SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian IX


__ADS_3

Jam 7 malam Via masuk ke kamarnya. Ia menyiapkan buku-buku pelajaran untuk esok. Ia belajar materi pelajaran hari Selasa sebentar. Itu memang kebiasaannya sejak masih SD.


Satu jam kemudian ia duduk di ranjang. Di tangannya ada sebuah album foto.


Perlahan dibukanya album itu. Foto seorang anak kecil berusia 5 tahun dalam gendongan sang ayah. Di sampingnya ada seorang wanita cantik tersenyum. Itu adalah foto Via bersama orang tuanya dulu.


Tangan Via kembali membuka halaman berikutnya. Foto-foto ia bersama papa mamanya membuat Via kangen. Tak terasa buliran air matanya telah membasahi pipi.


Mendadak ingatannya melayang ke kejadian tadi pagi di sekolah. Kata-kata Aurelia seakan diputar ulang.


"Seandainya papa mama masih ada, tentu aku nggak perlu hidup numpang begini. Nggak ada yang menghinaku seperti Lia. Pa, Ma, Via kangen. Via merasa kesepian. Memang keluarga Bu Aisyah baik. Tapi mereka bukan orang tua kandung Via," bisik Via. Seakan ia tengah bercakap-cakap dengan orang tuanya.


Setelah melihat semua foto, Via menyimpan kembali album fotonya di kardus. Lampu ia matikan lalu merebahkan diri di ranjang.


Ingatannya masih dipenuhi kenangan indah bersama orang tuanya. Air matanya terus meleleh. Akhirnya Via tertidur.


Sebuah teriakan keras mengejutkan Via. Ia terbangun dari tidur lelapnya.


"Siapa kamu? Ngapain di sini?" orang itu bertanya dengan suara keras.


Via mengerjapkan matanya. Kepalanya berdenyut nyeri karena kaget. Ia tidak bisa melihat orang yang berteriak.


Tak lama kemudian, terdengar bunyi saklar ditekan. Kamar pun menjadi terang. Via ganti berteriak kaget. Seorang cowok berusia sekitar 25 tahun, berkemeja biru lengan panjang, dan berkaca mata berdiri tegap di hadapan Via.


"Mau apa kamu? Maling ya? Tolooong...!"


"Hei, jangan berteriak! Aku bukan maling."


"Kalau bukan maling, kamu siapa?"


"Harusnya aku yang tanya, kamu siapa? Bisa-bisanya kamu di kamarku?" dengus cowok itu kesal.


"Ada apa, Via?" Bu Aisyah bertanya dari depan kamar.


"Ini...ini Bun...ada..." jawaban Via terhenti karena Bu Aisyah sudah membuka pintu kamar dan masuk.


"Lho, Nak? Kamu pulang kapan? Kok nggak ngasih tahu Bunda atau Ayah? Bunda juga nggak dengar ada yang salam," Bu Aisyah ikut heboh.


Cowok itu mendekat ke Bu Aisyah dan mencium punggung tangan Bu Aisyah penuh hormat. Bu Aisyah membalas dengan pelukan erat.


"Tadi sudah salam, tapi sepertinya tidak ada yang mendengar. Karena pintu depan tidak dikunci, Farhan masuk. Ruang tamu, ruang keluarga, sampai dapur sepi nggak ada orang. Farhan pikir sudah pada tidur. Ya sudah, Farhan masuk kamar mau mandi trus tidur. Eh, waktu duduk di ranjang, tangan Farhan megang anak itu."


Bu Aisyah tersenyum geli.


"Maaf, Bunda belum ngasih tahu ke kamu. Itu Via, murid Bunda, sekarang jadi anak Bunda. Sejak kemarin dia tinggal di sini. Berhubung kamar buat Via baru direnovasi, untuk sementara dia tidur di kamarmu. Bunda kira kamu nggak secepat ini pulang. Katamu lusa baru sidang. Kok sekarang malah pulang?"

__ADS_1


"Sidang dimajukan hari ini. Selesai sidang, Farhan dapat telepon dari eyang, disuruh menemui eyang kalau urusan kampus tidak banyak. Akhirnya, Farhan memutuskan pulang tadi sore."


"O iya, Via, ini Farhan. Dia kakaknya Azka."


Via mengangguk sambil memaksakan senyum di bibirnya. Ia ragu mau mengajak berjabat tangan.


Farhan pun tersenyum sambil melihat Via sekilas. Ia tampak sudah bisa menguasai diri.


"Kamu sudah makan?" tanya Bu Aisyah ke Farhan.


"Belum, Bun. Farhan kangen masakan rumah."


"Ayo ke ruang makan. Tadi Via dan Ratna, temannya masak buat buka. Karena Bunda nggak tahu, Bunda beli sayur juga. Untungnya cuma sayur gak sama lauk. Habis pesen sayur, Bunda baru baca pesan dari Azka kalau hidangan buka telah disiapkan Via. Yuk! Via, kamu ikut, ya. Biar kenal kakakmu yang ini."


Via mengangguk dan berjalan mengekor dua orang yang tengah melepas rindu.


"Via, bantu Bunda menyiapkan, ya! Tolong ambilkan piring dan gelas!"


"Farhan bisa sendiri, kok. Biasanya juga."


"Sudah, kamu duduk saja."


Via mengambil piring dan gelas. Diletakkannya kedua benda itu di dekat Farhan.


Belum sempat Bu Aisyah menjawab seorang pria masuk ruang makan.


"Kapan kamu pulang, Han?Kok nggak ngasih kabar dulu?" suara bass terdengar dari belakang Farhan.


"Ayah? Iya, tidak direncanakan sih. Sekalian mau kasih kejutan, eh malah dapat kejutan duluan."


Farhan bangkit dari duduknya dan mencium tangan ayahnya.


"Kejutan?" Pak Haris mengernyitkan keningnya.


"Farhan tidak tahu ada Via di kamarnya. Dia kaget ada orang di kamar," Bu Aisyah menjelaskan.


"Oh, begitu. Malam ini kamu tidur di kamar Azka saja. Dia tidak pulang, nginep di rumah Rio. Barusan dia chatt Ayah."


"Biar Via tidur di kamar yang baru saja," kata Via. Dia merasa tak enak karena pemilik kamar sudah datang.


"Jangan! Kamar itu belum dibersihkan. Besok saja beres-beres kamar yang baru," Bu Aisyah melarang.


"Sudah, nggak papa aku tidur di kamar Azka. Tadi aku cuma kaget karena nggak tahu Dek Via ada di kamarku. Nggak usah sungkan. Kembalilah ke kamar, tidurlah lagi! Besok harus sekolah, kan?" Farhan memutuskan.


"Te...rima kasih, Mas. Emm...Via ke kamar dulu. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


Via meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamar. Sebelum tidur, ia membereskan barang-barangnya ke dalam koper dan kardus. Ia berpikir begitu pulang sekolah, ia tinggal memindahkan koper dan kardus yang sudah disiapkan.


Sementara di ruang makan perbincangan masih berlanjut. Mereka sudah satu bulan tidak bertemu.


"Kapan kamu wisuda?" tanya Pak Haris.


"Masih lama, Yah. Satu setengah bulan lagi."


"Kau sudah tidak ada kegiatan di kampus?"


"Kalau kuliah sih enggak. Paling membereskan thesis dan pendaftaran wisuda."


"Kapan kembali ke Jakarta?"


"Ih Ayah, anak baru pulang sudah ditanya kapan kembali," sahut Bu Aisyah.


"Ayah cuma ingin tahu karena Farhan sudah nggak ada kuliah, berarti kan di tinggal rumah."


"Iya, Farhan lebih sering di rumah. Paling minggu depan. Dosen penguji sedang ke Singapura, pulangnya Sabtu. Itu sebabnya akhirnya sidang dimajukan."


"Revisi?"


"Sedikit, kok. Bukan substansial."


"Apa renacanamu selanjutnya?"


"Kemungkinan sesuai rencana awal. Tadi eyang juga sudah telpon."


"Nyuruh kamu ke kantor eyang?"


"Iya. Tapi Farhan belum tahu yang mau eyang bicarakan."


"Paling seputar bisnis. Kau harus banyak belajar, Han. Eyang sangat mengharapkan kamu. Ayah tidak bisa mewujudkan impian eyang. Kamu yang harus menggantikan."


"Iya, Yah, Farhan mengerti. Ayah sangat cinta obat-obatan, nggak suka bisnis macam eyang."


Mereka bertiga tertawa. Pak Haris teringat masa lalunya. Ia sempat bersitegang dengan ayahnya karena tidak mau terjun ke dunia bisnis. Ia ingin menjadi dokter.


"Untung anaknya ada yang tertarik dengan bisnis. Bunda nggak bisa bayangkan betapa kecewanya eyang kalau keturunan beliau tidak ada yang mau meneruskan usahanya."


Pak Haris tersenyum tipis. Ditatapnya Farhan dengan penuh kasih. Ia bangga kepada anak sulungnya. Tidak hanya cerdas, tetapi juga berbakti kepada orang tua.


***

__ADS_1


__ADS_2