
Sejak kejadian di mall, tiap hari Via merasa mual sehabis makan. Bahkan, seringkali makanan yang baru masuk lambungnya harus dikeluarkan lagi.
Tubuh Via pun menjadi lebih kurus. Memang, susu untuk bumil selalu ia konsumsi. Namun, itu tak banyak membantu karena asupan makanan yang berhasil dipertahankan di lambung tak sebanding dengan kebutuhan energinya.
Farhan sebenarnya tersiksa setiap kali melihat istrinya mutah. Tubuh kurus Via membuat Farhan trenyuh.
“Andai aku bisa menggantikan, lebih baik aku saja yang merasakan. Hatiku sakit setiap kali melihatmu begini, Cinta,” gumam Farhan sambil membelai rambut Via.
Sang istri tidak bergeming sedikit pun. Ia sudah terlelap dalam tidurnya.
Mata Farhan berkaca-kaca melihat dada Via yang terlihat semakin tipis naik turun teratur. Hatinya seperti teriris memperhatikan istrinya. Tak terasa air mata yang semula menggenang, lolos dari pelupuk dan meluncur menelusuri pipi. Tetes-tetesan air mata Farhan jatuh ke wajah Via.
Via terkejut. Ia merasakan pipinya basah. Dikerjapkannya mata yang semula terpejam. Meski cahaya lampu kamar temaram, Via masih bisa menangkap sumber air yang membuat pipinya basah.
“Hubbiy, kenapa Hubbiy nangis? Hubbiy sakit?” tanya Via dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Farhan tersentak. Ia baru menyadari kalau air matanya membuat Via terbangun.
“Maaf, Cinta jadi terbangun. Tidurlah lagi!” ujar Farhan sembari menyeka air matanya.
Via bukannya memejamkan mata lagi malah bangkit dari posisi berbaringnya. Ia duduk bersandar pada ranjang.
“Hubbiy, cerita dong kalau memang Hubbiy sakit. Jangan pura-pura kuat di hadapan Via. Hubbiy tentu lelah seharian bekerja mengurus perusahaan. Maafkan Via yang tidak bisa bantu untuk saat ini. Padahal, itu kan tanggung jawab Via,” sesal Via.
Farhan mengubah posisinya. Sekarang, ia duduk sejajar dengan sang istri. Tangan Farhan menyelusup ke belakang punggung Via hingga tubuh Via condong ke Farhan.
“Cinta ngomong apa, sih? Mas nangis bukan karena lelah apalagi sakit. Pekerjaan yang Mas lakukan itu sudah biasa. Masih lebih berat setahun yang lalu, saat Om Danu cs masih beraksi. Sekarang tugas Mas lebih ringan,” papar Farhan.
“Lalu, apa yang membuat Hubbiy menangis?”
Farhan tersenyum lembut meski senyumnya tak dilihat Via. Diusapnya bagian belakang kepala Via.
“Mas terharu melihatmu susah payah mengandung anak kita. Cinta nggak enak makan, mual-mual, mutah, karena pengaruh hormone kehamilan. Andai bisa menggantikan, Mas ingin Mas saja yang merasakan itu,” jawab Farhan dengan suara sedikit bergetar.
“Aduh, Hubbiy! Kalau Hubbiy yang ngidam, Via nggak bisa bermanja, dong! Terus yang kerja siapa? Via kan mesti kuliah,” canda Via ringan.
Farhan mengambil nafas panjang. Ditatapnya wajah tirus sang istri di bawah sinar lampu tidur yang temaram.
“Tapi, hati Mas seperti teriris melihat Cinta seperti itu,” gumam Farhan.
Via malah terkekeh. Ia menggeser pantatnya sehingga tubuhnya menghadap Farhan. Tangan Via terulur membelai wajah tampan sang suami.
“Dengar, Hubbiy! Tidak semua perempuan diberi kesempatan mengandung keturunannya. Tidak semua perempuan merasakan kenikmatan mengandung janin. Bukankah ini merupakan suatu anugerah? Bukankah ini merupakan hal yang patut disyukuri? Setiap sakitnya bumil dapat pahala. Apa itu bukan hal yang luar biasa?“
__ADS_1
Farhan mengangguk. Tenggorokannya terasa tercekat menahan rasa haru yang meluap di dadanya. Akhirnya, ia menarik bahu Via, merengkuh tubuh langsing cenderung kurus itu ke dalam dekapan erat.
“Terima kasih, Cinta. Terima kasih atas semua yang kau lakukan untukku, untuk keluarga kita. Semoga Allah memberkahi keluarga kita. Mas ingin kaulah bidadriku kelak,” ucap Farhan diiringi isak haru.
Dihujaninya sang istri tercinta dengan ciuman penuh kasih.
“Hubbiy, berada di sisimu, mendapat curahan cintamu membuat Via tenang dan bahagia. Asal Hubbiy menyayangi Via, bisa ngertiin Via itu sudah cukup. Insya Allah Via tidak akan merasakan beratnya ngidam. Kita lalui bersama, ya,” pinta Via.
Farhan mengangguk. Mendadak bunyi aneh terdengar.
“Kruyuukk…”
Farhan melepaskan pelukannya. Ia menata Via sambil teraenyum.
“Lapar?” tanya Farhan.
Via mengangguk diiringi senyum malu. “Tadi makanannya cuma bertahan sebentar terus keluar lagi.”
“Cinta ingin makan apa?” tanya Farhan.
Via tampak ragu. Meski ia tidak bisa melihat jam dengan jelas, Via yakin saat ini sudah cukup larut. Mungkin mendekati tengah malam.
“Katakan saja. Mas akan berusaha menyediakan untukmu,” ujar Farhan begitu melihat keraguan.
“Via pengin makan lontong sate. Tapi, ini sudah malam,” gumam Via.
“Biasanya di Jalan Colombo ada yang sampai dini hari masih buka. Mas ke sana. Tunggu, ya! Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Via lirih. Ia tidak mengira Farhan langsunng bergegas mencari penjual sate demi menuruti keinginannya.
Farhan ikhlas bersusah payah menuruti keinginan Via. Ternyata mitos bernama ngidam itu cukup merepotkan. Tidak hanya keinginan makan makanan yang aneh atau di waktu yang tidak lazim. Kadang, Via juga meminta Farhan melakukan hal yang tidak terduga.
Suatu ketika, Via menginginkan kelapa muda yang baru dipetik dari pohonnya. Dan, Via meminta Farhan yang memetik kelapa itu sendiri dengan disaksikan Via.
Tentu saja itu setara naik roller coaster bagi Farhan. Ia meminta bodyguard mencari pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi. Untunglah, mereka menemukan pohon kelapa yang tingginya kurang dari 10 meter. Meski tidak punya pengalaman memanjat pohon kelapa, Farhan nekad memanjat demi mendapat kelapa muda yang diinginkan sang istri.
Sudah sebulan Farhan harus menghadapi tantangan yang terkadang tergolong ekstrim. Farhan pun berusaha memenuhi permintaan Via.
Namun, tidak untuk kali ini. Suatu siang, Via menelepon Farhan dan memintanya pulang membawa es krim. Sebenarnya permintaan itu sangat sederhana apalagi dibandingkan memanjat pohon kelapa. Namun, saat itu Farhan tengah membicarakan hal penting dengan klien. Rengekan Via membuat Farhan jengkel.
“Iya, nanti Mas belikan saat pulang. Sekarang Mas lagi sibuk. Tolong ngertiin Mas, dong!” Farhan menjawab dengan nada ketus. Ia pun segera mematikan ponselnya.
Sebelum pulang, Farhan menyempatkan ke rumah orang tuanya. Ia ingin curhat agar beban pikirannya sedikit berkurang.
__ADS_1
“Kusut amat, Han?” tegur Pak Haris yang tengah bersiap menuju ruang praktik.
“Mana istrimu? Dia sehat, kan?” Bu Aisyah menyusuli pertanyaan.
Farhan duduk di sofa keluarga sembari menyugar rambutnya dengan kasar. Ia mengembuskan nafasnya keras.
“Ada masalah?” Pak haris masih mencecar dengan pertanyaan.
“Farhan pusing dengan permintaan Dek Via akhir-akhir ini. Memangnya ngidam itu wajib bagi bumil? Apa ngidam selalu aneh-aneh?” Farhan balas bertanya.
"Kenapa nanya begitu? Via minta apa, sih?" tanya Bu Aisyah lembut.
Farhan menceritakan permintaan Via dari yang sederhana hingga yang tergolong ekstrim menurut Farhan. Ia juga menceritakan permintaan Via hari itu.
"Astaghfirullah, kamu ngomong ketus sama istrimu? Farhan, perempuan yang sedang hamil itu sangat sensitif perasaannya. Via pasti terluka karena ucapanmu," omel Bu Aisyah.
Farhan menunduk lesu. Pikirannya benar-benar kacau.
"Dengarkan Ayah. Dalam dunia medis, ngidam itu memang tidak ada. Namun, perempuan hamil terutama pada trimester pertama memang biasa terjadi. Hal itu karena adanya perubahan hormon. Kalau ia ingin kelapa muda, kemungkinan itu sinyal dari tubuhnya yang kekurangan kalium. Bumil pada trimester pertama kan sering morning sickness, mengalami mutah hingga kekurangan nutrisi. Dia minta suaminya sendiri yang menuruti keinginannya karena ingin diperhatikan," tambah Pak Haris bijak.
Farhan mencengkeram kuat rambutnya. Ia tampak makin kacau.
"Permintaan Via saat kamu meeting itu belum seberapa dibandingkan bundamu dulu," lanjut Pak Haris.
Farhan mengangkat wajahnya dan menatap ayah bundanya bergantian. Bu Aisyah tersenyum lebar.
"Waktu hamil Azka, bundamu itu minta Ayah pulang membawakan kerak telor. Kau tahu, demi istri dan anak ayah beli kerak telor lalu naik pesawat untuk pulang. Padahal, waktu itu harga tiket termasuk mahal untuk ukuran Ayah yang berstatus mahasiswa. Ayah tidak peduli. Bukan takut adikmu ileran, tapi Ayah khawatir bundamu sedih kalau keinginannya tidak terpenuhi." Pak Haris bercerita masa ngidam sang istri.
Tiba-tiba Farhan bangkit dari duduknya. Wajahnya tampak begitu khawatir.
"Farhan pulang sekarang saja. Farhan khawatir Dek Via kenapa-kenapa," pamit Farhan.
Pak Haris dan Bu Aisyah mengangguk. Mereka membiarkan putra sulungnya segera pulang.
***
Bersambung
Terima kasih atas dukungan pembaca tercinta 😘😘😘
Tetap dukung author ya 🙏
Sambil menunggu up lagi (semoga besok pagi), yuk baca novel bagus ini!
__ADS_1