SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bantuan


__ADS_3

Farhan terus berusaha mengumpulkan data-data kejanggalan keuangan perusahaan. Ia dengan gigih mencatat temuan-temuan sekecil apa pun. Tidak lupa, ia melaporkan temuannya kepada Pak Arman.


Farhan bekerja secara diam-diam. Setiap ada orang lain yang mendekat, ia selalu meminimize layar yang menampilkan laporan tahun-tahun silam. Ia tidak ingin ada yang tahu agar pengungkapan oknum pelaku penyelewengan laporan lebih mudah.


Baru saja Farhan menutup laptopnya, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk.


Arman


[Pak Andi baru mengirimkan pesan agar kita menemuinya. Ada hal penting yang akan dibicarakan.]


Farhan segera mengetik pesan balasan.


[Baik, Om. Jam berapa dan di mana?]


Arman


[Nanti Pak Andi akan mengirimkan lokasi. Setelah saya pergi, Mas Farhan segera menyusul.]


Farhan


[Siap.]


Beberapa detik kemudian, pesan dari Pak Andi masuk berisi lokasi. Farhan pun berkemas.


Sekitar 5 menit setelah Pak Arman pergi, Farhan keluar. Ia berpamitan kepada stafnya.


"Saya ada tugas menemui seorang klien. Kalau ada hal penting, segera kabari!"


"Baik, Pak," sahut perempuan berusia sekitar 40 tahun itu.


Tak lam kemudian, motor matik yang dikendarai Farhan sudah meliuk-liuk di jalan raya. Butuh waktu hampir satu jam untuk sampai lokasi.


Sebuah rumah sederhana dengan luas sekitar 50 meter persegi. Rumah tersebut tampak terpencil karena jauh dari bangunan lain.


Farhan tampak ragu. Ia kembali melihat ponselnya untuk mengecek kebenaran lokasi. Ia baru benar-benar yakin saat sebuah mobil putih memasuki halaman. Farhan hafal, itu mobil Pak Arman.


Mereka pun masuk ke teras bersama. Baru saja kaki Farhan menjejak teras, pintu telah terbuka. Tampak sosok Pak Andi dari balik pintu.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Pak Arman dan Farhan bersama.


"Waalaikumsalam. Pak Arman dan Mas Farhan tadi bareng dari kantor?"


"Enggaklah. Saya dulu sebetulnya. Mungkin rutenya beda. Lagian Mas Farhan pakai motor, tentu lebih cepat," jawab Pak Arman.


"Silakan masuk," kata Pak Andi.


"Ini rumah siapa, Om?" tanya Farhan sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Rumah ini kami yang sewa," ucap seorang pria bertubuh tegap sembari melangkah masuk ruang tamu.


"Nama saya Edi. Saya tinggal di sini bersama tiga teman saya. Mari ke dalam," kata orang itu lagi.


Mereka berjalan beriringan masuk ke sebuah ruangan yang lebih luas. Tiga orang pria lain telah menunggu di sana.


"Mari saya perkenalkan. Yang pakai kemeja putih itu namanya Santo, yang pakai T-shirt biru Hendrik, dan Teguh yang memakai jaket kulit." Edi memperkanalkan tiga pria tersebut. Mereka bersalaman dan bertukar senyum ramah.


"Mungkin Mas Farhan dan Pak Arman bingung siapa mereka. Ceritanya begini, saya dihubungi Pak Chandra beberapa hari yang lalu. Beliau menanyakan perkembangan perusahaan. Saya jelaskan apa adanya termasuk temuan kejanggalan laporan dari Mas Farhan."


"Lalu, bagaimana tanggapan beliau?" Nada Pak Arman sedikit khawatir.


Pak Arman dan Farhan menarik nafas lega.


"Untuk membantu penyelidikan Mas Farhan, Pak Candra menugasi kami. Hendrik dan Teguh adalah orang yang sudah biasa berkecimpung di dunia IT. Mereka akan membantu menyelidiki siapa yang telah memanipulasi laporan. Selain itu, mereka juga akan memperkuat keamanan data perusahaan."


"Begini, Pak Arman, Mas Farhan juga. Kami curiga ada yang membobol data perusahaan. Nah, ini menjadi celah bagi lawan untuk menjatuhkan sebuah perusahaan. Kami akn cek hal tersebut," ucap Hendrik.


"Oh, begitu. Masuk akal juga yang dikatakan Tuan Hendrik," kata Pak Arman.


"Jangan panggil Tuan! Kesannya saya atasan Bapak," sahut Hendrik.


"Benar, Pak. Silakan panggil kami dengan menyebut nama saja," sambung Santo.


"O ya, saya belum menjelaskan tugas saya. Saya bertugas menjaga keselamatan keluarga pemilik dan pimpinan PT Wijaya Kusuma. Saya mengkoordinir beberapa orang yang saya sebar," terang Edi.


Farhan melongo. Ia tidak mengira begitu besar perhatian Pak Chandra. Dia pikir, Pak Chandra hanya memikirkan keuntungan finansial.

__ADS_1


"Dari cerita Pak Andi, kami menyimpulkan adanya ancaman serius kepada keluarga almarhum Pak Wirawan dan mungkin juga orang terdekat. Oleh karena itu, kita berusaha melindungi dan menjamin keselamatan semua orang yang berkaitan dengan PT Wijaya Kusuma. Saya mohon kerja sama semuanya, kami membutuhkan informasi yang akurat. O iya, teman saya Santo ini membantu Pak Arman dan Mas Farhan mengelola perusahaan sekaligus membantu Hendrik dan Teguh mengungkap oknum-oknum yang membobol data perusahaan," lanjut Edi.


"Kita juga menyiapkan strategi untuk membalas mereka. Kita selidiki dulu orang-orang yang terlibat. Setelah jelas, baru kita ambil tindakan," tambah Santo. "O ya, saya bukannya akan turut campur dalam pengambilan keputusan nantinya. Saya hanya akan memberi pertimbangan-pertimbangan yang mungkin bisa dijadikan dasar dalam menentukan arah kebijakan perusahaan."


"Lalu, apa kalian akan berkantor di tempat kami?" tanya Pak Arman berhati-hati.


Edi tertawa kecil. Kemudian, ia menjelaskan,"Tidak, Pak Arman. Justru kami bekerja secara diam-diam, jangan sampai pegawai Bapak tahu. Apalagi musuh-musuh almarhum Pak Wirawan. Bapak lihat sendiri kondisi rumah yang kami sewa. Cukup terpencil, bukan? Memang sengaja kami memilih tempat seperti ini agar tidak mudah dipantau lawan, tetapi malah kami yang mudah memantau lawan."


"O iya, soal gaji atau honor atau apalah namanya, tidak usah Bapak pikirkan. Semua sudah dicover Pak Chandra, termasuk sewa rumah dan biaya hidup kami," imbuh Santo.


"Mohon keberadaan kami dirahasiakan. Jangan membicarakan tentang kami di hadapan orang lain. Kalau mau bertemu, silakan menghubungi terlebih dahulu. Kontak kami ada pada Pak Andi, sedangkan kontak Pak Arman dan Mas Farhan sudah kami simpan," pinta Teguh dengan wajah datarnya.


Pak Arman mengangguk-angguk paham. Ia merasa lega karena kedatangan orang-orang yang akan membantunya tidak membebani keuangan perusahaan.


Farhan pun demikian. Namun, ada yang mengganjal dalam pikirannya.


"Siapa sebenarnya Pak Chandra? Kalau dia sebatas investor, tidak mungkin berbuat sejauh ini. Apa ada maksud tersembunyi di balik perhatian yang begitu besar? Kalau aku tanya Om Arman, sepertinya beliau nggak tahu. Lebih baik aku tanya Om Andi. Sepertinya beliau lebih mengenal Pak Chandra. Aku khawatir kalau kebaikannya sekarang harus ditebus mahal di kemudian hari," pikir Farhan.


"Mas Farhan, mari kita pulang," ajak Pak Arman.


Farhan tidak mendengar perkataan Pak Arman. Ia masih larut dalam lamunan.


"Mas, mikir apa? Kangen Mbak Via? Kan tinggal disamperin kayak anak-anak muda ngapelin pacarnya," ledek Pak Andi sambil menepuk bahu Farhan.


Farhan terkejut. Ia merasa malu ketika orang-orang tertawa.


"Eh, iya Pak," jawabnya asal.


"Mari pulang. Hari sudah mulai gelap, sebentar lagi magrib," ucap Pak Arman.


Mereka bertiga akhirnya meninggalkan rumah itu bersama menggunakan kendaraan masing-masing.


****


**Bersambung


Terus dukung author, ya! Tinggalkan like, koment, dan vote!

__ADS_1


Terima kasih buat readers yang setia mendukung author. 😘😘😘**


__ADS_2