
Selama ini aku memiliki kesan buruk akan sosok Doni. Ah, mungkinkah penilaian burukku atas Doni didorong
kecemburuanku? Karena aku tahu Doni pernah menyatakan cinta kepada Dek Via, aku berasumsi Doni ambisius. Mungkinkah itu salah? Kalau memang salah, berarti aku telah bersuuzan?
Rasa bersalah menyergapku. Penyesalan mendera, membuat aku ingin segera memohon maaf. Ah, mungkin Doni
akan bingung kalau aku minta maaf.
Aku terdiam, termangu dalam kekacauan pikiran. Mungkin, Agus tengah menatapku heran karena mendadak aku
mematung.
“Mas Farhan!” Panggilan disertai tepukan di bahu membuatku tersentak.
Aku menoleh menatap orang yang menepukku. Doni memamerkan barisan giginya.
“Ada apa, Don?” tanyaku.
“Mas Farhan melamun? Dari tadi kok diam saja? Agus beberapa kali memanggil, Mas Farhan masih diam,” ucap Doni sambi duduk di samping Agus.
“Ah, iya. Banyak hal yang kupikirkan. Aku ingin pulang bertemu keluargaku. Sayangnya aku nggak punya uang. Semua kartuku diblokir. Otakku tidak bisa mengingat alamat Om Candra dan juga kontak keluargaku,” keluhku.
“Mas Farhan tidak usah berpikir terlalu rumit. Sekarang ada aku. Nanti kita pulang bersama. Tapi, sejujurnya
aku bingung kok Mas Farhan bisa di sini? Bagaimana ceritanya?” tanya Doni.
“Sekitar dua minggu yang lalu aku menengok Azka, adikku yang dirawat di rumah sakit. Beberapa hari kemudian, aku ke perkebunan milik Kakek Adi karena ada masalah. Sepulangku dari perkebunan, mobil yang kunaiki mengalami kecelakaan. Aku berhasil lolos dari maut karena lompat dari mobil. Aku kira temanku, Bang Tedi, tidak berhasil menyelamatkan diri. Aku ke pusat perbelanjaan dengan mencegat motor yang lewat untuk menarik
uang. Ternyata semua kartu terblokir. Baru saja keluar, ada penjahat yang mengincarku. Untunglah, Agus menyelamatkanku, membawaku ke sini.”
Doni mengangguk-angguk mendengarkan ceritaku. Agus melihat temannya itu dengan tatapan sulit
diartikan.
“Don, Mas Farhan ini mengalami cedera pada kepala dan tangan kirinya. Kamu lihat sendiri, tangan Mas Farhan
masih digendong begitu. Dia juga sering merasakan nyeri di kepalanya,” kata Agus.
“O ya? Kenapa tidak berobat ke rumah sakit? Bagaimana kalau besok kita ke rumah sakit?” Doni terlihat panik.
“Tunggu dulu, Don! Aku punya dua alasan tidak membawa Mas Farhan ke rumah sakit. Pertama masalah biaya. Kamu tahu sendiri keadaanku. Maaf, Mas Farhan. Bukan aku tidak ikhlas membantu Mas Farhan dan mengungkit-ungkit yang telah kuberikan, ...”
“Iya, aku paham. Kau tidak usah sungkan. Bantuan darimu begitu besar bagiku. Aku sangat berterima kasih,”
ucapku tulus.
“Iya, Mas. Begitulah, Don. Pertama masalah biaya. Yang kedua, aku khawatir keberadaan Mas Farhan diketahui
Kelelawar Hitam,” lanjut Agus.
“Kelelawar Hitam? Apa maksudmu?” tanya Doni heran.
“Itu adalah nama kelompok penjahat bayaran. Mereka disewa seseorang untuk menghabisi Mas Farhan. Aku yakin, mereka dalang di balik kecelakaan yang menimpa Mas Farhan. Penjahat yang mengejar Mas Farhan saat keluar dari ATM itu bagian dari mereka. Aku yakin mereka masih mencari keberadaan Mas Farhan karena mereka sudah tahu kalau Mas Farhan masih hidup,” papar Agus.
“Oh begitu. Berarti, posisi Mas Farhan di sini terancam. Apa nggak sebaiknya Mas Farhan pulang bersamaku?” usul Doni.
“Aku setuju. Bukan berarti aku mengusir Mas Farhan, tetapi Mas Farhan lebih aman di rumah. Di samping itu, Mas
Farhan juga mendapat pengobatan yang layak.” Agus menyetujui usul Doni.
Aku tersenyum getir. Bagaimana tidak? Aku juga ingin pulang. Tapi, bagaimana caranya? Aku tak punya uang untuk
membeli tiket.
“Aku sudah sangat merindukan rumah. Tapi...” ucapanku menggantung. Malu rasanya mengatakan kalau aku bingung masalah uang.
“Mas Farhan bingung masalah pembelian tiket pesawat? Jangan khawatir. Aku bisa, kok. Biar aku yang membeli
tiket untuk kita berdua,” kata Doni seolah tahu kegelisahanku.
“Terima kasih, Don. Biarlah nanti biaya tiket kuganti saat aku sudah sampai rumah. Yang penting, aku bisa
pulang,” kataku dengan penuh harap. Mungkin mereka melihat bintang berkelip di mataku.
__ADS_1
“Mas Farhan tidak usah berpikir sampai ke situ. Aku ikhlas membantu Mas Farhan, kok. Mas Marhan nggak usah
sungkan. Sekarang, yang penting Mas Farhan jaga kesehatan agar kuat menempuh perjalanan jauh,” ucap Doni. Aku melihat ketulusan di pancaran matanya.
“Sebaiknya kamu pesan dari sekarang, Don!” saran Agus.
Doni segera mengambil ponselnya. Kulihat jemarinya bermain di layar ponsel cerdasnya. Tak lama kulihat gurat kekecewaan di wajah Doni.
“Ada apa, Don?” tanyaku penasaran.
“Aah, semua tiket sudah habis dipesan. Tinggal satu, Mas. Aku nggak akan membiarkan Mas Farhan pulang sendiri. Itu terlalu berisiko. Kalau lusa, bagaimana?” ucap Doni.
“Aku ngikut saja,” kataku pasrah.
Toh aku hanya numpang. Lagi pula, kalau memang habis, aku bisa apa? Aku bukan Tuan Alex, suami Rianti yang ke mana-mana naik jet pribadi.
Doni kembali memainkan ponselnya. Beberapa saat kemudian, senyum terlukis di bibirnya.
“Bagaimana, Don?” tanya Agus tak sabar.
“Alhamdulilah, dapat. Kita berangkat jam 1 siang,” jawab Doni.
“Syukurlah,” bisikku. Ah, rasanya ku tak sabar lagi menunggu lusa. Betapa aku merindukan keluargaku.
Saat kami berbincang-bincang membahas kepulanganku, ibu Agus muncul dari pintu depan. Begitu melihat Doni,
ia menghampiri dengan tergopoh-gopoh.
“Nak Doni! Kapan datang?”
“Ibu, apa kabar? Saya datang sekitar jam 4 tadi,” jawab Doni sambil mencium punggung tangan ibu Agus takzim..
“Alhamdulillah, Ibu sehat. Ya, sehatnya orang tua, Nak. Tiap hari harus minum obat melulu. Sebenarnya bosan. Tapi, bagaimana lagi,” keluh ibu Agus seperti anak kecil mengadu kepada orang tuanya.
Doni tertawa. Ia menepuk lengan perempuan bertubuh kurus itu.
“Sabar, Bu. Ibu harus jaga kesehatan agar bisa menunggui anak-anak Ibu hingga dewasa dan Ibu bisa mendapat
Ibu Agus hanya tersenyum. Tampak wajahnya memancarkan kebahagiaan begitu melihat Doni.
“Nak Doni sudah makan? Ibu tadi masak oseng kangkung, tuh. Gus, ajak Nak Doni dan Nak Farhan makan!” perintah ibu Agus kepada putra sulungnya.
“Nanti saja, Bu. Sebentar lagi magrib,” tolak Doni halus.
“Ah, iya. Ibu begitu senang melihatmu datang. Silakan bersiap-siap. Ibu ke belakang dulu,” ucap ibu Agus
seraya melangkah ke dalam.
Pukul 8 malam, aku masuk kamar. Aku tidak boleh beristirahat terlalu malam. Meski belum tidur, setidaknya aku sudah tidak beraktivitas. Aku juga memberi kesempatan kepada Doni dan Agus untuk melepas kerinduan dua sahabat.
Namun, dari dalam kamar aku masih bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka. Tentu saja, karena kamar yang aku tempati berada dekat ruang tamu.
“Memangnya kamu ada perlu apa ke Medan? Nggak mungkin kamu semata-mata ke sini untuk nemui aku. Atau kamu ada perlu dengan om kamu?” cecar Agus.
Kudengar tawa lepas Doni. Jelas sekali mereka sangat akrab.
“Kamu tahu aja. Aku memang ada keperluan. Tapi, tujuan utamaku bukan ke rumah om Rudi. Aku mengantarkan
temanku yang sedang sakit. Aaah...lebih tepatnya adik tingkatku,” jawab Doni.
“Cewek, ya? Dasar keponakan durhaka! Jauh-jauh ke Medan tujuan utamanya malah nganter cewek,” gerutu Agus.
Lagi-lagi kudengar tawa lepas Doni. Sepertinya dia sedang bahagia.
“Mumpung ada kesempatan, Gus. Siapa tahu besok saat wisuda sudah ada pendamping selain papa dan mama.”
“Syukurlah kalau kamu sudah move on, Don. Kamu sudah nggak mencintai teman SMA-mu, kan?”
“Hus! Jangan keras-keras! Dia itu ....” Kudengar Doni berbisik-bisik hingga telingaku tidak menangkap apa
yang ia katakan.
“Terus, cewek yang kau antarkan itu kayak apa? Cantik?” tanya Agus.
__ADS_1
“Cantik itu relatif, Gus. Entahlah, pertama kali aku melihatnya, aku merasa tertarik. Dia anak orang kaya, tetapi tidak sombong,” puji Doni.
“Sama sepertimu, Don. Kamu pasti punya fotonya, kan? Boleh lihat? Biar aku nggak naksir cewekmu haha....”
Mereka terdiam sejenak. Aku rasa Doni tengah menunjukkan foto cewek yang ia taksir kepada Agus.
“Cantik. Seleramu tetap sama sepertinya, Don,” komentar Agus beberapa detik setelah mereka terdiam.
“Kamu sendiri gimana, Gus? Ibumu nggak pernah minta menantu?” ganti Doni yang bertanya.
“Aku belum mikir soal itu, Don. Aku masih fokus membiayai sekolah adik-adikku. Minimal mereka tamat SMA atau
SMK jangan hanya berijazah SMP seperti kakaknya,” ucap Agus seperti tanpa beban.
“Kau memang kakak idaman. Aku salut kepadamu.” Sekarang Doni ganti memuji Agus.
“Kapan kamu wisuda, Don?”
“Bulan depan, insya Allah. Aku baru saja selesai mendaftar wisuda dan mendaftar S-2. Itu sebabnya aku belum
pulang. Eh, ternyata ada gadis pujaan hati minta diantar pulang,” kata Doni.
“Rejeki nomplok, dong!”
“Haha...iya. Kamu sendiri sudah betah di sini? Ibu dan adik-adikmu juga betah?”
Sejenak keheningan tercipta.
“Aku pribadi inginnya tinggal di Jogja, Don. Namanya tempat kelahiran, di hati tidak bisa terganti. Ibu dan adik-adikku pun demikian. Tapi, keselamatan kami lebih utama,” ucap Agus dengan nada getir.
“Mudah-mudahan pengorbananmu berbuah manis,” hibur Doni.
“Aamiin. Eh, kau berarti kenal keluarga Mas Farhan, ya?”
“Tentu saja. Bunda Mas Farhan kan wali kelasku. Istrinya... teman yang aku bilang tadi.”
“Kau masih menyimpan kontaknya? Kenapa tak kau hubungi saja istrinya?” tanya Agus.
“Ah iya. Sebentar! Masalahnya aku pakai HP yang bukan biasanya. Ini hanya biasa kugunakan untuk menelepon.
Aku nggak tahu kontak Via ada apa enggak. Bentar ... “ Hening sejenak. Mungkin Doni sedang menatap layar ponselnya.
“Aha, ada! Tapi, aku harus minta persetujuan Mas Farhan. Biarlah besok pagi saja aku bilang Mas Farhan. Kalau mau menelepon Via, mending Mas Farhan sendiri yang bicara dengannya.”
“Kau benar. Dari kemarin, dia bingung menghubungi keluarganya. Ia tidak bisa mengingat deretan angka sampai
12 digit. Alamat om-nya saja tidak ingat,” kata Agus.
“Mungkin ada gangguan pada syaraf otaknya. Bagaimana kalau besok pagi kuperiksakan ke dokter spesialis dalam?”
Keheningan tercipta lagi. Mungkin Agus sedang berpikir.
“Ke rumah sakit? Riskan sekali, Don,” tolak Agus.
“Bukan ke rumah sakit, tapi ke dokter praktik. Ada, kan tempak praktik spesialis penyakit dalam di dekat sini?
“Ada, sekitar 4 kilometer dari sini. Kupikir, itu tetap berisiko meski tak sebesar kalau ke rumah sakit. Kau tanya dulu Mas Farhan, mau nggak. Kalau mau, aku ikut mengantar,” saran Agus.
Sampai di situ mataku telah,~~~~mulai berat. Kantuk menyerangku. Akhirnya, aku terlelap tidur.
***
Bersambung
````
Terima kasih atas dukungan
Kakak. Mohon terus dukung karya recehku ini dengan klik like, tinggalkan
koment, juga vote. Yang belum memberikan penilaian klik bintang 5, ya...
````
__ADS_1