
Perkuliahan dan bisnis Via di awal semester ini terbilang lancar. Via dan Ratna bisa membagi waktu dengan baik. Apalagi Mira dan Salsa cukup dapat diandalkan.
Menginjak minggu ketiga mereka tidak mendapat hambatan berarti. Apalagi teror seperti beberapa waktu sebelumnya.
Eyang Probo sudah mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk. Sebelum ditempati, ruko tersebut telah dipasangi CCTV yang terhubung ke smartphone Azka. Ada 4 CCTV di luar dan 2 CCTV di dalam. Via pun tidak mengetahui hal tersebut. Selain itu, Eyang Probo juga sudah menyewa bodyguard yang bertugas mengawasi Via secara diam-diam.
Hal ini juga tidak Via ketahui. Hanya perasaan Via yang terkadang merasa ada yang membuntuti. Ratna pun demikian.
"Vi, kayak ada yang aneh. Perasaan seperti ada yang mengawasi kita," bisik Ratna saat mereka berjalan menuju kampus.
"Aku juga. Tapi, aku tidak melihat ada sosok mencurigakan di sekeliling kita," kata Via dengan berbisik pula.
"Aku khawatir akan ada teror lagi. Apalagi usaha kita kan terbilang bagus. Yang kutakutkan itu memicu orang lain iri."
"Sudahlah, kita pasrahkan saja kepada Yang Mahakuasa. Dia sebaik-baik tempat kita bersandar, memohon pertolongan."
Ratna sedikit tenang. Via sendiri tidak mengabaikan kemungkinan akan adanya teror lagi. Namun, saat mulai gelisah, ia selalu berzikir dan memohon perlindungan kepada Allah.
Hari itu menjadi hari yang melelahkan bagi Ratna. Ia berangkat dalam suasana diliputi kekhawatiran. Ada tiga mata kuliah yang diikuti hari itu dan semua ada kuis.
Bagi Via, tentu kuis atau apa pun jenis ujiannya tidaklah masalah. Di samping dikaruniai otak yang cerdas, ia juga memiliki manajemen waktu yang bagus.
"Mukamu kusut amat," tegur Via.
"Gimana nggak kusut, tiga kuis membuat otakku mendidih. Masa sih, semua mata kuliah ada kuisnya. Mending kalau berhadiah," gerutu Ratna.
"Eits, tunggu! Kamu bilang otakmu mendidih?Tinggal tuang, dong!" Via malah meledek sahabatnya.
"Iya, kasih gula kopi terus aduk." Ratna semakin kesal.
Via menahan tawanya. Ia tidak ingin suasana hati sahabatnya memburuk.
"Kalau begini, aku jadi kangen Bu Aisyah."
"Kenapa selama liburan kamu nggak main ke rumah? Kamu juga nggak kangen aku?"
"Aku kangen soal ulangan Biologi," desis Ratna.
Kali ini Via tidak dapat menahan tawanya. Namun, ia segera menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Kamu sehat, kan? Atau kita ke dokter sekarang?" Via bertanya dengan nada seolah khawatir.
"Ish, apaan sih? Kalau Bu Aisyah kan ulangannya enak. Mau ulangan, dikasih tahu dulu. Nggak cuma waktunya, juga kisi-kisi soalnya. Belajarnya kan terarah."
"Tapi dulu kamu ngeluh soalnya sulit," sindir Via.
"Iya. Sekarang aku baru sadar."
"Hadeeeh, dulu mabok, pingsan, apa mati suri, Neeeng?" batin Via geregetan.
Pembicaraan mereka terhenti karena Via memilih menerima panggilan masuk.
"Assalamualaikum."
....
"Alhamdulillah baik. Kamu gimana? Sudah sembuh? Sudah berangkat ke Bandung?"
__ADS_1
....
"Oh, begitu. Semoga lancar, ya."
....
"Kecelakaan? Kejadian waktu kita SMA atau yang membuat kamu patah tulang? Kamu tahu pelakunya? Siapa, Don?"
....
"Oke. Kamu mau ketemu di mana?"
....
"Insya Allah aku bisa. Aku ajak Ratna, ya."
....
"Waalaikumsalam."
Setelah menutup pembicaraan, Via menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas.
"Siapa yang telepon, Vi? Kok nyebut-nyebut namaku?" tanya Ratna penasaran.
"Doni," jawab Via singkat.
"Doni teman SMA kita?"
"Iyalah. Memang ada berapa Doni yang kita kenal?"
"Satu, hehehe...."
"Lah, gitu aja sewot. Eh, Doni ngajak ketemuan, ya? Memangnya Doni masih di rumah?"
"Iya, Doni baru operasi pencopotan pen. Lusa dia balik ke Bandung karena sudah bolos 3 minggu meski ada dispensasi. Dia ngajak ketemu aku besok siang. Kamu bisa ikut, kan?"
"Kamu nggak berani kalau sendiri?"
"Bukan nggak berani, tapi menghindari fitnah, Fulgoso."
"Aku nggak ganggu? Siapa tahu Doni mau nembak kamu," kata Ratna sambil tersenyum dan memainkan alisnya.
Via melotot sambil mendengus kesal.
"Ngaco, kamu! Emangnya aku papan sasaran tembak?"
"Yeee, kan Doni naksir kamu. Semua orang juga tahu itu, kok. Kali aja sekarang sudah punya nyali buat ngungkapin perasaannya ke kamu. Besok aku tinggal minta pajak jadian."
"Ish, kau ini. Doni mau membicarakan kasus kecelakaan yang menimpaku dulu. Kamu masih ingat peristiwa itu?"
"Hah?! Kamu ditabrak motor itu? Tentu saja aku masih mengingatnya. Bagaimana bisa lupa? Dua kali kamu ditabrak motor. Aku kan lihat sendiri waktu kamu terkapar. Emang Doni tahu pelakunya? Si ubur-ubur, ya?" Ratna terkejut.
"Entahlah. Kamu jangan berprasangka dulu!Doni bilang mau mengatakan hal ini langsung besok. Nggak enak kalau lewat telepon."
"Oh, begitu."
"Kamu bisa temani aku, kan? Besok kita nggak ada kuliah. Toko biar Mbak Mira dan Salsa yang hendle."
__ADS_1
"Oke deh. Aku juga penasaran. Kok Doni bisa tahu, ya?"
"Makanya, kamu ikut aku besok."
"Iya, Marimar."
Mereka bergegas pulang karena pekerjaan di toko sudah menunggu.
Sesampai di ruko, mereka melihat Mira dan Salsa tidak begitu sibuk. Hanya ada tiga pengunjung yang tengah melihat-lihat gamis dan mukena.
"Mbak Mira, Salsa, besok aku dan Ratna mau keluar. Bisa hendle kayak hari biasa saat kami kuliah, kan?"
"Maaf, Kak Via. Salsa boleh ngomong?" Salsa menyela.
"Tentu saja. Ada apa?" tanya Via.
"Ee...begini. Besok malam ada acara arisan RT. Ibu minta Salsa membantu menyiapkan hidangan untuk acara itu. Kalau boleh, Salsa ..."
"Ngomong saja, Sa! Jangan ragu-ragu gitu!" potong Ratna.
"Salsa mau minta izin," lanjut Salsa sambil menunduk.
"Maaf, Sa. Bukannya aku nolak. Tapi, besok aku dan Ratna juga harus pergi. Kalau cuma Mbak Mira yang jaga toko, tentu kewalahan karena sudah 2 kali hari Sabtu pengunjung ramai."
"Jadi, nggak bisa izin nggak masuk, ya?"
"Tunggu! Maaf kalau lancang!" Mira menyela.
"Gimana, Mbak?" tanya Ratna
"Via, Ratna, kalian perginya jam berapa?"
"Sekitar jam 10 sampai jam 12," jawab Via.
"Nah, acara di rumah Salsa kan malam. Bagaimana kalau Salsa besok masuk setengah hari, dari pagi sampai siang? Ratna dan Via begitu selesai urusan kalian, segeralah pulang! Itu usulku," kata Mira.
Via tersenyum. Ia bisa menerima usul Mira.
"Aku setuju. Tapi bagaimana dengan Salsa?"
"Aku juga setuju. Nanti kujelaskan pada ibuku. Pasti ibuku bisa mengerti."
"Kalau sekarang kamu mau pulang, pulanglah. Barangkali ada yang bisa kamu cicil untuk persiapan besok," kata Via lagi.
"Baiklah. Terima kasih atas pengertian Mbak Via."
"Biasa aja keles. Sudah, sana pulang!" perintah Ratna.
"Ya, Mbak, terima kasih. Assalamualaikum," ucap Salsa sambil menyambar tasnya. Tak lama kemudian, terdengar bunyi sepeda motor meninggalkan ruko.
Via, Ratna, dan Mira kembali melayani pelanggan.
***
Bersambung
Tunggu pertemuan Via dan Ratna dengan Doni! Apa semuanya terungkap?
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak koment dan like!
Yang punya poin/koin, bolehlah disumbangkan agar Author tambah semangat.