SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Mengganggu Pengantin Baru (2)


__ADS_3

Azka cemberut ketika tahu kakaknya berada di hotel yang sama dengannya. Ia lebih kesal lagi saat Meli dengan puppy eyes meminta ke kamar kakaknya.


Mau tidak mau, Azka terpaksa menuruti kemauan Meli. Ia sudah menduga kalau kakaknya sudah merancang dengan matang. Rancangan merecoki acaranya.


Mario bernasib sama dengan Azka. Ia pun terpaksa mengikuti kemauan Anjani untuk pergi ke kamar Via.


"Kalau begini bisa-bisa rusak rencanaku. Ni orang-orang Jogja ngapain juga ikutan nginep di hotel ini? Kenapa mereka nggak dari kemarin datang? Ganggu acara pengantin baru aja," gerutu Mario lirih.


Meski volume suara sudah dikecilkan, Anjani masih mendengar perkataan Mario.


"Eh, nggak boleh gitu. Mereka datang jauh-jauh ke sini untuk mengucapkan selamat kepada kita. Mereka masih menghargai privasi kita, lo! Kalau nggak, pasti mereka nyamperin ke sini," protes Anjani.


Mario tidak menanggapi ucapan sang istri. Ia hanya mengekor langkah Anjani menuju kamar Via.


Ternyata, Azka dan Meli sudah lebih dahulu di kamar Via. Mereka duduk di sofa dan di ranjang king size.


Azka sedang bermain dengan Zayn. Begitu melihat om-nya, Zayn yang belum mau tidur minta digendong Azka. Tentu saja Azka tidak mungkin menolak permintaan sang keponakan.


"Anjani, selamat ya!" Ratna berseru begitu melihat Anjani.


Ratna dengan cepat memeluk Anjani. Setelah cipika-cipiki, Ratna melepaskan pelukannya.


Via ganti memberi pelukan untuk Anjani. Dia membisikkan sesuatu ke telinga si pengantin baru.


"Selamat, ya. Semoga jadi keluarga samawa. Sudah nyicil, kan? Cetak keponakan yang banyak buat aku, ya!"


Anjani terkekeh mendengar bisikan Via. Ia melirik suaminya yang masih mematung di belakangnya.


Farhan dan Rio sudah bersiap memberikan ucapan selamat. Namun, karena posisi Mario masih terhalang Anjani, mereka menunggu terlebih dahulu.


Via menyadari posisi Mario yang menyulitkan Farhan dan Rio mendekat. Ia menarik Anjani ke ranjang. Mereka duduk di ranjang bersama Meli dan Ratna.


"Selamat, ya. Semoga jadi keluarga samawa. Maaf, kami tidak bisa datang saat kalian ijab qabul sampai resepsi," ucap Farhan tulus.


Rio pun mengucapkan selamat meski hanya mengetahui nama Mario tanpa mengenalnya.


"Kamu ke sini bawa kado, nggak?" tanya Meli kepada Ratna.


"Hush, Meli! Jangan gitu dong!" seru Anjani malu.


"Tenang, tentu aku bawa. Nggak mewah yang penting aku ikhlas lahir batin," jawab Ratna kalem.


"Berasa kayak lebaran," celetuk Meli.


Mereka tertawa mendengar celetukan istri Azka.


"Berikan kado kita untuk pengantin baru, Rat!" perintah Via.


Ratna mengambil 2 kotak yang dibungkus cantik kepada Anjani.


"Terima kasih banyak, Ratna, Via. Kalian datang saja aku sudah senang," kata Anjani terharu.


"Buat aku mana?" tanya Azka sambil mengangkat tubuh montok Zayn.


"Buatmu spesial, Dek," jawab Via.


"Pakai telor?" tanya Azka sambil melirik Farhan.


"Gak cuma telor. Pakai sambal juga," sahut Farhan.


"Eh, insya Allah ada yang mau nyusul Anjani nih. Semoga dimudahkan dan dilancarkan jalan menuju ke sana, ya," ucap Via.


Ratna melotot ke Via. Pipinya memerah.


Tingkah Ratna tertangkap mata Meli. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan Via.


"Ratna sudah dilamar, Mbak? Kapan nikah? Alhamdulillah, satu lagi temanku mendapat jodoh halal. Sama siapa?" Meli menghujani Via dengan pertanyaan bertubi-tubi.


"Ish, apa-apaan, sih?" Ratna cemberut.


"Kabar bahagia tak perlu ditutup-tutupi, Ratna. Biar banyak yang mendoakan, jadi semua lancar," ucap Azka.

__ADS_1


"Betul kata Mas Azka. Kapan, Vi?"


Via belum menjawab. Dia malah memamerkan deretan gigi putihnya.


"Ih, Mbak Via ditanya malah senyum-senyum saja," protes Meli.


"Kenapa nggak tanya yang bersangkutan?" Via melirik Ratna.


Ratna menunduk malu. Ia melirik Rio yang tampak tersipu meski tidak menundukkan kepalanya.


"Ehm, sepertinya calon pasangan halal ini masih malu. Aku saja yang jawab. Insya Allah minggu depan Rio melamar Ratna. Ijabnya kapan? Ya belum tahu. Diterima tidaknya juga belum tahu. Semoga orang tua Ratna menerima pinangan Rio dan waktu ijabnya ga pakai lama. Sepertinya mereka sudah ngiri sama kita, nggak lagi nganan," ucap Farhan diikuti tawanya.


"Alhamdulillah, selamat! Aku dukung langkahmu, Bro! Kalau memungkinkan, kita bikin resepsi bareng," ucap Azka tulus.


Azka mendekati Rio. Via segera mengambil Zayn yang sudah mulai mengantuk.


Serta-merta Azka memeluk sahabat karibnya. Kekesalan kepada sang kakak lenyap begitu mendengar kabar bahagia itu.


"Satu lagi. Kita doakan Doni-Dini segera menyusul," kata Farhan lagi.


"Doni?" desis Ratna.


"Iya. Beberapa hari lalu, aku berhasil ngompori Doni agar menghalalkan hubungannya dengan Dini. Alhamdulillah, Doni bisa menerima saranku. Dan yang lebih menggembirakan, papanya Doni mendukung," lanjut Farhan.


"Alhamdulillah," ucap semuanya.


"Dini sepertinya juga mau. Aku sudah memberikan saran kepadanya saat menjenguk Om Candra waktu itu," tambah Via.


"Sepertinya Mas Farhan dan Via ni bakat jadi Mak comblang. Bagaimana kalau buka biro jodoh saja?" celetuk Ratna.


"Bener...bener," dukung Meli.


Mereka begitu asyik ngobrol hingga sudah lewat tengah malam. Azka memperhatikan Meli yang sudah tiga kali menguap.


"Kita kembali ke kamar, yuk! Sudah malam. Bisa-bisa kita nggak dapat QL," ajak Azka.


"Iya, Meli sudah ngantuk. Besok lanjut lagi, ya," ucap Meli di sela kantuk yang mendera.


Akhirnya, mereka kembali ke kamar masing-masing. Via dan Farhan pun bersiap untuk tidur.


Sesampai di kamar, Meli sudah tak dapat menahan kantuk. Ia merebahkan diri dan tak lama tertidur pulas.


Azka menggelengkan kepalanya. Ia kembali merasa kesal.


"Malam ini cuma bisa meluk, nih?" gumamnya.


Azka menyusul Meli ke ranjang. Ia melingkarkan tangannya, memeluk tubuh langsing Meli.


"Besok malam jangan main bersama mereka lagi, ya. Kita main berdua saja," bisik Azka meski tahu Meli tak mungkin mendengarnya.


Di kamar Anjani, nasib Mario tak beda dengan Azka. Anjani tertidur pulas tak lama setelah mereka kembali ke kamar. Anjani hanya sempat membuka kado dari Via dan Ratna.


Keesokan harinya, mereka sarapan bersama. Tentu saja mereka tak melewatkan kesempatan mengobrol.


"Meli dan Anjani ada kuliah?" tanya Via.


"Enggak. Digeser harinya, Mbak," jawab Meli.


"Kalian acaranya ke mana? Boleh ajak kami ke tempat yang asyik? Masa di hotel doang. Kan nggak asyik," kata Ratna.


Azka menatap Ratna tajam. Sayangnya, yang ditatap tidak mengetahuinya.


"Aduh, bisa-bisa gagal berduaan di kamar, nih," batin Azka.


"Kamu mau ke pantai? " Meli memberi tawaran.


"Boleh. Kamu setuju, Via?" tanya Ratna.


Via mengangguk. Ia masih sibuk menyuapi Zayn.


"Maaf, kami tidak bisa ikut karena ada acara lain," kata Anjani.

__ADS_1


"Iya, nggak apa-apa kok. Kamu bisa bikin acara berdua dengan Mario. Biar Meli dan Mas Azka yang menemani kami," ucap Ratna.


Azka bertambah kesal. Ingin rasanya dia memelintir bibir Ratna.


Akhirnya, mereka menghabiskan waktu seharian ke tempat wisata. Yang mengherankan, Zayn lebih sering minta digendong om-nya.


"Ini yang punya anak siapa, yang pengantin baru siapa? Kenapa jadi aku yang ngasuh anak begini?" gerutu Azka.


"Mas Farhan pulang ke Jogja kapan, sih?" tanya Azka saat mereka baru kembali ke hotel.


"Besok. Kenapa? Bukannya kamu juga kembali ke Medan besok, Dek?" Farhan balik bertanya.


"Kok Mas Farhan tahu?" Azka menatap kakaknya penuh selidik.


"Apa sih yang kakakmu nggak tahu?" sahut Farhan sambil mengedipkan sebelah matanya.


Azka bergidik. Ia menghubung-hubungkan kedatangan kakaknya dengan anak buah Edi yang kerjanya tak diragukan.


"Jangan-jangan Mas Farhan sengaja gangguin acara Azka, ya?" tebak Azka.


"Jangan berpikir terlalu jauh. Malam ini, istirahat dengan tenang biar besok bisa berangkat ke Medan dalam kondisi fit. Perjuanganmu belum selesai, Dek," jawab Farhan santai.


Azka mendengus kesal. Ia tetap yakin kalau Farhan memang punya niat menjaili dia dan Meli.


Malamnya, Via dan lainnya ganti ke kamar Azka-Meli. Via dan Farhan menceritakan kondisi Eyang Probo. Azka dan Meli mendengarkan cerita kakaknya. Begitu tahu eyangnya sudah boleh pulang, Azka dan Meli menarik nafas lega.


Sekitar satu jam mereka ngobrol, Via mengajak kembali ke kamar. Tentu saja Azka senang mendengarnya.


"Yes! Cepatlah kembali. Aku mau berduaan dengan Meliku. Aah, besok malam aku tak lagi bisa memeluknya," gumam Azka dalam hati.


Tanpa mereka duga, drama di luar skenario terjadi. Zayn tak mau diajak Via dan Farhan kembali ke kamar. Ia menempel om-nya terus. Matanya yang semula mulai terpejam, mendadak terbuka lebar.


"Ayo, Nak. Sudah malam, nih. Kita bobo, yuk!" Via berusaha membujuk Zayn.


"Bo ni!" Zayn menunjuk ranjang Azka.


"Zayn mau bobo di sini? Sama om dan Tante?" tanya Meli.


Zayn tampak senang mendengar pertanyaan Meli. Ia mengulurkan tangannya kepada Meli yang disambut tante barunya.


"Kalau tengah malam dia terbangun, bagaimana?" Via tampak khawatir.


"Udah, nggak apa-apa. Nanti kalau rewel, aku antar ke kamar Mbak Via," ucap Meli santai.


Azka menepuk keningnya. Ia tak habis pikir dengan keponakan dan istrinya.


Akhirnya, Via dan Farhan meninggalkan Zayn di kamar Azka. Mereka kembali tanpa Zayn.


"Yah, kok malah jadi ngasuh anak begini? Bukannya ini waktunya kita menikmati kebersamaan?" keluh Azka.


"Sudahlah, Mas. Masih banyak waktu buat kita. Nanti kalau dia tertidur, Mas antar ke kamar Mbak Via. Habis itu, kita bisa ...." Meli sengaja menggantung kalimatnya. Ia tersenyum malu.


Azka akhirnya mengalah. Ia membiarkan Meli menidurkan sang keponakan. Sambil menunggu Zayn tidur, Azka mengirim pesan kepada Farhan.


[Mas, kalau Zayn sudah bobo, aku antar ke kamar kalian, ya. Nggak usah protes!]


Tiga puluh menit berlalu, Zayn sudah tertidur pulas. Namun, Meli pun ikut pulas di sampingnya. Azka tak tega membangunkan sang istri.


" Ambyar jadinya," keluh Azka.


***


Bersambung


Author lagi suka jailin Azka nih. Tetap ikuti episode selanjutnya untuk mengetahui nasib Azka yang sedang dijaili ini 🤭 Kepoin juga Azka, Meli, Anjani, juga Mario di novel keren CS1 karya Kak Indri Hapsari.


Jangan lupa untuk selalu dukung kami dengan memberikan like dan komen.


Barakallahu fiik


__ADS_1


__ADS_2