SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Edi Beraksi (2)


__ADS_3

Sebagian karyawan karyawati PT Wijaya Kusuma  keluar dari musala yang berada di sisi kanan. Bangunan itu tampak masih baru.


Sebenarnya, saat almarhum Pak Wirawan masih menjabat pimpinan pun sudah ada. Namun, ukurannya sangat kecil. Musala lama  hanya dapat menampung seper sepuluh jumlah karyawan yang ada. Sedangkan sekarang, musala itu bisa menampung sepertiga jumlah pegawai. Ide siapa? Itu adalah gagasan Farhan.


Sejak Farhan menjabat sebagai salah satu manager  PT Wijaya Kusuma, suasana  kantor memang lebih religius. Banyak karyawati yang mengenakan jilbab. Kalaupun tidak, mereka tidak boleh mengenakan pakaian seksi.


Edi tampak berjalan di antara para pegawai yang baru berjamaah salat ashar. Ia berjalan  cepat, bermaksud kembali ke ruangannya. Saat di dekat meja resepsionis, ia diberi tahu ada tamu yang menunggunya.


Baru saja resepsionis selesai bicara, seorang pria menyapa Edi.


“Assalamualaikum, Pak Edi. Maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu Pak Edi. Apa Pak Edi sedang sibuk?”


“Waalaikumsalam, Pak Hendrik. Selamat datang di kantor kami. Tentu saja saya tidak sibuk. Kan Pak Hendrik sudah mengatakan kalau akan datang sore ini. Mari, silakan masuk ke ruangan saya saja,” sahut Edi.


Mereka berjalan bersama menuju lift. Ketika sudah berada di dalam lift, Hendrik tertawa.


“Sumpah, aku nahan ketawa sejak tadi. Hufff, Pak Edi resepsionismu bikin aku stress,” ucap Hendrik.


“Ah iya, maaf Pak Hendrik. Aku emang nggak pesan kepadanya agar menyuruhmu masuk ruanganku. Entar


gadis itu curiga karena aku sedang salat kok membiarkan orang asing masuk,” kilah Edi.


“Tahu nggak, aku tadi takut keliru ngomong,” kata Hendrik di sela tawanya, “Panggil Pak Edi saja susahnya minta ampun. Lidahku kelu kupingku gatal.”


“Periksa aja ke dokter THT,” jawab Edi asal.


“Sembarangan!” hardik Hendrik sembari memukul lengan Edi.


Edi menoleh sembari melotot. Jari telunjuknya diletakkan di depan mulut.


“Stt, pintu mau terbuka, diam!”


“Ting!” Pintu lift terbuka.Beberapa karyawan yang hendak turun tengah menunggu di depan pintu.


“Silakan, Pak,” ucap Edi sembari memberi isyarat keluar menggunakan telapak tangan kanannya.


“Terima kasih, Pak Edi.”


Mereka berdua berjalan bersama menuju ruangan Edi.


“Hufff, lega!” seru Hendrik.


Edi tergelak melihat Hendrik menghembuskan nafas kasar.


“Serasa kayak anak TK main rumah-rumahan. Sumpah, aku harus mikir dulu kalau mau ngomong,” desah Hendrik.


“Salahmu datang terlalu awal. Kupikir kau akan datang jelang jam 5. Eh, gak tahunya udah nongol sekarang,” gerutu Edi.


“Sudahlah, jangan ngomel melulu. Kayak nenek-nenek aja. Minumannya mana?”


“Ah dasar tamu tak tahu sopan santun!” Edi masih mengomel. Tak urung tangannya  sambil menekan nomor pantry.


Hendrik mengembangkan senyum manis. Ia duduk di sofa kecil yang ada di ruangan Edi. Tak lama seorang OB membawakan  secangkir kopi hitam.


“Nah, ini namanya memuliakan tamu,” celetuk Hendrik ketika OB telah pergi.


“Terserahlah. Kau main-main saja dulu. Jam pulang kantor masih lama,” ucap Edi sembari memainkan jemarinya di atas keyboard laptop.


Tepat pukul 17.00, sebagian besar pegawai melakukan perekaman data kepulangan. Satu per satu pamer sidik jari lalu pulang.


Edi keluar dari ruangannya. Tatapannya menyapu bersih lorong-lorong yang ada. Lalu ia melangkah ke  sebuah ruangan di lantai 2. Ada sesuatu yang ia kerjakan di sana.  Hanya beberapa detik.


Edi kembali ke ruangannya. Ia membereskan beberapa barang miliknya.


“Tunggu! Pastikan sudah tidak ada yang tertinggal.”


Edi tersenyum. Ia menyambar flash disk yang masih tergeletak di mejanya.


“Fix. Ayo beraksi!” ajak Edi.


“Ruangan presdir, Gunawan, dan Tanto di mana?”


Edi memberi isyarat agar Hendrik mengikutinya.

__ADS_1


Sesampai di ruangan yang dimaksud, Hendrik beraksi. Seperti halnya Edi di lantai 2, hanya beberapa detik. Ia tersenyum sambil mengacungkan jempol.


Setelah semua beres, Edi mengajak Hendrik pulang. Tentu saja mereka berjalan bersama hanya sampai lantai dasar. Masih ada beberapa pegawai yang belum pulang.


***


Edi baru saja pulang. Ia mendapati Hendrik tertidur dengan posisi duduk. Di depannya masih ada laptop yang menyala.


Edi membiarkan temannya seperti itu. Ia melangkah menuju kamarnya untuk membersihkan badan.


“Kau sudah pulang rupanya. Kenapa nggak bangunin aku?” terdengar suara serak dari luar.


Edi terkekeh. Ia tidak menanggapi ucapan Hendrik.


Setelah rapi, Edi keluar. Ia melihat Hendrik tengah mengetik sesuatu.


“Mau makan? Aku beli nasi padang tadi,” Edi menawari.


“Nanti aja. Ada info penting, nih. Pancingan kita dapat ikan,” ujar Hendrik.


“O ya? Bagaimana?”


“Gunawan memang benar bekerja sama dengan Tanto. Aku menyimpulkan kalau Tanto yang lebih utama, Gunawan hanya peran pembantu. Dia hanya bertugas meyakinkan presdir bahwa


laporan itu sudah benar.” Hendrik menjelaskan.


“Oh begitu. Tanto yang menjadi dalang atau dia juga aktor?” tanya Edi lagi.


“Kelihatannya aktor. Untuk mengungkap dalangnya, kita ciduk mereka ke sini. Kau manfaatkan Kiki untuk membuka mulut mereka,” jawab Hendrik.


“Sekaligus atau satu per satu?” tanya Edi lagi.


“Jiah, kau mulai kehilangan ketajaman berpikirmu. Tentu saja Gunawan dulu.” Hendrik tampak bersungut.


Edi hanya tersenyum. Ia tak membalas ucapan Hendrik. Dikeluarkannya alat komunikasi pintarnya. Ia tampak berbicara serius dengan seseorang.


Selesai menelepon seseorang, Edi menelepon yang lain. Hendrik tidak memedulikan yang Edi lakukan.


“Besok kita mulai dengan Gunawan. Kau bersiap bantu Kiki, ya!”


“Besok aku kabari. Lihat sikon kantor dulu. Aku nggak tahu jadwal Gunawan dan Pak Arman,” jawab Edi.


“Oke, kutunggu kabar baik darimu.”


“O ya, Kiki akan ke sini jam 8-an. Kau sambut dia. Oke?” ucap Edi sambil berlalu.


“Memangnya tamu agung, mesti disambut? Cih, aktor bencong gitu,” gerutu Hendrik.


***


[Target sudah


didapat. Dia sedang dalam perjalanan menuju markas. Bersiaplah.]


Edi menyimpan kembali ponselnya setelah mengirim pesan. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya.


Saat ia bermaksud ke toilet, Pak Arman sedang berjalan menuju ruangannya. Edi segera berlalu, menghindari Pak Arman.


Namun, ia tak dapat menghindar saat baru keluar dari toilet. Pak Arman sudah berdiri menantinya.


“Mas Edi, lihat Gunawan?”


“Enggak, Pak. Saya ketemu dengannya tadi pagi saat baru datang,” jawab Edi.


“Oh, gitu ya. Dia aku suruh ke kantor cabang. Flash disk yang berisi data yang harus diisi kantor cabang malah tertinggal. Aku hubungi ponselnya, nggak aktif,” kata Pak Arman cemas.


“Kalau datanya dikirim via email saja, bagaimana?” usul Edi.


“Kalau datanya sih bisa disusulkan pakai email. Yang aku khawatirkan justru Gunawan. Dia belum sampai kantor cabang. Ke mana dia?”


“Mungkin macet, Pak,” Edi berusaha menetralkan kecemasan Pak Arman.


“Entahlah. Tapi, nggak biasanya dia begini. Dia selalu memastikan batere ponselnya terisi penuh. Dia juga selalu bawa power bank,” gumam Pak Arman.

__ADS_1


“Kita tunggu 30 menit lagi. Kalau dia belum ada kabar, apa saya susul dia?” Edi mengajukan tawaran.


“Boleh juga,” jawab Pak Arman singkat.


Pria yang menggantikan posisi Via untuk sementara itu kembali ke ruangannya. Edi pun menuju ruangannya.


Dengan cepat, Edi mengetik pesan untuk Hendrik.


[Sudah beres


belum? Pak Arman nyari Gunawan.]


Edi harus menunggu sekitar 5 menit untuk mendapat balasan dari Hendrik.


[Sebentar lagi. Kiki lagi asyik, tuh.]


Edi mendengus kesal. Ia mengetik pesan lagi.


[Jangan buang-buang waktu! Nanti ada yang curiga. Jangan lupa, bekali Gunawan dengan skenario jawaban kalau ditanya Pak Arman!]


Kali ini Edi tak perlu menunggu lama untuk menerima balasan.


[Siap 86]


Edi tersenyum tipis. Ia meletakkan benda pipih kesayangannya. Kemudian, ia kembali menatap monitor laptopnya.


Setengah jam kemudian, Edi keluar untuk menunaikan jamaah salat zuhur. Ia melihat sosok Gunawan berjalan gontai dari tempat parkir.


Baru saja Edi berniat mendekati, ia melihat pria berusia 40an tahun mendekati Gunawan. Edi mengurungkan niatnya. Ia hanya mengamati kedua pria itu berbincang. Terlihat serius. Namun, Edi tak bisa menangkap pembicaraan mereka.


Lelaki yang berbicara dengan Gunawan meninggalkan sekretaris itu saat ada pria lain mendekat. Pak Arman. Wakil Via di kantor itu tampak menanyai Gunawan. Tak lama kemudian, Pak Arman melangkah menuju musala.


Edi juga ke musala. Ia tidak mau terlambat hingga menjadi makmum masbuk.


Sorenya, Edi melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi. Ia tak sabar mengetahui informasi dari Hendrik.


Hanya 20 menit waktu yang Edi perlukan untuk sampai rumah kontrakan. Di rumah yang tampak sepi


itu, ia menjumpai Kiki tengah asyik menikmati mi instan.


“Mana Hendrik?” tanya Edi.


Yang ditanya tida menjawab karena mulutnya dipenuhi dengan mi. Jari telunjuknya saja yang mewakili.


Edi bergegas menemui Hendrik. Lelaki yang dicarinya tengah duduk santai sambil menatap layar ponselnya. Sekilas Edi melihat tulisan di layar ponsel temannya.


“Masya Allah, ternyata kau senang baca novel online juga?” pekik Edi.


“Hush, jangan keras-keras! Memangnya haram cowok baca novel?” ucap Hendrik tanpa mengalihkan tatapannya.


“Aneh saja lelaki yang kelihatan macho ternyata suka novel. Kau baca apa?”


“Ni lagi baca Good Partner karya Chocollacious. Isinya menginspirasi tugasku lo,”jawab Hendrik santai.


Edi mencebik. Ia agak kesal karena Hendrik lebih memilih ponselnya.


“Tugas cari jodoh? Pasti tokohnya lelaki bucin. Iya, kan?” tebak Edi.


“Tokoh utamanya detektif perempuan, namanya Penny. Keren, deh. Ia bisa membekuk pelaku kejahatan yang sadis. Ada romantisnya, sih,” sahut Hendrik.


“Sudah, ah. Malah bahas novel. Gimana tugas kalian tadi? Apa yang kalian dapat dari Gunawan?” tanya Edi tak sabar.


Edi harus sabar menunggu. Tampaknya Hendrik belum mau melepaskan ponselnya. Ia masih menyelesaikan novel kesayangannya.


***


Bersambung


Sabar menunggu


info dari Hendrik, ya! Insya Allah nanti sore up lagi deh. Makanya, dukung


terus agar aku semangat. Cuma klik like dan koment,kok. Terima kasih.

__ADS_1


Novel yang Hendrik baca bisa Kakak baca juga kok.



__ADS_2