
"Vi, akhir-akhir ini kok banyak yang kasih bintang 1 ya? Padahal produk kita sesuai deskripsi?" keluh Ratna sambil memperhatikan layar ponselnya.
"Berapa yang kasih penilaian buruk?" tanya Via.
"Hari ini ada 3 orang. Kemarin 5 orang. Sebelumnya ada 4."
"Komentar mereka bagaimana?"
"Bahan terlalu tipis, jahitan tidak rapi, ada noda."
"Sebelum dikirim, produk sudah kita cek, kan?" Via mencoba memastikan.
"Tentu sudah. Kita nggak percaya begitu saja sama suplier. Produk yang kita kirim nggak ada yang cacat."
"Orang yang komplain kirim foto nggak?"
"Iya, tapi kan bisa saja noda dia bikin sendiri, jahitan ditarik biar ga rapi."
"Jadi, kamu mengira ini ada unsur manipulasi?"
"Lebih tepatnya serangan ke toko online kita."
Via menarik nafas panjang. Ia berusaha untuk tetap tenang.
"Cobaan apalagi ini? Baru saja toko mulai berkembang, komplain berdatangan."
"Coba kamu cek akun yang kasih bintang 1. Sama nggak dalam 3 hari terakhir?" perintah Via.
Ratna segera membuka akun pelanggan yang komplain. Ia mencermati data-data yang bisa dibaca.
"Pemilik akun yang komplain kayaknya sama, deh. Aku bukan ahli IT, sih. Tapi dari nomor HP yang digunakan ada 6 akun yang sama."
" Berarti mereka orang yang sama," gumam Via.
"Aku yakin, Vi. Ini sabotase. Kayaknya ada orang yang sirik sama kita dan berniat mengacaukan usaha yang baru kita rintis."
"Mungkin begitu, Rat. Tapi, kita nggak boleh gegabah."
"Iya. Lalu tindakan kita gimana?"
"Blok saja akun orang-orang itu. Lalu di deskripsi produk tambahkan keterangan bahwa produk sudah dicek sesuai deskripsi. Kalau ada yang belum jelas diminta untuk chatt."
"Baik, Vi."
Via memijit pelipisnya untuk meredakan ketegangan otaknya. Lalu ia ambil wudhu untuk menenangkan pikirannya.
"Kita awasi terus komentar pelanggan, Rat," kata Via.
"Siap, Vi."
Seminggu berikutnya tidak ada lagi yang komlain dan memberi penilaian negatif. Namun, sore itu Ratna dikejutkan dengan banyaknya komplain yang masuk. Dan, semuanya meminta transfer balik uang mereka.
"Vi, gawat. Banyak yang komplain lagi. Sekarang lebih parah. Bukan cuma penilaian yang dibikin jeblok. Mereka retur order mereka."
"Diretur? Alasan mereka?"
"Produk cacat."
"Yang kasih penilaian negatif udah diblok?"
"Udah. Ini beda dengan yang kemarin."
"Banyak?"
__ADS_1
"Ada 3 akun. Tapi jumlahnya cukup banyak, Vi. Nilai produknya tiga jutanan. Gimana, nih?"
Via terdiam sejenak. Ada rasa nyeri menyerang dadanya. Namun, ia berusaha tetap tenang.
"Sudahlah, insya Allah akan ada jalan. Kita istirahat dulu. Sholat, yuk! Sudah masuk waktu Dzuhur."
Mereka pun membereskan laptop dan alat tulis yang baru digunakan sebelum sholat Dzuhur. Baru saja selesai sholat, mereka mendapat kiriman paket retur produk.
Via membuka dan mengecek isinya. Ia mencocokkan dengan catatan pengiriman barang.
"Vi, lihat! Jahitan ini sepertinya sengaja dirusak. Kemarin juga tidak ada yang berlubang. Kenapa ada lubang kecil di sini? Sepertinya bara rokok," ucap Ratna.
"Alamatnya bukan luar kota, kan? Berarti kemungkinan mereka mengenal kita," sahut Via.
"Benar. Aku juga menduga bukan orang asing. Entah apa motif orang itu."
"Ya sudahlah, kita tidak usah berprasangka terlalu jauh. Kita fokus mencari solusi terbaik."
"Vi, maaf sebelumnya. Kamu punya modal dari mana? Pinjam di bank?"
"Enggaklah. Aku kan punya tabungan dari uang saku bulanan yang papa berikan. Juga bunda. Alhamdulillah, tabunganku lumayan. Tadinya, aku mau gunakan untuk bayar kost. Ternyata malah dibayar bunda. Akhirnya, tabunganku digunakan untuk modal."
"Oh, kirain pinjem."
"Aku berusaha untuk tidak berhutang. Kalaupun terpaksa ngutang, ya yang nggak berbunga. Riba, Rat. Takutnya hasil yang didapat nggak berkah. Sementara cari pinjaman yang nggak berbunga kan sulit."
"Ya, Bu ustadzah."
"Eh, aku ada ide. Gamis dan jilbab yang diretur aku bawa ke acara kajian muslimah saja. Aku tawarkan ke teman-teman pengajian."
"Boleh juga. Kamu nggak malu?"
"Kenapa mesti malu? Kan halal. O ya, harganya kita diskon saja. Sebagian kan cacat. Yang penting kita tidak rugi."
"Otakmu sekarang memang otak bisnis. Selalu bisa cari peluang," ledek Ratna.
Baju-baju yang baru mereka terima dari kurir dalam waktu sekejap sudah rapi.
"Besok kamu ikut kajian, ya. Sekalian bantuin aku jualan. Tapi, yang utama ya nge-charge."
"Nge-charge? Ngapain nebeng ke kampus? Di sini juga bisa," sahut Ratna.
"Ish, bukan nge-charge HP, Iyem. Nge-charge iman."
Ratna tergelak. Ternyata ia salah tangkap.
"Eh, emang iman mesti di-charge?"
"Iyalah. Iman seseorang kadang naik kadang turun. Ada masalah, diuji dikit, kadang bukannya mendekat kepada Allah, malah menjauh. Aku sudah mengalami nya. Beruntung Allah masih menyayangi aku, mengirimkan keluarga bunda kepadaku untuk jadi sandaranku."
"Aku...aku...minder, Vi," ucap Ratna lirih.
"Kenapa? Aku aja masih harus banyak belajar. Kamu tahu sendiri bagaimana aku dulu. Jangankan berhijab, sholat aja sering bolong. Sudah hampir lulus SMA, iqro belum khatam. Tapi aku yakin, lebih baik terlambat daripada tidak belajar sama sekali."
"Aku sebetulnya iri kepadamu. Kamu bisa berubah begitu drastis, aku malah jalan di tempat."
"Makanya, ikut kajian, yuk!"
"Aku nggak punya gamis." Ratna masih mengelak.
"Lha emang ikut kajian syaratnya pakai gamis?"
"Ya enggak. Tapi yang lain pasti pakai gamis. Iya kan? Masa aku pakai celana jeans?"
__ADS_1
"Ya sudah, kamu pakai saja tuh gamis. Pilih yang kamu suka," kata Via.
"Yang baru diretur ini? Beneran?" Ratna menatap Via dengan mata berbinar.
"Ya elah, masih nanya. Iya, ambil aja. Insya Allah nggak rugi, kok."
Ratna senang sekali mendengar tawaran Via. Tidak menunggu lama, ia langsung mengambil gamis warna krem yang sudah lama ia taksir.
"Makasih, Vi," kata Ratna sambil mencium pipi kiri Via.
"Ih, apaan sih! Geli, tahu?" bentak Via sambil melotot.
Ratna hanya terkekeh melihat Via yang terlihat lucu saat pura-pura marah.
***
Jumat siang Via dan Ratna datang ke masjid kampus sambil menenteng tas plastik besar.
"Assalamualaikum," sapa mereka.
"Waalaikumsalam," jawab tiga gadis yang tengah duduk di lantai.
"Via? Sama siapa, nih?" tanya gadis ydng memakai gamis warna coklat.
"Kenalin, Kak, ini Ratna. Dia teman sekelas dan satu kost," jawab Via.
"Aku Salsa," kata gadis bergamis coklat sambil mengulurkan tangan.
"Ratna," ucap Ratna menyambut uluran tangan gadis itu.
"Aku Nisa dan ini Farah," sambung gadis yang lain.
"Kalian bawa apa?" tanya Salsa.
"Kami jualan baju-baju muslim. Barangkali ada yang minat," jawab Via.
"Boleh lihat?" ganti Nisa bertanya.
"Tentu saja. Silakan, Kak."
Mereka bertiga membongkar tas yang dibawa Ratna dan Via.
"Ih, cantik sekali. Aku pernah lihat di situs jual beli online harganya nggak segini. Kok murah banget, Vi?"
"Iya, ini harga diskon."
"Lho, model ini kan belum lama keluar."
"Memang. Tapi, nggak ada salahnya kasih diskon buat teman. Ada sedikit cacat pas packing. Yang ini kena noda, yang biru ini jahitannya." Via menunjukkan kekurangan produk.
"Ah, cuma cacat dikit. Aku mau ambil yang ini," kata Nisa sambil mengambil gamis warna maroon.
"Sebentar lagi pada datang. Kayaknya dagangan kalian laris manis deh. Habis, modelnya bagus, harganya murah. Aku ambil 2, ya." Farah tak mau kalah.
Hari itu, akhirnya produk yang diretur bisa terjual. Hanya tersisa 2 jilbab dan 1 gamis.
"Alhamdulillah, ya Vi. Aku nggak nyangka akhirnya produk itu laku," ucap Ratna dalam perjalanan pulang.
"Alhamdulillah, Allah selalu memberikan jalan. Makanya, yakinlah akan pertolongan-Nya," nasihat Via.
"Iya, Ustadzah Via," sahut Ratna sambil cengengesan.
****
__ADS_1
Bersambung
Mohon tinggalkan komentar untuk author, ya! Silakan beri masukan untuk perbaikan. Author belum berpengalaman 🙏🙏