SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Kedatangan Meli


__ADS_3

Kediaman dokter Haris sore itu tampak hangat. Anak, menantu, juga cucu lelakinya menyemarakkan rumah.


Farhan memangku Zayn di teras rumah. Sang ayah hanya praktik sebentar, lalu menemani anak dan cucu pertamanya. Guratan kebahagiaan tampak jelas terpancar di wajah lelaki beda generasi itu.


Via, Bu Aisyah, dan Azka sibuk di dapur menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa. Mereka terlibat obrolan seru tentang seorang gadis yang sedang dinantikan kehadirannya.


“Beneran, Dek, kamu mantap memilih Meli sebagai pendamping hidup kamu?” tanya Via sambil mengiris bawang.


“Belum sepenuhnya, Mbak. Kan Azka nggak tahu keinginan Meli, rencana Meli untu masa depannya. Nah, Azka mau minta tolong sama Bunda juga Mbak Via buat ngorek informasi ini.”


Via menoleh ke Bu Aisyah yang tengah memasak kolak pisang dan ubi.


“Beneran begitu, Bun? Kita yang bertugas mewawancarai calon menantu Bunda?” tanya Via.


“Begitulah, Via. Nanti malam kita mulai bertugas. Kamu duluan, ya! Bunda nyusul saja. Biar nggak canggung. Kalau kita langsung interview dia bersama, takutnya dia malah grogi. Atau kalau ternyata dia sudah punya calon, kasihan anak Bunda itu kalau ketahuan patah hati,” kata Bu Aisyah tanpa mengalihkan pandangan dari isi panci.


“Oh, jadi ini misi rahasia?” tanya Via sambil mengulum senyum.


Ibu muda itu bangkit mengambil sayuran dan pisau. Ia menyodorkan ke depan Azka.


“Nih, dipotong-potong! Masa di dapur bukannya bantu malah bengong begitu,” ucap Via.


“Siapa yang bengong? Azka lagi bikin rancangan, kok,” sahut Azka.


Cowok itu mengambil pisau dari tangan Via. Dengan cekatan, ia memotong sayuran yang Via sodorkan.


“Rancangan tentang apa yang akan kamu lakukan saat ketemu Meli? Ngapain dirancang-rancang? Ujung-ujungnya aku dan bunda yang bertugas ngorek informasi,” cibir Via.


“Siapa tahu nanti malam sudah ada informasi yang jelas. Kan besok Azka sudah bisa mengambil sikap,” kata Azka.


“Sikap bagaimana? Kamu mau jalan bareng, begitu?” potong Bu Aisyah.


“Nggak apa-apa, kan? Bunda kan pernah muda. Memang dulu nggak pernah jalan berduaan sama ayah?” tanya Azka.


“Pernah, tapi setelah kami menikah. Tuh, kakakmu juga gitu. Sebelum menikah, mereka nggak pernah jalan-jalan berduaan, kan?” Bu Aisyah membalikkan pertanyaan Azka.


Azka terdiam. Ia mengingat hubungan kakaknya dengan Via.


“Ah, itu kan karena dulu Mas Farhan dan Mbak Via menyembunyikan pernikahan mereka,” sanggah Azka.


“Sembarangan! Sebelum nikah, Dek. Memang aku pernah jalan berduaan bareng Mas Farhan?” Via memelototi Azka.


Azka meringis sambil menggaruk kepala.


“Ah iya, dulu kan Mas Farhan dan Mbak Via nikahnya terburu-buru. Mana ada kesempatan buat pacaran?” Azka masih berusaha menyerang kakak iparnya.


“Kalau kamu memang mantap, ya kayak gitu. Lamar lalu nikah, GPL, gak pakai lama,” tegas Bu Aisyah.


“Wih, Bunda gaul juga. Tahu GPL segala,” Azka meledek bundanya.


Via terkekeh mendengarnya. Ia ingat kalau Bu Aisyah salah satu guru yang diidolakan siswa di sekolahnya, termasuk dia.


“Gaulnya juga dengan anak muda, jadinya ikut terbawa, Dek,” kata Via.


Bu Aisyah ikut terkekeh. Ia mengambil pemanggang untuk memanggang bawal.


“Pokoknya, Bunda minta nggak ada proses pacaran. Kalau memang sama-sama suka, sudah sepakat, resmikan saja biar nggak zina. Tuh Mas Edi juga nggak pakai pacaran,” kata Bu Aisyah menegaskan.


Azka terdiam. Tiba-tiba senyumnya mengembang. Tentu saja Via yang melihat hal itu menjadi heran.

__ADS_1


“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri nggak jelas begitu?” tanya Via.


“Mbak, memang nikah tu enak apa nggak, sih?”


“Oh, kamu lagi bayangin nikah sama Meli, ya?” ledek Via.


“Udah, tinggal jawab enak apa enggak, pakai berbelit,” sungut Azka.


Via tersenyum. Terbersit keinginan untuk meledek Azka lagi.


“Enaknya cuma 1%, Dek.”


Azka tampak terkejut. Ia menghentikan kegiatannya, menatap kakak iparnya.


Via mengangguk mantap. Tak lama senyumnya mengembang.


“Hooh. Yang 99% enak banget,” ucap Via cepat disusul tawanya.


Bu Aisyah ikut tertawa mendengar ucapan Via. Sementara, Azka justru melotot. Bibirnya dimajukan beberapa mili.


“Penasaran, kan? Udah praktekin aja! Beikan menantu satu lagi buat Bunda!; canda Bu Aisyah di sela tawanya.


Dapur pun dipenuh gelak tawa ketiganya. Tak terasa, pekerjaan mereka selesai. Hidangan untuk berbuka telah siap. Ketiganya segera membersihkan diri.


*


“Meli sudah sampai mana, Ka? Dia ngasih tahu, nggak?” tanya Bu Aisyah usai menghabiskan makanannya.


“Dia nggak tahu. Pokoknya jadwal keretanya sampai Jogja jam 7 lewat,” jawab Azka.


“Kalau begitu, habis makan kamu berangkat ke stasiun! Kamu salat isya di masjid dekat stasiun biar Meli nggak nunggu terlalu lama. Takutnya dia hilang lagi atau  HP-nya low batt lagi,” saran Via.


“Iya, Mbak. Tenang, kali ini dia bawa power bank. Tadi pagi sudah kupastikan benda keramat itu tidak lupa dibawa,” sahut Azka.


Azka tidak memedulikan ucapan kakaknya. Ia asyik menikmati kolak.


“Kamu jangan terlalu berharap, ya! Siapa tahu Meli sudah punya calon. Di samping itu, mungkin ia tidak menyukaimu atau menyukaimu sebatas teman dan tidak mau lebih. Atau kemungkinan lain dia tidak mau menikah dalam waktu dekat, masih ingin bebas, maunya pacaran dulu agar saling mengenal. Ayah bukan mendoakan yang jelek, Ka. Ayah cuma tidak mau kamu patah hati,” nasihat Pak Haris bijak.


“Jadi, kamu harus menyiapkan kemungkinan buruk. Semua bisa terjadi, Ka,” tambah Bu Aisyah.


Azka mengangguk sambil terus mengunyah pisang.


“Sudah setengah tujuh lewat, lo! Apa nggak sebaiknya berangkat sekarang?” Via mengingatkan.


Azka terperanjat. Ia buru-buru menghabiskan sisa kolaknya. Kemudian, ia berpamitan ke stasiun.


“Nggak perlu aku temani? Kan kalau ada  laki-laki dan perempuan berduaan, yang ketiganya setan,” Farhan menawari.


“Mas Farhan mau jadi setannya?” ledek Azka sambil melangkah meninggalkan meja makan.


“Sembarangan! Dasar adik durhaka!” seru Farhan.


Azka tak menghiraukan Farhan. Ia menuju kamarnya mengambil dompet  dan gawai. Langkahnya begitu ringan menuju garasi.


Saat menyalakan mesin mobil, Azka terkejut. Mesin tidak mau menyala. Ia terpaksa turun dari mobil bundanya.


“Bunda, mobilnya  nggak bisa distater. Gimana ini?” Azka mulai panik.


“Pakai mobil Ayah!” saran Pak Haris.

__ADS_1


Azka tampak ragu. Selama ini dia terbiasa mengemudikan mobil bundanya.


“Azka  nggak pede pakai mobil manual,”desis Azka.


“Yah, cowok kok cuma bisa pakai yang matik. Motor juga ompong,” ejek Farhan.


“Kok ompong?” Via tidak mengerti maksud suaminya.


Farhan terkekeh mengetahui kebingungan Via.


“Motor matik atik berarti nggak pakai persneling alias gigi. Kalau nggak ada giginya kan ompong,” tutur Farhan.


Via tertawa. Sementara Azka tampak gelisaah.


“Dianter Pak Yudi saja, Dek! Kelamaan mikir malah terlambat, lo! ujarnVia.


“Ya sudah, bolehlah.”


Akhirnya, Azka pergi berdua dengan Pak Yudi. Dia berulang kali melirik jam digital mobil.


“Tenang, Mas. Insya Allah nggak terlambat. Bahkan, kita bisa jamaah salat isya dulu, kata Pak Yudi yang merasakan kegelisahan Azka.


“Iya, Pak.”


Benar saja, mereka masih keburu salat isya berjamaah di masjid. Mereka punmasih  harus menunggu sekitar 15 menit sebelum ada teriakan memanggilnya.


“Mas Azka!”


Azka melihat gadis berhijab keluar sambil menyeret koper. Bukan hanya satu, melainkan dua orang. Mereka memamerkan senyuman kepada cowok itu. Azka menyipitkan matanya. Ia bingung mengapa ada 2 gadis yang ia jemput.


“Assalamualaikum. Kok bengong?” ucap Meli.


“Eh, waalaikum salam. Emm...katanya sendiri. Ini siapa?” Azka mengungkapkan kebingungannya.


“Oh, ini Anjani. Dia sahabat Meli sejak dulu. Alhamdulillah kami masih bisa bersama menuntut ilmu,” jawab Meli.


“Saya Anjani,” ucap gadis di sebelah Meli sambil menangkupkan tangan di depan dada.


“O, saya Azka,” sahut Azka dengan sikap sama.


“Idih, formal amat? Masa pakai ‘saya’.” Meli protes.


Azka dan Anjani tertawa. Mereka baru menyadari kekakuan sikap mereka.


“Kalian mau salat dulu?” Azka mengajukan penawaran.


“Sudah, kok. Tadi kami ke musala dulu, menjamak maghrib dan isya,” jawab Anjani.


“Bagaimana kalau kita pulang sekarang? Eh, maksudku kita ke rumahku,” kata Azka.


Meli dan Anjani saling tatap. Kemudian, mereka mengangguk.


“Ayo, Mas! Meli pengin istirahat. Punggung rasanya super duper pegel,” ujar Meli sambil mengusap pinggang.


Azka mengajak Meli dan Anjani menuju mobil milik Via. Azka membantu memasukkan koper  mereka ke dalam bagasi. Pak Yudi segera melajukan mobil begitu mereka siap.


***


Bersambung.

__ADS_1


Tunggu misi Via dan Bu Aisyah menginterogasi Meli, ya! Yang belum tahu Meli dan Anjani, baca dulu novel Kak Indri Hapsari, Cinta Strata 1! Jangan lupa dukung karya kami dengan meninggalkan like juga komentar!



__ADS_2