
“Adanya pergerakan lawan. Mereka sepertinya belum jelas identitasnya. Mas Edi belum tahu persis.”
“Dari dunia bisnis?”
Via menganggukan kepala lagi. Ditatapnya wajah tampan Farhan.
“Orang lama?” tebak Farhan.
Via mengangkat bahunya. Edi sendiri belum bisa memastikan, siapa mereka.
“Kapan Mas Edi memberi tahu? Apa Mas Edi menyelidikinya sendiri?”
“Tadi di kantor saat jam istirahat siang. Infonya dari Kiki. Meski dia terlihat lemah gemulai, kemampuan intelnya tak diragukan. Dalang di balik kecelakaan Om Candra pun sudah terungkap karena bantuannya.”
“Jadi, kecelakaan Om Candra merupakan rekayasa?” Farhan tampak terkejut.
“Iya,” jawab Via lirih.
Meski sudah ada dugaan ke arah itu, Farhan tetap saja merasa terkejut.
“Ternyata dugaan Om Candra benar,” desis Farhan.
“Om Candra sudah lama berkecimpung di dunia bisnis, sudah paham betul seluk-beluk risiko pebisnis. Tentu Om Candra bisa merasakan keanehan yang dialaminya,” kata Via.
“Lalu, apa yang Mas Edi ketahui tentang ancaman ke kita?” tanya Farhan.
“Belum banyak. Tapi, sekali lagi insting Kiki tak perlu diragukan. Saat ini mereka sedang melakukan penyelidikan ancaman kepada kita. Itu sebabnya Mas Edi menyarankan agar kita menggunakan pengawalan yang ketat sebagaimana Om Candra sarankan.”
Farhan terdiam. Ia mempertimbangkan ucapan istrinya.
“Lalu bagaimana dengan keluarga kita? Zayn?” ucap Farhan.
“Itulah. Menurutku, tak ada salahnya kita mengikuti saran Om Candra dan Mas Edi,” kata Via.
“Baiklah, besok suruh Mas Edi ke sini sepulang dari kantor. Kalau perlu Kiki juga. Kita bicarakan bersama bagaimana baiknya.”
Via menyetujui pendapat Farhan. Ia sedikit lega telah menyampaikan beban pikiran yang sejak siang menggelayut.
Setelah selesai makan, mereka kembali ke ruang kerja. Sepasang suami istri tersebut tenggelam dalam pekerjaan masing-masing. Menjelang pukul 22.00 mereka beranjak ke kamar untuk mengistirahatkan raga dan pikiran.
*
Esoknya, Via dan Farhan seperti biasa ke kantor. Seperti biasa juga mereka diantar sopir sendiri-sendiri menuju kantor masing-masing.
Sesampai kantor, Via mampir ke meja resepsionis. Ia menanyakan keberadaan Edi.
“Pak Edi sudah datang, tapi hanya sebentar lalu pergi. Mungkin hanya untuk presensi. Saya tidak tahu beliau ke mana.” Salah satu resepsionis menjelaskan.
Via mengerutkan kening. Ia merasa ada sedikit keanehan. Tidak biasanya Edi pergi di pagi hari sebelum jam kantor. Belum pernah Via menjumpai Edi pergi tanpa pamit.
“Ya sudah. Tolong nanti sampaikan kalau Mas Edi datang agar ke ruanganku.”
“Baik, Bu,” ucap gadis bagian resepsionis sopan.
Via berlalu menuju ruangannya. Ia segera menghidupkan laptopnya dan mulai bekerja.
Belum ada setengah jam Via berada di ruangan, terdengar pintu diketuk diikuti salam. Via hafal pemilik suara itu.
“Masuk, Mas!” perintah Via setelah menjawab salam.
__ADS_1
Edi melangkah masuk. Wajahnya terlihat agak kusut.
“Mbak Via memanggil saya?” tanya Edi.
“Iya. Duduklah! Ada yang akan saya tanyakan.”
Edi menurut. Ia duduk berhadapan dengan Via.
“Mas Edi dari mana sepagi ini?” tanya Via sambil menggeser posisi laptop.
“Maaf, saya tadi mengantar Mira ke ruko,” jawab Edi.
Via tampak heran. Ini terlihat dari kerutan di keningnya.
“Bukankah biasanya Mas Edi mengantar Mbak Mira dulu baru ke sini?”
Edi tidak segera menjawab. Setelah diam sesaat, barulah ia mulai bicara.
“Di tengah perjalanan Kiki menelepon saya. Dia minta bertemu langsung dengan saya. Nggak mungkin saya suruh ke kantor sini. Makanya, saya suruh dia ke ruko dan kami bicara di sana.”
“Kenapa Kiki nggak diajak ke sini?”
“Sya nggak mau menimbulkan banyak pertanyaan yang mesti saya jawab. di samping itu, saya mesti merahasiakan jati diri Kiki.”
Ia mengangguk-angguk mengerti. Kemudian, ia mulai berbicara ke pokok masalah.
“Begini Mas. Semalam aku sudah membicarakan masalah body guard dengan Mas Farhan. Sepertinya dia bisa menerima usul itu. Tapi, sebelumnya Mas Farhan mau ngomongin hal ini dengan Mas Edi.Kalau bisa Kiki juga diajak.”
“Baik. Mau kapan?”
“Bagaimana nanti sepulang kantor di rumah saya?”
“Lalu bagaimana perkembangan penyelidikan Kiki?”
“Kami belum bisa mengungkap siapa yang tengah berusaha mencelakakan keluarga Mbak Via. Hanya ada sedikit petunjuk kalau mereka dari kalangan pengusaha. Tampaknya karena persaingan usaha. Kiki masih terus menyelidikinya.”
“Terus, tadi apa yang kalian bicarakan? Maaf kalau aku lancang.”
“Nggak apa-apa. Saya memang harus memberi tahu Mbak Via. Sebenarnya dengan Mas Farhan juga, sih. Ya sudah, Mas Farhan nanti saja. Begini, Mbak. Tampaknya mereka bukan mengincar inti keluarga Mbak Via. Merka sepertinya mrngarah kepada Eyang Probo atau Pak dokter Haris, Itu masih kami selidiki.”
Via terlihat kaget. Ia tidak mengira kalau di luar keluarga intinya justru terancam.
“Ini belum pasti, Mbak. Tapi, tak ada salahnya kita antisipasi”
“Iya, Mas. Ini harus segera kita bicarakan dengan Mas Farhan.”
“Apa ada hal lain?” tanya Edi.
“Sementara itu dulu. Nanti Mas Edi hubungi Kiki dan kita bicara bersama di rumah saya.”
“Siap, Mbak. Saya permisi dulu melanjutkan tugas saya. Assalamualaikum,” ucap Edi
“Wangalaikumsalam.”
Setelah sampai ruangan, Edi mengeluarkan benda pipih dari dalam sakunya. Sesaat jari tangannya menari di atas layar.
“Assalamualaikum, Ganteng. Kangen nih?” terdengar suara renyah dari seberang.
“Ini serius, Ki. “ Edi menanggapi Kiki dengan tegas.
__ADS_1
“Idih, serius. Kalau ciyus-ciyus ntar cepet tua, lo!” suara centil Kiki terdengar.
“Biarin. Emang udah tua. Ni beneran serius. Nanti kita ke rumah Mbak Via ngomongin masalah yang tadi,” kata Edi.
“Yang mana? Jelasin sejelas-jelasnya, dong!”
Edi membuang nafas kasar. Ia merasa jengkel kalau Kiki mulai berulah saat serius.
“Tentang ancaman ke keluarga Mbak Via, Ki. Kamu mesti jelasin kepada mereka terutama Mas Farhan. Biar mereka lebih waspada.”
“Oh, my God, berarti aku bakalan ketemu manusia ganteng lagi? Aduh, bisa rontok nih hatiku.” Kiki masih dalam mode bercanda.
“Pokoknya ntar sore kamu siap. Mau sendiri apa aku jemput? Kalau berangkat sendiri, ntar aku kirim alamatnya,” ucap Edi.
“Ih, jemput dong. Kiki bukan jaelangkung yang datang tak dijemput pulang tak diantar,” sahut Kiki manja.
“Iya, iya. Nanti aku kasih kabar kalau sudah posisi otewe. Jam 4 kamu harus siap.”
“Memang dirimu pulang kantor jam berapa? Kok nyuruh daku siap jam 4 sore siap?”
“Jam 5 paling cepat. Kamu kalau mandi, siap-siap kan butuh waktu lama.”
Terdengar hembusan nafas kasar di gawai Edi. Rupanya, Kiki merasa kesal.
“Iyalah. Ni bentar lagi mandi terus siap-siap biar puasss.” Kiki tampaknya sangat geram.
Edi terkekeh. Ia senang bisa meledek Kiki.
“Kali ini aku yang serius.” Nada suara Kiki berubah. Ia tak lagi menggunakan suara kemayunya.
Edi sempat kaget mendengar perubahan tersebut.
‘kamu bilang jangan terlalu serius biar nggak cepet tua?” ujar Edi.
“Justru itu, ini menyangkut masa depanku. Jawab dengan serius, ya!”
Edi tertawa lagi. Namun, ia tetap mendengarkan ucapan Kiki.
“Cewek yang pakai gamis warna navy itu siapa namanya?” tanya Kiki.
“Yang mana yang kamu maksud?” Edi mengklarifikasi.
“Yang di ruko.”
Edi terdiam sejenak. Lalu, seulas senyum tipis menghiasi bibir.
“Oh, yang duduk di meja kasir bersama istriku? Itu Salsa. Kenapa?”
“Eh, enggak. A—aku cuma ingin tahu,” jawab Kiki cepat,”Ya sudah, kalau sudah cukup, aku tutup dulu. Asalamualaikum.”
“Wangalaikumsalam. Eh, main tutup saja. Siapa yang nelpon duluan. Dasar manusia tak jelas,” gumam Edi.
“Eh, ngapain dia nanya-nanya tentang Salsa, ya? Apa dia ....”
*
Bersambung
Fans Azka harap bersabar. Sementara Azka disimpan dulu. Kalau mau tahu tentang istri Azka, silakan ke Cinta Strata 1 karya Kak Indri Hapsari! Jangan lupa dukung kami, ya!
__ADS_1