
Via menerima ponsel yang disodorkan oleh Farhan. Ia pun menggeser gambar gagang telepon warna hijau.
"Assalamualaikum," kata Via begitu tersambung.
"Waalaikumsalam. Kamu di mana, sama siapa, sedang berbuat apa, Via?" suara di seberang terdengar heboh.
Via nyengir mendengar pertanyaan beruntun yang seperti lagu posesif. Farhan mengernyitkan keningnya melihat ekspresi Via. Sang istri menyentuh tombol loud speaker agar Farhan tahu pembicaraannya.
"Kamu mau ngamen?" Bukannya menjawab, Via malah meledek balik.
"Ish, ditanya beneran malah gitu. Nggak asyik banget kamu," suara di seberang protes, "Ini gawat, Sayangku. Stok gamis sudah menipis. Di etalase tinggal 15 pcs. Sabtu Minggu kemarin banyak pengunjung," jelasnya.
"Ya sudah, kamu minta Bu Fatma mengirim barang. Kan sudah kukasih kontak, nomor rekening, dan alamatnya," sahut Via.
"Aku bingung modelnya. Biasanya kamu yang milih. Hampir semua laris manis. Instingmu memang jos."
Via tersenyum tipis. Tapi, ia juga bingung menentukan tindakan.
"Kamu bisa ke sini sebentar, kan? Please, Bu Bos. Kamu minta izin sama suamimu yang ganteng itu. Pasti diizinin. Kalau nggak, berarti dia masih manusia kulkas," ucapnya.
Farhan melotot mendengar dua kata terakhir yang ia dengar. Ia bermaksud menjawab. Namun, Via memberi kode agar Farhan tenang.
"Ratna, maaf ya, aku tidak bisa ke ruko hari ini," ucap Via.
"Via, jangan main-main, dong! Eh, tunggu! Suaramu dari tadi kayaknya beda. Lemes amat? Kamu sakit?"
Via menarik nafas panjang, "Iya. Ni masih di rumah sakit."
"Beneran? Kamu kok nggak bilang-bilang? Sejak kapan? Aku ke situ sekarang."
"Belum jam bezuk, Rat."
"Iya, nanti. Ya sudah, share lok saja. Sekarang kamu istirahat gih! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Via sambil menyerahkan ponsel kepada Farhan.
Farhan menerima ponsel dengan wajah sedikit masam. Via memandang suaminya dengan tatapan keheranan.
"Hubbiy kenapa?" tanya Via polos.
"Temanmu menyebalkan. Masa dia mengataiku manusia kulkas. Apa dia perlu dikirim ke kutub selatan?" gerutu Farhan.
Via tak bisa menahan tawanya. Sebenarnya, ia ingin meledakkan tawa itu. Sayangnya, ia tak punya cukup tenaga untuk melakukannya.
"Kenapa tertawa?" Farhan menatap Via tajam.
Via menghentikan tawanya. Ia mengganti dengan senyuman. Lalu, ia memberi kode agar Farhan duduk di dekatnya.
"Hubbiy, maafin Via," ucap Via lembut.
"Kenapa Cinta minta maaf? Mas sebel sama Ratna yang mengataiku manusia kulkas," sungut Farhan.
"Iya, mungkin itu karena dia ikut-ikutan Via. Dulu, Via kan suka sebel sama Hubbiy yang dingin. Nah, kadang Via cerita ke Ratna termasuk menyebut Hubbiy manusia kulkas," papar Via.
Farhan gemas. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia hanya mendengus.
"Hubbiy kesal? Habis, dulu kan emang nyebelin. Sikap Hubbiy dingin, nggak ada ramah-ramahnya, sering jutek, ...."
"Stop!" Satu kata pendek terucap dari mulut Farhan. Namun, bukan itu yang mbuat Via berhenti. Bibir Via terkunci oleh bibir pria yang baru menyuruhnya berhenti bicara. Via meronta minta dilepaskan.
"Hubbiy, kenapa mencium Via begitu? Nggak takut tertular salmonella thyphy?" rengek Via manja.
"Mas sudah terserang virus yang lebih berbahaya," bisik Farhan ke telinga Via.
Mata Via terbelalak. Ia menatap lekat Farhan. Ada kecemasan di wajah istri Farhan.
"Hub--biy sa--sakit apa?" Via bertanya dengan suara tercekat.
"Mas terserang virus cinta yang membuat Mas sering malarindu tropikangen. Dan, lama-lama Mas bisa jadi penderita bucin akut."
__ADS_1
Via cemberut mendengar jawaban Farhan. Ia merasa dipermainkan oleh suaminya.
"Nyebelin, ah. Via udah khawatir Hubbiy sakit, nggak tahunya ngledek Via," sungut Via.
Ia merebahkan diri lalu menarik selimutnya.
Farhan hanya terkekeh. Ia merapikan selimut Via.
Menjelang waktu bezuk, Via membuka matanya. Ia melihat Farhan tengah menatap layar monitor laptop-nya. Wajahnya tampak begitu serius. Sesekali jemarinya menari di atas keyboard.
"Assalamualaikum," ucap seorang wanita dari balik pintu kamar perawatan Via.
"Waalaikumsalam," jawab Via.
Sementara Farhan sepertinya tidak mendengar ucapan salam itu. Ia terus asyik di depan laptop.
Tak lama muncul sosok Bu Aisyah dari balik pintu. Ia menenteng rantang.
"Via sudah ada perubahan? Masih pahit, nggak?" tanya Bu Aisyah.
Farhan menoleh. Ia baru menyadari kalau bundanya datang.
"Maaf, Farhan nggak tahu bunda datang," sesal Farhan.
"Kau ini malah asyik bekerja. Istri sedang sakit malah dicueki," omel Bu Aisyah.
"Tadi Dek Via tidur, Bunda. Makanya, Farhan mengerjakan pekerjaan kantor," jelas Farhan.
"Bunda bawa apa?" Via mengalihkan topik pembicaraan.
"Ayam kecap dan tumis brokoli campur wortel. Via mau makan sekarang?" Bu Aisyah menawari Via.
"Nanti makanan dari rumah sakit nggak dimakan, dong," ucap Via diiringi senyum.
"Boleh saja dihabiskan nanti. Malah bagus kalau kamu makan banyak."
Bu Aisyah tersenyum lembut. Ia duduk di kursi dekat kepala Via.
"Sabar, ya. Mau makan sekarang atau nanti? Ni masih hangat, lo."
"Sekarang saja. Kalau dingin, kurang enak. Via juga agak lapar."
Bu Aisyah segera menyiapkan makanan untuk Via. Setelah siap, ia memberikan kepada putra sulungnya.
"Nih, suapi istri tercinta," ucap Bu Aisyah.
Farhan menerima piring dari bundanya sambil tersenyum. Ia duduk di tepi tempat tidur.
"Via bisa makan sendiri, kok," kata Via sambil mengubah posisinya.
"Sudahlah, ini kesempatan suamimu biar makin lengket sama kamu. Paling sebentar lagi dia jadi bucin," kata Bu Aisyah diiringi kerlingan ke putranya.
"Wah, ini bunda sama anaknya kok sama saja," pikir Via.
Sesendok demi sesendok masakan Bu Aisyah memenuhi perut Via. Sesekali Farhan mengusap bibir Via yang sedikit belepotan bubur.
"Alhamdulillah, lumayan banyak habisnya. Biasanya separuh piring, lo. Tahu begini, minta Bunda masakin buat Dek Via," kata Farhan.
"Haish, kok gitu? Masa nyuruh-nyuruh orang tua," protes Via.
"Bunda nggak keberatan, kok. Farhan siap-siap ke masjid, sana! Via biar Bunda yang nungguin," perintah Bu Aisyah.
Selang 10 menit setelah Farhan meninggalkan kamar, seorang gadis datang menjenguk Via. Dari kehebohannya, sudah bisa ditebak siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan Ratna.
"Aduh, kamu sakit apa, sih? Kok nggak bilang-bilang? Kayaknya kamu masih masuk waktu Jumat pagi. Sejak kapan masuk rumah sakit?" Ratna langsung nyerocos.
"Kamu tuh dari dulu nggak berubah, Rat," tegur Bu Aisyah yang baru keluar dari kamar mandi.
"Eh, Bu Aisyah. Maaf, Bu," ucap Ratna malu. Ia segera menyalami wali kelasnya dulu.
__ADS_1
Mereka terlibat pembicaraan yang seru. Canda tawa sesekali mengiringi pembicaraan itu.
Begitu asyik mereka berbincang, mereka tidak menyadari seorang pria sudah berada di ruangan. Dari pakaian yang dikenakan, bisa ditebak ia baru melaksanakan salat jamaah.
"Eh, Farhan sudah kembali. Tadi bertemu ayahmu?" tanya Bu Aisyah setelah menyadari kehadiran putranya.
"Iya. Ayah nanti ke sini lagi setelah selesai memeriksa beberapa berkas," jawab Farhan dengan ekspresi datar.
"O, begitu. Kamu mau makan? Ini masih ada masakan Bunda," kata Bu Aisyah.
"Nggak, Bun. Insya Allah Farhan shaum. Ayah tadi menyuruh Farhan ke lobi. Farhan permisi dulu.
" Assalamualaikum."
Setelah Farhan keluar, ketiganya saling tatap. Mereka merasakan sikap Farhan yang sedikit aneh.
"Ada apa dengan suamimu?" Bu Aisyah menatap Via.
"Iya, kayaknya kok dingin gitu," sambung Ratna.
Mendengar kata dingin membuat Via teringat percakapan tadi pagi dengan Farhan. Ia tertawa lirih.
"Mungkin Mas Farhan sebel sama kamu, Rat."
"Memang apa salahku?" Ratna berjingkat kaget.
"Bukannya di telepon tadi pagi kamu menyebut Mas Farhan manusia kulkas?" ucap Via.
"Eh, memang dia dengar?" Wajah Ratna memerah karena malu.
Via mengangguk. Sementara Bu Aisyah hanya menggelengkan kepalanya.
Via segera mengalihkan pembicaraan. Mereka membicarakan saat-saat SMA dulu.
Obrolan tiga wanita itu terhenti ketika ada suara orang mengucap salam. Saat menengok ke pintu, tampak sosok beberapa pria yang Via sayangi.
Paling depan seorang yang berambut putih tetapi masih terlihat gagah. Ia adalah Adi Wijaya. Di belakangnya berdiri Farhan dan ayahnya.
"Kakek!" seru Via senang meski suaranya masih lemah.
Pria yang dipanggil kakek itu tersenyum dan bergegas mendekati Via. Ia memeluk erat sang cucu yang disayanginya.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Pak Adi.
"Mendingan, Kek. Kata ayah kemungkinan besok atau lusa bisa pulang," jawab Via.
"Syukurlah. Om kamu mungkin nggak bisa nengok karena sedang berada di Singapura."
"Nggak apa-apa, Kek. Kakek juga sebenarnya nggak perlu repot-repot ke sini," tutur Via.
"Haish, nggak bisa gitu. Kakek akan menunggui cucu Kakek sampai sembuh. Kakek mau menginap di sini."
Via menatap suami dan ayahnya bergantian. Dokter Haris mengangguk sambil tersenyum.
"Nanti bisa beristirahat di kamar saya," ucap sang dokter ramah.
Kunjungan orang-orang yang menyayangi dan disayangi Via memberi suntikan semangat untuk sembuh.
***
Bersambung
Terima kasih atas dukungan Kakak semua. Tolong tetap dukung author dengan meninggalkan jejak koment, like, rate 5, juga vote.
Sambil nunggu episode selanjutnya, yuk baca novel ini!
__ADS_1