
"Kenapa kost, Vi? Aku sanggup kalau harus antar jemput kamu. Lagi pula, bukannya kamu pengin belajar agama sama Bunda? Kamu belum khatam Al-Quran, kan? Bunda kenapa biarin Via kost?" Azka langsung mengajukan keberatan atas rencana Via untuk kost.
Tadi malam Azka memang tidak tahu waktu Via minta izin kost kepada bundanya. Dia baru tahu setelah bundanya menceritakan saat mereka selesai sarapan.
"Mas, bukan masalah transportasi. Tapi, Via juga ingin mengelola bisnis kecil-kecilan Via."
Azka melongo. "Bisnis? Sejak kapan anak itu bisnis?"
"Soal mengaji, Via terus kok. Dan hari Sabtu Via pulang ke sini," tambah Via.
Sementara, Farhan hanya diam. Ia tidak berkomentar sedikit pun atas rencana Via.
"Kalau Azka mau menjenguk Via, kan dekat. Mampir saja ke tempat kostnya. Tapi, harus ingat kalau kamu nggak boleh masuk kamar. Di teras saja," Pak Haris ikut bicara.
Farhan menatap ayah dan adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Wajahnya memerah.
"Kakakmu diajak kalau mau ke tempat kost Via," Bu Aisyah menambahkan.
"Ah, Ayah Bunda apaan, sih? Kan Via masih di kota ini. Lagian seminggu sekali juga pulang," cakap Via.
"Terus, kapan kamu mulai kost?" tanya Azka.
"Hari ini."
"Apa? Kenapa dadakan sih? Kirain cuma tahu bulat yang digoreng dadakan. Kenapa rencana kost juga dadakan, Via?"
"Via tercetus ide ini juga dadakan, Mas. Via nggak tega sama Ratna yang kamarnya jadi gudang. Via kepikiran nyewa kamar lagi buat nyimpen stok barang dan proses packing."
"Kamu bisnis apa?" tanya Azka lagi.
"Pakaian muslim. Masih belajar, kok."
Ada gurat kekecewaan di wajah Azka. Ia tidak setuju akan rencana Via untuk kost. Tapi, dia tidak bisa apa-apa.
Akhirnya, setelah sarapan mereka membantu Via memindahkan barang ke tempat kost. Sebenarnya, Via tidak mau merepotkan. Ia sudah berencana memesan taksi online. Namun, ayah bundanya tidak mengizinkan. Akhirnya, mereka sekeluarga mengantarkan Via ke tempat kost.
"Serasa mau transmigrasi," gumam Via.
"Emang sudah pernah transmigrasi?" ejek Azka.
Via meringis. Ia baru menyadari kesalahan ucapannya.
Ketika mereka sampai, Ratna sudah siap menyambut. Ia sebenarnya heran karena rencana awal Via tidak seperti itu. Mereka hanya akan menyewa kamar, tetapi tidak untuk dihuni.
Azka dan Farhan membawa koper dan kardus ke dalam. Ratna mengarahkan mereka ke kamar yang akan ditempati Via. Sedangkan Via hanya membawa sling bag.
"Ratna, bisa kau temani kami ketemu pemilik kost?" pinta Bu Aisyah.
"Tentu bisa. Rumahnya tidak jauh dari sini. Mari, Bu."
__ADS_1
Bu Aisyah dan Pak Haris mengekor Ratna ke rumah pemilik kost. Sementara, Via merapikan barang-barang di kamarnya.
"Kamu bener-bener mau tinggal di tempat ini, Vi?" tanya Azka.
"Iya. Kenapa?" balas Via.
"Enggak... Kamu kan biasa di tempat yang nyaman bersama keluarga. Kamu yakin bisa betah di sini?"
"Insya Allah. Lagi pula ada Ratna yang menemani dan membantu Via."
"Apa alasan Dek Via kost semata-mata karena ingin dekat dan mengembangkan usaha yang telah dirintis bersama temanmu itu?" Farhan ikut bicara.
Via terdiam sejenak. Ada rasa nyeri dalam dadanya.
"Maaf, Mas, aku nggak mungkin mengatakan alasan utamaku. Aku tidak ingin mengusik keharmonisan keluarga orang yang telah menolong aku," gumam Via dalam hati.
"Iya. Mas Farhan sepertinya tidak percaya."
"Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Aku akan cari tahu karena kamu tidak mungkin jujur masalah ini," batin Farhan.
Percakapan mereka terhenti saat ada motor roda tiga berhenti di halaman. Seorang pemuda bercelana pendek mendekat.
"Permisi, Mas. Saya mau mengantar barang pesanan Bapak Haris untuk Mbak Novia. Apa betul alamat ini?"
"Betul, Mas. Tolong bawa ke sini," kata Azka.
Via yang tengah membuka kardus berisi buku terkejut dengan kedatangan kurir barang.
"Yang pesan Pak Haris, Mbak," jawab pemuda itu.
"Udah, Dek, tinggal diatur saja di kamarmu. Kami bantu, kok," ujar Farhan.
Via hanya pasrah saat berbagai barang dimasukkan ke kamarnya. Azka dan Farhan membantu menata barang-barang itu.
Saat mereka selesai, Pak Haris, Bu Aisyah, dan Ratna datang.
"Pesanan Ayah udah datang, ya?"
"Maksud Ayah kipas angin, meja, almari, dan kawan-kawan itu?" tanya Via.
Pak Haris tidak menjawab. Pria itu hanya tersenyum puas melihat barang pesanannya sudah sampai.
"Kenapa Ayah repot-repot membelikan ini semua?" protes Via.
"Kan kamu butuh, Vi. Orang tua berusaha memberikan apa yang anak butuhkan. Ya, kan?" tukas Bu Aisyah.
"Jangan lupa, kalau ada apa-apa segera kabari kami. Tiap Sabtu kamu harus pulang," kata Pak Haris penuh penekanan.
Via mengangguk. Dadanya dipenuhi rasa yang tidak dapat dilukiskan.
__ADS_1
"Ya sudah, kami pamit dulu. Jaga diri baik-baik! Ratna, titip Via, ya!" pesan Bu Aisyah.
"Ya, Bu. Ratna siap di samping Via 24 jam non stop tiap hari," jawab Ratna sambil nyengir.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mereka berempat masuk mobil diiringi tatapan haru Via.
Begitu mobil yang membawa keluarga dokter Haris tak kelihatan, Ratna langsung menyeret Via masuk kamar.
"Kau jelaskan padaku, Vi! Ada apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba jadi ikut kost? Kamu nggak kasihan sama bundamu dan yang lainnya? Mereka begitu menyayangi kamu. Bu Aisyah terlihat begitu berat meninggalkan kamu di sini. Beliau jelas-jelas menahan air matanya agar tidak tumpah. Kamu kok jadi tega begini, sih?" tanya Ratna bertubi-tubi.
Via menunduk. Hatinya terasa seperti diremas-remas.
"Aku juga terpaksa, Rat. Aku nggak mau membebani mereka."
"Justru dengan begini kamu membebani keluarga Bu Aisyah."
Via menggeleng. Air matanya mulai meleleh.
"Bunda sudah menyetujuinya. Aku yakin sudah mendiskusikan dengan ayah."
"Maksud kamu? Aku nggak paham."
"Eyang Probo, mertua bunda, membenci almarhum papa. Eyang tidak setuju aku menjadi anak angkat ayah dan bunda."
Ratna melongo mendengar alasan Via.
"Jangan-jangan kamu salah paham, Vi."
Via menggeleng dan menjelaskan," Aku dengar sendiri percakapan ayah dan eyang kemarin. Eyang baru tahu aku anak papa Wirawan setelah melihat Pak Andi keluar dari rumah ayah. Ternyata almarhum papa adalah saingan bisnis eyang."
"Segitunya...," desis Ratna.
"Ayah dan bunda tentu serba salah. Mereka tidak mungkin melawan orang tua. Sementara untuk mengusirku, mereka pasti tak tega karena mereka sangat baik. Makanya, aku tahu diri. Aku langsung memutuskan untuk kost. Kemarin aku kan hubungi kamu untuk memastikan bisa enggaknya aku tinggal di sini."
Ratna mengangguk-angguk. Dia baru paham alasan Via kost.
"Bu Aisyah dan Pak Haris beneran sayang kamu, ya. Mereka tetap memperhatikan kebutuhan kamu. Uang kost sudah dibayar sampai akhir semester. Bukan cuma sekamar untukmu. Pak Haris melunasi pembayaran untuk 3 kamar. Kamarmu, kamarku, dan kamar untuk stok barang kita."
Via kaget. Ayah bundanya tidak mengatakan kalau akan membayar uang kost, apalagi untuk 3 kamar.
"Ayah, Bunda, maafkan Via. Ayah dan Bunda begitu baik kepada Via. Bagaimana Via bisa membalas kebaikan Ayah dan Bunda?"
***
**bersambung
__ADS_1
Jangan lupa untuk menyentuh gambar ibu jari untuk memberikan dukungan. Berikan kritik dan saran juga, ya! Terima kasih 🙏**