bukannya tadi bilang mau siap-siap? Kenapa tidak segera pakai jilbab?”


“Via mompa ASI dulu buat disetor. Dedek minum ASI eksklusif meski tidak disusui langsung.. Kata dokter nunggu berat badanya 1.800 gram dulu, baru belajar menysu langsung,” kata Via menjawab keheranan Farhan.


Ibu muda itu duduk di sofa. Ia membuka kancing gamisnya. Farhan diam saja. Namun, tatapannya tidak lepas dari aktivitas sang istri.


“Hubbiy jangan liatin Via kayak gitu, dong! Via kan malu,” rengek Via.


“Malu? Kan Mas sudah biasa lihat,” goda Farhan.


“Tapi situasinya beda,” rengek Via lagi.


“Bedanya apa?” Farhan masih dalam mode menggoda.


“Tau, ah,” ucap Via sambil menggeser posisi duduknya menyamping.


Farhan malah tertawa melihat polah Via. Sekarang, ia tidak lagi dapat melihat dada Via.


Via yang sudah merasa aman dari tatapan Farhan segera memulai memompa ASI. Begitu asyik hingga ia tidak menyadari kalau Farhan berdiri di belakangnya. Pria itu melihat bagaimana Via memompa ASI dari atas.


Ketika selesai, Via merapikan kembali pakaiannya meski belum mengancingkan kembali gamisnya. Ia terlebih dahulu meletakkan botol yang berisi ASI.


“Astaghfirullah,” seru Via spontan karena terkejut meihat Farhan berdiri di dekatnya.


“Mas cuma penasaran bagaimana caranya. Cinta luar biasa, sudah mahir,” puji Farhan santai.


“Tapi Hubbiy ngagetin,” protes Via sambil mengusap dadanya.


“Iya, deh maaf. Sekarang kita ke ruangan dedek? O iya, siapa namanya? Sudah disiapkan?”


“Muhammad Zayn Alfarizi,” jawab Via.


Farhan bengong mendengar nama yang Via sebutkan. Via menjadi ragu, mengira Farhan tidak setuju.


“Kalau Hubbiy tidak setuju, kita masih bisa menggantinya, kok. Aktenya belum jadi, akikah juga belu diadakan,” kata Via.


“Bukan itu. Justru Mas kaget karena nama itu yang Mas pikirkan. Kenapa bisa kompak, ya?” gumam Farhan.


Via menarik nafas lega. Ia pun menceritakan bagaimana mendapatkan nama itu. Lagi-lagi Farhan melongo. Ia benar-benar tidak menyangka kejadiannya seperti itu.


“Eh, tunggu! Bagaimana kalau kita telepon Dek Azka dulu? Anak tengil itu pasti kagetmmengetahui aku masih hidup,” usul Farhan.


Via menatap jam dinding. Kemudian, ia mengangguk setuju.

__ADS_1


“Jam segini para perawat tentu sedang sibuk memandikan bayi. Kita tunggu 30 menit lagi,” kata Via yang sudah hafal kebiasaan perawat ruang peristi.


Kemudian, ia mengambil ponselnya. Diserahkannya benda pipih itu kepada Farhan.


“Cinta dulu yang bicara. Pakai video call, ya,” pinta Farhan.


Via mengangguk. Jemarinya membuka kunci layar dan aplikasi telepon.


Tak perlu menunggu lama. Setelah terdengar nada sambung dua kali, wajah Azka muncul di layar.


“Assalamualaikum. Ada apa? Tumben pagi-pagi vicall?” tanya Azka.


“Waalaikumsalam. Ada sesuatu yang akan kusampaikan. Ini sangat penting. Kuharap kamu tidak terkejut,”jawab Via berteka-teki.


“Ayolah segera katakan! Jangan membuat aku khawatir! Eyang Probo sehat. kan? Ayah? Bunda?” cecar Azka tak sabar.


Via tertawa. Ia senang bisa meledek cowok yang sering usil itu. Kemarin-kemarin, Via sedikit jaga jarak akibat rencana Eyang Probo menjodohkannya dengan Azka.


“Mbak, cepet katakan! Ada apa, sih? Jangan bikin aku penasaran!” rengek Azka.


“Ada yang mau bicara denganmu. Dia bilang kangen,” kata Via. Ia mengarahkan layar ponselnya ke Farhan.


“Ish, appaan?” gerutu Farhan.


Via cekikikan melihat suaminya cemberut. Ia kemudian mengubah posisi duduknya menjadi di samping Farhan. Via sengaja menampikan Farhan hanya sebagian agar Azka penasaran.


“Siapa, sih? Suaranya seperti kukenal. Tapi...ah nggak mungkin,” gumam Azka.


“Dek, ini kakakmu mau ngomong,” kata Via.


“Lah, dari tadi Mbak Via juga sudah ngomong, kok,” sahut Azka.


“Maksud aku Mas Farhan, kakak kandungmu,” jelas Via.


Via melihat Azka menghela nafas panjang. Mendung melintas di wajahnya.


Farhan menahan tawa melihat ekspresi adiknya. Ia menyikut lengan Via pelan, memberi kode agar Via menjawab. Via mengangguk.


“Dek, aku serius. Ini Mas Farhan mau ngomong ke kamu.”


“Mbak, tolonglah Mbak Via belajar mengikhlaskan kepergian Mas Farhan. Arwah Mas Farhan nggak akan bisa tenang kalau Mbak Via terus-menerus begini. Aku kira waktu aku pergi, Mbak Via sudah mulai bisa move on.”


“Move on gimana?” tanya Via sambil menahan tawa.


“Ya, maksud aku Mbak Via sudah bisa menerima kepergian Mas Farhan. Kalau pun Mbak Via nggak mau cari pengganti, ya nggak apa-apa. Banyak single parent yang berhasil.”


“Apa maksudmu, adik durhaka? Kamu mau kakak iparmu menikah lagi? Begitu?” tanya Farhan dengan nada tinggi. Ia sekuat tenaga menahan tawanya agar tidak terlepas.


“Bu—bukan begitu, Mas. Maksud aku, Mbak Via jangan memikirkan Mas Farhan lagi, mengikhlaskan kepergian Mas Farhan. Kalau Mbak Via belum mengikhlaskan Mas Farhan, arwah Mas jadi gentayangan begini, kan?” ucap Azka sedih.


Farhan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara Via menutupi mulutnya agar tidak tertawa.


“Kamu kalau ngomong yang bener, dong! Mas pergi kan nengok kamu waktu itu terus ke perkebunan. Sekarang aku sudah kembali. Gimana, sih?” Farhan mengomel.


“Ah, kenapa Mas Farhan sekarang jadi galak? Mbak Via, tolong ikhlaskan Mas Farhan, ya. Ini akibatnya kalau Mbak Via nggak ikhlas. Dia membayangi aku. Masa di HP aku ada suara Mas Farhan,” keluh Azka.


Via dan Farhan tersenyum lebar. Ponsel Via geser agar menangkap wajah Farhan.


“Coba pehatikan, kamu lagi ngomong sama siapa?” tanya Via.


“Astaghfirullah! Masya Allah! Mbak Via jangan keterlaluan gini kalau ngeledek. Azka beneran kaget. Hadeeh...itu kapan ngambil video Mas Farhan?” suara Azka terdengar agak keras.


“Ini asli. Nih, lihat layar baik-baik. Aku duduk bareng siapa coba?” Ponselnya dibuat menjauh.


“Ya Allah, kenapa wajah cowok di samping Mbak Via begitu persis Mas Farhan?”


“Jiah kau ini! Aku Farhan asli, Dek! Aku belum koit. Sembarangan kalau ngomong!” Farhan kembali mengomeli adiknya.


“Ya Allah, dosa apakah kakakku ini hingga arwahnya gentayangaan begini?” keluh Azka.

__ADS_1


“Deeek, Mas kepengin jitak kamu, deh! Kamu pulang, biar Mas bisa jitak sampai puas!”


“Masya Allah, apa dosa hamba, ya Allah? Kenapa arwah kakak hamba bisa video call begini? Eh, nggak mungkin kan ada arwah bisa video call? Pakai HP Mbak Via lagi. Mas, ini beneran Mas Farhan? Sebentar, aku cubit pipiku dulu. Auw...sakit!” Ahza bergumam tidak jelas.


Via mengubah letak ponselnya lebih jauh lagi hingga Farhan dan Fia tertangkap layar secara utuh.


“Coba perhatikan! Mas sekarang di rumah sakit. Kamu pasti mengenal ruangan ini. Nggak pernah kan


Mas Farhan sama Mbak Via berduaan di ruangan ayah sebelumnya?” Farhan merangkul pundak Via.


“Iya juga, sih. Tunggu! Jawab beberapa pertanyaan dariku! Kalau jawabanmu benar, berarti bener kamu Mas Farhan. Awas, jangan pura-pura amnesia!” ancam Azka.


Farhan dan Via saling tatap. Via mengangkat bahu tanda menyerahkan kepada Farhan.


“Oke. Kamu mau tanya tentang apa? Kalau menyangkut keluarga, insya Allah aku bisa jawab” tantang Farhan.


“Apa yang bikin aku mogok sekolah waktu kelas II SD?” tanya Azka.


Farhan tertawa.  Ia masih ingat kalau Azka pernah mogok sekolah gara-gara takut kepada guru kelasnya.


“Kamu takut karena Pak Prastowo, guru kelasmu waktu itu, punya kumis tebal. Pak Pras terpaksa mencukur kumis kesayangannya. Hahaha...!” Farhan menjawab dengan terus tertawa.


Wajah Azka berubah kaget. Ia mulai percaya kalau sedang berbicara dengan Farhan. Namun, ia belum sepenuhnya yakin sehingga masih mengajukan pertanyaan.


“Apa hadiah yang aku berikan saat Mas Farhan wisuda S-1?”


Farhan terlihat kesal. Ia ragu untuk menjawab karena ada Via.


“Kamu tidak tahu? Berarti kamu bohong. Kamu bukan Mas Farhan,” serang Azka.


“Tentu saja aku tahu. Hadiahmu menyebalkan. Kamu memberiku kotak besar dibungkus kertas kado warna biru muda. Ternyata di dalamnya masih ada kotak lebih kecil. Begitu seterusnya hingga ada 10 kotak. Ternyata isinya cuma celana dalam,” jawab Farhan kesal.


Azka tertawa mengingat kekonyolannya. Beberapa detik kemudian, ia kembali teringat kalau sedang menguji Farhan.


“Dua pertanyaan kau jawab dengan benar. Satu lagi.kalau bisa berarti kamu beneran Mas Farhan.”


Farhan mendengus kesal. Azka masih saja konyol.


“Kita pernah berkunjung ke rumah Tante Farah dan menginap di sana karena hujan. Kejadian apa yang membuat Mas Farhan menangis?” Azka menik-turunkan alisnya.


“Dek, apa nggak ada pertanyaan lain?” protes Farhan.


“Kalau nggak bisa jawab, aku nggak percaya kalau kamu beneran Mas Farhan,” sahut Azka santai.


“Memang Hubbiy masih ingat nggak peristiwa itu? Kalau masih, tinggal jawab saja biar cepat selesai” bisik Via.


Farhan melirik Via sebentar. Ia sebenarnya malu. Demi memperoleh kepercayaan dari Azka, akhirnya dia menjawab.


“Bajuku basah kena air hujan. Karena bajuku basah, sementara bunda nggak bawa baju ganti untukku, aku dipaksa pakai baju punya Sifa,” jawab Farhan lirih. Mukanya merah karena malu.


Via kaget mendengar jawaban Farhan. Ia teringat kekonyolan Farhan tadi, memakai jilbab miliknya. Via pun tertawa meski tidak keras.


“Sekarang kau percaya?” bentak Faran.


Di seberang Azka tampak tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya. Mendadak ia dikejutkan


seseorang yang memanggilnya.


“Nak Azka, ada berita penting. Ini...ini....”


Azka meletakkan ponselnya dengan posisi menelungkup. Tentu saja hal itu membuat Farhan bertambah geram. Sayup terdengar percakapan Azka dengan seorang pria.


***


Bersambung


Masih setia dukung karya recehku? Makasih, ya berkenan klik like dan rate 5, meninggalkan


koment juga vote untukku. Barakallahu fiik.

__ADS_1


__ADS_2