
Via tidak lagi gentar menghadapi Lia. Tapi, Lia terus bikin ulah. Yuk ikuti kisah selanjutnya.
Selamat membaca, semoga suka....😘😘
🌱🌱🌱
Via sudah berpakaian rapi. Ia membawa tas sekolahnya ke bawah. Pak Haris dan Bu Aisyah telah menanti di ruang makan.
"Emang kamu sekolah, Vi? Bukannya Sabtu libur?" tanya Azka heran.
"Ada les, Mas. Sebentar lagi kan ujian."
"Oh gitu. Semangat, ya buat ujianmu. Yuk sarapan dulu."
Baru saja mereka duduk, Farhan masuk. Ia masih mengenakan baju koko putihnya.
"Sudah berapa juz, Nak?" tanya Pak Haris.
"Baru 12, Yah."
"Udah mending, Mas. Berarti nambah."
"Kamu masih 7 juz, belum nambah juga sudah 3 bulan," sahut Bu Aisyah.
Azka nyengir. Ia memang sering santai. Meski ayah bundanya sering menegur masalah hafalannya, ia selalu punya alasan untuk berkelit.
"Azka ke kampus, nggak?"
"Enggaklah, Bun. Nanti mau ke perpustakaan umum, cari tambahan referensi. Tugas kemarin belum selesai."
"Sendiri?"
"Bareng Rio. Ntar dia ke sini."
"Jam berapa?"
"Bilangnya sih jam 7."
"Naik motor apa mobil?"
"Motor, Bun. Tapi sendiri-sendiri. Males bawa mobil. Gak efisien waktu."
"Kalau kamu antar Via ke sekolah dulu, bisa?"
"Bunda nggak ke sekolah?"
"Enggak. Hari ini tidak ada jadwal ngisi les."
"Emm, biar saya naik ojol saja, Bun. Kasihan Mas Azka kalau harus nganter saya," Via menyela.
"Kamu tuh kok masih sungkan sih?" gerutu Azka.
"Berarti bisa, ya?" Bu Aisyah memastikan.
"Ashiap, Bun!"
Mereka berlima menyantap hidangan sarapan yang telah disediakan. Sekarang Bu Aisyah selalu dibantu Via. Banyak pekerjaan rumah yang sudah dapat Via lakukan. Itu berkat Ratna dan Bu Aisyah.
"Kamu nggak telat kalau berangkat jam 7?" tanya Azka.
"Insya Allah enggak. Kalau les, masuknya bukan jam 7, tapi 7.30."
"Oh, bisalah nggak telat insya Allah. Paling 15 menit sampai. Bentar, aku chatt Rio biar dia nggak ngaret."
Kurang 5 menit dari waktu yang dijanjikan, Rio datang dengan motor matic premiumnya. Ia memakai baju santai, t-shirt dan celana jeans. Sama seperti Azka.
"Mau masuk dulu?" tanya Azka.
"Tumben nawarin."
"Yeee...dibaikin malah ngatain tumben. Gimana, mau masuk dulu apa langsung? Ada pisang goreng tuh."
__ADS_1
"Ntar siang aja, deh. Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat sebelum ke perpus."
"Ke mana?"
"Udah, ngikut saja. Bareng Hasan dan Roby juga kok."
"Aku nganter Via ke sekolah dulu, ya!"
"Sepupumu?"
"Adikku. Dia bareng sama adik kamu, Aurel. Cuma beda kelas. Yuk berangkat!"
"Aku dah siap."
"Via, berangkat sekarang, yuk!"
Via keluar rumah sambil menenteng tas sekolahnya.
"Ambil helm, aku mau pamit ayah bunda dulu."
Sampai di sekolah, Via minta diturunkan agak jauh dari gerbang. Dia tidak ingin ada kehebohan baru. Apalagi kalau sampai Aurelia tahu.
Sayangnya, baru saja kakinya melewati gerbang sekolah, sebuah cengkeraman kuat melingkupi tangan kirinya. Langkahnya otomatis terhenti.
"Dasar gembel ganjen. Ngapain pakai minta boncengin Mas Azka?"
"Aku nggak minta. Mas Azkanya yang bersedia ngantar karena disuruh bunda," jawab Via jujur.
"Bunda? Jih, muak aku mendengar caramu memanggil Bu Aisyah. Sok-sokan banget sih! Ngaca, dong!"
"Aku tadi udah ngaca. Mukaku udah bersih, nggak ada kotoran kok."
"Kamu, tu emang nggak tahu diri."
"Bentar, aku ingin tahu sebetulnya kamu naksir Doni apa Mas Azka sih?"
"Bukan urusanmu. Orang kaya mah bebas suka sama siapa aja. Kalau gembel macam kamu, jelas nggak pantas. Makanya, kamu harus tahu diri!"
"Diaaaam!!!" teriak Lia geram.
Via menggerakkan tangan seolah mengunci bibirnya. Ia tetap tenang menghadapi Lia yang tengah terbakar amarah.
"Pokoknya jauhi Doni, Mas Azka, dan cowok keren lain. Kalau nggak, ..."
"Ehm! Kalau nggak kenapa?"
Suara di belakang mereka membuat Lia tidak melanjutkan kalimatnya. Tangan kirinya yang mengepal di depan wajah Via segera diturunkan. Ketika menoleh, wajah Lia langsung pucat pasi.
"Maaf, maaf, Pak. Kami...kami sedang becanda, kok. Ya kan, Vi. Yuk ke kelas. Mar, Pak."
"Tunggu! Kamu kira Bapak tidak mendengar apa yang kamu katakan tadi? Kamu mengancam Via, kan? Kenapa kamu terus mengganggu Via?" cecar Pak Ari.
Lia menunduk. Wajahnya makin pucat. Keringat dingin mulai bercucuran.
"Ini tetap akan Bapak sampaikan kepada Pak Herman selaku wali kelasmu dan Bu Santi, guru BK. Kalau kamu tidak memperbaiki sikapmu, mungkin sekolah akan mengambil tindakan. Sekarang masuk kelas!"
"Ya, Pak," jawab Lia lirih. Secepat kilat ia berlari menuju kelasnya.
Via hanya geleng-geleng kepala. Ia berpamitan kepada Pak Ari.
"Permisi, Pak. Saya masuk kelas dulu."
"Ya, Vi. Kalau Lia mengganggu kamu lagi, laporkan!"
Via mengangguk sambil tersenyum. Ia segera berjalan ke kelas XII IPA-1.
Sampai di kelas, ternyata teman-temannya sudah berada di kelas. Ia datang terakhir.
"Tumben baru sampai. Tuan Puteri bangun kesiangan?" tanya Ratna.
"Enggak. Kalau sudah adzan subuh aku belum bangun, pasti dibangunin bunda."
__ADS_1
"Tadi diantar Bu Aisyah?"
"Enggak. Bunda kosong, ga ada jadwal les."
"Terus? Naik ojol apa taksi?"
"Dianterin Mas Azka."
Mata Ratna terbelalak. Mulutnya melongo lebar.
"Itu mulut dikondisikan, Buuu.'
"Eh, iya," Ratna tersipu malu. "Eh, tadi kamu bilang dianterin Mas Azka?"
"Iya, emang kenapa?"
"Coba kalau si ubur-ubur tahu. Pasti ada yang kepanasan."
"Emang dia tahu."
"Si ubur-ubur lihat kamu diantar Mas Azka? Terus?"
"Ya pasti seru."
"Dia nggak ngapa-ngapain kamu, kan?"
"Ish, cemas amat? Kayak mak-emak, ah."
"Hei Marimar! Aku serius nih."
" Ya gitu deh."
"Kamu diapain sama si ubur-ubur?"
"Cuma diancam."
"Diancam gimana?"
"Ga boleh dekat-dekat Doni, Mas Azka, dan cowok keren lainnya."
"Kamu diam saja? Aaah, harusnya aku ulek tuh bibir si ubur-ubur."
"Mau disambel?"
"Hooh."
"Tapi tadi ketahuan Pak Ari."
"O ya? Terus?"
"Terus-terus, nabrak dong. Belok kenapa?"
"Ish, serius dong, Marimar!"
"Iya, iya. Pas Lia ngancam aku, tahu-tahu Pak Ari di belakang kami. Lia balik diancam Pak Ari akan dilaporkan wali kelas dan guru BK. Kalau masih berulah, akan ada tindakan tegas."
"Reaksi ubur-ubur gimana?"
"Wajahnya pucet banget. Kayaknya dia takut, sih. Semoga dia kapok."
"Kapok? Ubur-ubur mana kenal namanya kapok. Aku yakin suatu saat dia berulah lagi. Kamu harus waspada."
"Duh, kayak Bang Napi aja."
Mereka tertawa geli. Tak lama kemudian guru masuk ke kelas.
***
TBC 🙏🙏
SABAR MENANTI KELANJUTANNYA YA 😘😘
__ADS_1