SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Tingkeban


__ADS_3

Sesuai rencana, akhir pekan Via mengadakan selamatan tujuh bulan untuk kandungan atau yang biasa disebut tingkeban. Ia juga mengundang anak-anak panti asuhan.


Tingkeban adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa, upacara ini disebut juga mitoni berasal dari kata pitu yang arti nya tujuh, upacara ini dilaksanakan pada usia kehamilan tujuh bulan dan pada kehamilan pertama kali.Upacara ini bermakna bahwa pendidikan bukan saja setelah dewasa akan tetapi semenjak benih tertanam di dalam rahim ibu.


Upacara Tingkeban terdiri atas beberapa tahap acara seperti sungkeman, siraman, sesuci, pecah pamor, brojolan, sigaran, nyampingan, luwaran dan simparan, wiyosan, kudangan, kembulan dan unjakan, kukuban, rencakan, rujakan, dan dhawetan. Masing-masing memiliki makna tersendiri.


Namun, tidak semua ritual tersebut Via jalani.


Perlengkapan sajian tingkeban adalah sego (nasi) jangan, jajanan pasar, jenang abang putih (merah putih), jenang baro-baro, emping ketan, tumpeng robyong, sego golong, sego liwed, dan bunga telon. Sedangkan untuk kendurinya antara lain: sego gurih, sego ambengan, jajanan pasar, ketan kolak, apem, pisang raja, sego jajanan, tujuh buah tumpeng, jenang, kembang boreh, dan kemenyan. Ini pun tidak semua Via siapkan.


Via dan Farhan memiliki keyakinan bahwa acara selamatan tujuh bulan ini untuk mendoakan calon jabang bayi dan ibunya. Oleh karena itu, adat hanya untuk menunjang hal itu.


Sedikit yang berbeda kali ini. Edi tidak tampak hadir di tengah para tamu. Mira pun sedikit berbeda. Ia sering terlihat melamun.


“Mbak, tolong bingkisan ini diletakkan di atas meja panjang itu!” kata Salsa.


Mira diam tidak bereaksi. Dia duduk dengan melipat tangan di depan dada. Tatapannya tampak kosong.


“Mbak Mira, tolongin Salsa!” pinta Salsa lagi.


Ratna yang mendengar Salsa mengulang perkataannya menoleh ke Mira. Begitu melihat Mira melamun, timbul ide jail di pikirannya.


“Eh, Mas Edi. Kapan datang? Yuk ke dalam,” ucap Ratna.


Mira tampak terperanjat. Ia celingukan, memutar pandangannya ke semua penjuru.


“Cari siapa, Mbak?” tanya Ratna sambil menahan tawa.


“Em—mas Edi ke mana?” tanya Mira balik dengan wajah malu-malu.


“Pulang kampung, kan. Bukannya Mas Edi sudah pamit ke Mbak Mira?” Ratna pura-pura bingung.


“Eh, bukannya tadi ada yang ngomong dengan Mas Edi?” Mira seperti orang linglung.


“Hah? Mana ada? Jangan-jangan Mbak Mira terbayang-bayang Mas Edi? Sudah kangen, ya? Belum juga seminggu, Mbak,” ledek Ratna diiringi tawa cekikikan. Salsa pun tak kuat menahan tawanya melihat ulah Ratna.


“Aa—apa aku salah dengar? Sepertinya enggak deh. Tadi ada yang menyapa Mas Edi,” gumam Mira.


“Sudah, sekarang bantu Salsa, tuh!” perintah Ratna.


Mira tak kuasa menolak. Ia menurut instruksi Ratna. Meski tetap dengan wajah diliputi kebingungan, ia memnata bingkisan untuk anak-anak panti asuhan di meja panjang.


Dari kursi yang disediakan untuk tamu, seorang cowok memperhatikan keakraban ketiganya. Senyum tipis menghiasi bibir cowok itu kala melihat Ratna dan Salsa tertawa meski tidak tahu penyebab kedua gadis tersebut tertawa.


“Mas Rio kenapa? Ada yang lucu? Kok senyum-senyum gitu?” tanya seorang anak asuhan Bu Aminah. Ia heran melihat Rio senyum-senyum tak jelas.


“Eh, enggak ada. A-aku cuma senang lihat bingkisan itu. Pasti itu buat kalian,” bisik Rio.

__ADS_1


“Ih, kok ngarep?” cibir anak lelaki berusia sekitar 10 tahun.


“Lho, Mas senang kalau kalian dapat bingkisan. Kan itu buat kalian, bukan aku,” kilah Rio.


“Ah, Mas Rio ngeles. Tiga bulan lalu Mas Rio dikasih HP sama Mbak Via, kan?” kata anak itu.


“Iya, bahkan dikasih pekerjaan juga. Itulah sebabnya aku sekarang jarang di panti. Kerja di perusahaan milik Mbak Via itu,” ujar Rio.


“Oh, Mas Rio kerjanya di perusahaan milik Mbak Via. Berarti dia orang baik, ya?” ucap anak tersebut.


“Memang ia orang baik. Meski sekarang kembali bergelimang harta, ia tetaplah Via yang rendah hati,” gumam Rio.


Acara pengajian pun berjalan lancar. Kali ini Farhan meminta salah satu dosennya saat menempuh S-1, untuk memberikan tausiah.


Meski tausiah yang diberikan dikemas dengan apik hingga banyak orang tertarik mengikuti dari awal hingga akhir, tidak demikian dengan Rio. Ia kurang fokus.


Selesai tausiyah, anak-anak mengantre pembagian bingkisan. Rio tetap duduk di kursinya sambil menatap ke arah pembagian bingkisan. Sebuah tepukan di bahu sukses membuatnya terperanjat.


“Astaghfirullah!” pekik Rio.


“Kenapa? Kok kaget gitu? Lagi melamun, ya? Yang mana yang menarik perhatianmu? Aku siap jadi comblang, lo! Pajak jadian jangan lupa kalau sukses ngajak ke KUA,” ledek Farhan.


“Ih, apaan Mas Farhan nih! Aku lagi liatin anak-nak yang bergembira mendapat bingkisan. Mas Farhan dan Via sungguh-sungguh mulia,” elak Rio.


Farhan tersenyum. Ia duduk di kursi sebelah kiri Rio.


"Tidak semua orang berpandangan begitu, Mas. Banyak yang tidak menyadari kewajiban berbagi dengan sesama."


Farhan mengangguk lalu melanjutkan, " Itulah, orang yang meninggal ingin bersedekah bila diberi kesempatan hidup lagi. Itu karena kehebatan pahala sedekah yang ia lihat setelah kematian."


Rio melongo sejenak. Kemudian, ia bertanya, "Apa keistimewaan sedekah, Mas?"


"Sedekah itu bisa memadamkan api siksaan di alam kubur, juga membuatnya jauh dari siksa neraka. Sedekah jariyah merupakan salah satu amal yang tidak terputus meski orang tersebut sudah meninggal."


Rio mengangguk tanda paham.


"O iya, bagaimana dengan pekerjaan kamu? Betah nggak di sana?"


"Alhamdulillah, betah. Terima kasih atas bantuan Mas Farhan dan Via," ucap Rio tulus.


"Sama-sama. Jangan sungkan begitu!" ujar Farhan.


"Iya, Mas," kata Rio. Pandangan cowok itu kembali ke tempat pembagian bingkisan. Namun, ia tidak mendapati tiga gadis yang semula di sana. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman.


"Cari siapa? Yang tadi ngasih bingkisan?" ledek Farhan.


"Eh, eng---enggak," jawab Rio tergagap.

__ADS_1


"Kalau memang sudah mantap, lamar saja!" bisik Farhan.


"Belum berani, Mas. Rio juga baru kerja. Nanti anak istri mau dikasih makan apa?" ujar Rio lirih.


"Rio, Allah yang akan mencukupkan. Kalau kamu butuh bantuan, bilang saja nggak usah sungkan. Termasuk melamar kan gadis." Farhan memberi tawaran.


Rio hanya tersenyum. Hatinya dipenuhi kebahagiaan.


Malamnya, ada kenduri yang dihadiri tetangga sekitar rumah. Acara selesai saat jarum pendek jam menunjuk angka 8. Semua merasa lega.


"Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Semoga persalinan Via juga lancar, ibu dan anaknya sehat," ucap Bu Aisyah.


"Aamiin," ucap yang lain.


Mereka pun ngobrol ringan. Meski begitu, Bu Aisyah sambil menyisipkan nasihat.


"Seorang perempuan yang sudah menikah, kewajiban utamanya adalah berbakti kepada suaminya. Tentu saja dalam hal kebenaran. Ketaatan seorang istri pada suaminya disebut setara nilainya dengan jihad kaum lelaki," kata Bu Aisyah.


"Wah, luar biasa sekali," celetuk Salsa.


"Iya. Suatu ketika ada perempuan yang menanyakan tentang bagaimana mendapatkan pahala seperti pahala jihad lelaki di medan perang, Rasulullah menjawab, 'Sampaikanlah kepada perempuan-perempuan yang kamu jumpai bahwa taat kepada suami dengan penuh kesadaran maka pahalanya seimbang dengan pahala perang membela agama Allah. Tetapi sedikit sekali dari kamu sekalian yang menjalankannya.'"


"Cuma sedikit yang menjalankan? Kok bisa?" tanya Ratna.


"Meski terlihat mudah, ternyata sulit menjalankan hal itu kalau tidak dilandasi keimanan. Apalagi bagi wanita karir. Seringkali di antara mereka merasa tidak bergantung kepada suami hingga lupa kewajiban taat kepada suami," papar Bu Aisyah.


Pembicaraan mereka terhenti saat ponsel Bu Aisyah berbunyi. Bu Aisyah pun buru-buru menerima panggilan tersebut.


Wajah Bu Aisyah tampak tegang. Ia juga memperlihatkan adanya kekhawatiran.


"Suamimu di mana, Via?" tanya Bu Aisyah panik.


"Di teras, Bunda," jawab Via. "Ada apa? Kok Bunda panik?"


"Azka. Ini masalah Azka," jawab Bu Aisyah seraya melangkah ke teras.


Para perempuan yang duduk di ruang keluarga kebingungan. Mereka hanya terbengong.


***


Bersambung


Ada apa dengan Azka? Ikuti terus untuk mengetahui jawabannya. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar juga vote 🙏


Sambil menunggu up, yuk baca novel bagus ini!


__ADS_1



__ADS_2