
Pulang dari masjid, Azka bergegas ke kamarnya. Ia bahkan lupa kalau berangkat bersama Ardi. Ia mendahului sepupu Via.
Azka berniat melakukan panggilan video ke Meli. Diambilnya gawai miliknya. Saat membuka layar, ia melihat pesan dari ayahnya. Azka buru-buru membukanya. Ada perasaan tak enak menyelip.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun,” desisnya.
Azka membatalkan niatnya melakukakan vicall ke Meli. Ia mendahulukan mencari kabar tentang Eyang Probo.
....
“Waalaikumsalam. Ayah, bagaimana kondisi eyang?”
....
“Kalau begitu, Azka pulang nanti.”
....
“Azka nggak ada kuliah hari Senin. Konsultasi juga nggak karena revisi Bab IV belum selesai.”
....
“Iya, Yah. Assalamualaikum”
...
Setelah menutup pembicaraan dengan ayahnya, Azka segera membuka aplikasi pemesanan tiket pesawat. Ia memesan tiket paling awal. Setelah beres, ia menemui Pak Candra.
“Om, saya mau pamit pulang ke Jogja nanti siang. Eyang masuk ICU,” ucap Azka.
Pak Candra yang tengah duduk santa di teras tampak tekejut.
“Sejak kapan? Sakit apa?” tanya Pak Candra.
“Dibawa ke rumah sakit sekitar jam 2 dini hari. Sebelum subuh diputuskan masuk ruang ICU.”
“Sudah pesan tiket?” tanya Pak Candra lagi.
“Sudah, Om. Nanti sekitar jam 8 saya berangkat.”
“Baiklah. Sampaikan salam Om buat keluargamu di Jogja. Maaf, Om belum bisa menjenguk eyangmu.”
“Ya, Om. Ayah pasti mengerti kondisi Om. Saya permisi dulu.”
Azka kembali ke kamarnya. Ia mempersiapkan semua keperluannya. Ia memindahkan semua file penting ke flash disk.
Baru saja selesai, terdengar pintu diketuk. Ternyata Ardi.
“Kak Azka mau pulang ke Jogja? Ardi dengar dari ayah kalau Eyang Probo sakit. Benar begitu?” tanya Ardi.
“Iya. Eyang masuk ICU tadi. Kenapa?”
“Boleh Ardi ikut? Toh ayah sudah baikan, sudah bisa beraktivitas kecuali angkat-angkat. Boleh, ya?”
“Kamu minta izin sama ayahmu. O iya, aku di Jogja kemungkinan sampai Senin. Selasa aku ada kuliah.”
“Tak masalah. Ardi tadi sudah ngomong kok ke ayah. Kata ayah, kalau Ardi ikut sekalian mewakili keluarga Medan. Ayah kan belum bisa bepergian jauh.”
“Ya sudah, kamu siap-siap dulu! Aku booking tiket dulu untuk kamu.”
Ardi mengangguk setuju. Ia kembali ke kamarnya.
Begitu Ardi keluar, Azka kembali membuka aplikasi pemesanan tiket. Usai memesan tiket, ia membuka kontak sang istri, mewujudkan niat semula.
“Assalamualaikum, Mas.” Wajah cantik Meli sudah menghiasi layar gawai Azka.
“Waalaikumsalam, Sayang. Sudah mandi? Kayaknya belum,” canda Azka.
“Kok tahu?” pipi Meli memerah.
“Bau asem sampai sini,” sahut Azka disusul tawanya.
Meli segera memasang raut cemberut.
__ADS_1
“Jangan pasang muka begitu, dong! Aku jadi gemes, nih.” Azka mendekatkan layar gawai ke wajahnya.
“Ish, Mas Azka apa-apaan, sih?” Meli cekikikan.
“Habis kamu bikin gemes. O ya, aku nanti pulang ke Jogja bareng Ardi.”
Meli tampak terkejut. Azka tidak pernah menyampaikan rencana pulang. Dia mengatakan akan konsentrasi mengejar thesisnya.
“Kok mendadak? Siapa Ardi?” tanya Meli dengan kening mengerut.
“Eyang Probo sakit, masuk ICU tadi. Itu sebabnya aku mendadak pulang. Ardi itu putra Om Candra. Dia baru sekali ke Jogja. Om Candra mengijinkan dia ikut aku, sekalian mewakili keluarga Om Candra,” kata Azka menjelaskan.
“Berapa hari Mas Azka di Jogja?”
“Senin kembali ke Medan karena Selasa ada kuliah. Rabu ada jadwal konsultasi. Ni nanti sambil nungguin eyang, aku revisi bahan konsultasi Rabu.”
“Berarti nggak ada waktu ke Jember, dong!” Meli memasang raut muka sedih.
Azka tertegun sesaat. Ia merasa bersalah tidak bisa mendampingi sang istri.
“Maaf, Sayang. Untuk saat ini aku belum bisa. Mungkin sesudah thesisku selesai, aku punya waktu cukup untuk jenguk istriku minimal dua minggu sekali.Bukankah kamu sudah mengetahui kondisi ini saat bunda melamarmu?” ucap Azka sendu.
“Iya, Mas. Meli tahu kok. Meli cuma kangen. Maaf sudah membebani Mas Azka.” Meli merasa bersalah.
Mendadak terlintas ide di benak Azka. Senyum tipis mengembang di bibirnya.
“Sayang, bagaimana kalau kamu ke Jogja, kita ketemu di Jogja? Kamu bilang sama ayah ibu kalau kamu mau jenguk Eyang Probo sekalian ketemu aku,” usul Azka.
Wajah Meli ikut berseri. Pikirannya langsung menyetujui usul Azka.
“Gimana? Kalau ya, aku booking tiket sekalian biar kamu tingal berangkat,” lanjut Azka.
“Oke. Meli bilang ayah dulu, ya! Ayah, Meli boleh ke Jogja hari ini?” Meli spontan berteriak.
Azka kaget mendengar suara Meli yang memekakkan telinga.
“Astaghfirullahaladzim, ni anak kok pakai teriak-teriak,” gumam Azka, “Mana HP-nya ditinggal begitu saja lagi. Hadeeeh...Nyonya Azka.”
Azka harus menunggu beberapa menit untuk kembali berbincang dengan Meli. Sambil menunggu, ia kembali memesan tiket untuk penerbangan Jember-Yogyakarta.
Tak lama kemudian, wajah Azka kembali menghiasi layar gawai Meli. Meli tersenyum lega.
“Mas Azka ke mana, sih?” tanya Meli manja.
“Barusan booking tiket untuk istri,” jawab Azka kalem.
Meli melebarkan senyumnya.
“Berarti Meli nanti terbang ke Jogja? Duluan Meli apa Mas Azka sampai Jogja?”
“Aku duluan. Mas terbang jam 10 kurang, kamu nanti habis zuhur. Tenang, sampai YIA Mas siap jemput, kok.”
Mata Meli berbinar-binar. Ia sudah membayangkan pertemuan dengan sang suami.
“Ayah beneran mengizinkan?” Azka seolah tak percaya.
“Ya udah, Mas Azka bilang saja sama ayah.”
“Ada apa, Mel?” Terdengar suara bariton dari pintu.
“Eh, Ayah. Ni Mas Azka mau ngomong.” Meli memberi isyarat agar sang ayah mendekat.
“Ayah, jika Ayah berkenan, Meli saya suruh ke Jogja. Eyang saya sakit. Sebentar lagi saya terbang ke Jogja,” ucap Azka sopan.
“Nak, Meli itu istrimu. Kamu lebih berhak daripada Ayah. Kalau kau menghendaki Meli ke Jogja, Ayah tentu tak akan melarang. Apalagi eyangmu sakit,” tutur Pak Roni.
“Tapi, Azka belum bisa menunaikan kewajiban Azka sebaagai suami. Meli masih Azka titipkan kepada Ayah,” kata Azka.
Pak Roni terkekeh melihat menantunya merasa bersalah. Ia semakin yakin kalau putri semata wayangnya diserahkan kepada orang yang tepat.
“Kalau begitu, tunaikan salah satu kewajibanmu sebagai suami nanti saat kalian bertemu. Setidaknya, sudah mencicil hehe....”
“Iya, Ayah. Insya Allah Azka memulai kewajiban Azka sebagai suami Meli nanti. Sebenarnya, Azka sudah ingin melakukannya, tetapi Meli tidak mau.” Azka menjelaskan.
__ADS_1
“Apa? Meli tidak mau? Nak Azka sudah memintanya kepada Meli? Terus dia menolak? Aduh, maafkan Ayah yang kurang bisa mendidik putri Ayah. Mungkin karena dia anak tunggal, jadi dia terlalu dimanja. Tenanglah, Nak Azka. Nanti sebelum dia berangkat, kami akan menasihatinya agar menjadi istri yang baik.”
Azka sedikit bingung dengan arah pembicaraan ayah mertuanya. Ia hanya mengangguk-angguk untuk menghilangkan canggung.
“O ya, silakan kalau mau bicara dengan Meli lagi. Ayah mau siap-siap kerja nih.”
Wajah Pak Roni berganti wajah sang putri. Azka tersenyum lega.
“Kenapa senyum-senyum?” tanya Meli heran.
“Lega aja. Tadi sebenarnya aku bingung yang Ayah maksud,” jawab Azka.
“Yang mana?” tanya Meli lagi.
“Soal kewajibanku sebagai suamimu. Aku sebenarnya merasa bersalah karena belum bisa menunaikan kewajibanku. Meski dari awal kita sudah sepakat menjalani LDR, tapi aku nggak mau melalaikan kewajibanku sebagai suami.”
“Kewajiban yang mana?”
“Menafkahi istri. Setidaknya, kebutuhanmu menjadi tanggung jawabku. Tapi, kamu nggak mau ngasih nomor rekeningmu.”
“Sudahlah, nggak usah dipikirkan! Lagian ayah ibu nggak keberatan, kok.”
“Aku percaya ayah ibu nggak keberatan. Tapi, aku malu, Sayang. Nanti kita bahas lagi di Jogja, ya! Aku siap-siap dulu. Kita lanjutkan nanti. Kamu hati-hati, ya! Jangan ada yang tertinggal!” pesan Azka.
“Mas Azka juga. Jangan lupa jemput Meli di bandara! Ntar Meli ilang kalau nggak dijemput,” kata Meli manja.
“Iya, iya. Awas nanti kalau ketemu. Sudah dulu, ya. Assalamualaikum. Muuuah!”
“Waalaikumsalam.”
Meli meletakkan gawainya. Mendadak pipinya merona mengingat ucapan Azka sebelum mengakhiri pembicaraan.
“Aduh, aku mau diapain sama Mas Azka ya?” Meli senyum-senyum tak jelas.
Karena asyik membayangkan pertemuan dengan Azka, Meli tak menyadari ibunya sudah berdiri di depannya.
“Kamu kenapa senyum-senyum nggak jelas begitu? Kesambet?”
Meli kaget mendengar pertanyaan ibunya. Ia mencoba bersikap biasa.
“Enggak, kok. Lagi bayangin naik pesawat hehe...”
“Beneran nanti kamu ke Jogja pakai pesawat? Sendiri?”
“Iya. Ayah sudah ngasih tahu Ibu, ya?”
Bu Fatimah mengangguk. Ia memberi kode agar Meli duduk di sampingnya.
“Mel, kamu kan sudah nikah. Meski kamu masih tinggal bersama ayah ibu, suamimu lebih berhak atas kamu. Jangan menolak perintah suami selama itu tidak melanggar syariat. Kamu paham?”
“Iya, Bu. Meli paham,” jawab Meli cepat.
“Lalu, kenapa kamu menolak permintaan suami kamu? Nak Azka ingin menunaikan kewajibannya itu wajar. Kamu nggak boleh nolak. Lalu, kenapa kamu nolak?”
Meli menunduk. Ia merasa bersalah.
“Meli pikir, Meli belum membutuhkannya. Toh ayah ibu masih sanggup biayai kuliah Meli, ngasih uang jajan buat Meli juga. Lagi pula, Meli kan bantu-bantu di tempat Kak Lisa. Lumayan dapat tambahan uang jajan. Sekarang, Meli bantu Kak Mario kelola olshop. Ilmu dari Via dan Ratna bermanfaat akhirnya.”
“Kamu ngomong opo to? Ibu malah jadi bingung. Kok malah jadi ngomongin uang.”
“Lah, kan waktu itu Meli nolak ngasih nomor rekening waktu Mas Azka minta. Dia mau nafkahi Meli karena sekarang Meli istrinya. Begitu, Bu. Kenapa Ibu bingung?
Bu Fatimah menepuk keningnya. Ia menyalahkan sang suami yang terlalu jauh menafsirkan.
“Oalah, ni gara-gara ayahmu. Dia bilang ke Ibu kalau kamu menolak waktu Nak Azka mau memberimu nafkah batin.”
Meli melongo. Dia baru paham kenapa Azka kebingungan waktu ayahnya bicara.
*
Bersambung
Bagaimana saat Azka bertemu? Apa yang mereka lakukan? Yang penasaran, tunggu episode selanjutnya. Yang kepo kehidupan Meli setiap harinya, lompat ke CS1 karya Kak Indri Hapsari! Jangan lupa dukung kami dengan klik like dan tinggalkan komen! Terima kasih.
__ADS_1
Barakallahu fiik