SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XXXII


__ADS_3

Di ruang perpustakaan keluarga dokter Haris, Azka dan Farhan sedang asyik ngobrol.


"Sudah sebulan Via kost. Rasanya rumah jadi sepi. Kehadiran anak itu selama setahun sudah memberi warna di keluarga kita," keluh Azka.


"Kasihan anak itu. Dalam usia masih belasan tahun harus menghadapi ujian yang sangat berat. Tapi aku salut akan ketegarannya," sahut Farhan.


"Awalnya dia sangat rapuh, Mas. Bunda sering menasihatinya, membimbing dia terutama dalam hal agama."


"Perubahannya memang cukup besar. Sepertinya dia menjaga betul hijabnya."


"Eh, penyelidikan Mas Farhan bagaimana?"


"Aku belum bisa menyimpulkan. Data-datanya masih kurang untuk dijadikan dasar. Aku masih terus berupaya."


"Mas Farhan turun tangan sendiri?"


"Enggak. Eyang bisa curiga. Aku menyuruh orang kepercayaanku."


"Oh, sudah ada kemajuan?"


"Sudah, tapi belum cukup. Namun, sepertinya almarhum Pak Wirawan bukan orang licik seperti yang Eyang Probo tuduhkan. Aku khawatir, justru Eyang dimanfaatkan musuh-musuh almarhum untuk menyerang. Aku tahu betul, Eyang bukan orang yang semena-mena terhadap orang lain. Rasanya aneh kalau Eyang membenci orang baik."


"Segera Mas kumpulkan bukti tentang sepak terjang Pak Wirawan. Aku khawatir musuhnya mengincar Via. Mas Farhan ingat kecelakaan yang dialami Via hari terakhir UN? Aku was-was kalau dalang peristiwa itu adalah musuh papa Via. Dari cerita Doni, aku yakin itu bukan kecelakaan murni."


"Apa tidak ada orang yang memusuhi Dek Via? Maksudku memusuhi Dek Via secara pribadi, bukan karena anak almarhum Pak Wirawan."


"Menurut Ratna sih ada. Teman lain kelas. Kebetulan adik temanku, Rio."


"Bagaimana karakternya?" tanya Farhan penasaran.


"Kalau Lia sepertinya manja, keras kepala, agak sombong juga. Itu yang kusimpulkan dari sikap yang kulihat dan cerita yang kudapat dari Rio dan Ratna. Kalau Via malah nggak pernah cerita soal anak itu."


"Kalau Dek Via tidak terlalu mengenal Lia, kenapa Lia memusuhi Dek Via?"


"Menurut Ratna karena iri. Lia nggak suka Via dekat sama Doni dan...aku."


Farhan kaget. Ia menatap Azka seakan tidak percaya.


"Mas Farhan nggak percaya?" tanya Azka seolah tahu yang di benak kakaknya.


"Bukan begitu. Kok bisa?"


Azka kemudian bercerita tentang peristiwa perseteruan Lia dan Via.

__ADS_1


"O begitu. Lalu karakter Rio bagaimana?" tanya Farhan.


"Rio beda jauh sama Lia. Dia supel, nggak sombong. Mungkin karena beda orang tua."


"Maksudmu?"


"Rio itu anak angkat papahnya Lia. Orang tua Lia mengadopsi Rio sejak bayi karena belum punya keturunan. Saat Rio berumur 3 tahun, baru mamahnya Lia hamil," papar Azka.


"Menurutmu, apa Lia tega berbuat jahat kepada Dek Via?"


"Menurut aku, sangat mungkin Lia tega," jawab Azka mantap.


"Termasuk mencelakainya, merekayasa kecelakaan lalu lintas?"


"Iya. Lia orangnya ambisius. Dia akan berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan dengan berbagai cara. Hal itu mungkin karena ia biasa dimanja oleh orang tuanya. Rio sering kali harus mengalah karena keegoisan adiknya. Sudah sejak kecil begitu."


Farhan terdiam. Pikirannya melayang-layang. Ia segera meraih ponselnya yang tergeletak di meja saat terdengar notifikasi pesan. Dibacanya pesan yang cukup panjang yang memenuhi layar ponsel. Senyum tipis menghiasi bibirnya yang tidak pernah tersentuh rokok.


"Kenapa, Mas? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Azka.


"Ini ada laporan dari orang kepercayaanku. Mulai bertambah kejelasan tentang papanya Dek Via."


"Apa yang dikatakan?"


"Tentang latar belakang almarhum Pak Wirawan. Ternyata almarhum merintis usahanya dari nol. Beliau dicoret dari daftar keluarganya lalu merantau ke sini. Eyang Probo bahkan pernah membantu almarhum mengembangkan bisnisnya."


"Lebih tepatnya dulu, awal almarhum merintis usaha. Entah sejak kapan Eyang bermusuhan dengan almarhum."


"Lalu, bagaimana almarhum bisa mengembangkan bisnisnya hingga punya beberapa usaha?" Azka makin penasaran.


"Almarhum nekat meminjam uang di bank. Dia jeli dalam membaca peluang dan menarik minat konsumen. Itu yang membuat bisnisnya berkembang pesat."


Azka mengangguk-angguk. Ia tampak berpikir sejenak.


"Terus, apa Eyang yang menjatuhkan bisnis Pak Wirawan?" tanya Azka lagi.


"Sepertinya kejatuhan almarhum karena ada persekongkolan. Kalau hanya 1 dua pihak, kayaknya sulit untuk bisa menjatuhkan almarhum."


"Berarti almarhum orang yang kuat?"


Farhan hanya mengangguk. Lalu mereka berdua sama-sama diam.


"Aku sudah tidak sabar untuk mendapatkan bukti tentang sepak terjang almarhum. Kalau terbukti almarhum bersih, kita bisa menunjukkan kepada Eyang bahwa Via bukan orang yang pantas diwaspadai karena kejahatannya. Dan kita bisa menyuruh Via kembali ke rumah ini."

__ADS_1


"Sepertinya kamu begitu berharap Dek Via kembali ke sini. Kamu suka sama dia?" tanya Farhan.


Azka kaget. Mukanya mendadak memerah. Ia terlihat gugup.


"Eh...eng...nggak, nggak begitu. Aku suka kalau dia tinggal di sini. Rasanya aku punya adik."


Farhan menatap adiknya sesaat. Ia seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


"Aku khawatir akan keselamatan Dek Via," gumam Farhan.


"Eh, kenapa?"


"Kalau memang lawan bisnis almarhum ayahnya masih dendam, bisa jadi keselamatan Via terancam."


"Apa belum cukup membuat bisnis almarhum hancur?"


"Kita tidak tahu. Kalau perusahaan almarhum Pak Wirawan mati, mungkin mereka berhenti."


"Memangnya belum?" Azka kaget.


Farhan menggeleng. Matanya menerawang.


"Beberapa orang kepercayaan almarhum berusaha mempertahankan perusahaan meski tinggal kantor pusat. Tapi, sudah mulai ada progres meski lamban."


Azka mengangguk-angguk sambil berpikir.


"Mas, apa kita minta bantuan Ratna agar menjaga Via dan melaporkan apa yang Via alami ke kita?"


"Ratna teman Dek Via?" tanya Farhan.


"Iya. Dia kan kost bareng Via, kuliah bareng Via. Jadi, dia pasti tahu kalau ada sesuatu yang dialami Via. Kalau Via kita tanya, mungkin saja dia tidak jujur karena tidak mau membuat kita khawatir."


"Memang punya kontak Ratna? Jangan minta ke Bunda, ya! Jangan sampai bunda tahu," kata Farhan.


"Aku punya dong! Okey, ini antara kita saja. Belum saatnya ayah bunda tahu, apalagi Via."


Farhan mengangguk sambil tersenyum. Tangannya mengacungkan ibu jarinya ke Azka.


***


**Bersambung


Bagaimana hasil penyelidikan Farhan ya? 🤔

__ADS_1


Ikuti terus cerita ini ya. Author usahakan tiap hari update 1 episode.


Jangan lupa tinggalkan jejak jempol dan komentar** 🙏


__ADS_2