
Via baru saja menghabiskan sarapannya. Bu Inah segera
membantu membereskan piring Via. Sebenarnya, Via sudah berkali-kali mengatakan
agar Bu Inah membiarkannya melakukan sendiri. Namun, perempuan yang usianya
sedikit di atas Bu Aisyah itu tidak memedulikan.
“Saya membereskan baju-baju kotor dulu, ya. Tukang laundry
nggak bisa ke sini hari ini. Jadi, saya mau antar baju ke sana. Nggak jauh,
kok. Mbak Via membutuhkan sesuatu?” Bu
Inah memastikan terlebih dahulu sebelum meninggalkan Via.
“Enggak. Bu Inah bisa pergi ke laundry. Toh ada perawat. Kalau ada apa-apa, Via bisa panggil perawat,” sahut Via.
Setelah Bu Inah pergi, Via mengambil ponselnya. Ia membalas
beberapa pesan yang masuk Pesan Ratna menjadi pesan terakhir yang ia balas.
Ratna
[Apa kabar, Marimar? Masih sakit nggak tuh bekas sayatan di
perutmu?]
Via
[Masihlah. Tapi udah nggak terlalu, sih. Aku udah bisa
jalan, kok.]
Baru saja terkirim, di layar tampak keterangan kalau Ratna
sedang menetik.
Ratna
[Syukurlah. Aku kok jadi ngeri ngebayangin, ya? Aku jadi
ngerasa bersalah kadang ngebantah ibu.]
Via
[Alhamdulillah, insyaf juga kamu. Udah dulu, ya!. Kayaknya
dokter mau meriksa, deh.]
Via meletakkan ponselnya kembali. Tak lama terdengar pintu
diketuk diiringi salam. Beberapa orang berpakaian putih masuk. Senyum
mengembang di bibir mereka membuat orang berstatus pasien lebih rileks.
“Bagaimana kondisi Nyonya Via hari ini? Tampaknya jauh lebih
segar, nih,” tanya salah satu di antara mereka.
“Iya, alhamdulillah sudah lebih baik,” jawab Via.
“Cek jahitan dulu, ya. Ngomong-ngomong sudah bisa jalan, kan? Sudah jalan-jalan ke taman depan apa belum?” tanya dokter Linda sambil terus mengajak Via ngobrol hingga Via tidak merasa kalau sedang dicek kondisi
jahitannya.
“Jahitan bagus, kok. Belum kering sempurna, sih. Mbak Via harus ingat, jangan mengangkat yang berat-berat, ya!”
Via mengangguk paham.
“Ada keluhan?”
Via menggeleng dan menjawab singkat,”Enggak.”
Selesai pemeriksaan, mereka berpamitan keluar. Via kembali mengambil ponselnya dan membuka percakapannya dengan Ratna. Sahabat dekatnya itu ternyata masih online.
Via
[Alhamdulillah, jahitanku sudah bagus.]
Tak perlu menunggu lama, Ratna membalas pesan Via.
Ratna
[Memang kamu kursus menjahit? Sejak kapan?]
Via terbelalak membaca pesan Ratna. Ia merasa kesal kepada
__ADS_1
anak itu.
Via
[Jahitan luka, bukan jahitan baju!!!!]
“Ini pasti Ratna lagi cekikikan, deh. Dasar somplak! Mungkin
dia layak dimasukkan trio somplak biar jadi kwartet somplak. Atau dijodohkan
sama Pak Gibran saja si CEO somplak itu, ya?”
Notifikasi pesan kembali terdengar. Tentu saja dari Ratna.
[Idiiih…bumil eh busui marah. Ntar anakmu takut lo kalau kamu
sering marah-marah. Dia pasti mikir, ini bunda apa oma, ya? Wkwkwk….]
Via tak sabar mengetik pesan untuk melampiaskan kekesalan. Ia menekan tombol dial.
“Assalamualaikum Bunda cantik. Aku tahu kau pasti tak sabar mengetik pesan,” suara Ratna langsung terdengar tak lama setelah nada sambung berbunyi sekali.
“Waalaikumsalam. Iya, kepengin ngomelin kamu! Eh, sejak kapan wajahku kayak nenek-nenek?” semprot Via.
“Sekarang belum. Tapi kalau kamu marah-marah, keriput bakal
muncul lo. Eh, mau lihat interior ruko nggak? Pindah ke video call, ya,” Ratna
mengalihkan topik pembicaraan.
“Iya, deh. Coba seperti apa,” ucap Via.
Mereka beralih ke video call. Ratna mengarahkan layar
ponselnya ke sekeliling lantai 1 ruko. Via mengamati dengan cermat.
“Lumayan juga. Sekarang tampak lebih fresh, kekinian,” komentar Via.
“Siapa dulu perancangnya. Ratna, gitu loh!”
Via tersenyum. Ia senang dengan kemajuan Ratna. Ia bisa mengembangkan ide-ide segar, hingga tidak bergantung kepadanya.
“Tadi dokternya ada yang masih muda dan ganteng, nggak?” tanya Ratna.
“Kepo! Memang kenapa? Kepengin dicomblanin sama dokter?” cibir Via.
“Ngarep amat! Sayangnya nggak ada, tuh. Dokternya cantik-cantik. Yang ganteng udah tua macam ayah hehe….” Via menahan tawanya agar tidak sampai tubuhnya terguncang.
“Mas Azka di situ, nggak?” tanya Ratna.
“Enggak,” jawab Via singkat. Nadanya terdengar datar.
“Kamu kenapa? Marah sama Mas Azka?” tebak Ratna.
“Enggak. Kenapa kamu bilang gitu?” elak Via.
“Kali aja marah. Habis, nada suaramu jadi gimanaaa gitu. Eh, pengunjung agak banyak nih. Aku tutup dulu, ya. Assalamualaikum.” Pembicaraan mereka terputus.
“Waalaikumsalam,” bisik Via. Ia meletakkan ponsel di sampingnya.
“Kenapa aku jadi sensi kalau membicarakan Azka? Dia kan nggak salah. Belum tentu juga dia suka kepadaku. Mungkin itu hanya dugaan Eyang Probo. Kalau pun benar, mungkin dia sudah memupus rasa itu begitu aku menikah dengan Mas Farhan dan menjadi kakak iparnya. Aku nggak boleh suuzon.”
Via menghela nafas panjang. Matanya menerawang jauh. Ia teringat masa-masa kebersamaan dengan Farhan dan Azka.
Lamunan Via buyar saat ia mendengar ketukan pintu disusul salam. Tak lama kemudian, muncul sosok yang baru saja ia pikirkan.
“Sedang apa, kakakku? Jangan kebanyakan melamun! Takutnya ada setan lewat, terus nyasar,” kata Azka.
“Ih, jangan ngomong gitu, deh! Nyeremin,” protes Via.
“Iya, makanya jangan melamun! Ni aku bawakan baju ganti. Kali aja yang di sini habis.” Azka meletakkan koper di sudut ruangan.
“Tadi dari rumahku?” tanya Via.
“EnggakMas Edi yang nganter ke rumah sambil berangkat ke kantor. Bu Inah ke mana? Kok sendiri?” Azka ganti bertanya.
“Sedang ke laundry. Tukang laundry tidak bisa ke bangsal-bangsal. Jadi, Bu Inah nganter ke sana,” jelas Via.
“O gitu. Mbak Via sudah makan? Kok nggak ada makanan?” Azka celingukan.
“Kalau sarapan, tentu sudah. Kalau makan siang ya belum. Kamu lapar? Cari saja di kulkas! Atau di lemari kecil,” kata Via.
Tidak perlu menunggu petunjuk berikutnya, Azka membuka pintu kulkas dan mengambil sebuah apel merah. Ia mengupasnya. Disodorkannya potongan apel ke Via.
“Ah, enggak! Kamu makan saja sendiri. Aku nggak kepingin,” tolak Via.
“Ya sudah kalau nggak mau. Aku makan sendiri, ya,” ucap Azka seraya memasukkan potongan apel ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, putri Bunda. Eh, ada Azka. Kapan ke sini?" Bu Aisyah datang dengan diiringi senyum.
" Waalaikumsalam. Kemarin, Bu. Ibu ada perlu apa, ya?" Azka memberi jawaban yang tidak nyambung.
"Ah, kamu ini! Bunda pusing bicara sama kamu. Via, jadi ketemu dokter anak?" Bu Aisyah beralih ke Via.
"Jadi, dong! Ke sana sekarang, yuk! Sudah jam 11," jawab Via antusias.
"Azka, ambilkan kursi roda," perintah Bu Aisyah.
Azka segera keluar menuju ruang perawat. Tak lama kemudian, ia kembali dengan mendorong kursi roda.
"Ayo, Bunda naik!" kata Azka.
"Sembarangan! Itu buat Via. Ayo, Via!" Bu Aisyah memelototi Azka.
Cowok itu hanya cengengesan. Ia mendorong kembali kursi roda mendekati Via.
Setelah Via duduk, Azka mendorong keluar.
"Kamu mau ikut, Ka?" tanya Bu Aisyah.
"Iyalah. Kalau nggak ikut, ngapain Azka sendirian di sini? Lagian, Azka juga ingin tahu penjelasan dokter tentang cucu pertama Bunda," jawab Azka enteng.
Via agak gugup mendengar jawaban Azka. Tentu saja Azka yang mendorong kursi roda.
Kecanggungan semakin melanda Via saat berpapasan dengan pembezuk pasien lain. Ada di antara mereka yang menatap Via dan Azka dengan tatapan kagum.
"Suaminya perhatian banget. Itu pasti mertuanya. Wajahnya mirip yang laki-laki. Beruntungnya dia begitu disayang suami sama mertua," kata salah satu orang yang berpapasan. Tidak keras, tetapi telinga Via masih bisa menangkap dengan jelas. Perasaan Via makin tidak enak.
Tak lama kemudian, mereka sampai ke ruangan dokter Wibowo. Dokter spesialis anak itu baru saja masuk ruangan setelah selesai melakukan pemeriksaan terhadap pasien rawat jalan.
"Silakan duduk, Nyonya Haris. Ada yang bisa saya bantu?" Dokter yang tergolong masih muda itu menyambut dengan ramah.
"Kami ingin bertanya tentang kondisi cucu saya, Dok," jawab Bu Aisyah sambil mengambil posisi duduk di kursi depan dokter.
"O, begitu. Sebentar, saya lihat catatan saya."
Dokter Wibowo mencari catatan yang ia maksud. Beberapa menit kemudian, ia memegang sebuah stop map lalu dibuka di atas meja.
"Bayi Nyonya Novia Anggareni, ya? Lahir pada usia 30 minggu 5 hari. Sebenarnya, kalau memungkinkan kelahirannya akan ditunda sampai janin berusia minimal 34 minggu. Meski tergolong masih prematur juga, kalau sudah di atas 34 minggu kondisi janin lebih baik, organ vitalnya sudah matang," kata dokter.
"Kenapa waktu itu tidak bisa ditunda?" tanya Via.
"Ketuban Nyonya sudah pecah dan ada korioamnionitis sehingga segera dilakukan persalinan," jawab dokter Wibowo.
"Lalu, bagaimana kondisi cucu saya sekarang dan resiko yang ia hadapi di kemudian hari?" Bu Aisyah tampak tak sabar.
"Kondisi paru-paru belum matang sehingga ia perlu dibantu alat pernafasan. Namun, sejauh ini tidak ada masalah serius termasuk apnea, yaitu kondisi di mana bayi berhenti bernafas beberapa detik. Kalau saat ini, bayi Nyonya Via mengalami hiperbilirubin."
"Lalu, bagaimana ...." Via tampak gugup.
Dokter Widodo tersenyum lalu melanjutkan,"Ini wajar dialami bayi prematur karena hatinya belum matang. Bahkan, bayi yang cukup bulan pun sering mengalami hiperbilirubin ini. Pada bayi baru lahir, hiperbilirubinemia dapat timbul karena tubuhnya belum mampu menyaring bilirubin seperti tubuh orang dewasa."
"Bahayakah, dok?" tanya Via
"Kalau tidak segera ditangani, iya. Namun, bayi Nyonya sudah kami tangani dengan fototerapi, yaitu menyinari bayi dengan sinar biru untuk memecah bilirubin. Dengan demikian, kadarnya akan menurun."
"Sampai kapan anak saya di inkubator, dok? Kapan boleh kami bawa pulang?" tanya Via penuh harap.
Dokter Wibowo tersenyum. Ia membaca laporan medis di depannya.
"Saya tidak bisa memastikan waktunya. Yang jelas, menunggu kondisi bayi stabil. Bayi sudah bisa bernafas tanpa alat bantu, beratnya minimal 1.800 gram, tidak kuning atau hiperbilirubin, juga suhu tubuh stabil."
Mereka mengangguk-angguk paham.
"Kalau begitu, kami permisi, dok. Terima kasih atas waktu dan penjelasan dokter. Maaf telah mengganggu dokter. Assalamualaikum," ucap Bu Aisyah.
"Waalaikumsalam. Senang bisa membantu," balas dokter Wibowo ramah.
Bu Aisyah menyuruh Azka mendorong kursi roda ke ruang peristi. Via menyambut gembira karena akan bertemu lagi dengan bayinya.
***
Bersambung
Sabar menunggu kelanjutan ceritanya, ya!
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak.
Bagi yang ingin tahu sosok trio somplak, baca novel Tentang Hati karya Aldekha Depe. CEO Gibran ada di CEO Somplak Jatuh Cinta, sedangkan dokter Kevin ada di Suamiku Dokter Dingin.
__ADS_1