
“Bagaimana, Yah? Boleh kan? Via lihat Eyang sudah sehat,” ucap Via sambil menatap Pak Haris.
Pak Haris tampak ragu. Di satu sisi ia tak ingin ayahnya memburuk, di sisi lain ia tak tega menolak permintaan ayahnya.
“Nanti dicek dulu, ya. Kalau memang semua bagus, Ayah boleh ikut,” kata Pak Haris pada akhirnya.
Eyang Probo mengangguk setuju. Sepertinya, ia begitu yakin kondisinya bagus dan bisa ikut.
“Kalau sudah selesai, Ayah ke kamar untuk Haris periksa, ya,” ucap Pak Haris.
Lagi-lagi Eyang Probo mengangguk setuju. Pak Haris bangkit dari duduknya lalu mendorong kursi roda ayahnya ke kamar.
“Eyang terlihat begitu semangat,” gumam Meli yang masih tertangkap telinga Azka dengan jelas.
“Mudah-mudahan kesehatannya terus membaik agar bisa menimang cicit dari kita,” sahut Azka.
Semua orang menoleh ke Azka dan Meli. Mereka tersenyum mendengar ucapan Azka.
“Ayah juga ingin menimang cucu, Mel,” sahut Pak Roni.
“Ih, Ayah jadi ikut-ikutan. Mas Azka, sih,” gerutu Meli menahan malu.
“Lho, memangnya kamu belum ingin jadi ibu, Mel?” sambung Via.
Meli gelagepan. Ia bingung harus jawab apa.
“Tuh, ditanya kakak ipar,” bisik Azka. Senyum menggoda tersungging di bibir.
“Mmm, Meli belum tahu. Meli kan masih kuliah,” jawab Meli gugup.
“Nggak ada masalah, kan, hamil di masa kuliah? Yang penting bisa mengatur kesibukan,” sahut Bu Aisyah.
“Wah, Bunda juga sudah ingin nambah cucu. Ayo, beri kami keponakan!” Via menyunggingkan senyum lebar.
Pipi Meli semakin memerah. Ingin rasanya dia menyembunyikan diri agar tidak terus-menerus diledek.
Azka mengusap lengan Meli dengan lembut. Ia tahu kalau sang istri tengah gelisah.
“Tenang saja, Sayang. Itu bukti kalau mereka saying sama kita, perhatian sama kita. Tak ada salahnya kita berusaha mewujudkan keinginan mereka,” tutur Azka.
“Masss, jangan ikutan dong!” desis Meli gemas.
Ucapan pasangan yang baru menikah itu masih dapat didengar yang lain. Mereka tertawa karenanya.
Tentu saja Meli semakin malu. Untunglah, Pak Haris datang.
“Alhamdulillah, semua baik. Kita berangkat ke rumah Via sekarang biar ayah bisa istirahat sebentar sebelum ke rumah Ratna,” kata Pak Haris.
“Syukurlah, ayah datang tepat waktu. Aku terselamatkan,” batin Meli.
Mereka bangkit dari posisi duduk. Via meraih Zayn dan digendongnya. Tak lama kemudian, iring-iringan mobil keluarga Pak Haris bergerak menuju kediaman Via.
__ADS_1
“Mel, sini!” bisik Pak Roni.
“Ya, ada apa?” Meli mendekat ke ayahnya.
“Ini rumah Nak Farhan? Segede ini? Memang berapa orang yang tinggal?” tanya Pak Roni.
“Mbak Via dan Mas Farhan ditambah ART dan satpam. Kenapa?”
“Rumah Tuan Probo saja sudah sebesar itu, ini lebih besar dan lebih megah. Sepertinya lebih tepat disebut istana,” gumam Bu Fatimah.
“Terus, rumah mertuamu sebesar apa, Mel?” tanya Pak Roni lagi.
“Ih, Ayah, Ibu, jangan norak gitu! Rumah ayah dan bunda lebih besar dibandingkan rumah kita. Tapi, nggak semegah ini. Sudah, ayo masuk!”ajak Meli.
Begitu masuk rumah, Farhan mendorong kursi roda eyangnya memasuki salah satu kamar tamu. Ia membantu Eyang Probo berbaring di ranjang.
“Eyang istirahat dulu biar nanti sore sudah segar saat acara lamaran. Tadi Farhan sudah menyiapkan baju Eyang untuk nanti biar Eyang tampil oke,” ucap Farhan.
Eyang Probo hanya terkekeh mendengar ucapan cucunya. Ia merebahkan diri, menuruti saran anak dan cucu.
Farhan keluar kamar setelah melihat eyangnya memejamkan mata. Ia bergabung dengan yang lain di ruang tamu.
“Om dan Tante sebaiknya juga istirahat dulu,” saran Farhan.
“Nggak usah, kami masih ingin ngobrol. Kami kan satu generasi, bisa ngobrol tentang masa lalu,” tolak Pak Candra.
“Apa kita ke dalam saja sambil nonton televisi atau ke taman biar enak ngobrolnya? Bapak-bapak biar di sini,” usul Bu Lena sambil menatap Bu Fatimah dan Bu Aisyah bergantian.
“Boleh. Kita ke taman saja, bagaimana?” ucap Bu Aisyah.
Sementara itu, Meli diajak Via ke kamar, menemaninya menidurkan Zayn.
“Mel, beneran kamu belum ingin punya momongan? Kamu nggak pakai alat kontrasepsi, kan?” tanya Via sambil mengusap kepala Zayn.
Meli masih diam. Ia bimbang menjawab.
“Atau kamu khawatir kuliahmu terganggu?” tebak Via.
Meli mengangguk. Ia memang menghadapi dilemma. Di satu sisi ia ingin memiliki anak untuk menguatkan ikatan cintanya dengan Azka. Di sisi lain, ia takut kuliahnya menjadi terbengkalai.
“Mel, menjadi seorang ibu merupakan kodrat. Banyak orang beranggapan bahwa kesempurnaan seorang wanita adalah ketika dia bisa melahirkan keturunan. Meskipun itu tidak sepenuhnya benar, yang jelas menjadi ibu didambakan hampir semua wanita.”
Via menjeda ucapannya saat Zayn bergerak-gerak. Ia menepuk-tepuk pantat Zayn.
“Namun, banyak juga yang tidak diberi amanah melahirkan anak dari rahimnya. Maka, beruntunglah jika kita diberi amanah oleh Allah untuk melahirkan dan mendidik anak. Menurut aku, kalau memang kamu diberi kepercayaan hamil dan melahirkan, itu harus disyukuri,” tutur Via lembut.
“Jadi, menurutmu aku harus segera memprogram kehamilan?” tanya Meli.
“Bukan begitu. Kamu jalani saja seperti air mengalir. Kamu tidak perlu menunda punya momongan, tetapi kamu juga tak terburu-buru seperti dikejar target. Aku kira suamimu sependapat denganku. Cobalah nanti malam kalian bicarakan berdua. Ya, ini sih cuma pendapatku. Semua terserah kalian, ucap Via bijak.
Meli mengangguk-angguk. Ia sedikit lega mendengar penuturan Via.
__ADS_1
“Lalu, apa aku sebaiknya pindah ke Jogja?” tanya Meli.
“Kalau menurutku, kamu pindah ke Jogja awal semester depan. Dek Azka kan belum wisuda. Dia juga masih harus mengurusi perkebunan hingga ada penggantinya. Sebaiknya nanti bicarakan sekalian dengan Dek Azka. Aku hanya memberi masukan. Keputusan ada di tangan kalian.”
“Ayah dan bunda bagaimana?” tanya Meli lagi.
“Sepertinya, ayah dan bunda akan tinggal di rumah Eyang Probo. Jadi, kalian berdua yang menempati rumah ayah dan bunda. Sayang kan, kalau dikosongkan.”
Benang kusut di benak Meli mulai terurai. Ia setuju dengan pendapat Via. Ia merencanakan untuk membicarakan dengan Azka nanti malam.
*
Menjelang waktu ashar, Rio datang bersama Bu Aiminah. Mereka dijemput Pak Yudi.
“Wah, kalau begini kamu kelihatan ganteng maksimal nih. Jangan-jangan nanti Ratna terpesona sampai nggak bisa nutup mulut,” kelakar Azka menyambut kedatangan sahabatnya.
“Ish, jangan meledekku gitu, dong! Aku gugup, nih,” ucap Rio.
Azka tertawa. Ia tahu kalau Rio sedang berjuang mengatasi kegugupannya.
“Tenang, Bro! Toh yang ngomong nanti bukan kamu. Meski aktor utamanya kamu, kamu cukup duduk manis mendengarkan juru bicara. Paling kamu ditanyai dikit. Masih lebiih susah ujian skripsi, kok,” kata Azka menenangkan.
Rio menarik nafas panjang beberapa kali. Azka menahan tawa melihat sahabatnya yang tengah gugup.
“Nanti Om Haris yang jadi juru bicara, kan?” bisik Rio.
“Iya, sudah pengalaman dua kali. Tenang saja.”
“Bukannya dulu waktu Mas Farhan nggak pakai acara lamaran?”
“Eh, iya. Lupa! Tapi, waktu Mas Edi nglamar Mira, ayah ikutan ngomong, kok. Habis, ayahnya Mas Edi gitu. Kata Mas Farhan, sih.”
Setelah ngobrol dengan Azka, sedikit demi sedikit kegugupan Rio berkurang. Pria itu bahkan sudah tampak tenang usai salat ashar.
Rombongan pun berangkat menjelang pukul 4 sore. Pak Haris tetap bersiap dengan peralatan medisnya dan satu mobil dengan Eyang Probo.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga Ratna. Apalagi Via yang sudah akrab dan sering main ke rumah Ratna ketika masih SMA.
Pak Haris menyampaikan niat baik Rio meminang Ratna. Ia pun menyampaikan kondisi Rio apa adanya agar tidak ada yang ditutup-tutupi dan menjadi batu sandungan di kemudian hari.
Orang tua Ratna tidak mempermasalahkan keadaan Rio yang sudah menjadi yatim piatu sejak kecil. Mereka sudah mengetahui hal itu dari Ratna.
Pembicaraan pun berlanjut hingga penetapan akad nikah dan resepsi. Sayangnya, keputusan orang tua Ratna tak seperti yang Rio harapkan.
*
Bagaimana keputusan orang tua Ratna? Apa Rio kecewa? Apa mereka jadi menikah? Tunggu next episode. Aku berusaha terus nulis dan nulis. Kalau masih banyak yang suka, alhamdulillah. Kalau nggak, ya aku memuaskan diri lewat tulisan.
Cari tahu juga perkembangan Anjani, sahabat Meli, di CS1 karya Kak Indri Hapsari!
Jika berkenan, tinggalkan like dan komentar, ya.
__ADS_1
Salam hangat.