SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Ke Mana Azka?


__ADS_3

"Aku makin kagum kepada Nak Farhan. Seorang pengusaha muda sukses, rendah hati, penolong, jauh dari pendendam. Sudah diperlakukan seperti itu oleh keluarga ipar saya, masih saja baik kepada mereka. Terima kasih, Nak. Aku mewakili keluarga mereka mohon maaf atas kejahatan yang telah dilakukan sekaligus berterima kasih atas kebaikan Nak Farhan beserta istri. Ah, aku bingung mesti ngomong apa lagi."


Farhan dan Via saling tatap sekilas. Mereka tampak kikuk dipuji oleh Pak David.


Rio hanya tersenyum memperhatikan pasangan suami istri yang telah menjadi dewa penolong baginya juga keluarga angkatnya.


"Aduh, Om. Kalau saja Om mengenal Via, dia lebih dahsyat. Seorang perempuan tetapi sepak terjangnya tak kalah dengan suaminya. Ah, kalau aku omongin, bisa-bisa kena marah Via nih," batin Rio.


"Om terlalu memuji. Semua sudah diatur Yang Mahakuasa, Om. Kita sebatas menjalani yang telah digariskan." Farhan mencoba berkilah.


Pak David tertawa kecil. Ia menatap Farhan kagum.


"Sebenarnya Om sudah muak dengan kelakuan Danu dan istrinya. Kalau tidak mengingat mereka masih saudara istriku, sudah aku usir mereka," keluh Pak David.


Rio tampak penasaran.


"Memang bagaimana kelakuan mereka selama di sini?" tanya Rio.


Pak David terdiam sejenak. Ia terlihat sedang menata emosinya.


"Mereka datang ke sini dalam kondisi terpuruk, nggak punya apa-apa. Tiket dari Jogja ke sini saja aku yang belikan. Jadi, biaya sehari-hari mereka aku yang tanggung. Bahkan untuk pengobatan Kak Danu waktu itu. Seminggu sekali Kak Danu kontrol ke dokter syaraf."


"Berarti cukup banyak kebutuhan yang Om tanggung?" Rio menyela.


"Memang iya. Tapi, tadinya aku ikhlas. Toh mereka saudara istriku, berarti keluargaku juga. Tapi, keikhlasanku luntur seiring dengan sikap mereka yang menyebalkan."


"Maaf, maksud Om David bagaimana?" Rio kembali menyela.


"Maksudku, mereka di sini kan numpang. Seharusnya sikap mereka dijaga. Aku dan istriku tidak butuh balas budi mereka. Tapi, harusnya tetap tahu diri. Mereka enggak. Istri dan anak mereka berlagak seperti majikan. Mereka sering bentak ART kami. Keangkuhan mereka tidak memudar."


Via, Farhan, juga Rio hanya mengangguk-angguk. Dalam hati mereka menyayangkan sikap Danu dan istrinya.


"Tadinya, Om juga kesal dengan ulah Lia. Betapa tidak? Dia anak gadis yang sudah dewasa. Tapi, kelakuannya jauh dari kata pantas. Dia sering sekali keluyuran tidak jelas tujuannya. Kalau Om tanya, jawabnya tidak mengenakkan. Lebih sering dijawab dengan nada ketus. Berbulan-bulan seperti itu, akhirnya kesabaran ku habis. Sekitar setahun yang lalu, aku tidak mau lagi membawa Kak Danu berobat. Aku juga menyetop uang jajan Lia. Tentu saja mereka protes. Istriku juga. Tapi, niatku sudah bulat. Aku ingin memberi pelajaran kepada mereka. Ternyata aku salah. Mereka tidak berubah. Bahkan, Lia makin menjadi."


"Lia makin menjadi? Maksud Om bagaimana?" tanya Rio.


"Dia jarang pulang. Saat berpapasan dengan Lia waktu pulang, aku mencium bau alkohol. Pokoknya sangat liar. Puncak kejengkelanku padanya ketika ia ketahuan menjadi salah satu dalang pembunuhan itu."


Pak David menjeda ceritanya. Ia mengambil minuman dan disesapnya teh yang mulai dingin.


"Aku sengaja tidak menyewa pengacara untuk membela Lia. Kupikir dia memang salah dan layak dihukum. Selain itu, aku juga malu. Para tetangga pun terlihat sinis saat berpapasan denganku. Herannya, kakak iparku itu juga nggak peduli anaknya dipenjara. Ia nggak mau menengok sekali pun. Makanya, aku kasihan lihat Lia tadi. Ah, dia sudah berubah rupanya."


Dada Via terasa agak sesak. Ia trenyuh mengingat nasib teman sekolahnya itu.

__ADS_1


"Boleh aku tahu bagaimana ceritanya Lia bisa berubah?" tanya Pak David seraya menatap Farhan dan Via.


Farhan melirik istrinya. Tampaknya Via sedang tidak begitu memperhatikan ucapan Pak David.


"Beberapa waktu lalu kami berkunjung ke kediaman Om Candra yang tengah mengadakan acara syukuran kelulusan putranya. Kami mendapat kabar kalau Lia dirawat di rumah sakit karena bunuh diri. Kami berinisiatif menjenguknya. Saat itu Lia sangat terpuruk. Ia depresi karena tinggal di penjara, tak punya teman, dan mamahnya tak pernah menjenguk. Tadinya, ia menolak kehadiran kami. Alhamdulillah, ucapan istri saya ini sedikit demi sedikit dapat masuk ke hatinya. Dia mulai menyadari bahwa tindakan bunuh diri yang ia lakukan itu konyol. Dia juga mau belajar agama. Sebelum kami pulang, kami kembali menjenguknya. Kami berikan mukena untuknya," tutur Farhan.


Pak David menganggu-angguk. Kekagumannya terhadap Farhan makin bertambah.


"Dek Via meminta tolong kepada Om Candra mencarikan pendamping rohani untuk Lia. Di samping untuk memulihkan kondisi psikis Lia yang tertekan karena hidup di penjara, juga mengajari Lia mengaji. Alhamdulillah, konon Lia sekarang rajin salat, juga mulai bisa mengaji," lanjut Farhan.


"Ya, ya. Aku juga melihat dari penampilan dan cara bicara Lia di rekaman tadi bisa menilai kalau anak itu sudah berubah." Pak David tersenyum.


"Iya, Om. Saya juga tadi terkejut. Meski Via sudah menceritakan tentang perubahan Lia, saya tetap saja tidak mengira sedrastis itu perubahannya. Saya kasihan melihatnya," ucap Rio.


Pak David menoleh ke Rio. Ia menatap pemuda itu.


"Untunglah kamu tidak terpengaruh dengan didikan Kak Danu," ucap Pak David.


Rio menunduk. Hatinya sedih mengingat dirinya dan keluarga angkatnya.


"O ya, tadi pagi kok kalian bisa diizinkan masuk? Bukannya belum jam bezuk?" Pak David keheranan.


"Iya, Om. Itu karena pengacara Om Candra yang mengurus perizinan khusus untuk kami. Om Candra juga yang mencarikan pendamping rohani untuk Lia," jelas Farhan.


"Boleh tahu nama lengkap om kamu?"


"Candra Wijaya, Om," jawab Via.


Pak David terkejut. Ia tak mengira sedang berhadapan dengan salah satu keturunan Wijaya.


"Wah, ternyata kalian dari keluarga pengusaha hebat. Pantas saja masih muda sudah memegang perusahaan besar," ucap Pak David.


Via dan Farhan tersenyum malu. Mereka melempar lirikan satu sama lain.


"Om, kami rasa kunjungan kami sudah cukup. Kami akan pamit karena nanti kami akan terbang kembali ke Jogja," kata Rio.


"Oh ya. Baiklah kalau begitu. Hati-hati, ya! Lain waktu, mainlah ke sini," sahut Pak David ramah.


"O iya, tolong pamitkan mamah dan papah. Sampaikan permohonan maaf saya," ucap Rio lagi.


"Ya, ya. Semoga mereka dibukakan hatinya biar tidak diliputi dendam berkepanjangan. Nanti aku sampaikan," jawab Pak David.


"Terima kasih, Om."

__ADS_1


Mereka keluar dari rumah besar Pak David. Saat akan masuk mobil, Farhan teringat sesuatu.


"Di mana Azka? Masya Allah, kenapa dari tadi tidak ingat? Sejak kapan Azka tidak bersama kita?" pekik Farhan.


Via terperangah. Ia juga baru ingat kalau Azka tidak bersama mereka.


"Sejak kita ke sini tadi, rasanya Azka tidak bersama kita," gumam Rio.


Farhan menoleh ke Rio. Ia menatap tajam sahabat Azka itu.


"Coba kamu ingat-ingat, kapan terakhir dia bersama kita!" perintah Farhan.


Mereka terdiam. Pikiran mereka mengingat sejak mereka berangkat dari rumah Pak Candra.


"Waktu kita masuk lapas, dia masih bersama kita. Kita masuk bertemu Lia, dia duduk di dekat Mas Farhan," ucap Via pelan.


"Ah, iya, aku ingat! Dia pamit ke toilet sebelum Rio merekam Lia menyampaikan pesan!" seru Farhan.


"Kita keluar tidak bersama Azka," kata Rio.


"Ya sudah, masuk ke mobil! Nanti kita hubungi dia dalam perjalanan!" perintah Farhan.


Mereka bergegas masuk ke mobil. Tak lama mobil pun mulai melaju meninggalkan rumah Pak David.


Farhan mengambil gawai dari saku celananya. Ia mencari kontak Azka, lalu menyentuhvtombol dial.


Sudah beberapa saat Farhan masih belum berbicara. Via menjadi gelisah.


"Belum tersambung?" tanya Via cemas.


Farhan menggeleng. Ia juga tampak khawatir.


"Via hubungi Om Candra saja," ucap Via.


Via segera mengambil gawai miliknya dari tas. Ia menghubungi om-nya.


***


Bersambung


Ke mana suami Meli ya? Apa yang terjadi dengannya? Ikuti terus cerita ini! Ikuti juga kisah Meli di CS1 karya Kak Indri Hapsari. Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar!


Barakallahu fiik

__ADS_1



__ADS_2