
Rintik gerimis bertambah deras. Pakaian mereka pun mulai basah. Namun, tak berapa lama tubuh Via telah terlindung dari air hujan. Sebuah payung terbuka melindunginya dari tetesan air yang terus berjatuhan. Si pemegang payung dengan sabar menunggu Via bangkit. Ia tidak memedulikan tubuh kekarnya mulai basah.
“Ayo, pulang! Kasihan anak dalam kandunganmu. Kalau kamu tidak menjaga kesehatan, anakmu juga akan terpengaruh,” ucap Bu Aisyah. Di sampingnya, Pak Haris berdiri memayungi sang istri.
Via menatap gundukan tanah yang ditaburi bunga. Ia perlahan berdiri sambil memegang perut buncitnya.
Di belakang Via, Edi terus mengikuti gerak sang majikan. Ia terus melindungi Via dari tetesan air hujan yang kian deras.
Dengan langkah berat, Via meninggalkan makam yang masih baru. Seolah ia tidak ingin meninggalkan kekasih, inginnya selalu bersama. Kerabat yang lain mengikuti langkah Via.
Sesampai depan gerbang makam, mobil telah disiapkan. ereka pun masuk ke mobil yang membawa mereka ke rumah Via.
“Via, kamu makan dulu, ya! Dari tadi pagi kamu belum makan, kan?” kata Bu Aisyah begitu mereka sampai rumah.
“Via nggak lapar, nggak pengin makan,” ucap Via pelan. Ia duduk di sofa ruang tamu.
“Bunda ngerti. Tapi, kamu harus ingat, yang butuh makanan bukan tubuh kamu. Bayi dalam kandunganmu juga harus kamu pikirkan. Kamu nggak kasihan?”
Via menatap bundanya dengan tatapan sendu. Airmata kembali menggenangi pelupuk matanya. Ia kembali teringat ayah dari bayi yang masih dalam kandungannya.
Akhirnya, Via menurut. Ia melangkah pelan ke ruang makan. Hanya 5 sendok nasi yang berhasil masuk ke dalam perutnya.
“Minumlah susu ini. Setidaknya, anakmu tidak terlalu kekurangan nutrisi. Saat ini, anakmu sedang dalam tahap krusial. Perkembangan otak janin dalam masa perkembangan . Organ vital lain seperti paru-paru juga dalam tahap pematangan. Kamu ingin bayimu sehat, kan?” bujuk Bu Aisyah.
Akhirnya, Via menurut. Ia menghabiskan segelas susu yang telah disediakan.
Via berpamitan ke kamar. Ia merasa tubuhnya tak bertenaga. Kepalanya pun sedikit pusing.
Sesampai di kamar, ia merebahkan tubuhnya ke ranjang. Ia tidak mengantuk. Dikeluarkannya ponsel dari dalam sakunya. Ia melihat foto-foto Farhan.
“Hubbiy, kenapa Hubbiy tega meninggalkan kami? Hubbiy nggak ingin lihat anak kita lahir? Hubbiy tega anak kita tidak bisa bertemu ayahnya?” ratap Via lirih. Air mata lolos begitu cepat membanjiri pipinya.
Jemari Via terus menari di layar ponselnya. Ia melihat foto-foto kebersamaannya dengan Farhan. Diusapnya perutnya yang sudah besar. Terasa jelas gerakan dari dalam perutnya. Batin Via makin teriris.
“Dek, Bunda bahagia dengan kehadiranmu. Ayah juga. Kami menantikan saat-saat kehadiranmu. Ah, sayangnya ayahmu malah pergi meninggalkan kita sebelum ia bertemu denganmu,” ucap Via lirih. Disekanya air mata yang tak henti-hentinya meluncur deras di pipinya.
“Tok…tok…tok” Terdengar ketukan pintu kamar Via.
“Assalamualaikum. Via tidur?” Suara Bu Aisyah terdengar dari balik pintu.
“Waalaikumsalam. Masuklah, Bunda!” jawab Via dengan suara serak.
__ADS_1
“Nggak bisa tidur?” tanya Bu Aisyah lembut.
Via menggeleng pelan. Ponsel ia letakkan di sampingnya.
“Via nggak bisa tidur,” ucap Via.
“Teringat Farhan terus?” tanya Bu Aisyah lagi.
Via menarik nafas panjang lalu menjawab lirih, “Iya, Bun.”
“Via, Bunda bisa memahami perasaanmu. Bunda juga perempuan. Tapi, kamu juga harus ingat anak dalam kandunganmu. Berjuanglah untuknya. Setidaknya, itu adalah peninggalan Farhan yang harus kamu rawat baik-baik,” nasihat Bu Aisyah.
Via tertunduk. Tangannya kembali mengusap perutnya.
“Via, kamu harus melanjutkan hidupmu. Kamu harus bisa bangkit! Via, Bunda pernah mengatakan kalau banyak orang menyayangimu. Bunda orang tuamu, kamu bisa bersandar kepada Bunda sebelum menemukan orang yang tepat menggantikan Farhan,” kata Bu Aisyah lembut.
Via tersentak. Ia menggeleng cepat.
“Tidak! Via tidak akan mencari orang menggantikan posisi Mas Farhan. Posisi Mas Farhan tidak bisa digantikan oleh siapa pun!” tolak Via tegas.
Bu Aisyah diam. Ia tidak mau berdebat dengan Via masalah ini. Bu Aisyah memahami perasaan Via masih terguncang.
“Apa pun masalahmu, kamu harus ingat bahwa Allah tempat utama kita bersandar. Keluarga adalah orang terdekatmu yang bisa kau jadikan sandaran di dunia. Makanya, jangan pernah merasa sendiri! Apalagi sekarang ada kakek da nom kamu.”
Sekarang, ia memiliki lebih banyak keluarga. Banyak orang yang menyayangi dan melindungi dirinya. Namun, kehilangan pasangan di saat sedang mengandung benar-benar menyesakkan.
Bu Aisyah terus memperhatikan kondisi Via. Meski dirinya juga terguncang dengan kepergian Farhan, Bu Aisyah berusaha terlihat tegar di depan orang lain terutama Via. Ia menunjukkan kerapuhannya saat bersama Pak Haris, suaminya.
***
Di ruang tamu, para pria berkumpul membicarakan tentang nasib Via. Mereka prihatin akan masa depan Via. Ia masih muda, memiliki potensi besar, kekayaan materi berlimpah, tetapi sudah menyandang gelar janda.
“Sangat beresiko sosok seperti Via hidup tanpa pendamping. Apalagi, sebentar lagi ia melahirkan. Anaknya tentu membutuhkan sosok ayah,” kata Pak Adi.
“Benar, aku setuju dengan Tuan Adi. Persaingan bisnis yang kejam bisa mengancam hidup Via dan cicit kita. Apa kita jodohkan saja dia setelah masa idahnya habis nantinya?” usul Eyang Probo.
“Memangnya Ayah punya calon? Kelihatannya kok semangat banget?” celetuk Pak Haris.
Eyang Probo tersenyum tipis.Tatapannya diedarkan ke seluruh penjuru ruangan.
“Tentu saja aku sudah punya rancangan.”
__ADS_1
“Maksud Eyang?” tanya Bu Aisyah yang mendadak nongol ke ruangan.
"Eh Aisyah. Via sudah tidur?" tanya Eyang Probo sedikit kaget.
"Sudah. Mudah-mudahan ia bisa terlelap. Tadi Aisyah dengar Eyang punya rencana untuk Via. Bagaimana rencana Eyang?" desak Bu Aisyah.
"Aku tidak ingin Via berlama-lama menjanda. Tidak baik baginya. Namun, tidak sembarang orang juga bisa menggantikan Farhan."
Eyang Probo berhenti sejenak. Dadanya sesak setelah menyebut nama Farhan.
"Eyang menginginkan orang yang jelas mencintai Via, agamanya baik, bisa menjadi ayah untuk anak Via dan Farhan. Eyang rasa, sosok itu ada pada ... Azka."
Orang-orang tersentak mendengar usul Eyang Probo. Mereka menatap kakek berusia 70-an tahun itu untuk memastikan keseriusannya.
Eyang Probo mengangguk mantap. Tidak ada tanda-tanda ia bergurau.
"Azka itu adik Farhan, kan?" Pak Candra menegaskan.
"Iya. Justru karena dia adik Farhan, Azka jelas bisa menerima anak yang juga keponakannya. Soal akhlak, Haris dan Aisyah tentu lebih paham." Eyang Probo mengutarakan alasannya.
"Menikah juga tentang hati, Eyang. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita," ucap Bu Aisyah hati-hati.
"Kamu tidak bisa menangkap perasaan anakmu sendiri? Apa kamu tidak melihat ada cinta terpendam dalam hati Azka untuk Via?" tanya Eyang Probo.
Bu Aisyah dan Pak Haris tersentak. Mereka tidak pernah berpikir sampai ke situ. Pak Haris segera berusaha untuk tenang.
"Ayah, soal menikahkan Via mungkin kita bicarakan lain waktu. Toh dia juga harus menjalani masa idahnya. Ada masalah lain yang mendesak. Siapa yang menggantikan posisi Farhan di perusahaan Ayah?" Pak Haris mengalihkan pembicaraan.
Pak Adi dan Pak Candra mengangguk setuju. Mereka sepakat untuk membahas tentang hal itu.
Sementara, di teras ada seorang gadis yang sedang menata hati karena tidak sengaja mendengar pembicaraan keluarga Via. Jantungnya berdetak kencang mengetahui rencana Eyang Probo menjodohkan Via dengan Azka, pria yang mencuri hatinya.
***
Bersambung
Mohon dukungan dari semua readers untuk karya recehan ini 🙏
Silakan tinggalkan krisan 😊
Like-nya jangan lupa, ya.
__ADS_1
Terima kasih 😘😘😘