
Di ruang tamu kediaman Danu Santoso, tampak 5 pria tengah terlibat pembicaraan serius. Sesekali di antara mereka ada yang mengusap peluh di wajah. Padahal suhu ruangan cukup dingin.
Minuman yang tersaji di meja masih utuh, belum ada yang meminum. Makanan pun sama, belum mereka sentuh. Sepertinya mereka kehilangan selera. Wajah-wajah mereka tampak tegang.
“Kun, bagaimana kerjamu? Kenapa kalian belum bisa menerobos keamanan Wijaya Kusuma dan Kencana. Kamu sudah sewa hecker yang handal? Kalau kamu memang tidak sanggup, cari hecker yang pinter! Masa kerja begitu saja tidak becus!” bentak Danu.
“Maaf, Tuan. Saya sudah berusaha. Saya juga sudah sewa hecker professional, membayar mereka cukup tinggi. Tapi sepertinya musuh kita kali ini bener-bener tangguh.”
“Wid, bagaimana denganmu? Kenapa sekarang kamu tidak bisa apa-apa? Apa yang kamu lakukan hingga tidak bisa memberi informasi apa-apa?” Danu beralih bertanya ke pria berbaju batik coklat.
“Maaf, aku sekarang seperti diikat. Memang jabatanku naik, tapi justru aku kesulitan mengakses data penting. Gerak-gerikku juga seperti diawasi. Aku merasa sepertinya Arman mencurigai aku.”
“Itu urusanmu. Kamu harus pandai-pandai bersandiwara. Aku nggak mau tahu bagaimana caramu agar kamu bisa mendapatkan akses data yang kita butuhkan. Tentu saja yang utama data keuangan,” gerutu Danu.
“Bukankah Kuncoro sudah bisa menerobos masuk data perusahaan Wirawan? Bahkan, Kun bilang semua data,” sahut lelaki itu.
“Data itu bukan data yang digunakan. Ternyata mereka licik. Mereka membiarkan Kun mencuri data. Seolah itu data penting mereka. Tapi, itu data palsu. Mereka sudah memprotek data mereka begitu rapi. Aku benar-benar kecolongan.”
“Apa manager baru itu, ya?” gumamnya.
“Apa maksudmu, Wid?” tanya Danu.
“”Aku curiga, jangan-jangan ini ada hubungannya dengan manager keuangan yang baru. Tapi aku ragu, apa dia memiliki kemampuan di bidang IT sedemikian hebat?”
“Coba kau selidiki! Perusahaanku sudah terkena imbasnya. Kalau dalam waktu dua bulan kita tidak dapat menyelesaikan masalah ini, tidak hanya aku yang hancur. Ben, Kun kalian juga akan runtuh bersamaku karena selama ini akulah yang menopang kalian.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Danu terdiam. Empat orang lainnya ikut diam.
“Bagaiamana dengan anak Wirawan? Apa yang kau rencanakan, Ben?” tanya lelaki yang dipanggil Wid.
“Sebenarnya, aku berencana menculiknya malam Sabtu yang lalu. Tapi, dia tidak berada di rukonya. Kalau dia tidak di sana, aku kesulitan. Aku menunggu dia sendirian di sana.”
“Apa tidak bisa cara lain? Kalau nunggu dia sendirian, apa tidak terlalu lama? Memangnya kamu tahu kapan dia sendirian?”
“Aku bisa mendapatkan informasi posisinya dari seseorang.”
“Kau yakin keakuratan informasinya?”
“Tentu saja karena informan-ku orang yang sangat dekat dengannya,” jawab Ben yakin.
__ADS_1
“Apa kau tidak mencoba memancing dia ke suatu tempat?” tanya Kun.
“Pernah aku mencobanya, tapi gagal. Gadis itu bukan tipe orang yang suka bepergian. Satu-satunya jalan aku menculiknya di ruko saat dia sendiri.”
“Terserahlah. Ingat, waktu kita sangat sempit. Aku sudah dua kali kalah sama Arman. Aku nggak mau ini berulang.” Danu mendengus kesal.
“Kau bagamana, Fer? Sedari tadi kau diam saja. Sariawan?” tanya Kun.
“Dari tadi kan membahas Wijaya Kusuma. Mana aku tahu? Bukankah tugasku mengendalikan Kencana?”
“Lalu, bagaimana hasilnya?”
“Bukannya tiap minggu aku sudah melaporkan data-data milik kakek tua itu?” jawab lelaki berusia 40-an tahun itu dengan santai.
“Kau tidak memperhatikan, ha? Aku sudah bilang data itu palsu!” bentak Danu.
“Apa? Data-data itu ….”
Danu memegang kepalanya yang berdenyut. Wajahnya merah padam. Ia segera mengambil minumnya dan menegak air dalam gelas itu hingga tak bersisa.
"Kenapa kalian jadi t*l*l begini, sih?" keluh Danu.
“Sudah, sekarang kita susun planning untuk masa depan kita,” Wid menengahi.
“Dan kau, Ben, bereskan anak gadis Wirawan. Aku tahu kalau kau harus hati-hati agar tindakanmu tidak terendus. Tapi, kau juga harus cepat. Posisi kita semakin terjepit. Jangan sampai nasib Wijaya Kusuma 2 tahun yang lalu berbalik ke kita,” ucap Danu.
“Aku paham. Tenanglah, aku sudah menyusun rencana dengan matang. Aku berencana mengeksekusi minggu depan. Aku akan menjadikan gadis itu sebagai alat menekan Arman. Aku tahu pasti, si b**ng**k Arman sangat loyal kepadamajikannya meski sudah di alam baka. Dia pasti memilih keselamatan anak itu.”
“Aku serahkan urusan ini kepadamu, Ben. Pokoknya, paling lambat akhir bulan ini kau sudah membereskan gadis ingusan itu.”
“Jangan khawatir! Aku pasti berhasil. Dan, kau Fer. Awasi kakek tua itu. Bagaimana bisa datanya dikunci sebegitu rapat sampai kau tak bisa menerobos? Apa ada pegawai baru?”
“Nggak ada. Setahun terakhir tidak ada perekrutan karyawan. Beberapa waktu yang lalu ada Kepala Divisi yang mundur, tetapi sudah digantikan tanpa menambah jumlah karyawan.”
“Aneh. Lalu siapa yang membuat system keamanan data milik kakek tua itu. Apa ia menyewa orang secara diam-diam? Kau harus tahu, Fer. Temukan orang itu! Kau juga, Wid. Kau pun harus menemukan orang yang memprotek data Wijaya Kusuma. Kau dekati manager penggantimu. Korek keterangan dari orang itu.”
"Aku tak yakin bisa. Dia sangat tertutup. Jarang sekali dia bergabung dengan karyawan lain. Saat makan siang pun dia jarang kelihatan. Kalau Senin dan Kamis biasanya puasa. Mungkin dia dari keluarga miskin," papar Wid.
"Bagaimana penampilannya?" tanya Kun.
__ADS_1
"Sangat sederhana. Dia nggak pernah pakai mobil, selalu naik motor matik. Pakaiannya juga gak bermerk," jawab Wid.
"Siapa namanya?" tanya Ben.
"Farhan, lengkapnya Farhan Alfarizi. Aku pernah menyadap HP-nya. Tapi tidak ada yang mencurigakan. Percakapan di HP-nya hanya seputar pekerjaan."
"Kau bisa menyadap? Hebat sekali!" komentar Danu sinis.
"HP-nya tidak menggunakan kunci layar. Dengan mudah aku bisa membukanya. Saat itu ia meninggalkan HP di meja dan dia salat. Entah salat apa dia karena yang lain tidak ada yang salat."
"Kalau dia jago IT, mengapa bisa seteledor itu? Rasanya tidak mungkin," gumam Kun.
"Tunggu... tadi namanya siapa? Farhan Alfarizi?" Feri menyela.
"Iya. Kenapa? Kau kenal?" tanya Wid.
"Mungkin. Kau punya fotonya?"
Wid menggeleng.
"Salah satu Kepala Divisi di tempatku juga bernama Farhan. Dia mengundurkan diri sekitar 7 atau 8 bulan yang lalu. Yang di tempatmu, kapan mulai bekerja?"
"Sekitar setengah tahun yang lalu."
"Jangan-jangan orang yang sama," gumam Kun.
"Bagaimana tingkah lakunya? Terlihat mencurigakan?" Danu menyela.
Lagi-lagi Wid menggeleng. Ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan dari sosok Farhan.
"Apa dia dekat dengan Arman?" Beno ikut bertanya.
"Nggak. Dia hampir tidak pernah terlihat bersama Arman. Masuk ke ruang Arman pun sangat jarang."
"Pokoknya selidiki dia!" perintah Danu.
Lelaki yang diperintah hanya menjawab dengan anggukan kepala.
****
__ADS_1
Bersambung
Dukung terus author, ya!