SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Mengatasi Masalah


__ADS_3

Via sudah kembali ke Jogja. Ia bersama keluarga kembali menjalani rutinitas sehari-hari.


Pengawal selalu menjaga ke mana pun ia dan anggota keluarganya pergi. Tentu saja Edi tidak mau kecolongan. Apalagi urusan Rahardian belum selesai.


Bu Hani dan anaknya sudah dikirim ke Medan. Sementara gadis yang sempat terluka, masih dirawat di pusat rehabilitasi mental. Pasca sembuh dari luka akibat lemparan pisau, ternyata mental gadis itu terganggu. Gadis yang belum diketahui identitas lengkapnya itu kemungkinan mendapat tekanan sangat berat saat disekap.


Via dan Farhan terus berupaya keras untuk menyelesaikan masalah dengan Rahardian. Kakek Adi pun terus membantu mereka.


Sambil menyiapkan acara lamaran Ratna, Via dan Farhan mencari jalan keluar untuk masalah mereka. Sengaja hal itu tidak disampaikan kepada ayah bundanya. Keduanya tak ingin Pak Haris dan Bu Aisyah terbebani.


Saat ini, Pak Haris dan Bu Aisyah sedang sibuk merawat Eyang Probo di kediaman eyang kandung Farhan. Orang tua itu tidak mau tinggal di rumah selain rumahnya. Bu Aisyah pun mengalah. Meski ada banyak ART, tetap saja anak memiliki kewajiban berbakti, merawat orang tua.


Sore itu, Via dan Farhan sengaja pulang bersama. Pak Yudi ke kantor Wijaya Kusuma terlebih dahulu.


"Kita mampir ke rumah Eyang Probo, kan?" tanya Via begitu Farhan menyusulnya masuk mobil.


"Tentu. Kita juga minta ayah dan bunda menghadiri lamaran Ratna," jawab Farhan.


Via mengangguk. Ia memang sudah bertekad membantu Rio dan Ratna.


"Kasihan Mas Rio," gumam Via.


Farhan menoleh ke istrinya. Ia tahu persis kalau Via memiliki perasaan yang mudah tersentuh. Apalagi berkaitan dengan orang tua.


"Apa kita perlu mengundang mamanya Lia agar datang?" Via meminta pendapat Farhan.


"Mas rasa nggak usah. Coba besok kita bicarakan dengan Rio. Kalau dia berbesar hati meminta restu dari papa mama Lia, itu lebih baik. Bagaimana pun, mereka yang merawat Rio sejak kecil, membiayai Rio hingga sarjana. Tapi kalau Rio belum bisa, kita tak usah memaksa. Biarkan Rio menyembuhkan lukanya," jawab Farhan lembut.


Via mengangguk setuju. Ia makin mengagumi suaminya.


"Bagaimana dengan orang tua Ratna? Mereka sudah tahu rencana kita? Ratna sudah pulang, kan?" tanya Farhan memastikan.


"Saat ini Ratna sedang di rumah orang tuanya. Tadi siang dia pulang. Mungkin dia baru membicarakan rencana lamaran sekarang. Kita tunggu kabar dari Ratna nanti malam."


Tak terasa mereka telah sampai rumah. Zayn menyambut ayah bundanya dengan gembira.


Aroma segar khas bayi menyeruak begitu mendekati Zayn yang masih digendong Bu Inah. Usai mencuci tangan, Via menyambut uluran tangan Zayn.


Bayi yang hampir genap setahun itu selalu bisa membuat Via dan Farhan lupa rasa lelahnya. Tawa Zayn mampu meredakan penat pikiran orang tuanya.


Ketika malam telah tiba, seperti biasa Via meninabobokan Zayn. Farhan menemani dengan rebahan di samping Zayn.


"Sudah terlelap?" tanya Farhan dengan suara berbisik.


Via mengangguk. Perlahan ia bangun dari posisinya.


"Ada kabar penting, nih. Ini tentang Jaya Sakti Persada," kata Farhan.


"Ada apa? Apa ada perkembangan tentang kesepakatan dengan Wijaya Grup?" tanya Via lagi.

__ADS_1


"Bukan. Tapi soal sahamnya. Penutupan sesi siang saham mereka turun drastis. Dua perusahaan rekan bisnis mereka memutuskan kontrak kerja sama. Kemungkinan mereka akan terguncang. Kita tunggu kabar mereka selanjutnya," jelas Farhan.


"Hubbiy tahu dari mana? Dari portal berita atau seseorang?" Via ingin memastikan.


"Nandar, sekretarisku yang mengirimkan. Mungkin ini bisa jadi titik awal rencana kita menekan Rahardian agar tidak semena-mena."


Via mengangguk, menyetujui ucapan Farhan. Namun, masih ada yang mengganjal pikiran Via.


"Tapi kok Via merasa aneh, ya? Kenapa tiba-tiba saham mereka anjlok? Lalu dua perusahaan itu, kenapa mereka memutuskan kontrak? Apa mereka tidak takut merugi?" gumam Via.


"Entahlah. Mungkin Senin kita akan mendapatkan kabar lebih rinci."


"Apa Kakek Adi ikut andil dalam hal ini? Mungkinkah kakek yang memerintahkan anak buahnya merontokkan saham Jaya Sakti Persada?"


Farhan menatap istrinya. Dia mencerna ucapan Via baik-baik.


"Mungkin juga. Tapi, kita jangan berprasangka dulu! Kita tunggu kabar selanjutnya. Sebentar, aku hubungi Nandar untuk mencari tahu," kata Farhan.


Keduanya bangkit dari ranjang. Masing-masing memegang gawai, menghubungi orang yang berbeda.


Via menghubungi kakeknya. Ia menanyakan langsung kepada sang kakek tentang keterlibatan pemilik Wijaya Grup itu dalam kasus anjloknya saham Jaya Sakti Persada.


Sementara, Farhan menghubungi sekretarisnya untuk memastikan lebih jauh tentang Jaya Sakti Persada. Ia juga menghubungi Edi untuk masalah yang sama.


"Kakek tidak terlibat. Waktu itu, Via sudah minta agar kita bermain halus," kata Via.


"Hemmm, kalau bukan Kakek Adi, apa ada orang lain yang mengincar Jaya Sakti Persada? Orang itu tentu bukan orang sembarangan. Dia tentu punya kekuasaan dan jaringan bisnis yang kuat," gumam Farhan.


"Bagi kakek, hal semacam ini tentu sangat mudah. Tapi, bagaimana dengan perusahaan yang memutuskan kontrak itu? Apa mereka dalangnya?" Farhan mencoba menghubungkan.


Via segera mencari profil perusahaan yang Farhan maksud. Sayangnya, Via tidak dapat menemukan informasi detail tentang perusahaan itu.


"Ya sudah, kita tunggu saja sampai ada kabar dari Nandar. O ya, Ratna sudah memberi tahu tentang tanggapan orang tuanya?" Farhan mengalihkan topik pembicaraan.


"Ah, iya. Via belum mengecek pesan yang masuk."


Via segera membuka aplikasi WA. Ia menemukan 3 pesan dari Ratna.


[Aku sudah di rumah sejak jam 1. Ruko dipegang Mbak Mira dan Salsa. Yang lain juga pastinya.]


[Aku mau ngomong sama bapak dan ibu nanti habis ashar. Deg-degan nih. Doakan lancar, ya!]


[Alhamdulillah, bapak dan ibu tidak keberatan. Mereka menanyakan kepastian rencana lamaran. Aaagh...aku malah jadi deg-degan terus, nih. Apa kamu dulu juga gitu? Ah, aku lupa kalau dulu kamu nggak pakai acara lamaran formal.]


Via terkekeh membaca pesan dari sahabatnya. Ia segera mengetik balasan.


"Kok tertawa? Bagaimana orang tua Ratna? Mereka setuju?" tanya Farhan penasaran.


"Iya, setuju. Bentar, Via mau balas chatt Ratna. Dia masih deg-degan," jawab Via dengan masih tertawa.

__ADS_1


[Alhamdulillah, semoga semua berjalan lancar. Maaf, baru balas. Biasa, emak agak rempong hehe....]


Usai mengirim pesan kepada Ratna, Via kembali meletakkan gawainya. Ia menatap lembut sang suami.


"Kenapa? Kok menatap tanpa kedip? Baru nyadar kalau suamimu mempesona?"


Via tertawa mendengar ucapan Farhan yang dalam mode percaya diri tinggi. Ia bangkit dari duduknya, berpindah ke pangkuan Farhan.


Tentu saja Farhan kaget. Tidak biasanya Via seperti itu. Namun, Farhan tak menolak. Ia segera memeluk erat pinggang Via.


"Rasanya ingin berbulan madu lagi. Kita berdua saja, tanpa ada yang mengganggu," bisik Farhan.


Via begidik geli karena hembusan nafas Farhan yang menerpa belakang telinganya.


"Biar nggak seperti Dek Azka dan Meli, ya?"


Farhan terkekeh mengingat bagaimana kesalnya Azka yang terganggu saat ingin bermesraan dengan Meli.


"Kita jail banget, ya?" ucap Via.


"Iya. Makanya, kita buat rencana yang matang untuk bulan madu ulangan kita. Jangan sampai ada yang tahu," sahut Farhan.


"Kalau begitu, tunggu Zayn berusia dua tahun," ujar Via.


"Apa? Dua tahun? Berarti masih lama, dong?" protes Farhan.


Via menggeser posisinya hingga menghadap Farhan.


"Iyalah. Sekarang kan Zayn masih butuh ASI. Kasihan kalau ditinggal berhari-hari. Via nggak akan tenang."


Farhan terdiam. Dalam hati ia membenarkan ucapan Via.


"Kalau begitu, di rumah saja. Tiap malam juga bisa. Gratis, nggak usah sewa hotel," ucap Farhan.


Pria itu segera mengangkat tubuh sang istri. Via memekik kaget. Ia segera menutup mulutnya agar tidak membangunkan Zayn.


"Kamu yang memulai menggoda. Bersiaplah untuk mendapatkan serangan ku," bisik Farhan.


Diletakkannya tubuh langsing Via di atas ranjang. Ia mengungkung istrinya dengan tangan kekarnya. Via pun pasrah dan menikmati yang Farhan lakukan.


***


Bersambung


Terus ikuti cerita ini, ya! Untuk tahu kehidupan Meli yang tengah LDR lagi dengan Azka, tengok novel CS1 karya Kak Indri Hapsari.


Jangan lupa untuk selalu dukung kami dengan memberikan like dan komentar di tiap episode.


Barakallahu fiik

__ADS_1



__ADS_2